
Perasaan mendebarkan itu kembali singgah, saat Disa sedang bersiap di back stage karena mini fashion show akan segera dimulai. Ini adalah babak final dari kompetisi yang Disa ikuti. Masing-masing finalis bersiap di ruangan masing-masing bersama sang model dan anggota tim lainnya.
Clara membawa make up artis sendiri, seorang make up artis kepercayaannya yang terbiasa bekerja sama dengan para model dan selebritis tanah air. Merasa sangat beruntung bisa berada di lingkungan seperti ini, Disa banyak mengenal orang-orang baru yang memberinya pengaruh positif pada cara ia berkarya. Bagaimana satu sama lain bekerja sama dan berusaha melakukan yang terbaik di bidangnya agar tampilan modelnya menjadi mahakarya yang indah.
“Beb, formal looks gue bikin agak innocent ya make up-nya. Alisnya gue bikin korean looks sesuai konsep supaya terlihat kesan polos tapi dapet elegannya. Yang informal, gue bikin naughty dikit dan gongnya, gue bikin like an angel.” Tawar Tania, make up artis Clara.
Seperti ia sudah tahu benar cara memoles wajah cantik Clara agar cocok untuk sang model dan baju yang di pakainya.
“Gue percayain sama lo. Tapi, kasih dia sample, biar dia liat.” Menatap bayangan Disa dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Gadis itu sedang menyiapkan satu per satu baju yang akan di kenakan Clara.
“Wait, ada di hp gue. Waktu lo fashion show di hongkong.” Dengan semangat Tania mencari foto Clara di benda pipih kesayangannya.
“Coba lo liat, ini sample make up Claire. Gimana menurut lo?” menunjukkan beberapa foto Clara saat fashion show. Foto yang sempurna seperti tampilan yang sering Disa lihat di majalah fashion terkenal.
“Bagus mba. Saya setuju, sepertinya akan cocok dengan clara.” Komen Disa. Bisa ia bayangkan tampilan sang dewinya yang akan semakin sempurna saat mengenakan baju yang ia rancang berpadu make up yang tepat.
“Bagus kalo lo setuju. Gue mulai ya. Base make up gue bikin standar, kita mainin di mata sama bibir lo.” Tania memulai pekerjaannya dan Disa asyik memperhatikan bagaimana tangan professional itu memoles wajah cantik Clara.
Seperti melukis, hanya medianya saja yang berbeda. Make up memang bukan salah satu keahlian Disa. Ia tidak terlalu mengerti dengan seni detail yang bisa mengubah wajah seseorang sesuai tampilan yang diinginkan. Tapi dari Tania, ia belajar banyak hal, salah satunya ketelitian terhadap detail cara pemilihan make up yang cocok untuk karakter wajah modelnya.
Waktu untuk persiapan itu memang selalu terasa lebih pendek dan masing-masing di sibukkan dengan tugasnya. Sudah beberapa jam berlalu dan terlewati begitu saja, nyaris tidak terasa sampai seorang panitia mengetuk pintu ruangan Disa.
“Kita ready 10 menit lagi yaa.” Ujarnya setelah beberapa ketukan di pintu.
“Okey!.” Tania mengacungkan ibu jarinya yang sedang memegang kuas make up.
Tangan Disa mulai terasa dingin dan gemetaran. Walau di awal nanti ia hanya akan diam di back stage dan melihat Clara memperagakan bajunya namun bukan berarti ia bisa duduk tenang. Saat pergantian looks nanti akan menjadi waktu yang krusial dimana ia harus bekerja dengan cepat, bekerja sama dalam satu tim yang belum sepenuhnya ia kenal satu sama lain.
Ada sekitar 10 orang yang terlibat, masing-masing dengan tugasnya. Walau tugas Disa mendesain dan membuat baju, memastikan baju yang ia buat nyaman di pakai Clara adalah satu bagian yang terpenting, karena baju itu memang ia buat khusus untuk modelnya.
“Okey, done!” seru Tania.
“Waw!” Disa sampai terperangah melihat sosok Clara yang berdiri di hadapan cermin.
Waktu yang panjang untuk sebuah tampilan yang sempurna namun terkesan sederhana seperti konsep pertama mereka.
Dua orang langsung membantu Clara untuk berganti baju, Formal Looks. Tidak ketinggalan sepatu juga aksesoris lain yang Disa buat sebagai penyempurna penampilan Clara.
“Lo bisa bikin gelang juga?” ia memperhatikan gelang yang dipakaikan Disa di tangan Clara.
“Sedikit." Aku Disa.
"Ini saya buat saat kuliah. Terbuat dari biji pandan.”
Masih teringat jelas saat ia membuat gelang ini di temani Rianti.
“What?!” Tania sampai terperangah tidak percaya mendengar cerita Disa. “Tapi ini seperti black pearl loh. Permukaannya halus gini. Lo apain?” sangat penasaran sepertinya.
“Hehehehe… Nanti saya ceritakan yaa setelah kita selesai.” Janji Disa. Ia tahu waktunya akan panjang kalau harus bercerita bagaimana ia membuat karya ini.
