
“Kopi?” tawar Kean tidak dengan sungguh-sungguh. Hanya basa-basi sebagai tuan rumah yang baik.
“Thanks bro, tapi tadi gue udah minum kopi bareng,” Reza langsung menghentikan kalimatnya begitu melihat lirikan maut Kean.
“Em maksud gue, gue udah minum kopi.” Reza mengganti kalimatnya dengan takut-takut.
Dari wajahnya yang dingin, bisa di bayangkan seperti apa tekanan psikologis yang dirasakan sahabatnya, untuk itu ia tidak ingin memancing lebih dengan mengatakan sudah minum kopi bersama Disa.
Walau pun ia masih kecewa karena Disa tidak memilihnya dengan alasan Kean tapi Kean masih sahabatnya. Ia tidak bisa terus menerus melihat Kean terpuruk dengan masalahnya apalagi menambah beban perasaannya.
“Gimana kabar lo, gue denger lo habis dari singapura?” Reza memulai pertanyaannya. Ia mencemaskan sahabatnya yang terlihat mulai lelah tidak hanya secara fisik tapi juga secara mental.
“Baik.” Jawabannya sama dengan Disa. Entah mereka memang baik-baik saja atau hanya berusaha terlihat baik-baik saja.
Satu hal yang Reza sadari, Kean masih membuat batasan dengannya. Cukup wajar karena ia masih waspada terhadap Reza yang masih di anggap rivalnya.
“Em, sorry kalo gue nemuin disa diam-diam, gue cuma mau mastiin kalo dia baik-baik aja.” Tidak ada salahnya Reza memberitahu maksudnya. Ia tidak ingin Kean merasa kalau Reza masih mengejar Disa walau tidak ia pungkiri, harapan itu masih sulit untuk ia padamkan.
“Gue bisa jagain dia lebih baik. Lo gak perlu cemasin seseorang yang bukan tanggung jawab lo.” Kalimat Kean terdengar sinis. Rupanya ia belum bisa menerima penjelasan Reza.
Lucu juga pikir Reza saat seseorang yang anti jatuh cinta ternyata malah jatuh sejatuh-jatuhnya. Seperti Disa adalah dunianya dan tidak ingin siapapun masuk ke dalam kehidupannya.
Bisa Reza pahami, sekecil apapun perhatian yang ia berikan pada Disa, pasti akan memantik kekesalan di hati Kean. Sangat wajar, pria ini hanya ingin memastikan kalau tidak ada laki-laki lain yang memperhatikan Disa lebih karena memiliki perasaan.
“Okey, udah malem. Gue pamit dulu.” Reza beranjak dari tempatnya. Saat ini sebaiknya ia pergi. Sahabatnya butuh waktu untuk berfikir dan menenangkan diri. Paling tidak, ia sudah melihat sendiri Kean dan Disa baik-baik saja.
“Gue anter.”
Kean menaruh botol minuman di tangannya, berjalan beriringan dengan sahabatnya. Harus ia akui, kalau tidak ada keterkaitan dengan Disa, ia memang membutuhkan kehadiran Reza. Tapi, sisi egonya masih terlalu kuat. Ia tidak mau Reza mencampuri urusan pribadinya terlebih masalah hubungannya dengan Disa.
Sampai di mulut pintu, mereka menghentikan langkahnya.
“Boleh, gue minta tolong satu hal?” ujar Reza dengan tatapan penuh harap.
“Hem,” Kean dengan sikapnya yang dingin.
“Tolong jaga disa. Jangan bikin dia sedih dan bingung. Dia cinta sama lo, jangan bikin dia patah hati.” Tutur Reza kemudian.
Kean menatap sahabatnya, satu sisi hatinya tidak suka dengan kalimat Reza yang masih mencemaskan wanitanya tapi di sudut lain, ia tahu Reza tidak hanya mencemaskan Disa melainkan juga dirinya.
