Marry The Heir

Marry The Heir
Sebuah kisah



Makan malam pertama di kota Yogyakarta dinikmati dengan lahap oleh Kean dan Disa. Beragam menu tersaji khas kota pelajar ini berhasil mengisi ulang energi Disa setelah tadi makan siangnya terlewat.


Perut kenyang kantuk pun datang. Itu yang dirasakan Kean dan Disa saat ini. Di tambah suasana yang tenang dan dingin membuat keduanya lebih betah berada di dalam kamar.


Berdiam diri di kamar, Kean yang baru selesai mandi dan Disa yang masih bebenah, memisahkan baju kotor dan bersih serta menyiapkan pakaian yang akan di pakai oleh suaminya besok.


Kean memperhatikan saat Disa menyiapkan satu stel baju formal yang sedang di setrikanya.


"Gak usah di setrika sa, gak aku pake lagi bajunya." Kean menghampiri Disa lantas menyampirkan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya di sandaran kursi.


"Emang aa besok gak ketemu klien lagi?" menatap Kean dengan penuh tanya.


"Nggak, masalahnya udah selesai." dengan santai Kean mendudukan tubuhnya di tempat tidur. Mengecek ponselnya sebentar lalu menaruhnya di atas meja kecil samping tempat tidur.


"Beneran selesai a masalahnya?" Masih tidak percaya kalau masalah Kean benar-benar selesai. Mengingat siang tadi suaminya tampak berpikir serius tentang masalah perusahaan yang di hadapinya.


"Hem. Aku udah ngasih mereka pemaparan singkat soal rencana pengembangan perusahaan dan mereka menerima begitu saja. Padahal sebelumnya sudah roy jelaskan hal yang sama pada mereka dan mereka menolak untuk menjual perusahaannya."


"Tapi tadi, semua terasa begitu mudah."


Hal itu yang ada di pikiran Kean saat ini. Terlalu aneh karena manajemen perusahaan yang semula bersikukuh akan membatalkan penjualan salah satu anak perusahaan pada pihak Hardjoyo tapi saat di datangi, mereka bersikap biasa malah cenderung ramah.


"Kayaknya ada yang nebar isue gak menyenangkan soal perusahaan makanya mereka sempet ragu." Hanya itu kemungkinan yang ada di benak Kean saat ini.


"Itulah hebatnya aa, hanya dengan melihat aa datang, mereka langsung yakin." Disa mengacungkan dua ibu jarinya pada Kean.


Kean hanya tersenyum tipis, bisa saja istrinya ini memuji.


"Kemarilah, jangan beres-beres terus." Kean menepuk tempat di sampingnya. Seharian ini ia sadar terlalu banyak memikirkan pekerjaan hingga sedikit mengabaikan Disa. Lagi pula, banyak yang ingin ia bicarakan dengan istrinya.


"Wait, aku masukin dulu bajunya ke lemari. Supaya gak berantakan." sahutnya.


Ia memasukkan baju Kean dan merapikannya. Satu laci ia buka untuk tempat menyimpan dasi dan belt milik Kean. Tiba-tiba saja matanya langsung membulat.


Seperti mendapatkan harta karun saat tanpa sengaja Disa membuka laci lemari dan menemukan sebuah album foto. Gambarnya sudah mulai usang dengan bercak kekuningan yang merusak keindahan foto itu.


“A, aku nemu ini!” seru Disa, menunjukkan album foto yang ada di tangannya.


"Apa?" sedikit memincingkan matanya untuk melihat foto yang di tunjukan Disa.


Disa dengan segera menghampiri, membuka album foto di tengah-tengah mereka.


“Ada foto aa waktu kecil.” Disa menunjukkan foto Kean yang berpakaian layaknya pilot dengan topi yang masih kebesaran. Sangat menggemaskan.


“Itu foto lama, waktu itu usiaku sekitar 7 tahunan.” Kean mengingat persis bagaimana foto itu di ambil.


Sang kakek yang mengambilnya dengan kamera polaroid. Pantas saja warnanya hanya hitam dan putih, nyaris abu-abu karena termakan usia.


“Aa punya helicopter?” pertanyaan bodoh itu yang di lontarkan Disa dengan penuh antusias.


