
"Sa," suara gemetar itu menjeda langkah Disa saat keluar dari kamar Sigit.
Arini, yang menatapnya laman dengan wajah pucat pasi tidak seperti biasanya.
"Mah, mamah sakit?" Disa segera menghampiri Arini yang menurutnya tidak baik-baik saja.
Wanita itu menggeleng.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Ragu ia menyampaikan maksudnya.Terlalu malu pada gadis polos yang masih sempat bertanya kabarnya padahal ia tahu kalau Disa yang tidak baik-baik saja dan bingung saat ini.
Di kamar Arini sekarang mereka berada. Duduk berdampingan di sofa kamar, Arini meraih tangan Disa yang kemudian ia usap lalu ia genggam.
"Mamah minta maaf," suara berat dan serak itu kembali terdengar, diiringi satu tetes air mata yang menetes di punggung tangan keduanya.
"Maaf, karena sikap egois mamah telah membuat hubungan kamu dan kean menjadi buruk."
"Kamu tau sa, bukan keadaan seperti ini yang mamah harapkan." Arini tertunduk lesu dengan tangan Disa yang ia genggam lantas ia tempatkan di matanya. Ia menangis sesegukan, tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Dan Disa, ia memilih memalingkan wajahnya. Membiarkan air matanya lolos menetes tanpa perlu ia tahan. Buruk, ya tentu saja hubungannya dengan Kean sangat buruk. Ia bahkan belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri yang malang dan menyebalkan di waktu yang bersamaan.
Sungguh, perasaan Arini tidak karuan saat Shafira mengatakan kalau Disa mendengar perdebatannya dengan Kean. Shafira bahkan sampai marah dan hingga saat ini ia tidak mau berbicara dengan Arini. Tidak terbayang seperti apa perasaan Disa saat mendengar semuanya.
“Tante tau, tadi teteh cuma diem, gak ngomong gak nangis apalagi protes saat dia mendengar perdebatan kalian. Aku sampe gak tega ngeliat mukanya yang pucat karena terkejut dan bingung hingga aku menutup kedua telingannya agar dia tidak mendengar apapun.”
"Aku baik-baik aja fir." itu yang dia katakan dengan suara bergetar yang aku yakin antara ingin menangis dan marah.
“Sekali dia menatapku dan berusaha tersenyum padahal matanya udah berkaca-kaca.”
“Apa tante bisa bayangin perasaan teteh saat itu?”
“Kenapa tante jahat sama teteh?”
Air mata Shafira pun menetes di hadapan Arini. Ia ikut merasakan sesak yang dirasakan Disa.
Masih Arini ingat, Shafira begitu mudah di hibur saat ibunya pergi tapi saat Disa yang tersakiti,
“Aku rasa, sebaiknya teteh pergi dan tidak perlu memikirkan kita.” Kalimat itu yang diucapkan Shafira dengan terbata-bata.
Ada rasa sakit yang dalam yang ikut di rasakan putri sambungnya.
“Kenapa tante sejahat ini sama teteh?”
Lagi, pertanyaan itu belum bisa Arini jawab sampai sekarang.
“Mamah, gak pernah berniat membuat kamu dan kean terpaksa menikah.” Kalimat Arini berlanjut walau tersengal-sengal bercampur tangis.
“Niatan mamah, mamah hanya ingin kean dan kamu bersama dan bahagia. Hanya itu sa, tidak ada niatan lain.”
“Mamah pikir ia akan semakin baik saat ada kamu di sampingnya tapi, mamah malah membuat kalian berdua sama-sama sakit. Mamah minta maaf sa, mamah udah menyakiti kamu padahal kamu sangat tulus menyayangi kean, mamah bahkan papah sekalipun.”
“Kean benar, mamah bahkan tidak terlalu mengenal putra mamah sendiri.”
Arini kembali terisak di hadapan Disa. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya dan menatap mata bening yang berair dan merah milik menantunya.
