Marry The Heir

Marry The Heir
Tidak hanya senang tapi tenang



“BUK! BUK! BUK!”


Satu buah samsak hampir hancur, berayun maju dan mundur mendapat pukulan yang bertubi-tubi dari Kean. Keringatnya sudah bercucuran membasahi tubuhnya yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kerja.


Jangan tanyakan kepalnya yang nyaris kebas menghantam samsak puluhan bahkan ratusan kali.


Sudah satu jam Kean berada di sasana milik Nasep dan melakukan hal ini. Nasep dan Dewi hanya saling pandang saat melihat tenaga Kean yang seperti tidak ada habisnya. Bukan tenaga, mungkin dorongan emosi yang membuat tubuhnya tidak ingin berhenti menghajar samsak di hadapannya. Lantai sudah ikut basah oleh keringat Kean yang bercucuran dan matanya sudah mulai tidak fokus hingga beberapa kali ia terhantam sendiri oleh ayunan samsak yang balik menyerangnya.


“Lo temenin napa ade lo yang lagi main. Ato lo suruh berhenti sekalian daripada dia mati kecapean.” Hasut Dewi pada sang suami yang malah asyik bermain dengan anak-anaknya sambil memperhatikan Kean.


“Ah elah, namanya juga laki. Udah untung dia cuma ngehajar samsak, kagak bikin bengep muka orang.” Sahut Nasep ringan.


Walau terkesan acuh, sebenarnya Nasep tahu kalau Kean sedang mencoba meluapkan emosinya. Hanya saja ia ingin membiarkan sahabatnya itu terlepas lebih dulu dari luapan emosinya saat ini.


“Eh elo kalo ngomong!” sikutan keras dari Dewi membuat Nasep meringis.


“Kalo tuh bocah kenapa-napa terus orang-orang babehnya dateng di mari terus ngehancurin nih sasana, lo udah siap, hah?!” Dewi menyalak.


“ISH! Elu ya kalo nakutin-nakutin suka bener-bener ya!” timpal Nasep yang langsung berdiri dari tempatnya.


“Nah takut kan lo! Makanya, temenin sono. Suruh berenti sebelum tuh tulang-tulang tangannya remuk semua.”


“Iya iya akh elah. Nih bini nakutin aja, gue abisin juga tuh mulutnya tar malem.” Gerutu Nasep yang akhirnya menurut.


Diambilnya sarung tinju yang biasa ia gunakan dan menghampiri Kean.


“Butuh temen sparing gak lo?!” seru Nasep dari bawah ring.


Kean berhenti sejenak dengan nafas yang terengah-engah. Ia memegangi samsak agar tidak lagi berayun dan menghantamnya. Ia mengarahkan tangannya ke atas, meminta Nasep mendekat.


Nasep pun menghampiri. Mereka berdiri berhadapan dan bersiap-siap pada posisi masing-masing.


“Sebaiknya lo berhenti sebelum gue bikin babak belur.” Hasut Nasep dengan senyum menyeringai.


“Lo mau hajar, hajar aja. Gue gak bakal lengah atau ngalah.” Timpal Kean penuh percaya diri.


“Akh songong emang lo. Maju lo!” berganti Nasep yang menantangnya.


Kean mulai menyerang Nasep, mengarahkan tinjunya ke wajah Nasep. Dengan cepat Nasep menghindar, memberi perlawanan dan satu pukulan mendarat di pipi Kean.


Kean kelimpungan. Karena kelelahan fokusnya mulai berkurang.


Tapi ia tidak tinggal diam, ia kembali menyerang Nasep, mendaratkan satu pukulan di wajah nasep yang membuat laki-laki itu mundur beberapa langkah mendapat pukulan dari Kean. Ternyata tenaga Kean masih cukup banyak untuk membuat wajahnya membiru.


Kean menyeringai puas berhasil membalas pukulan nasep.


Berganti Nasep yang menyerang, mengarahkan tinjunya pada Kean dan aksi saling balas pukulan itu pun tidak terelakan. Sesekali Kean yang menyerang dengan agresif dan nasep bertahan dan sesekali Nasep yang menyerang dan Kean bertahan dengan melindungi kepalanya. Naas, saat Kean akan membalas, ia kalah cepat dari Nasep dan,


“BUK!!!” pukulan keras mendarat di rahang kiri Kean membuat tubuh jangkung itu kelimpungan lantas jatuh terlentang.


Nasep tersenyum puas karena berhasil menumbangkan Kean. Cara ini sengaja ia lakukan agar Kean berhenti.


“Masih mau nambah lo?” tantang Nasep masih dengan kuda-kudanya dan gerakan tinju banyak gaya yang ia pamerkan.


“Sialan lo bang!” sahut Kean yang hanya tertawa karena dikalahkan oleh Nasep. Padahal biasanya ia yang membuat Nasep jatuh terkapar.


“Gue tiap hari ada di tempat ini. Gak mungkin lah sekarang gue kalah dari lo!” Nasep melepas sarung tinjunya dan menyampirkannya di ring. Ia menghampiri Kean dan terduduk di sampingnya.


