Marry The Heir

Marry The Heir
Memulai yang sudah lama harus dimulai



Sudah satu jam berlalu saat tiba-tiba Kean pergi tanpa mengatakan akan pergi kemana. Disa masih duduk termangu sambil mengingat benar ekspresi Kean yang marah seraya berusaha  menahan gairahnya. Entah pada siapa. Mungkin kecewa pada Disa yang ternyata tidak sesuai ekspektasi Kean atau pada dirinya sendiri. Atau mungkin pada keadaan yang menyadarkan ia dari kekurangan itu.


Terduduk di depan jendela, dengan dagu tertopang tangan yang bersidekap di jendela, Disa masih memandangi riak air danau di bawah langit senja sore. Tenang, tidak berarti tidak berarus. Bergejolak tidak berarti bisa menenggelamkan. Seperti hati Kean, tidak ada yang bisa ia tebak kemana arah perasaannya.


“Gimana liburannya teh? Aku boleh nyusul gak?


“Heheehehe…”


“Sepi banget di rumah gak ada abang sama teteh.”


“Pulangnya jangan lupa bawain oleh-oleh yaa…”


Pesan dari Shafira dengan emoticon bayi memakai dot di ujung kalimatnya.


Entah mengapa, pesan ini terasa tepat di terima Disa. Seperti cocok untuk mengolok dirinya yang terpaku dengan wajah bodoh setelah kejadian tadi. Hal semacam ini di masa depan akan sering ia dapatkan, mengingat apa yang akan terjadi pada rumah tangganya tidak pernah bisa ia duga. Ia bahkan belum memulai apa yang layaknya pasangan suami istri lakukan setelah menikah. Malam pertama, malam yang selalu di nanti banyak pasangan menikah karena awal dari sebuah kehidupan baru dan kepercayaan di mulai. Dimana satu sama lain menunjukkan kalau mereka saling menginginkan.


Mungkin terlalu klise alasan seperti itu, tapi bukankah memang seperti itu pikiran setiap pasangan?


Disa tidak ingin membalas pesan Shafira. Ia hanya mengetik huruf a tanpa menutup layarnya, membiarkannya seperti itu seolah ia akan mengetik pesan yang sangat panjang untuk adik iparnya. Lagi pula, ia tidak tahu harus membalas pesan Shafira seperti apa.


“Permisi non,” suara ketukan terdengar di pintu kamarnya. Suara mbok Mina yang memanggilnya.


“Iya mbok, ada apa?” sedikit malas ia menoleh. Pikirannya benar-benar tidak tentu arah.


Jujur Disa hanya ingin terdiam tanpa melakukan apapun sekalipun itu hanya berpikir. Sebentar saja ia ingin menghentikan otaknya untuk berpikir dan terdiam tanpa perlu ada yang ia cerna di kepalanya.


“Nona belum makan, mau makan sekarang?” Mbok Mina memperhatikan sekeliling kamar Disa yang tampak rapi, tidak terlihat seperti kamar pengantin pikirnya.


“Terima kasih mbok. Tapi nanti saja. Saya belum lapar.”


“Baik. Panggil saya kalau nona perlu sesuatu.” Mbok Mina seperti paham ekspresi galau yang di tunjukkan Disa.


“Iya mbok, makasih ya..”


Mbok Mina terangguk sopan, lantas pergi dan membiarkan pintu kamar Disa terbuka seperti sebelumnya.


Kekosongan pikirannya terganggu hanya karena pertanyaan apa ia akan makan atau tidak. Perutnya memang berbunyi minta di isi tapi mulutnya terlalu enggan untuk terbuka. Akhirnya Disa memilih untuk membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Sengaja ia memilih tidur menyamping, membelakangi posisi tidur Kean semalam agar untuk beberapa saat saja ia tidak perlu memikirkan ketiadaan Kean.