Akhirnya Kean hanya terangguk. Apa yang ia lakukan saat ini adalah demi melindungi Disa, maka tentu akan ia lakukan semua sebaik mungkin.
Reza tersenyum lega melihat respon Kean. Sahabatnya tidak lagi berfikir negative padanya. “Okey, gue pulang.”
Reza menepuk bahu sahabatnya sebelum berlalu dan Kean hanya mematung memandangi Reza sampai kemudian sahabatnya pergi dan menghilang di balik pintu mobilnya.
Sebuah tarikan nafas dalam di ambil Kean untuk ia hembuskan perlahan. Ia mengguyar rambutnya lantas mengusap wajahnya kasar. Sejenak ia menyandarkan tubuhnya pada dinding, ia butuh waktu untuk menata pikirannya sendiri. Berusaha untuk tidak berfikir buruk, tentu akan mengurangi sebagian kecemasannya.
Mengingat apa yang ia lakukan hari ini, ia bisa bernafas sedikit lega. Marcel mulai bisa ia ajak bicara walau ia tidak bisa menjamin bantuan apa yang akan Marcel berikan untuknya.
Tapi paling tidak, ia berhasil merubah pikiran Marcel tentang Clara saja sudah lebh dari cukup. Sedikit banyak, Marcel mulai memkirkan kembali hubungannya dengan Clara. Semoga saja Marcel mengambil langkah yang tepat untuk membuat hubungan mereka membaik.
Selesai dengan pikirannya, Kean mencari keberadaan Disa. Gadis yang ia rindukan seharian ini belum sempat ia ajak bicara. Bisa ia bayangkan, di benaknya pasti banyak pertanyaan yang membuatnya bingung dan sedih.
Jam segini, ia tahu Disa berada dimana. Kean segera beranjak dari tempatnya dan menghampiri Disa yang sudah pasti sedang menyiapkan pakaian kerjanya. Benar saja, gadis itu sudah menyiapkan satu stel baju kerja Kean lalu memilihkan dasi yang cocok dan tie clip. Semua ia siapkan dengan lengkap, seperti biasanya.
Sejenak Kean menyandarkan tubuhnya di pintu walk in closet. Ia memandangi punggung gadis yang ia rindukan. Melihat Disa selalu berada dalam jangkauannya, selalu membuatnya merasa lebih baik. Rasanya ingin selalu seperti ini, melihat Disa dari jarak terdekat yang membuat perasaan hangat dari aliran darah yang melaju cepat. Sangat menyenangkan saat jantungnya berdebaran dan ada nama Disa yang disebutnya.
“Hey!” bisik Kean yang tiba-tiba menghampiri Disa. Ia berdiri di belakang Disa dengan jarak yang tipis.
“Astaga, tuan.” Disa terperanjat. Ia memegangi dadanya yang nyaris melepaskan jantungnya jatuh ke dasar perut.
“Aku mengagetkan ya?” Kean terkekeh di ujung kalimatnya. Lucu sekali melihat wajah Disa yang polos saat kaget.
“I-iya. Ada apa tuan mencari saya?” Disa sedikit menjauh, wajahnya langsung merona seperti biasanya.
Kean membalik tubuh Disa agar menghadapnya. Lantas ia mengangkat tubuh mungil itu agar terduduk di atas meja kaca.
“Tuan, bagaimana kalau kacanya pecah?” Disa ketakutan sendiri seraya berpegangan pada kedua sisi pundak Kean.
“Tenanglah, ini kaca 10 mil, cukup kuat untuk kamu duduki.” Kean tersenyum santai. Ia mendekatkan wajahnya pada Disa hingga dahinya menempel di dahi Disa.
“Apa ada yang mau kamu jelaskan?” tiba-tiba saja kalimat itu yang Disa dengar. Kean memejamkan matanya sambil mengusapkan dahinya di dahi Disa. Garis tersenyum yang menawan membuat mata Disa enggan untuk terpejam.
“Ti-tidak ada tuan.” Disa jadi gelagapan di tanya dengan jarak sedekat ini.