Disa menghela nafasnya dalam, ia tidak tega melihat Arini seperti ini tapi ia tidak sanggup untuk menenangkan orang lain sementara dirinya sendiri tidak cukup tenang. Ia menengadahkan wajahnya beberapa saat, berusaha menghalau air matanya agar tidak terus menetes.
Ia tahu, Arini tidak pernah bermaksud menyakitinya tapi yang terjadi sekarang ia benar-benar sakit.
“Mah,” Disa membuka suaranya yang serak, membuat Arini semakin merasakan sakit yang dirasakan Disa.
“Sebelum aku menikah sama aa, mamah pernah bertanya, apa aku cinta sama aa?”
“Aku jawab ya. Ya, aku sangat mencintai suamiku.”
“Jika cinta kenapa tidak mengiyakan untuk bersama? Pertanyaan itu juga muncul di benakku sebelum aku meyakinkan diriku kalau aku bisa menjalani ikatan seumur hidup itu dengan aa.”
“Katanya, cinta itu fondasi yang kuat untuk sebuah hubungan.”
“Tapi ternyata saat cinta bertemu dengan kecewa, semuanya menjadi samar dan mungkin hanya akan menjadi cerita bahwa aku salah karena pernah mencintai seseorang sangat dalam, hingga aku merasa aku hanya akan bisa hidup bahagia dengan orang yang aku cinta.”
“Dan sekarang aku gamang, apa aku masih punya cinta atau hanya bersisa cerita. Karena ternyata, aku tidak setulus itu menyayangi kalian.”
Lagi, Disa mengusap kasar air matanya yang kembali menetes.
“Aku masih sangat berharap kalian melakukan hal yang sama terhadapku. Menyayangiku dan membalas cintaku dengan sama besarnya. Padahal seharusnya, aku tidak memaksakan setiap orang membalas perasaanku, cukup aku yang menyayangi kalian.”
“Mah, disa kehilangan pijakan. Disa gak tau apa disa berdiri di tempat yang tepat atau semestinya disa tidak pernah ada di sini?” Disa bertanya pada Arini, membuat tangis wanita itu semakin pecah.
Ia sesegukan dan terus menggenggam tangan Disa sambil menciuminya.
“Maafkan mamah sa, maaf karena mamah telah mengecewakan kamu.” Hanya kalimat itu yang bisa Arini ucapkan saat ini. Sungguh ia sangat menyesal.
“Tidak pernah ada yang mengecewakanku. Tidak mamah ataupun aa.”
“Aku kecewa pada ekspektasiku sendiri yang sudah aku bangun dengan kokoh."
"Aku pikir saling mencintai itu berarti saling menerima kekurangan, saling menghormati, saling menghargai dan saling menjaga. Tapi sepertinya tidak. Tidak semua harus berbalas sama dengan apa yang kita lakukan.” Suara Disa terdengar lirih, berusaha memahami kesimpulannya sendiri.
Disa menatap satu titik di depannya. Titik yang mengalihkan pikirannya dari tangis sesal Arini.
Andai saja ia bisa memutar waktu, apa mungkin ia tidak akan memilih untuk menerima Kean walau keinginan untuk berada di sisi orang yang ia cintai itu sangat besar?
Atau di kesempatan lain pun ia akan memilih tetap bersama Kean?
******
“Baik tuan.” Sahut Agnes yang sudah mengerucutkan bibirnya.
Entah sudah tugas ke berapa yang Kean berikan pada para sekretarisnya di hari ini. Mulai dari minta menghubungi calon rekanan, minta data audit, menyiapkan rapat dengan manajemen sampai meminta berkas-berkas penting untuk ia periksa, di alihkannya ke para sekretaris. Tidak sekalipun ia memanggil Roy yang biasanya dalam satu jam bisa masuk ke ruangan Kean 4 sampai 5 kali.