Ia memejamkan matanya, berusaha menghela nafas dalam untuk menerima keadaan tapi kemudian sudut matanya malah berair. Ada perasaan tercabik mengingat apa yang terjadi padanya. Apa mungkin selama ini Kean hanya penasaran terhadap dirinya sehingga saat ia sudah menyerahkan semua hatinya, rasa penasaran itu hilang. Perasaan Kean pun pergi semudah Kean meninggalkannya sendirian seperti saat ini.


Perlahan suara tangis Disa terdengar. Semakin di pikirkan semakin hatinya terasa perih. Ia sesegukan dan menutup kepalanya dengan bantal, agar suara tangisnya tidak terlalu terdengar. Percayalah, ia hanya Wanita biasa yang bisa merasakan sakit karena sikap seorang laki-laki yang seolah tidak menginginkannya.


Ia tahu hubungan suami istri tidak bisa hanya karena keinginan salah satu pihak saja. Ada hati yang harus tertaut di dalamnya agar ia merasa di inginkan.


Mungkin terlalu klise pikiran Disa karena bagi seorang laki-laki, mereka bisa melakukannya dengan perempuan manapun yang mereka inginkan tanpa harus ada perasaan cinta sedikitpun. Jika Kean tidak menginginkannya, maka mungkin ia bahkan tidak cukup menarik di hati suaminya.


Tapi kemudian ia teringat pada sumpahnya saat pertama kali bertemu Kean. Apa kata-kata sepenuh hati itu yang di dengar tuhan hingga Kean benar-benar mengalami apa yang Disa sumpahkan. Dan keadaan seolah berbalik menyerangnya.


“Bodooh!” dengus Disa seraya melepas bantal yang menutupi kepalanya. Matanya yang semula terpejam kini membulat sempurna. Jika keadaannya benar seperti yang ada di pikirannya, maka ia lah yang bersalah.


“Kenapa kamu tidak bisa menjaga kata-katamu sendiri sa?!!”


“Gara-gara kamu tidak hanya satu orang yang merasakan sakit tapi banyak orang yang disakiti termasuk diri kamu sendiri!”


Malaikat di sampingnya seperti tengah mengomeli Disa, mengingatkannya pada kelakuannya beberapa waktu lalu.


“Maafin aku a,..” dari lubuk hatinya yang paling dalam, kali ini rasa sesal itu yang ia rasakan. Harusnya ia lebih bisa menahan emosi dengan tidak mengatakan kata-kata yang sembarangan sekalipun dalam keadaan marah.


Dari kejauhan terdengar suara mesin mobil yang masuk ke halaman rumah. Disa mengenal benar suara mobil itu.


Kean pulang, lantas apa yang akan ia lakukan sekarang?


Belum sempat terpikir dalam benaknya apa yang akan ia lakukan sekarang namun sudah terdengar suara langkah kaki tegas yang mendekat. Wangi mint yang sangat Disa kenali sebagai parfum milik Kean.


Apa ia harus berbalik dan menyambut suaminya atau?


Tidak. Ia memilih untuk terdiam di tempatnya. Ia masih belum menemukan cara yang tepat mengutarakan yang ada di pikirannya. Sekali ini saja ia ingin menghindar seperti pengecut. Ya, pengecut yang tidak berani mengakui kesalahannya.


Dari pantulan kaca jendela, Disa bisa melihat bayangan Kean yang datang dan duduk di tempat tidur. Ia melepaskan bajunya dan mengambil baju yang baru dari dalam lemari. Hanya sekali Kean menolehnya dan memandanginya, membuat Disa kembali memejamkan mata.


Tidak lama, terasa permukaan kasur yang bergerak. Kean berbaring di sampingnya dengan helaan nafas dalam yang di ambilnya beberapa kali.


“Sa,” lirihnya, setengah berbisik. Seolah tidak mau mengusik tidur istrinya yang terlihat lelap.


Semakin kuat Disa memejamkan matanya, ia tidak berani menoleh dan menunjukkan wajahnya yang sembab dengan mata yang basah.


Hawa tubuh Kean terasa mulai mendekat tidak lama ia merasakan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Astaga, jantungnya seperti mau copot.


“Apa kamu tidur?” bisik Kean di telinga Disa.