Dan menunggu jawaban Disa ternyata nyaris membuatnya tidak sabar. Gadis ini seperti sedang berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaannya. Sabar, sekuat mungkin ia menekan rasa kesal bercampur cemburu yang bergemuruh di dadanya.
“Tidak ada. Kami hanya duduk-duduk di taman, minum kopi masing-masing dan kak reza bertanya kabar saya. Hanya itu saja.” Jawab Disa dengan yakin.
Tentu saja, memang tidak ada yang mereka lakukan atau bicarakan selain duduk termangu memandangi serangga-serangga yang menari mengitari cahaya lampu. Waktu merambat pelan dan tiba-tiba ia ingin segera pulang untuk menunggu Kean kembali. Rasa cemasnya jauh lebih kuat mendorongnya di banding rasa tenang yang ingin ia cari.
Kean tersenyum lega, penjelasan Disa selalu bisa ia terima. Ternyata rasa cemburu itu indah dan mendebarkan.
Ia tahu benar bagaimana Disa berani menolak Reza. Sepertinya ketakutannya pada kalimat Marcel tidak beralasan. Tidak benar kalau semua Wanita bisa pergi begitu saja karena merasa menemukan seseorang yang lebih baik. Paling tidak, itu tidak berlaku pada Disa. Gadisnya lebih teguh dari wanita manapun.
“Tunggu, bukankah tuan yang ingin memberi penjelasan?” seperti tersadar pada janji Kean siang tadi.
Kean hanya tersenyum, ia tahu persis arah pertanyaan Disa.
“Aku sudah menolak perjodohan dengan Claire dan sedang menghimpun bantuan untuk menghadapi papah. Bisakah kamu menunggu sebentar lagi?” langsung jawaban itu yang di dengar Disa. Tuan mudanya seperti bisa membaca pikirannya.
Apa karena dahi mereka yang saling menempel hingga Kean bisa leluasa membaca pikirannya? Lalu apa Kean tahu kalau seharian ini ia diliputi rasa kesal dan cemburu membayangkan Kean dan Clara yang berbicara diam-diam di belakangnya? Apa yang mereka lakukan?
Disa segera menarik tubuhnya menjauh dari Kean. Ia tidak ingin Kean membaca semua pikirannya lebih dalam.
Kean menghembuskan nafasnya pelan, Disa mencoba menghindarinya. “Ada lagi yang ingin kamu dengar?” membuka matanya dan menatap Disa dengan hangat.
Mata keduanya saling berpandangan membuat netra bening milik Disa mengerjap pelan dengan penuh keterkejutan. Selalu tidak siap saat jantungnya berdebaran karena tatapan Kean yang seperti menusuk hingga kejantungnya.
Namun harus ia akui, terkadang jawaban Kean terlalu to the point, membuat rasa takut yang terkumpul di dadanya bubar jalan denagn cepat, berganti perasaan menggebu yang selalu sulit ia kendalikan.
“Ti-tidak ada tuan.” sahutnya yakin.
Ia berusaha untuk turun namun tangan kekar Kean menahannya agar tidak beranjak. Kean mencondongkan tubuhnya dengan kedua tangan tertopang di atas meja, seperti mengunci Disa agar tidak beranjak dari tempatnya.
“Tapi masih ada yang ingin aku katakan. Kamu mau mendengarnya?” suara Kean terdengar pelan dan serak. Ada muatan energi di dalamnya yang selalu membuat Disa ingin mendengar suaranya lebih lama lagi.
Hanya bisa mengangguk, ya mengangguk saja agar tidak terlalu ketara kalau ia sangat gugup.
Kean kembali mendekat, mendekatkan bibirnya ke telinga Disa. Bulu kuduk Disa langsung meremang saat hidung Kean yang lebih dulu menyapu permukaan pipi hingga daun telinganya. Sedikit memiringkan kepalanya saat hembusan nafas Kean mulai terasa hangat menyapa anak rambut di sekitar telinganya.
