
Sebuah butik dengan desain aesthethic ada di hadapan Disa. Ia menatap tidak percaya pada apa yang dlihatnya. Sebuah bangunan dengan jendela-jendela yang besar mengelilingi bangunan ini. Lampu bulat menggantung di teras sebagai penerang. Desainnya sangat cantik dengan nyala lampu kekuningan yang membuat butik ini terasa homy.
“A, ayo kita masuk.” Disa menarik tangan Kean yang setia menemaninya.
Hari ini ia meminta Kean agar tidak pulang malam karena ingin mengajaknya ke tempat ini, tempat yang menjadi kado pernikahan untuk ia dan Kean.
“Tentu.” Sahut Kean ikut tidak sabar.
Arini memang mahir dalam bidang property di rasa tepat saat menyiapkan kado pernikahan yang istimewa untuk menantunya.
Ruangan yang cukup luas dengan tiga ruangan lebih kecil di dalamnya, seperti kamar. Satu ruangan di tempati meja dan kursi kerja lengkap dengan manekin dan lemari berkas.
Dua kamar lainnya kosong, seperti menunggu sang empunya untuk memikirkannya akan mengisinya dengan apa.
Beberapa lemari kaca berjejer, dengan hanger yang tergantung di dalamnya. Di satu sudut ada ruangan khusus yang di isi oleh alat lukis dan kain, seperti gudang khusus bahan.
Dari pintu belakang, Disa bisa melihat tanah lapang yang di tumbuhi rerumputan hijau. Ada beberapa tenda payung sebagai tempat berlindung dengan masing-masing empat kursi yang mengelilinginya. Sebuah gazebo yang terbuat dari bahan kayu, tampak dominan mengisi halaman.
Benar yang Arini katakan, halaman belakangnya akan sangat bagus kalau di tata ulang dan di fungsikan untuk tempat melukis. Berada di ruang terbuka yang hijau, akan memberi banyak inspirasi.
Membiarkan istrinya berkeliling ruangan, sementara Kean terduduk di kursi kerja Disa. Ia menikmati saat memperhatikan pergerakan istrinya yang berlari ke sana kemari seperti bola bekel yang memantul di lantai, penuh energi kebahagiaan
“Ya ampun, aku suka lampunya, cantik!” seru Disa dari salah satu ruangan.
“Waw, ruangan yang ini cocok untuk nyimpen desain baju.” Serunya lagi.
“A, kamar mandinya luas, aku bisa bawa barang pribadi ke sini.” Lagi suaranya terdengar.
Kean hanya tertawa ringan mendengar kalimat-kalimat takjub yang di lontarkan Disa. Arini memang pandai memanjakan menantunya.
Puas berkeliling, Disa kembali menghampiri Kean. Berdiri di hadapannya dengan ekspresi bahagia yang tidak bisa di ceritakan.
“Ini surga kreasi a.” lirih Disa seraya menatap takjub pada suaminya.
Disa menangkup wajah Kean yang dengan gemas lantas mengecup bibirnya singkat. Lihat, istrinya mulai berani.
“Kamu suka?” timpal Kean.
“Sangat, aku sangat suka.” Ungkapnya lagi. Berputar di depan Kean sambil membayangkan ada banyak bunga sakura yang berguguran di atas kepalanya.
“Sepertinya aku harus berterima kasih sama mamah karena membuat istriku sangat bahagia.” Di tariknya tangan Disa yang kemudian ia dudukan di atas pangkuannya. Tangannya melingkar di pinggang Disa.
“Iya, aku juga sangat berterima kasih sama mamah. Aku harap, aku bisa menghasilkan sesuatu dari tempat ini jadi mamah gak sia-sia ngasih kado butik ini sama aku.”
“Tentu, kenapa tidak. Istriku hebat, dengan kedua tangannya ini, kamu bisa menciptakan banyak hal.”
“Hehehe… Kamu manis banget sihhh a….” Disa mengerucutkan bibir suaminya dengan kedua tangannya yang menangkup wajah Kean. Bibirnya yang kemerahan berkumpul di tengah, lucu pikirnya.
Siapa sangka, Kean menarik tangan Disa agar tubuhnya mendekat. Meraih tengkuk Disa untuk mendekat padanya, hingga jarak mereka mulai merapat.