Kadang ia lupa kalau suaminya adalah salah satu sultan yang bisa membeli segala. Apapun bisa ia miliki.


“Hem, peningggalan kakek. Itu hadiah dari kakek saat aku pertama kali menjadi juara kelas di sekolah.” Kenang Kean.


Masih teringat saat sang kakek memberinya kunci helicopter sebagai hadiah dan memakaikan topi besar itu di kepalanya.


“Wah keren. Apa itu yang bikin aa dulu mau jadi pilot?”


“Sok tau, kata siapa aku mau jadi pilot?” sengit Kean yang ikut memandangi fotonya.


Senyum polos itu sudah lama di tinggalkannya. Sekarang, ia tidak bisa lagi tersenyum seperti itu, terlalu banyak alasan yang menutupi rasa bahagianya.


“Hehee.. Cuma nebak sih. Soalnya mainan aa action figure semua dan banyak banget koleksi miniatur pesawat. Pasti mau jadi pilot.” Terang Disa dengan yakin.


Di lemari kamar Kean yang di town house, juga di kamar yang ada di rumah utama, selalu ada lemari khusus yang menyimpan dan memajang action figure dan mainan pesawat favorit suaminya.


Kean hanya tersenyum. Ia mengambil satu bantal kemudian mendekapnya seraya bersandar.


“Aku sendiri, gak pernah tau apa yang sebenarnya aku inginkan.” kalimatnya terdengar berat, membuat Disa mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang kini berwajah sendu.


“Semua tentang ku udah di atur sama papah sejak aku kecil. Termasuk mainan yang boleh aku mainkan atau dengan siapa aku boleh bermain.”


Ia jadi mengingat seringnya ia duduk sendirian di jendela seraya memandangi teman-teman sebayanya yang asyik bermain di luar sementara ia hanya boleh berdiam diri di rumah dengan mainan yang di belikan Sigit atau belajar bersama guru private-nya. Entah harus merasa beruntung atau tidak, yang jelas ia kesepian.


“Hanya kakek yang terkadang mengajak ku bermain dan membuatku merasakan sedikit rasanya menjadi anak kecil yang bebas dan tanpa beban."


“Mengetahui rasanya berlarian di luar rumah tanpa takut jatuh, berkuda tanpa takut cedera, naik heli berharap bisa menggapai awan dan hal menyenangkan lainnya yang selalu ingin aku coba.”


“Sayangnya, waktuku dengan kakek sangat sebentar. Dia pergi dengan cara yang tidak pernah aku duga. Dan saat itu, aku hanya bisa menangis karena kehilangan satu-satunya orang yang paling mengerti aku saat itu, sa.”


Disa menyimak benar cerita suaminya. Terdengar menyenangkan dan menyedihkan di waktu yang bersamaan. Hatinya ikut mencelos saat membayangkan bagaimana rasanya ia kehilangan sandaran di saat ia sangat membutuhkannya. Seperti saat ia kehilangan sang ayah di usianya yang masih sangat kecil.


“Hidupku semakin sepi dan aku tidak pernah lagi merasakan kebebasan. Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk mengatakan apa yang aku suka dan tidak aku sukai. Hingga akhirnya aku merasa gamang, setiap saat seperti itu. Penuh keraguan dan ketakutan jika apa yang aku lakukan akan kembali di halangi dan di rusak oleh papah.”


Kean tertunduk lesu, ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan lantas mengusapnya kasar. Jelas terlihat kalau ia sedang menyesal karena kehilangan banyak hal sederhana yang membuatnya bahagia.


“Maaf karena udah bikin aa ingat lagi dengan hal yang tidak menyenangkan.” Disa menggeser tubuhnya mendekat pada Kean lantas mengusap punggung suaminya dengan lembut.


Hal tidak menyenangkan di masa lalu, memang selalu menjadi mimpi buruk bagi siapapun yang mengalaminya. Tidak terkecuali Kean yang dari luar tampak baik-baik saja padahal dalam dirinya banyak menyimpan luka dan kecewa.


Bisa Disa bayangkan bagaimana rasanya hidup hanya sebagai boneka. Tidak punya hak apapun atas dirinya sendiri hingga Kean nyaris tidak mengenali siapa dirinya sebenarnya.


