
POV Kean:
Aku masih merasakan lelah di tubuhku yang rasanya makin menjadi saat aku berdiam diri seperti ini. Setelah mandi, aku pikir badanku akan terasa lebih segar, ternyata tidak. Mungkin karena yang lelah bukan hanya tubuhku melainkan otak dan perasaanku.
Pagi tadi, papah memanggilku ke rumah utama. Katanya ia sakit dan ada hal yang ingin dia sampaikan.
Sejak kepulangan mamah dan masalah keluarga kami yang mencuat, menjadi konsumsi publik sepertinya telah memukul mental papah. Papah seorang laki-laki yang perfesionis dan idealis, saat ada satu hal saja yang merusak idealismenya, maka itu menjadi hal yang serius untuknya. Citra baik yang ia bangun bertahun-tahun mendadak hancur karena aib keluarga yang di umbar oleh pamanku Marcel. Pak Marwan bilang, papah sempat menampar om Marcel dan memakinya habis-habisan. Kalau saja orang-orang tidak mencoba melerai mereka, mungkin salah satu di antara mereka akan berakhir di rumah sakit.
Hah, aku sangat lelah. Pikiranku penat. Kenapa om Marcel selalu mencoba mencari masalah dengan papah? Walau pun aku mencoba acuh pada keadaan papah tapi saat membayangkan papah yang lemah terkulai di atas tempat tidur memberiku rasa takut tersendiri.
Aku pun mengingat perkataan Disa beberapa hari lalu, “Tuan masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Memiliki nyonya besar dan tuan besar di waktu bersamaan. Sementara saya tidak. Saya bahkan tidak bisa bertanya seperti apa kabar mereka. Apa mereka merindukan saya atau hal lainnya yang ingin saya dengar dengan telinga saya sendiri.”
Seperti sebuah trigger, saat aku mengingat perkataan Disa yang perlahan jika aku pikirkan memang ada benarnya. Aku harus menurunkan sebagian besar egoku untuk datang menemui papah dan bertanya kabarnya. Bukan, aku harus belajar bersikap lebih baik dari yang papah lakukan padaku. Belajar untuk tidak mengabaikan orang-orang selagi mereka ada, sebelum aku menyesal.
“Jika terasa sulit, apa salahnya dengan memulainya dari belajar peduli walau mungkin di awal hanya usaha untuk basa-basi.” Begitu kalimat berikutnya yang aku dengar dari Disa. Dan pagi itu aku memutuskan untuk datang menemui papah.
Masuk ke ruang kerja papah, aku seperti tidak melihat papah yang sebelumnya aku kenal. Begitu cepat ia terlihat tua. Bahunya yang tegap sekarang seperti melorot, lelah menahan beban. Rupanya sebegitu besar efek yang diterima papah dari sebuah serangan mental. Aku tidak lagi melihat papah yang angkuh, hanya ada rasa kasihan saat melihatnya.
“Kamu datang kean?” sapa papah yang cukup terkejut melihat kedatanganku. Mungkin dia tidak menyangka kalau aku akan menurut untuk datang.
“Hem.” Aku duduk di sofa dan papah menghampiriku. Aku melihat papah yang berjalan tidak setegak dulu. Ubannya mulai terlihat banyak dengan raut wajah lelah yang ia tunjukkan padaku. Tidak perlu berbasa-basi bertanya kabarnya, karena sudah terlihat kalau dia tidak sedang baik-baik saja.
Kami duduk berhadapan. Ia memberi isyarat pada pak Marwan untuk meninggalkan kami dan pak tua itu menurut saja. Entah bagaimana caranya papah mendapat orang yang begitu loyal padahal papah orang yang acuh. Mungkin papah punya jasa yang harus di bayar oleh pak Marwan, atau entahlah. Hanya saja melihat kedekatan mereka yang terkadang seperti rekan kerja dan sekali waktu sebagai sahabat dan juga seorang kakak, cukup membuatku kagum.
Laki-laki itu pergi setelah mengangguk hormat padaku.
“Terima kasih kamu sudah mau datang.” Papah mengusap dadanya yang katanya sering terasa sakit dan sesak.