“Tanggung jawab.” Bisiknya lirih, sedetik kemudian ia mengecup bibir Disa pelan.
Ia lepaskan sejenak, memandangi wajah Disa yang terkejut dan merona di waktu yang bersamaan.
Tidak ada protes, Kean mengulang apa yang ia lakukan sebelumnya. Mengecup bibir Disa kali ini lebih lama dan dalam. Sedikit meninggalkan gigit yang kemudian di balas oleh Disa yang berusaha mengimbangi. Kecupan itu berbuah pagutan. Saling menyesap satu sama lain dengan penuh gairah. Tangan Kean mulai menyisir pundak Disa lantas mengusapnya lembut membuat bulu kuduk Disa meremang.
Ada banyak gairah yang dirasakan keduanya hingga membuat mereka terengah dalam balutan kasmaran. Menikmati setiap decapan suara dari mulut mereka menjadi sebuah melodi yang memecah keheningan dari ruangan yang kemudian memberi gema suara saat Disa dan Kean terengah di ruangan yang masih kosong.
“Kita pulang sekarang?” bisik Kean saat melepaskan pagutannya.
Ia sadar semuanya tidak boleh terjadi di sini. Akan ada banyak pasang mata yang mendapat tontonan gratis dari jendela yang polos terbuka tanpa ada gorden penghalang.
“Iya a.” Disa masih berusaha mengatur ritme nafasnya yang memburu. Serangan gairah tadi nyaris membuatnya tenggelam.
“Tapi aku mau makan pecel ayam dulu.” imbuh Kean dengan senyumnya yang lebar. Ia mengusap bibir Disa dengan lembut. Rasa manisnya sulit ia tinggalkan.
Tiba-tiba saja perutnya terasa lapar dan minta di isi.
“Iya a, kita cari pecel ayam.”
Disa tertawa kecil di ujung kalimatnya. Unik cara Kean melepaskan diri dari gulungan gairah yang sempat membelenggu mereka.
Ia beranjak dari pangkuan Kean, merapikan rambutnya yang sempat berantakan. Beberapa saat mereka saling toleh dan saling melempar senyum malu-malu. Hah, perasaan macam apa ini yang bergemuruh di dalam dada?
****
Kean mulai melajukan mobilnya menuju jalanan. Sebuah perintah ia berikan pada Roy agar melengkapi barang-barang kebutuhan Disa di butiknya. Banyak daftar barang yang sudah ia kirimkan melalui pesan singkat yang sebenarnya tidak singkat.
“Kamu kirimkan barangnya besok pagi ke butik. Alamatnya akan saya kirimkan.” Suara Kean terdengar tegas, tipe atasan yang memberi perintah.
“Baik tuan. Apa kita perlu menyewa jasa desainer interior?” suara Roy terdengar dari music box sehingga Disa pun bisa ikut mendengarnya.
Kean menoleh Disa sejenak, meminta persetujuan Disa. Disa hanya menggeleng sebagai isyarat penolakan.
“Gak perlu, istri saya mahir melakukannya sendiri.” Tegas Kean.
Disa hanya tersenyum mendengar jawaban Kean. Ia memang suka menata ruangannya sendiri karena keterikatannya akan lebih kuat di banding di tata oleh orang lain.
“Baik tuan, saya akan minta agar barangnya di kirimkan besok pagi.”
“Hem.” Sahut Kean sebelum mengakhiri panggilannya.
“A, itu emang harus ya naro tempat tidur di salah satu ruangan? Kan sayang ruangannya bisa di pake buat naro barang?”
Protes Disa, satu penolakannya yang tidak di gubris Kean adalah memfungsikan salah satu ruangan sebagai kamar.
“Harus. Kalau kamu capek kan bisa istirahat di sana. Emang kamu mau kerja rodi?” masih tidak terima idenya di pertanyakan oleh Disa. Padahal ini bentuk perhatiannya pada sang istri.
“Ya bukan gitu, kalo bawa tempat tidur nanti kesannya bisa males-malesan. Aku kan kesana emang buat kerja.”
“Kalau kamu berfikirnya gitu, tutup aja pintunya. Kamarnya baru akan di gunakan kalau aku ke sana.” Enteng sekali jawaban itu di berikan Kean.
“Ish itu sih emang maunya aa.” Gerutu Disa yang samar di dengar Kean.
