
Perkara panggilan saja masih membuat mood Kean belum membaik. Belum adanya panggilan baru membuat Kean terlihat kesal terlebih saat ia mengingat kalau Disa memiliki nama panggilan tersendiri untuk Damar dan untuknya, satu jam masih belum didapatkan juga.
Entah ini hanya kesal karena belum ada panggilan spesial atau kecemburuannya yang belum reda setelah membayangkan Disa pergi ke punclut dengan laki-laki lain. Pasti ada perasaan senang yang dirasakan gadis itu hingga begitu santai menceritakan pengalamannya beberapa kali ke punclut.
Tidak bisa di pungkiri kalau sepanjang perjalanan yang ada di pikiran Disa adalah beragam panggilan yang kira-kira cocok untuk Kean dan hingga tiba di punclut ia belum menemukan panggilan yang tepat untuk calon suaminya.
Pintu mobil terbuka, kali pertama Kean membukakan pintu langsung untuk Disa. Disa masih termangu di tempatnya tidak menyadari kalau Kean sudah berdiri di sampingnya dan memandanginya.
Pria tampan itu tersenyum tipis saat melihat tatapan Disa yang nanar ke depan sana tanpa tahu titik mana yang di lihatnya.
Kelopak matanya berkedip perlahan membuat bulu matanya yang lentik alami tampak cantik bergerak naik turun. Ia berharap hanya wajahnya yang muncul dalam benak Disa.
“Turunlah, kamu masih punya waktu sampai kita selesai makan di sini.” ujar Kean, berbisik di telinga Disa. Kasihan juga membiarkan Disa terus menerus memikirkan panggilan sayang untuknya.
Gadis itu tampak tersentak dengan lamunan yang kemudian sirna.
“I-Iya a.” jawabnya spontan.
Kean mengernyitkan dahinya seraya menatap wajah polos Disa yang kaget dengan ucapannya sendiri.
“Bisa kamu ulangi?” pinta Kean tanpa melepaskan pandangannya dari Disa.
“Em, maaf tadi,” Disa celingukan, entah dari mana asal jawaban refleks itu.
“Tidak perlu minta maaf aku hanya minta kamu mengulanginya.”
Kean menjeda langkah Disa yang baru akan turun dari mobil. Ia sedikit membungkukkan badannya dengan tangan kanan yang bertopang pada pintu mobil. Walau posisi tubuhnya sedikit melengkung, laki-laki ini tetap terlihat keren.
Mata Disa mengerjap pelan saat wajah Kean cukup dekat dengan wajahnya yang sedikit menengadah. “I-Iya a.” ulangnya dengan wajah yang langsung memerah. Malu rupanya.
Kean berusaha menahan senyumnya, saat Disa malu-malu seperti ini terlihat menggemaskan baginya.
“Panggil namaku dengan awalan itu.” pinta Kean kemudian.
Disa masih berfikir, apa Kean benar-benar menyukai panggilan yang spontan tadi atau hanya untuk menyenangkannya. Awalnya ia akan memanggil abang, seperti yang Shafira lakukan mengingat panggilan itu cocok untuk laki-laki bertubuh tegap tersebut tapi kalau mengingat cara Shafira mengejek Kean dengan nama itu, ia sering tidak kuat menahan tawanya. Mungkin panggilan “Aa, “ memang lebih cocok untuk Kean.
“A-a kean?” ucap Disa ragu.
Kean malah tersenyum, seraya memalingkan wajahnya dari Disa. Manis sekali di dengar membuat perasaannya melayang. Baginya ini lebih baik dan lebih membanggakan dari sekedar mendapat gelar akademis yang di sandangnya.
“Ulangi lagi.” ketagihan rupanya.
“Nggak ah tuan. Kenapa harus di ulang-ulang?” jadi malu sendiri dan membuat Disa protes.
“Eits, kamu dilarang memanggilku seperti sebelumnya. Kalau sampai kamu salah manggil, kamu akan di hukum.” Kean memperingatkan. Kadang harus sedikit ada ancaman agar Disa lebih patuh.
“Hukuman? Hukuman apa tu, eh a?” dahi Disa sedikit mengernyit, salah panggil saja bisa berbuah hukuman memangnya dia sedang di ospek?
“Hukumannya seperti ini,” Kean tiba-tiba mendekat dengan jarak wajah yang sangat tipis dari Disa. Seketika Disa memejamkan matanya dan merapatkan bibirnya. Sudah bisa ia bayangkan apa yang akan Kean lakukan di detik berikutnya jika ia tidak menghindar.
“I-Iya, saya mengerti tuan.” sahutnya dengan cepat seraya menghindar. Tidak terbayangkan kalau di area parkir seperti ini tiba-tiba Kean menciumnya. Pasti akan sangat malu.