Kalau kata Pak Marwan, aritmia, gejala yang saat ini di derita papah dan sedang menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. Aku masih berfikir, bagaimana papah yang begitu menjaga makanannya, rutin berolah raga bisa mengidap penyakit seperti ini. Apa mungkin karena masalah di keluarga kami yang membuat penyakit itu muncul?
“Seperti yang kamu lihat, papah sudah mulai tua dan tidak terlalu sehat.” Memulai kalimatnya dengan menunjukkan kelemahannya. Apa maksud pembicaraannya? Apa dia sedang mencari simpatiku? Aku rasa, dia tahu aku sudah mulai luluh maka dari itu dia mencoba mencari kesempatan untuk berbicara denganku.
“Papah tidak bisa lagi mengelola perusahaan dengan baik. Papah sudah mencoreng pencapaian papah sendiri dengan masalah keluarga kita. Kondisi perusahaan mulai tidak stabil dan papah yakin kamu merasakan itu.”
Sampai batas kalimat itu, aku rasa aku mulai tahu arah pembicaraan papah. Aku tahu apa yang dia mau.
“Jadilah penerus papah. Pewaris dari semua perusahaan yang papah rintis dari nol. Tolong bantulah papah.” Papah menjeda kalimatnya dengan helaan nafas panjang. Seperti tengah berusaha mengatur ritme nafasnya yang tidak beraturan.
Aku tahu, lambat laun hal ini yang akan papah katakan. Seperti yang ia bilang sebelumnya, aku dilahirkan hanya untuk meneruskan perusahaan papah tanpa bisa menolak.
“Papah masih punya om marcel, kenapa masih memaksaku?” aku menimpali dengan dingin. Sungguh, memegang semua perusahaan milik keluarga ini bukanlah sesuatu yang aku inginkan.
“Marcel.” Papah tersenyum seraya mengetukkan jarinya di lengan kursi. “Papah gak bisa mempercayai dia." kalimatnya tegas.
"Dia terlalu tamak. Seperti saat ini, dia membuat masalah ini agar papah menuruti keinginannya. Tapi papah tidak bisa. Papah tidak bisa membayangkan seperti apa perusahaan kecil yang papah kelola hingga menjadi sekarang harus hancur di tangan Marcel.” Aku melihat dengan jelas ketidak percayaan papah pada Om Marcel.
“Tapi papah belum mencobanya. Papah belum pernah memberinya kepercayaan untuk mengelola perusahaan.” Aku masih menyanggah. Ini bentuk pengingkaranku dari tugas berat yang diberikan papah.
“Siapa bilang?” papah menolehku. “Saat kamu di amerika, papah memberikan dua anak perusahaan untuk di kelola Marcel."
"Hasilnya apa? Perusahaan itu dia merger dengan pihak lain, tanpa sepengatahuan papah. Kamu pikir bagaimana nasib para pekerja itu? Berapa banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya karena kelakuan marcel?” papah menunjukkan kekesalannya.
Aku tahu, papah sangat peduli pada para pekerjanya. Tapi aku tidak menyangka kalau hal yang menyangkut pekerja adalah hal yang begitu sensitif untuk papah. Mungkin itu juga yang membuat papah begitu murka saat aku hampir membuat anak perusahaan yang aku pimpin bangkrut.
“Mungkin saja aku tidak lebih baik dari om marcel.” Sanggahku.
Papah menggeleng. “Kamu sudah ada di posisi ini. Kamu menuruni bakat bisnis keluarga hardjoyo. Papah yakin, papah tidak salah pilih.” Papah terlihat yakin dengan kata-katanya.
Aku masih harus berfikir antara mengiyakan permintaan papah atau tidak. Sungguh, aku belum bisa membayangkan seperti apa kehidupanku saat harus berperan seperti papah. Sebagian besar waktunya adalah untuk bekerja tanpa ada perhatian pada hal lain yang lebih penting, yaitu kami, keluarganya.
“Kean mungkin bisa mencobanya. Tapi kean punya satu syarat.” Seperti yang biasa dilakukan papah, terkadang aku pun harus tawar menawar dengan laki-laki di hadapanku.
“Katakan.” Seperti bersiap untuk mengiyakan permintaanku.