“Aku sudah tidak terlalu memikirkannya, kamu tidak perlu merasa bersalah.” Ujar Kean yang mulai kembali menatap Disa. Ia sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini. Ya, terbiasa menerima rasa sakit dan kecewa hingga ia tidak merasakan apa-apa lagi.


Mencoba mengusir kengerian di masa lalu dengan menatap masa depan di hadapannya. Hanya pada Disa sedikit demi sedikit Kean mulai berani mengatakan apa yang ia rasakan. Disa selalu berhasil membuatnya nyaman untuk menceritakan apa pun.


Disa tersenyum tipis melihat Kean yang berusaha terlihat baik-baik saja.


“A, aa tau gak kalo aa itu hebat.” Cetus Disa tiba-tiba. Laki-laki ini butuh dikuatkan.


Kean menatap Disa penuh tanya. "Oh ya?"


"Hem! Aa malah sangat hebat." pujinya dengan tulus.


“Aku mau cerita sesuatu.” Disa meraih tangan Kean yang kemudian ia genggam.


"Aku mendengarkan." Memfokuskan dirinya pada sepasang mata yang bening dan bibir tipis yang selalu melengkungkan senyum.


“Di dekat rumahku dulu, ada seorang anak yang orang tuanya terkena kasus hukum. Ayahnya di penjara karena di tuduh telah menganiaya seorang laki-laki. Padahal katanya ia hanya membela diri agar uang hasil kerja kerasnya tidak di rampas oleh preman.”


“Suatu hari, karena terlalu sering uangnya di rampas, akhirnya ia melawan. Ia menusuk laki-laki itu dengan obeng yang ia gunakan untuk memperbaiki mainan anaknya.”


“Preman itu meninggal dan sang ayah terpaksa harus di penjara untuk waktu yang cukup lama.”


“Yang kasian adalah anaknya. Setiap waktu orang-orang menyebutnya sebagai anak dari pembunuh. Dia di jauhi, di hina hingga ia merasa kalau ia hanya sendirian di dunia ini. Lebih dari itu, label pembunuh itu melekat kuat di ingatannya dan perlahan membuat anak itu benar-benar menjadi orang jahat yang sebenarnya.”


“ia mulai berulah. Berani mencuri dan membuat kericuhan.”


“Pada akhirnya, tidak ada yang mengenalnya sebagai orang baik. Ia lahir dari ayah seorang pembunuh dan ia pun menjadi penjahat karena keadaan yang membuatnya seperti itu.”


“Tahun berganti, ia mulai tersadar dan berubah. Benar adanya kalau waktu dan keadaan bisa mendewasakan seseorang. Ia sudah lelah di cap sebagai orang jahat dan keturunan dari orang jahat."


"Ia tidak mau lagi di perlakukan tidak adil.”


“Hal yang membuat ia berubah adalah saat ia berfikir kalau, orang-orang bisa memperlakukannya seperti apapun. Mereka bisa menyebutnya penjahat atau malaikat sekalipun dan ia tidak bisa melarangnya. Tapi, ia punya hak untuk tidak menjadi seperti yang di sebutkan orang itu.”


“Orang-orang bisa menghakimi dia, menganggap dia seperti apa tapi dia sendirilah yang bisa menentukan dia akan menjadi orang yang seperti apa. Ingin menjadi orang jahat akan menjadi penjahat dan ingin menjadi orang baik maka akan baik.”


“Lalu dia memutuskan untuk menjadi orang baik. Ia tidak peduli lagi pada perkataan orang-orang pada dirinya. Karena baginya, ia sendirilah yang berhak menentukan seperti apa sikapnya.”


“Aa pun seperti itu. Orang boleh melabeli aa sebagai apa dan bagaimana tapi, aa lah yang sebenarnya punya hak untuk menjadi kean yang seperti apa."


"Maka, jangan lagi terpengaruh oleh label dari orang lain. Aa hebat, aa bisa melewati banyak hal sulit yang belum tentu semua orang bisa. Jadilah aa yang aku kenal, aa yang baik, kuat dan bisa berdiri di atas kakinya sendiri.” Tandas Disa dengan penuh semangat.