Roy bisa menyimpulkan kalau tuan mudanya sedang benar-benar marah dan tidak mempercayainya lagi.
“Mas roy, gimana ini? Bantuin dong…” rengek Agnes yang membawa berkas masuk ke ruangan Roy.
“Ya udah, tinggal kamu kasihin aja ke ruangan tuan muda. Apa susahnya?” Roy pura-pura sibuk dengan komputernya.
“Nggak ah! Nanti aku kena amukan lagi kalo aku salah jawab. Tadi aja berkas aku di lempar sampe berantakan dan sekarang harus di jilid ulang. Nanti berapa berkas yang harus aku jilid ulang coba?” nyali Agnes langsung menciut saat mengingat kemarahan Kean.
Marahnya Kean memang tidak meledak-ledak. Terakhir Kean marah dengan suara tinggi adalah saat ia datang ke ruangan Roy dan sekarang marahnya Kean adalah diam. Ia lebih banyak menunjukkan kemarahannya dengan sikapnya. Mengabaikan dan memberi perintah pendek dengan penekanan kuat pada kalimat-kalimatnya. Atau sesekali melempar laporan yang menurutnya tidak sesuai keinginannya.
Roy bisa memahami itu, Kean tengah sangat marah karena kelakuannya.
“Nes, kalo kita kerjanya salah, ya wajar kita kena marah. Tuan muda kan emang sifatnya keras dan dingin, kita harus terbiasa.” Roy mengingatkan Agnes sambil mengingatkan dirinya sendiri.
“Ya tapi gak garang sama kayak ke mas roy kan?”
“Lagian kenapa sih mas roy di meja mulu? Bosen aku liatnya.”
“Dimarahin tuan muda juga ya?” Agnes berusaha menatap Roy yang sedari tadi terus menghindari kontak mata dengannya.
“Sok tau kamu! Sana kasihin berkasnya sebelum kamu di amuk lagi.” Kilah Roy berusaha tenang.
“Nggak akh! Mas roy aja yang ngasih. Liat pintu ruangannya aja aku udah gemeter apalagi masuk ke ruangannya lagi. Bisa mati berdiri aku. Please mas roy, bantuin aku, hem..” Agnes sampai memohon pada Roy dengan menyatukan kedua tangannya di depan kepalanya yang menunduk.
Roy hanya bisa menghela nafas dalam, mencoba memahami wanita di hadapannya. Setengah hari ini Agnes memang sudah banyak kena marah Kean, mungkin ia harus berusaha memperbaiki keadaan dengan tuan mudanya agar masalahnya tidak semakin berlarut-larut.
Diambilnya berkas dari atas meja dan sedikit menepukkannya ke lengan agnes. “Kamu harus belajar lebih professional nes!” dengusnya kesal.
“Iya mas roy, aku akan belajar lebih keras. Tapi jangan sekarang, ini aku mau cuci muka dulu. Pusing banget ini kepala, jantungku juga tegang terus.” Masih sempat-sempatnya Agnes menimpali dan membuat Roy menggeleng tidak habis pikir.
Berusaha menetralisir perasaan dan pikirannya, beberapa kali Roy menghela nafas dalam di hadapan pintu ruangan Kean. Harus mengetuknya terlebih dahulu atau langsung masuk saja seperti biasanya masih Roy pikirkan.
Kalau ia masuk seperti biasa, apa Kean akan melemparnya dengan sesuatu dan menyuruhnya keluar lagi?
Argh! Beginilah pikiran orang yang merasa punya salah. Beginilah serba salahnya orang yang kurang dalam integritas pekerjaannya. Walau masalahnya hanya membantu nyonya besarnya memaksa meminta CD dari pihak hotel, bagi Kean tetap saja ini sebuah pengkhianatan atas kepercayaannya. Dan Roy sadar benar akan hal itu.
Akhirnya setelah merasa yakin bisa menghadapi apapun, Roy memutuskan untuk masuk ke ruangan Kean seperti biasanya.