Aku menghela nafasku dalam. Semoga permintaanku bisa membalik keadaan. “Saat kean memenuhi permintaan papah, kean minta papah melakukan peran papah sebagai seorang laki-laki yang memiliki istri dan anak-anak.”
“Bersikaplah sebagai seorang suami dan sebagai seorang ayah. Perbaiki semua kesalahan di masa lalu agar tidak ada celah bagi siapa pun untuk menjatuhkan keluarga kita.”
“Ubahlah keadaan menjadi terasa kalau kita memang sebuah keluarga.” Tuturku dengan penuh keyakinan.
Papah tampak berfikir lalu mengangguk. “Papah akan berusaha.” Ujarnya.
Dia tersenyum seraya menatapku. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum dengan tulus. Mungkin aku harus belajar percaya pada papah.
Siang itu juga, papah langsung mengadakan rapat direksi. Semua berjalan dengan cepat, seperti sudah di rencanakan papah sejak awal. Kami berkumpul di aula kantor pusat dan membahas penyerahan tongkat pimpinan perusahaan kepadaku.
Aku tidak menyangka, kalau orang-orang di perusahaan begitu loyal pada papah. Dengan mudah mereka mengiyakan perintah papah. Saat melakukan voting persetujuan, hanya sekira 8% yang menolak dan 3% abstain. Sisanya, mereka menyambut baik kedatanganku. Aku resmi menjadi pimpinan utama di Hardjoyo group.
Hah, beban itu berpindah ke pundakku. Orang-orang menyalamiku memberi selamat. Papah yang semula terlihat sakit mendadak baik-baik saja. Apa papah benar-benar sakit atau sedang mempermainkanku?
“Wah wah wah! Selamat kean!!!” seorang laki-laki paruh baya menghampiriku. Menyalami lantas merangkulku. Om Brata, sahabat papah sekaligus pemilik salah satu perusahaan properti besar.
“Terima kasih om.” Sahutku.
“Om yakin, kamu bisa memimpin perusahaan ini jauh lebih baik dari papahmu. Om percaya sama kamu.” Imbuhnya seraya menepuk bahuku.
Aku hanya mengangguk sambil bertanya dalam hati, apa aku benar-benar bisa?
Siang itu, pertemuan di tutup dengan makan siang bersama. Papah kembali tertawa berbagi cerita dengan teman-temannya dan membanggakanku. Apa papah benar-benar sakit?
****
“Maaf, kean udah ganggu mamah.” Ujarku seraya mengecup kepala mamah.
“Siapa yang ganggu? Justru mamah nunggu kamu. Gimana hari ini?” rupanya mamah sudah mendengar kabar penunjukkanku sebagai pengganti papah.
Aku menghela nafas dalam lantas terduduk di sisi tempat tidur mamah. Ada banyak beban yang ingin aku ceritakan tapi rasanya mamah tidak berkewajiban untuk ikut memikirkan masalahku.
“Lancar.” Hanya itu jawabanku. Tersenyum seolah semua baik-baik saja dan tidak lama mamahpun tersenyum.
“Mamah sangat percaya kamu bisa menghadapi semuanya. Semangaaattt!!” mamah menyemangatiku dengan menggemaskan.
Cukup terhibur hingga aku bisa tertawa.
“Makasih mah.” Ku raih tangan mamah kemudian mengecupnya. “Kean harap mamah selalu ada di samping kean saat menghadapi semuanya. Supaya kean kuat, tenang dan menjalani semuanya dengan baik.” Ku genggam erat-erat tangan mamah yang cukup hangat.
“Tentu. Kamu anak kebanggaan mamah. Mamah pasti akan selalu ada di samping kamu.” Tutur mamah seraya mengusap kepalaku. Salah satu hal yang paling menenangkan buatku.
“Kamu udah makan nak?” aku hanya menggeleng. “Disa belum pulang. Mungkin sebentar lagi. Tapi dia sudah memasak makanan yang enak buat kamu.”
“Belum pulang? Memang kemana?” tumben pikirku aku tidak tahu apa yang dia lakukan.
“Pergi sama reza. Kondangan katanya. Tadi dia cantik banget pake gaun. Mamah sampe manglingi.” Mamah memang selalu bersungguh-sungguh kalau masalah memuji.