Sementara Kean masih berusaha menahan tawanya. Niat hatinya hanya untuk menggoda Disa, siapa sangka gadis ini menanggapinya dengan serius.
“Itu baru aja kamu membuat kesalahan,” ada celah untuk ia memberikan hukuman.
“Ma-maaf a. Tidak akan saya ulangi. Sekali ini anulir dulu.” kaku sekali kalimat yang diucapkan Disa membuat Kean ingin tertawa terbahak-bahak. Kepalanya yang selalu menunduk seolah menjadi garis pertahanan yang Disa buat untuk menghindari serangannya.
“Ya udah kali ini aku maafkan. Sekarang kamu masih mau di sini atau mau turun?”
“Turun.” jawabnya cepat.
Kean mengulurkan tangannya membantu Disa turun. Dengan ragu Disa membalas uluran tangan Kean yang kemudian menggenggamnya dengan erat. Hangat dan mendebarkan, seperti bagian tidak terpisahkan dari seorang Kean.
Kean pun menempatkan tangannya di atas kepala Disa agar saat berdiri kepala Disa tidak mengenai pintu mobil. Di bawanya Disa berdiri lantas membuka jasnya yang kemudian ia sampirkan di bahu Disa.
Di pandanginya jas yang tersampir di bahunya, Disa sadari setelah acara lamaran tadi sikap Kean jauh berbeda. Lebih manis, lembut dan penuh kasih tapi juga sensitif, tidak seperti Kean yang selama ini di kenalnya.
“Teh disa ayo!” seru Shafira seraya menarik tangan Disa.
Gadis manis ini pun sudah mengubah panggilannya pada Disa. Panggilan yang biasa diberikan pada kakak perempuan di sunda. Hal kecil seperti ini mendadak menjadi hal manis yang membuat Disa terharu. Seperti keluarga Kean benar-benar menyambutnya masuk ke dalam keluarga mereka.
“A, aku..” menatap Kean yang mematung di sampingnya. Bingung juga apa harus meninggalkan Kean atau tetap berada di samping Kean.
Kean hanya mengangguk dan membiarkan Disa di tarik oleh Shafira.
Mendapat izin dari Kean, di belakang langkah Shafira yang panjang, Disa mengikuti. Sesekali ia menoleh pada Kean yang berjalan di belakangnya tanpa tergesa-gesa. Seperti banyak waktu yang ingin ia habiskan di tempat ini.
Di pandanginya Disa yang berjalan jauh di depannya. Perasaannya saat ini tengah sangat bahagia setelah terlepas dari ketegangan apa Disa akan menerima lamarannya atau tidak.
Sejauh ia mengenal Disa, banyak hal yang sudah ia kenali dari gadis ini namun, untuk mengiyakan lamarannya, bukan sesuatu yang mudah untuk ia tebak. Dan kesediaan Disa menjadi hal yang membahagiakan untuknya.
Pemandangan citylights yang terkenal di tempat ini, menjadi pemandangan romantis untuk setiap pasang mata yang melihatnya. Shafira segera mengeluarkan ponselnya dan menarik tangan Reza ke salah satu spot foto para pengunjung. Sudah tidak sabar untuk membuat jejak kedatangannya ke tempat ini.
“Pastikan aku terlihat tinggi dan fotonya layak aku pamerkan.” begitu pesan Shafira saat membenamkan ponselnya di tangan Reza.
“Mau sekalian aku bikin terlihat langsing gak?” ledek Reza.
“Emang aku gendut? Wle!” balas Shafira. Dari sudut mana coba tubuhnya terlihat berisi.
Reza hanya terkekeh mendengar celotehan adik sahabatnya. Ia mengikuti saja semua kemauan Shafira, sesekali menyenangkannya tentu tidak masalah. Beberapa foto Shafira di ambil Reza dengan berbagai pose dan beragam spot. Tempat ini memang sangat layak untuk dipamerkan hingga Shafira begitu antusias bergaya.
“Ta, temenin jalan-jalan yuk, kita ke taman situ.” ajak Arini pada Nita yang sedang asyik menyesap wangi jahe merah dari minuman yang di nikmatinya.
“Aku masih mau makan jagung rin.” Tolak Nita, belum memahami isyarat yang diberikan Arini kepadanya.
“Ya udah, kamu jadi yang ketiga di sini, aku sama marwan mau jalan-jalan.” sahut Arini karena sahabatnya tidak bisa di ajak kompromi.
“Mari nyonya.” Marwan segera beranjak dan meraih pegangan kursi roda Arini.
“Jangan, cukup bantu saya berjalan saja.”
Arini menggunakan kedua tangannya untuk berpegangan pada pinggiran kursi dan berusaha berdiri. Sudah sangat lama ia ingin berjalan sendiri di hamparan rumput yang hijau dan merasakan telapak kakinya yang menyentuh tanah.