"Tapi setelah claire tampil, gue boleh pake kan? Pinjem lah, ya..." rajuk Tania seraya memandangi gelang di tangan Clara.
"Em, sebenarnya gelang ini saya buat khusus untuk clara. Karena di gelang ini saya kasih inisial nama clara. Akan terlihat kalau di kasih cahaya pas lampu mati." terang Disa. Memang cukup sulit membuat gelang yang satu ini, karena ia khusus kan untuk menyempurnakan penampilan modelnya.
"Oh ya. coba dong gue mau liat." Tania benar-benar penasaran. Ia mematikan lampu ruangan lalu menyalakan flash light di ponselnya yang ia arahkan ke gelang Clara.
"Waw gila!! Lo totalitas banget sa." puji Tania dengan sepenuh hati.
Disa hanya tersenyum tipis, syukurlah ada yang menyukai karyanya.
Di sampingnya, Clara jadi memandangi gelang di tangannya dan sesekali menatap Disa. Masih tidak terpikir olehnya bagaimana Disa membuat gelang yang katanya khusus untuknya.
"Lo mau kan bikinin satu buat gue?" bujuk Tania.
“Saya sudah buat beberapa, nanti salah satunya untuk mba tania. Sebagai tanda pertemanan.” Jujur ia sebenarnya masih tidak yakin kalau Clara akan menyukai gelang ini. Clara memiliki selera yang tinggi yang tidak mudah terpukau dengan hal yang sederhana.
Masih teringat jelas saat sebelum berhenti kuliah ia membuat karya ini dan hanya mendapat nilai B. katanya benda seperti ini tidak menjual. Tapi, siapa sangka Tania memiliki pendapat lain dan mau memakainya tanpa protes.
"Om gue di jepang salah satu pecinta benda-benda seni kayak gini. Mesti banget dia liat ini.” Puji Tania tidak sabaran.
“Ya udah sih, nanti lagi terpesonanya. Berapa menit lagi nih?” Clara melepaskan tangannya dari genggaman Tania yang begitu antusias.
“Ahahaha.. Iya gue sampe lupa. Yuk, udah mau mulai kayaknya.” Dengan berat hati Tania melepaskan.
Mereka segera mendekat ke panggung dan berbaur dengan kontestaan lainnya. Menunggu dengan perasaan gundah saat-saat mereka harus tampil dan memukau mata para penonton.
"Lo tegang boleh tapi tetep fokus. Proses pergantian looks nanti harus cepet, jangan planga-plongo." bisik Clara di telinga Disa.
Disa terangguk mengiyakan ujaran Clara. Wanita cantik ini memang selalu punya cara sendiri untuk menyampaikan maksudnya. Walau tidak dengan cara yang manis, namun Disa memahaminya.
“Selamat datang di grand final kompetisi desain ke 18!” seru MC yang di sambut tepukan tangan yang gemuruh membuat Disa semakin gugup. Terdengar jelas bagaimana antusiasme para penonton di dalam sana.
Di back stage, Ia duduk di kursi tunggu kontestan dan di hadapannya ada Amel juga Teguh yang sama tegangnya. Saat Disa meliriknya, masih sempat Amel menujukkan tatapan sinisnya yang tidak pernah hilang. Disa tersenyum hangat membalasnya, jujur tatapan Amel tidak menganggunya sama sekali. Di sampingnya ada Teguh yang terlihat lebih tegang darinya. Ia masih memikirkan salah satu desainnya yang sedikit melenceng dari desain awal yang ia buat. Wajahnya cukup terlihat frustasi.
Dalam kondisi seperti ini, mental setiap orang benar-benar di uji dan setiap orang memiliki cara sendiri untuk menyikapi kecemasannya.
Selama ini, walau di karantina di hotel yang sama, namun belum pernah sekalipun mereka bertemu satu sama lain. Seperti halnya disa, mereka lebih memilih berdiam diri di kamar dan menyelesaikan pekerjaan di waktu yang sangat sempit. Dan baru kali ini lagi mereka bertemu.
“Di babak final ini, para model akan menampilkan karya para kontestan. Siapa desainernya, akan menjadi kejutan yang akan kami beritahukan setelah para juri memberikan nilai. Tapi yang mengikuti acara kami di sesi sebelumnya, pasti bisa menebak karya tersebut buatan siapa.”
“Di sebelah sana, ada para juri non model. Mereka dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda. Kami pilih setelah lulus dalam seleksi sebagai juri netral. Dan di sebelah sana, ada juri model yang akan menilai karya para desainer.”
“Setiap juri memiliki 1 kesempatan untuk vote pada karya yang paling mereka sukai dalam setiap looks. Jadi, selamat datang di grand final dan selamat menikmati karya calon para desainer.” Terang MC yang di susul dengan gemuruh tepuk tangan pendukung kontestan.
Suara dentumaan musik mulai terdengar lebih keras dan upbeat. Disa dan kontestan lain mendekat ke pintu panggung dan mempersiapkan model masing-masing.