Aku hanya tersenyum. Ada rasa kesal yang terselip di hatiku. Dia pergi dengan Reza, meninggalkan mamah seorang diri. Apa yang dia pikirkan? Dia pikir dia sebebas itu? Hah, kesal rasanya.
“Kean ke kamar dulu. Mamah tidur lagi ya.” Lebih baik menyudahi pembicaraan ini daripada mamah terus membahas Disa dan membuatku semakin kesal.
“Hem. Selamat malam sayang.” Mamah mengusap pipiku dengan lembut lantas ku hadiahi satu kecupan di dahinya.
“Hem. Mimpi indah mah.” Ku selimuti mamah sampai ke dada dan meninggalkannya seorang diri.
****
Hingga saat ini aku masih menghela nafas kesal. Sudah jam 10 Disa masih belum pulang. Mungkin ia terlalu asyik bersama Reza sampai lupa kalau ada yang menunggunya di rumah.
Selesai mandi, aku turun untuk makan malam. Walau tidak berselera, aku tetap harus mengisi perutku.
“Selamat malam tuan.”
“Astaga!” aku sampai terperanjat saat melihat Disa tiba-tiba berdiri di hadapanku. Ku lihat kakinya benar-benar menapak, bukan hantu.
“Ma-maaf kalau saya mengagetkan anda.” Ujarnya.
Ku lihat lagi, Disa masih mengenakan gaunnya tapi riasanya sudah terhapus. Sedikit penasaran seperti apa rupanya saat dia berdandan manglingi seperti yang mamah bilang.
“Apa begitu mengasyikan pergi kondangan dengan pasangan sampai kamu lupa pulang.” Kalimat sinis itu tiba-tiba meluncur tanpa bisa aku kontrol.
Disa terlihat pias, sepertinya dia sadar kalau aku marah.
“Ma-maaf tuan. Tadi ban mobil kak reza pecah, jadi kami menunggu bantuan.”
Akh alasan klise. Dia pikir dia bisa berboohong seperti itu padaku? Aku mengenal Reza, dia seorang yang well prepare, mana mungkin ban nya pecah di perjalanan?
Aku tidak menimpali lebih memilih menghampiri meja makan dan melihat menu makanan. Tidak berselera. Ku tutup dengan kasar tudung saji hingga membuat Disa terperanjat.
Aku kembali ke atas dan Disa mengikutiku di belakang, hanya terpaut tiga langkah saja.
“Tuan.” Dia memanggilku. Apa maunya?
“Hem.” Sahutku tanpa menghentikan langkahku. Dia masih mengikutiku.
“Saya pergi ke pesta bukan sebagai pasangan kak reza, tapi sebagai temannya. Lagi pula, pak hilman dosen saya, jadi saya memenuhi undangannya.” Dia mencoba menjelaskan dalam satu tarikan nafas. Sangat bersemangat.
Memangnya apa bedanya datang sebagai teman dengan datang sebagai pasangan? Bukankah keduanya sama-sama datang berdua dan pulang berdua? Dan tidak mungkin selama kurun waktu mereka bersama-sama tidak ada yang terjadi.
Akh! Lihat otakku mulai berfikir yang tidak-tidak, membayangkan apa yang mereka lakukan di dalam mobil.
Aku berbalik dan menatapnya. Dia berusaha tersenyum seperti biasa dan pikiranku semakin tidak menentu. “Kalau begitu, bisakah kamu juga pergi ke pesta bersama saya sebagai seorang teman?”
Sial! Darimana asal pertanyaan itu? Apa yang ku katakan?
Aku mengupati mulutku sendiri yang terkadang terlalu spontan.
“Bisa tuan.” Jawabnya dengan tegas.
Hey, jangan mempermainkanku. Jangan juga mempermainkan Reza. Kamu membuatku dan Reza seperti tengah bersaing hanya untuk sama-sama pergi ke pesta.
Tapi kenapa aku merasa senang mendengar jawabannya? Benarkah dia hanya menganggap Reza sebagai teman?
Aku tidak menimpali lagi dan memilih kembali ke atas. Bibirku refleks tersenyum. Dalam pikiranku terus berputar kata-kata “Dia hanya menganggap reza teman.” Berulang kali sampai aku merasa senang.
Sepertinya aku bisa tidur dengan nyenyak.
****