“Eh aku bantu rin.” Nita segera mendekat saat sadar kalau hanya ia sendiri yang berada di antara Disa dan Kean.
“Tante ke sana dulu.” pamitnya, menaruh kembali jagung rebus yang baru di ambilnya.
“Iya tante.” sahut Disa.
Sementara Kean hanya tersenyum, rupanya orang-orang ini mengerti untuk memberikan ruang untuknya dan Disa.
Di tinggalkan hanya berdua dengan Disa, dunia mulai terasa milik berdua. Meneguk minuman hangat yang menghangatkan tenggorokan namun sensasi hangatnya sampai hingga ke hati. Lautan cahaya di bawah kaki mereka, seolah menambah keromantisan malam yang dingin.
"A, mau rebus jagungnya gak? Aku pesenin lagi kalau mau?" tawar Disa. Kean yang tampak asyik menikmati minuman hangatnya seraya memandangi pemandangan di bawah sana.
"Gak usah, aku masih kenyang." tolak Kean yang menarik Disa mendekat padanya.
Disa hanya tersenyum, berusaha menjaga jaraknya dengan Kean agar tidak terlalu dekat. Tidak terbiasa berdekatan seperti ini di hadapan banyak orang.
"Aku tidak akan menggigitmu, sa." bisik Kean yang membuat Disa memiringkan kepalanya menghalau sapuan lembut nafas Kean.
Bukan perkara menggigit yang menjadi masalah Disa tapi rasa berdebar yang sulit ia tahan.
"Iya a. Tapi gak enak keliatan sama yang lain."
Terpaksa Kean melepaskan tangan Disa.
“Aku baru tahu kalau ada tempat secantik ini di bandung.” ungkap Kean seraya menatap Disa yang ada di sampingnya.
Andai Disa tahu yang cantik itu tidak hanya lautan cahaya di hadapan mereka tapi seseorang yang persis duduk di sampingnya.
“Di bandung banyak tempat seperti ini tu, eh a.” hampir saja Disa memanggil Kean dengan panggilan lama.
Cepat-cepat ia menghentikan kalimatnya dan menghela nafas untuk memfokuskan pikirannya agar tidak melakukan kesalahan.
Kean jadi tersenyum melihat usaha keras Disa. Ia tahu, mengubah kebiasaan itu cukup sulit, termasuk cara Disa memanggil Kean.
“Terima kasih.” ujarnya, seraya mendekatkan tangannya pada tangan Disa yang tergeletak di atas meja lantas menyentuhkan kelingkingnya pada kelingking Disa.
Seperti ada hantaran listrik yang lagi mengenai jantungnya saat hangatnya permukaan kulit Kean menyentuh kelingking Disa yang dingin.
“Terima kasih untuk apa, a?” sedikit mengalihkan perhatiannya dengan bertanya dan membiarkan rasa hangat itu memenuhi hatinya.
“Untuk semuanya.”
“Untuk mengiyakan permintaanku, berusaha keras membuatku senang dan setiap usaha yang kamu lakukan untuk bertahan di sampingku.”
Digenggamnya tangan Disa dengan erat kemudian menyelipkan jemarinya di antara jemari Disa dan menguncinya. Nyaman sekali rasanya.
Disa menatap penuh binar tangannya yang bertautan dengan Kean. Perasaan tenang dan hangat itu pun dirasakan Disa.
“Terima kasih karena aa mau memilihku untuk menjadi istri aa nanti.” timpal Disa dengan gemetaran. Berbicara seperti ini pada Kean seperti perlahan mulai menyerahkan hidupnya pada Kean untuk selamanya menjadi milik calon suaminya.
Kean tersenyum senang mendengar ujaran Disa. Ia memutar tangannya mengelilingi tubuh Disa lantas menariknya untuk mendekat. Mengecup bahu Disa dengan lembut lalu mencium rambut Disa yang wanginya sangat ia sukai. Ia memejamkan matanya seraya menyandarkan kepalanya di kepala Disa. Mencoba merasakan kembali rasa bahagia yang mengisi hatinya. Tidak pernah ia bayangkan kalau ia akan bertemu rasa tenang seperti ini.
Sementara Disa, tubuhnya masih begitu kaku saat jarak Kean sangat dekat dengan dirinya. Ia memperhatikan ke sekelilingnya, khawatir ada yang melihat apa yang ia lakukan bersama Kean. Tapi setiap orang sibuk dengan urusan masing-masing dan menikmati sendiri momen yang mereka ciptakan. Mungkin Disa pun harus melakukan hal yang sama.
Mengisi waktu yang ada dengan momen yang berkesan untuknya dan Kean, agar ada yang bisa ia kenang di kemudian hari. Ya, seperti ini saja. Merasa tenang dan bahagia di waktu yang bersamaan.
*****