“Aku merindukanmu.” Bisik Kean.
Disa hanya terpaku. Seperti ada 360 joule energi yang menghantam dadanya dan membuat jantungnya terhenti kemudian berdebar dengan sangat kencang. Hatinya ikut berbunga-bunga, seperti ada pesta musim semi di rongga dadanya. Kenapa harus semembahagiakan ini hingga ia tidak bisa menolak perasaannya?
Mendapati disa yang hanya terdiam, Kean beralih menatap matanya yang bening. Gadis itu segera mengalihkan arah pandangnya, seperti menghindar untuk kontak mata. Satu hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah mengecup bibir merah muda yang ada di hadapannya. Ia butuh tambahan energi untuk berfikir cara menghadapi Sigit.
Disa tidak menolak saat Kean mendaratkan kecupan hangat di bibirnya. Sebuah gigitan lembut membuat Disa memejamkan matanya dengan kedua tangan yang mencengkram kuat pinggiran meja yang menjadi tumpuannya. Keduanya bertukar saliva membuat pagutan yang lebih dalam.
Hanya beberapa detik saja sampai akhirnya Disa memalingkan wajahnya karena nyaris kehabisan udara. Nafasnya terengah antara gairah normal seorang wanita yang sedang jatuh cinta berlombaan dengan kebutuhaannya untuk menghirup oksigen. Kenapa Kean selalu mampu membuatnya terdiam dan tidak bisa menolak?
Kean memandangi wajah Disa yang kemerahan. Ia mengusap pipi Disa perlahan dengan jari telunjuk yang bergerak vertical.
“Kamu bisa kan menungguku sebentar lagi?” suaranya lebih terdengar seperti permohonan.
Disa memperhatikan lekat wajah tuan muda yang berjarak hanya beberapa centi saja darinya. Laki-laki ini tengah mengusahakan banyak hal. Apapun itu, tentu sesuatu yang berat hingga menyisakan garis cemas di wajahnya.
Ia terangguk pelan. Sekali ini ia akan berusaha menunggu. Berharap apa yang Kean lakukan tidak membahayakan tuan mudanya sendiri. Ia tidak ingin lagi melihat luka memar di wajah tuan mudanya apalagi garis kesakitan dan kekecewaan mendapat perlakuan tidak adil dari sang ayah hanya karena dirinya.
“Apa tuan tidak akan menyesal karena melakukan ini semua untuk saya?” Disa bertanya lirih.
Terlalu menyakitkan kalau Kean harus menghadapi banyak kesulitan hanya demi bersamanya.
“Tidak ada yang aku sesali. Aku malah merasa seperti aku benar-benar hidup.” Lirihnya dengan penuh keyakinan.
Disa tersenyum lega saat melihat wajah Kean yang tanpa penyesalan mengatakan semuanya. Perlahan ia mengangkat tangannya untuk mengusap wajah Kean. Menyentuh bekas luka-luka di wajahnya dan membuat Kean memejamkan matanya, merasakan sapuan lembut tangan Disa.
Seperti semua rasa sakitnya hilang tergantikan rasa nyaman yang tidak ia rasakan sebelumnya.
“Tolong, jangan terluka lagi karena saya.” ujar Disa. Matanya tampak beraca-kaca dan sedikit merah saat mengingat apa yang terjadi pada tuan mudanya.
“Hem, tidak akan. Aku akan lebih kuat lagi menghadapi mereka.” Tegas Kean untuk menenangkan Disa.
Sayangnya Disa berfikir lain? Bisakah tuan mudanya menyelesaikan semuanya tanpa sebuah baku hantam, tanpa sebuah pertengkaran?
Mungkin Kean bisa menang melawan orang-orang itu namun bukan ini yang Disa inginkan. Tidak seharusnya ia menjadi sumber masalah dan kesulitan bagi orang yang ia cinta. Jika ia tidak ada, akankah Kean menjalani kehidupannya dengan baik-baik saja?
*****