Ia ingin bergidik saat sapuan nafas Kean menerpa lehernya dengan jarak yang sangat dekat.


“Aku,”


“Aku minta maaf soal kejadian tadi."


"Aku tidak bermaksud untuk memperlakukanmu seperti itu.” aliran kalimat itu terdengar tulus dari mulut Kean.


Disa membuka matanya yang semula terpejam rapat. Kalau ia terjaga, apa Kean akan mengatakan hal yang sama?


“Kamu harus tau, kalau aku menginginkanmu sampai nyaris gila hanya saja,” Kean menjeda kalimatnya dengan sebuah helaan nafas. Ia melepaskan pelukannya dari tubuh Disa lantas mengusap wajahnya kasar.


Tidak habis pikir dengan dirinya sendiri, apa sebenarnya yang sedang ia perbuat.


Dalam satu Gerakan Disa membalik tubuhnya menghadap Kean. Kean tampak terkejut mendapati Disa yang ternyata tidak tidur.


“A-Aku sungguh-sungguh dengan yang aku katakan, kamu mendengarnya bukan?” jadi tergagap terlebih saat melihat mata Disa yang merah dan basah.


Disa terangguk pelan, seraya menatap mata Kean yang sendu penuh penyesalan.


Kean mengusap pipi Disa dengan lembut dan penuh perasaan untuk menghapus sisa air mata. Ia menyesal karena telah membuat wanitanya menangis.


“Aku bisa melakukannya layaknya laki-laki lain lakukan. Hanya saja, aku tidak bisa memberi kamu hal yang kamu harapkan.” lagi, wajah sendu itu yang Kean tunjukkan membuat perasaan Disa mencelos.


“A, “ Disa bersuara dengan lirih. Sisa tangisnya masih ada hingga membuat suaranya serak.


“Aku mau menikah dengan aa, bukan hanya untuk seorang anak." berusaha menegaskan pikirannya.


"Perkara anak itu rejeki, akan datang jika allah percaya pada kita terlepas apapun kondisinya.” mengusap dada Kean perlahan lantas menepuk pelan dada kiri suaminya untuk menenangkannya.


Dengar, detakan jantungnya begitu cepat seperti yang Disa rasakan saat ini.


“Jangan merasa bersalah karena tidak bisa memberiku anak. Jangan juga merasa kalau hubungan seperti ini hanya berdasarkan aa punya kewajiban untuk menyentuhku atau karena kewajiban untuk memenuhi kebutuhan batinku.”


“Sebagai seorang istri, aku ingin merasa kalau aku diinginkan oleh suamiku. Di butuhkan, tidak seperti wanita lain yang bisa aa ikat dengan semua harta yang aa punya, lantas aa abaikan.”


“Aku tidak mau hanya fisik kita yang berdekatan tapi, hati kita tidak tertaut.”


“Dan aku juga minta maaf, kalau semua yang terjadi sama aa karena kesalahanku.”


Air mata Disa kembali menetes. Sulit mengatakan semua ini namun ia harus menjabarkannya. Katanya, hubungan pernikahan yang langgeng itu di dasari oleh komunikasi yang baik antara satu sama lain. Maka ia akan melakukannya karena ia ingin bersama Kean untuk waktu yang lama, jika mungkin sampai maut yang memisahkan.


“Sa, kamu tidak salah.” Kean menangkup satu sisi wajah Disa. Sentuhan yang hangat seperti mengalirkan banyak perasaan untuk Disa.


“Semua yang terjadi sama aku, tidak pernah karena kamu. Semua karena memang kondisiku seperti ini. Dan aku yang seharusnya minta maaf.”


Mata Kean tampak merah, di satu sudut matanya terkumpul cairan bening yang siap pecah.


Katanya, saat seorang laki-laki menangis di hadapan wanitanya, itu bukti kalau laki-laki itu sangat mencintai wanitanya. Apa perasaan Kean pun sedalam itu?


“A, tolong berhenti minta maaf.” Disa menyenyuh bibir Kean dengan jari telunjuknya. Mengusapnya perlahan membuat laki-laki itu menghela nafas dalam untuk menetralisir perasaannya.