Kean hanya tersenyum mendengar gerutuan istrinya.
“Sa, kamu memang kerja di butik itu tapi ingat, kamu tidak wajib untuk menghasilkan banyak uang. Nikmati saja prosesnya yang penting kamu seneng.” Kean mencoba memberi pemahaman pada istrinya. Ia tidak mau Disa merasa terbebani dengan harus menghasilkan banyak uang dari butiknya.
Kebiasaannya untuk terus bekerja dan bekerja seperti tidak bisa santai terhadap dirinya sendiri.
“Iya aku ngerti tapi kalau butik itu bisa menghasilkan uang kan lebih menyenangkan."
"Akunya juga lebih seneng dan bersemangat.” Bisa saja ia menimpali.
Sepertinya mitos kalau perempuan itu tidak pernah salah adalah benar adanya.
Untuk Disa yang terbiasa mendapat sesuatu dengan berusaha, semangatnya akan bertambah saat ia mendapat tantangan untuk membuktikan sesuatu terlebih ia mendapat hasil yang gemilang.
“Iya okey, silakan kalau kamu mau menghasilkan uang dari butik. Tapi, jangan terlalu capek.” Kean tetap dengan alasannya tidak ingin Disa terlalu capek.
“A, kerja yang capek itu apalagi sampe berkeringet, nikmatnya luar biasa apalagi pas kita mendapatkan hasilnya, rasanya gimana gituu. Lagi pula, kerja sampe berkeringet itu keringet kitanya di hitung ibadah, makanya aku gak mau nyia-nyiain kesempatan aku untuk berusaha.”
Masih berkelit dengan retorikanya.
“Harus kerja cerdas juga jadi tenaga kita gak kebuang sia-sia.”
“Iya sih, aa bener. Harus pake strategi yaa.”
“Yups! Pinter istriku!” Kean mengusap pucuk kepala Disa dengan bangga membuat keduanya tersenyum senang.
Ponsel Kean kembali berdering dan kali ini nama yang muncul adalah Nasep. “Iya bang!” jawabnya.
“Woy kemana aja lo penganten! Kirain jam segini udah ngamar. Hahaha…” ledek Nasep dari sebrang sana.
Terakhir bertemu adalah saat resepsi itu pun hanya sebentar karena banyaknya tamu yang mengantri untuk memberikan selamat.
“Ngamar! Masih sore ini.” Sahut Kean santai.
Ia melirik Disa yang tersenyum di sampingnya. Mungkin istrinya akan kaget kalau tahu Kean punya teman seperti Nasep yang nyablak.
“Ya udah main sini. Sombong amat lo udah punya bini. Enak kan?!”
“Ish lo apaan sih. Tar dulu, gue lagi di luar, nyari tukang pecel ayam.”
“Laper lo olahraga malem mulu?!"
"Makan di mari aja, ada pecel ayam bang kumis deket sini."
"Sekalian bawa bini lo biar dia tau dunia hitam lo kayak gimana.”
“Bini gue juga mau kenalan katanya.”
“Iya, tar gue ke situ. Berisik lo!” sahut Kean sekali lalu memutus panggilannya.
Kean masih tertawa ringan setelah mengakhiri panggilannya.
“Siapa a?” mendengar cara laki-laki itu berbicara dengan Kean, sepertinya sangat santai.
“Bang nasep, temen di sasana."
"Kita ke sana sebentar, nanti kamu liat aja, orangnya agak sengklek. Sering ngegodain. Tapi orangnya baik kok.”
“Katanya ada tukang pecel ayam di sana tapi aku kok gak pernah liat ya?”
“Ya mungkin aa bukan nyari tukang pecel di sana, makanya gak liat.”
“Em iya juga ya.”
Sisa asap knalpot di tinggalkan jauh oleh mobil yang melaju kencang menuju sasana. Setelah cukup lama, baru sekarang lagi Kean main ke tempat Nasep. Berharap saja Disa bisa tahan dengan ledekan dari satu temannya ini.
*****
Laki-laki bertubuh kekar dengan wajah brewok itu rupanya yang di panggil bang nasep oleh Kean. Ia hanya mengenakan celana kolor dengan kaos singlet dan menggendong seorang anak perempuan berusia empat tahun.