Ia mengangguk hormat saat sudah berada di dalam ruangan Kean.
“Permisi tuan, ini berkas yang anda minta.” Ia berjalan menghampiri Kean, menaruh berkas di hadapan Kean lantas memandanginya dengan penuh sesal.
Tuan mudanya sedang sangat berusaha keras. Tidak hanya untuk pekerjaannya yang menggunung tapi juga untuk menghadapi masalah pribadinya yang rumit.
“Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?” akhirnya Roy menawarkan bantuan lebih dulu. Ia tahu, tuan mudanya seseorang yang konseptual, ia tidak suka dengan pekerjaan remeh namun banyak seperti ini.
“Apa saya masih harus memberikan kepercayaan saya terhadap kamu?” tanya Kean tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang tengah ia coret jika tidak sesuai dengan keinginannya.
Roy kembali menghela nafas dalam, mencoba memahami kemarahan Kean. Kepercayaan itu mahal dan ia telah merusak kepercayaan Kean selama ini. Memperbaikinya tidak akan mudah.
“Saya minta maaf tuan, atas apa yang telah saya lakukan di belakang tuan. Saya tidak pernah bermaksud untuk mengkhianati kepercayaan tuan.”
“Saya hanya berusaha membantu nyonya besar tidak ada niatan apapun.” Ujar Roy dengan bersungguh-sungguh.
Kean yang sedang memeriksa berkas, menghentikan sejenak pekerjaannya.
“Bisa apa kamu untuk membuat saya percaya kalau kamu tidak memiliki niatan lain?” ia bertanya sambil memainkan pena di tangannya. Seperti jawaban Roy akan menentukan hidup dan matinya.
“Yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk perusahaan ini tuan.” Sahut Roy dengan yakin.
Kean tersenyum samar lantas menatap Roy tajam.
“Kamu tahu roy, kamu telah membuat saya berpikir kalau orang yang bersungguh-sungguh dengan seorang penjilat itu nyaris sama. Yang berbeda hanya hasil tindakannya saja.” Kalimat sinis itu meluncur dengan bebas dari mulut Kean dan Roy bisa menerimanya.
“Saya minta maaf tuan.” Lagi, Roy tertunduk di hadapan Kean. Sungguh ia menyesal telah melakukan kebodohan ini.
“Urus anak perusahaan yang di jogja selama 3 hari kedepan dan pastikan semuanya selesai.” Tegas Kean yang kembali memeriksa berkasnya.
Ini seperti cara Kean untuk melihat apa ia bisa mempercayai Roy lagi atau tidak.
“Baik tuan!” sahut Roy dengan semangat.
“Saya akan berangkat secepatnya tuan. Saya juga akan melaporkan setiap progress-nya pada anda.”
Matanya yang semula redup kini kembali bersemangat. Tangannya sampai mengepal di depan Kean, mengekspresikan rasa bahagianya mendapat kesempatan untuk mengambil kembali kepercayaan Kean.
“Lalu, kenapa masih di sini?” tanya Kean saat melihat Roy yang masih mematung.
“Oh, baik tuan.” Ia baru tersadar, kenapa ia tidak bergegas.
“Tuan bisa tetap memberi saya perintah jika tuan membutuhkannya. Jaga Kesehatan tuan selama saya pergi. Saya permisi tuan, selamat siang.” Cerocos Roy sebelum pergi.
Kean hanya termangu di tempatnya. Senang sekali laki-laki itu di beri pekerjaan, seperti ia telah memberikan kembali nyawa Roy yang sebelumnya ia ambil.
Beberapa saat Kean memandangi pintu ruangannya yang baru tertutup. Ia sadar, kepercayaan itu mahal harganya dan tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali menunjukkan kalau ia bisa di percaya.
Lalu, apa ia juga punya kesempatan untuk membuat Disa percaya kalau ia tidak pernah berniat merendahkan istrinya?
****