Kean termangu mendengar aliran kalimat Disa yang terasa seperti air penyejuk di tengah hatinya yang tandus. Berbincang dengan Disa memang selalu membuatnya merasa lebih baik.


Tanpa berkata-kata, Kean meraih tubuh Disa yang kemudian ia peluk dengan erat. Di kecupnya pucuk kepala Disa dengan penuh perasaan. Ada air mata yang berkumpul di sudut matanya yang beberapa saat lagi nyaris pecah.


“Bisakah semalaman ini aku tidur sambil memelukmu seperti ini?” bisik Kean dengan suara tercekat.


Disa terangguk pelan. Setelah beberapa hari Kean seperti menjauh, kali ini Kean kembali mendekat. Rasanya sangat bahagia mendapati laki-laki yang ia cintai mulai kembali menautkan hatinya pada Disa.


“Tentu, aku akan memeluk aa semalaman. Jadi jangan lagi merasa sendiri, hem?” sahut Disa.


Menepuk punggung Kean dengan lembut, berusaha memberi laki-laki ini semangat.


Kean hanya terangguk. Diusapnya kembali kepala Disa dan di kecup beberapa kali. Ada banyak rasa syukur yang ia rasakan namun hal terbesarnya adalah karena ia memiliki Disa.


“Terima kasih.” Lirihnya dengan helaan nafas lega di ujung kalimatnya. Baginya tidak ada seseorang yang bisa memahaminya sebaik Disa.


"Sama-sama a."


Mulai membaringkan tubuhnya bersisihan, berhadapan dengan selimut yang menutupi tubuh keduanya. Kean menatap Disa lekat dan Disa tersipu mendapat tatapan hangat dari suaminya. Di usapnya beberapa kali kening Disa dengan perlahan,


"Tidur lah.." sekali lalu Kean mengecup kening Disa seraya memejamkan matanya.


"Mimpi indah.." lanjutnya setelah melepas kecupannya.


"Aa juga, selamat tidur." timpal Disa yang di angguki Kean. Senyumnya yang mengembang dengan perasaan yang lebih tenang.


Di usapnya dahi Disa beberapa kali membuat gadis itu merasa nyaman dan perlahan memejamkan mata. Sementara Kean masih memandangi wajah yang bersemu kemerahan itu. Ada banyak hal yang bergejolak di dadanya yang ia coba urai walau terasa sulit. Saat ini Kean sadar, hal intim dalam hubungan suami istri bukan hanya tentang hubungan badan tapi saat mereka menyediakan waktunya untuk satu sama lain dan berusaha memahami pasangannya.


"Sa," panggil Kean ragu. Ia mendekatkan wajahnya pada Disa membuat jarak mereka sangat dekat.


"Ya a," suara Disa terdengar serak membuat sisi laki-laki Kean bangkit saat suara itu terasa menggodanya.


Keduanya berpandangan, Kean mengepalkan tangan berusaha menahan inginnya untuk beberapa saat.


"Gak pa-pa. Tidurlah, karena besok aku mau ngajak kamu melakukan hal yang menyenangkan namun sedikit melelahkan." terang Kean ambigu. Seperti itu binar matanya saat menahan letupan gairah.


"Dub dub dub!!!" rasanya Disa bisa mendengar debaran jantungnya sendiri yang keras dan cepat. Pikirannya mulai tidak karuan. Kean seperti sedang memancing rasa penasaran Disa.


"Iya a." hanya itu jawaban pendek Disa.


Kean tersenyum sendiri melihat wajah Disa yang merona. Di tariknya tubuh Disa hingga masuk ke dalam pelukannya yang hangat. Disa bisa mendengar detak jantung Kean yang juga cepat dan keras. Tapi berikutnya tidak ada yang terjadi. Kean benar-benar memeluknya seperti enggan melepaskannya. Sepanjang malam mungkin jarak mereka akan sedekat ini.


Ya tuhan, ketahanan jantung Disa benar-benar di uji agar tidak copot dari tempatnya. Segera lah siang, agar ia bisa sedikit menghela nafasnya lebih lega. Tapi tunggu, kenapa rasanya mulai nyaman?


*****