Istrinya Dewi, menyambut Disa dengan ramah.
“Akhirnya, bisa liat langsung penganten dari deket. Apa kabar sa?” Dewi merangkul Disa dengan hangat. Sambutan yang sangat ramah bagi Disa.
“Alhamdulillah kabar baik.” Sahut Disa dengan senyum manis.
“Eh kakak, sini salim dulu sama ateu dan om kean.” Dewi memanggil anaknya yang berusia sekitar tujuh tahunan. Masih kecil tapi hobbynya berlatih boxing.
Anak laki-laki itu menghampiri Disa dan Kean lantas menyalaminya.
“Naik kelas gak lo kemaren?” tanya Kean tiba-tiba.
“Naik dong om. Kalo kagak naik kelas bisa-bisa gurunya di cari babeh.” Sahut anak itu dingin.
“Bagus, pinter lo. Nih buat jajan.” Kean langsung memberikan beberapa lembar uang pada putra sulung Nasep. Seperti ini rupanya bentuk perhatian Kean terhadap keluarga Nasep.
“Makasih om.” Sahutnya gagah. Ia bahkan mengajak Kean untuk tos dan mencium uang di tangannya dengan bangga.
“Heh, awas kalo lo pake buat maen PS ya! Beli makanan aja sana.” Seru Dewi mengingatkan putranya.
“Iyaa deh ah repot!” anak laki-laki itu pun berlalu pergi dengan acuh.
“Ayo masuk, udah di beliin tuh pecel ayamnya."
"Gue juga udah masakin nasi banyak banget.”
Dewi menarik tangan Disa agar masuk. Ternyata pembawaan keluarga ini memang sangat santai, tidak hanya pada keluaganya tapi juga pada oraang baru.
“Iye perempuan masuk aja sono, bentar lagi kite nyusul."
"Turun neng, tar babeh nyusul.” Anak bungsu Nasep pun ikut menyusul.
Dewi dan Disa masuk ke rumah, menyiapkan makan malam mereka, sementara Kean dan Nasep masih berbincang di luar.
“Gimana perasaan lo udah kawin sekarang? Nyesel kan lo!” ledek Nasep dengan cengiran iseng sambil menyikut Kean.
Mereka terduduk di beranda rumah sambil menunggu para wanita menyelesaikan pekerjaannya.
“Nyesel gimana maksud lo?”
Kean hanya cengengesan, belum ada pengalaman apapun yang ia dapat selain mendapati ada wanita yang tidur di sampingnya.
“Akh t*ik lo, pake pura-pura lagi."
"Umuran lo tuh lagi semangat-semangatnya, gak mungkin lo gak ngerti. Apalagi pernah tinggal di luar, uuhhh referensi lo pasti banyak."
"Cepet kocek lah, noh biar punya dua bocah itu kayak gue.”
Rupanya memang pertanyaan seperti ini yang akan di dapatkan Kean persis yang didapatkan pasangan lainnya yang baru menikah.
Kean hanya tersenyum kelu mendengar ujaran Nasep. Mendengar apa yang Nasep katakan, Kean jadi memperhatikan Disa di dalam rumah.
“Mau ateu bukain bungkusnya?” anak Nasep langsung mau di ajak bicara oleh Disa. Padahal biasanya saat bertemu orang baru ia akan mengkerut.
“Maauu… Tapi yang coklaatt..” anak kecil itu berujar manja, seperti nyaman pada Disa.
“Okey, habis makan coklat nanti gosok gigi yaa, supaya gak ompong.”
“Iya ateu..”
“Anak pinter..” Disa mengusap dengan sayang pipi gembil anak tersebut.
Melihat apa yang Disa lakukan, membuat raut wajah Kean berubah dingin. Ada rasa bersalah yang kemudian hinggap di hatinya.
“Kenapa lo?” tanya Nasep yang melihat perubahan ekspresi Kean dengan drastis.
Kean hanya menggeleng dan memalingkan wajahnya dari Disa. Ia tidak sedang ingin menjawab, hanya ingin terdiam seperti ini dan memikirkan sesuatu yang menghalanginya dengan Disa. Apakah ia akan tega membuat Disa kehilangan senyum gemas pada anak-anaknya kelak?
Apa mungkin sebenarnya salah kalau ia meminta Disa menikah dengannya?
*****