“Jika ini tentang sebuah kekurangan, maka tidak perlu ada permintaan maaf. Aku menerima aa dengan segala kekurangan dan kelebihan aa. Tidak ada yang aku kecualikan.” Tandas Disa dengan penuh kesungguhan.


Kean meraih tangan Disa yang kemudian ia kecup dengan penuh perasaan. Ia merasa sangat beruntung karena memiliki Wanita yang sempurna di sampingnya. Wanita yang bisa menerima segala kekurangannya tanpa kecuali.


“Aku mencintaimu dan kamu tidak perlu menyangsikan itu.” Di tatapnya mata Disa dengan lekat membuat jantung Disa berdebar sangat kencang.


“Aku menginginkan kamu, lebih dari aku menginginkan udara untuk aku hela.” Tatapnya berubah menjadi penuh gairah.


“Dan aku membutuhkanmu, sebagai satu-satunya wanita yang ingin aku tautkan hatinya dengan hatiku.” Tangan kekarnya menarik tubuh Disa untuk mendekat padanya dengan jarak yang sangat rapat.


“Apa itu cukup untuk meyakinkan kamu agar memberikan kehormatan itu untukku?” mendekatkan wajahnya dengan jarak yang sangat tipis hingga hidung mereka bersinggungan.


Terdengar helaan nafasnya yang menderu dengan kilatan gairah yang seperti tidak bisa di tahannya.


Disa terangguk pelan.


“Iya a, apa yang aku punya adalah milik aa.” Lirih Disa dengan suara rendah yang membuat adrenalin Kean terpancing.


Segaris senyum di berikan Kean sebelum memulai apa yang seharusnya ia mulai sejak lama. Di detik berikutnya, ia mulai mengecup bibir Disa dengan lembut, penuh perasaan dan tidak tergesa-gesa. Seperti banyak waktu yang mereka punya tanpa takut kehabisan kesempatan untuk menikmati hal ini lebih dalam.


Disa membalas kecupan Kean dengan penuh perasaan, membuat sebuah ciuman itu berganti lumattan dan pagutan kuat dari keduanya. Suara decapan begitu terdengar bergantian dengan deru nafas yang memburu.


“Aku mencintaimu sa,” bisik Kean saat ia mulai mengecupi mata, dahi, pipi dan telinga Disa. Memberi sapuan udara yang hangat dan meremangkan bulu kuduk Disa.


“A,” Disa terengah, ia bahkan tidak sanggup melanjutkan kata-katanya saat hidung dan bibir Kean mulai menelusur garis lehernya dengan sensual, memberikan gigitan lembut dan meninggalkan bekas tanda kemerahan di sana.


Di detik berikutnya, mereka melepas satu per satu kain yang membalut tubuh keduanya. Melepas kancing dan menanggalkan dress yang membalut tubuh Disa. Di lemparnya sembarang yang jelas menjauh dari keduanya. Lantas, mereka menutupi tubuh polos keduanya dengan selimut bermotif bunga kecil.


Kean menautkan jemarinya di sela jemari Disa yang kemudian ia kunci dengan erat. Menghimpit tubuh Disa di bawah tubuhnya hingga tubuh mungil itu terkungkung sempurna.


Ia melanjutkan apa yang sudah ia mulai dengan sebuah dorongan halus namun kuat, membuat Disa melenguh.


Semua benar-benar terjadi. Saat inti tubuh mereka menyatu dengan sempurna. Malam yang dingin dengan hembusan angin yang perlahan masuk melalui celah dinding, membuat suasana sunyi itu pecah oleh des ahan keduanya.


Cara baru mengungkapkan cinta keduanya di mulai. Sepanjang malam, mungkin hanya suara lenguhan Disa dan Kean yang terdengar, bersaing ketat dengan suara angin yang menyapa dedaunan dan rerumputan.


Biarkan saja, biarkan mereka seperti itu. Menunjukkan perasaannya dengan cara yang indah dan menunjukkan cintanya yang penuh gairah.


Untuk para pecinta, selamat menikmati malam.


*****