Peragaaan busana di awali dengan looks formal. Setiap model masuk dan berjalan anggun di atas catwalk. Suara tepukan lagi-lagi terdengar membuat suasana terasa semakin memanas. Hanya beberapa menit saja sampai kemudian para model kembali untuk berganti baju dengan informal looks. Mereka bekerja dengan cepat, mengganti baju dan sedikit memoles kembali make up agar sesuai dengan pakaian yang mereka kenakan.
Semuanya dilakukan secara cepat, tidak ada jeda sama sekali. Masing-masing bekerja sesuai tugasnya dalam tim tersebut.
Looks kedua di pertunjukkan. Lagi suara tepukan mengisi ruang aula. Jantung Disa kembang kempis melihat penampilan Clara dan model lainnnya di atas catwalk. Pesona Clara memang tidak terbantahkan, ia terlihat paling bersinar di antara ketigasnya.
“Okey, dua desain sudah kita lihat. Para juri sudah memberi nilai dan telah masuk ke sistem kami. Dan sekarang, the last but not the least. Kita sambut, looks ketiga mahakarya pada finalis, here we goo!!!!” seru sang MC.
Orang-orang di back stage segera berkerumun di pintu masuk untuk melihat penampilan model mereka. Kecuali Disa. Ia memilih duduk sedikit berjarak. Kedua tangannya saling menggenggam dengan mata terpejam seraya berdo’a agar penampilan Clara di lancarkan. Suara suitan sambung menyambung terdengar dari bangku penonton dan cahaya blitz dari kamera saling bersahutan mengabadikan moment.
Clara melenggang dengan anggun. Tidak dipungkiri, kemampuan Clara dalam mempresentasikan baju yang dikenakannya memang sangat mumpuni. Tidak hanya cara berjalannya yang melenggok indah, ia pun menunjukkan ekspresi wajah yang menjiwai. Gerakan tubuhnya yang terbatas namun indah terlebih saat membentangkan sayap batik di belakang tubuhnya. Sangat cantik, sesuai dengan konsep Disa yaitu Psyche.
Pose terakhir di ambil oleh ketiga model. Kilatan blitz memeriahkan acara, saling bersahutan mengabadikan moment saat lensa kamera menangkap sosok cantik di atas catwalk. Penuh percaya diri hingga bisa memukau ratusan pasang mata.
Benar adanya, saat ingin memukau banyak orang dengan penampilan kita, yang pertama harus kita lakukan adalah percaya diri. Kepercayaan diri Clara yang tinggi membuat siapapun yang melihatnya terpesona dan jatuh hati.
“Claire, lo keren beb!” seru Tania dari back stage, entah terdengar atau tidak oleh Clara.
Disa ikut menoleh, harap-harap cemas dengan karya yang sedang di peragakan Clara.
“Disa, bentar lagi lo naik.” Imbuhnya memanggil Disa yang termangu di tempatnya.
“Sekarang mba?” masih tidak percaya kalau waktu 3 menit berjalan secepat itu.
“Iya, ayok siap-siap. Sini gue rapihin dulu dandanan lo. Jangan pucet gini.” Tania segera menarik tangan Disa, membawanya ke ruang make up. Memolesnya dengan bedak tipis dan memberinya lipstick yang berwarna sedikit cerah.
“Lo cakep juga, pangling gue."
"Padahal cuma bedak sama lipstick doang.” Puji Tania memperhatikan wajah Disa dari pantulan cermin.
Karena sibuk mendandani Clara, ia tidak memperhatikan Disa dengan seksama. Ternyata saat di perhatikan, wajah gadis ini memang sangat menarik dan tidak membuat bosan.
“Makasih mba, ini sih tangan mba tania yang magic.” Sahut Disa.
Ia ikut memandangi wajahnya di cermin. Wajahnya yang lebih merona, tidak lagi terlihat seperti mayat hidup akibat beberapa malam ini kurang tidur.
“Gini deh, kalo lo sampe juara, lo boleh calling gue kapanpun lo mau gue dandanin. Atau mungkin kalo lo mau married, gue siap ko di panggil. Asal jangan lupa kasih gue gelang yang mirip sama claire.” Tandas Tania, masih tetap keinginannya memiliki gelang seperti yang Clara pakai.
“Siap mba.”
“Okey, yuk ke depan. Bentar lagi lo naik panggung. Gugup boleh, tapi jangan bertindak bodoh soalnya banyak kamera yang mengabadikan moment ini, okey! Good luck!” Tania mengusap lengan Disa memberi semangat.
“Iya mba, makasih banyak ya. Do’ain yang terbaik buat aku.”
“Pasti. Caiyo!” mengepalkan tangannya dengan semangat.
Disa mulai mendekat ke pintu masuk catwalk. Di sana sudah ada Amel dan Teguh yang sama-sama tegang seperti dirinya. Mereka menunggu detik-detik di panggil ke atas panggung dan mendengarkan pengumuman.
Disa mengatur nafasnya beberapa kali, astaga, kenapa rasanya lama sekali? Jantung aman kamu di dalam sana?
******