Kean tidak menimpali. Tawa kalahnya hilang, berubah menjadi ekspresi dingin. Ia memang sedang ingin di hajar, mengajar satu sisi tingkah brengseknya yang membuat Disa memutuskan untuk pergi.


“Lo baik-baik aja bro?” pertanyaan itu di lontarkan Nasep dengan penuh rasa cemas.


Ia tidak pernah melihat Kean sekacau ini walau banyak masalah yang pernah dihadapinya.


Kean tidak lantas menjawab. Ia bangkit dari tempatnya, melepas sarung tinjunya juga kain putih yang melilit kepalan tangannya. Lihat jari-jari tangannya yang merah dan memar. Di usapnya sisa darah yang terasa asin di sudut bibirnya.


“Gue ngerasa lebih baik setelah lo hajar.” Sahut Kean tanpa menoleh Nasep di sampingnya.


Rasanya lebih baik sakit seperti ini yang ia rasakan. Sakit yang akan sembuh setelah ia kompres dan di beri obat merah. Di banding sakit di dalam dadanya, yang tidak mudah hilang walau ia sudah banyak mengingkari dengan mengatakan, ia baik-baik saja.


“Gak pernah ada yang baik-baik aja setelah gue hajar. Minimal harga diri lo jatoh karena kalah dari altet buncit macam gue.” Dengan sombong nasep menunjukkan perutnya yang bulat dan sudah tidak sekeren dulu.


Nasep memang seorang atlet tinju. Namun setelah ia mengalami cedera serius pada tulang dadanya, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan memilih membangun sasana. Beruntung tanpa sengaja ia bertemu Kean yang saat itu sedang sangat kacau dengan masalah keluarganya.


Di katakan beruntung karena mereka seperti bertemu di waktu yang tepat. Saling terluka dan saling menguatkan hingga sekarang.


“Udah sejak lama gue gak punya harga diri. Atau mungkin gue emang gak pernah punya harga diri.” Sahut Kean dengan frustasi.


Baginya ia seperti seekor kerbau yang di cocok hidungnya hingga ia harus menurut pada apa yang diperintahkan Sigit tanpa bisa menolak. Hingga saat dewasa, ia kehilangan jati dirinya sendiri. Merasa ragu dan takut untuk banyak hal yang seharusnya ia hadapi dengan berani.


“Mengalah demi ngelindungin orang yang berharga buat lo, bukan berarti lo gak punya harga diri bro.”


“Harga diri lo terlihat saat lo berusaha memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi milik lo.”


“Dan inget, berhenti untuk terus terkurung dalam masa lalu lo. Berhenti hanya peduli pada rasa takut dan kecewa lo di masa lalu.”


“Itu puluhan tahun lalu. Sekarang lo udah dewasa, lo udah jadi seorang suami. Lo juga punya temen hidup yang hebat yang harus lo pertahanin sampe akhir. Itu nilai harga diri lo.”


“Gak sayang apa kalo sekarang lo tukar dengan perasaan yang sudah seharusnya lo tinggalin?” tanpa sadar kalimat itu mengalir begitu saja dari mulut Nasep.


Ia tahu persis seperti apa keluarga sahabatnya. Lebih dari itu, ia tahu persis perasaan takut Kean yang belum seluruhnya sembuh.


Saat Kean datang, Nasep memang bertanya tentang Disa yang tidak ikut. Tapi Kean malah terlihat kesal dan tidak bersedia menjawab. Memukuli samsak yang lebih di pilih Kean untuk mengungkapkan kemarahannya. Nasep sadar, Kean sedang ada masalah serius dengan istrinya.


“Satu pesen gue, jangan sampe lo nyesel karena melepaskan masa depan lo demi masa lalu yang udah seharusnya lo kubur. Jangan sampe.” Pesan Nasep, seraya menepuk punggung Kean lantas beranjak meninggalkan Kean sendirian.


Sahabatnya perlu merenung dan memikirkan semuanya sendiri.


Kean tercenung di tempatnya dengan tetesan keringat yang masih menuruni garis tubuh dan wajahnya. Ia memikirkan benar perkataan Nasep dan Clara siang ini.


Mencoba menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit sasana yang luas namun tetap membuatnya merasa terkurung.


Terkurung,


Bukan ruangan ini sebenarnya yang mengurungnya tapi perasaannya sendiri yang tidak membebaskan jiwanya. Membuat ia selalu hidup dalam rasa marah dan serba salah. Membuat setiap tidur malamnya di penuhi mimpi-mimpi buruk tentang masa lalunya.


Semuanya hanya tentang bagaimana Sigit menatapnya dingin, membentaknya, mendorong tubuhnya untuk menjauh dan memperlakukannya seperti boneka yang tidak memiliki perasaan. Semua itu begitu membekas di pikirannya.


Tapi kemudian wajah Disa muncul di benaknya. Tatapannya yang hangat dan membuatnya tenang. Senyumnya yang mengisyaratkan kalau semua akan baik-baik saja. Lalu pelukannya yang membuat Kean merasa mimpi buruk hanya lah mimpi buruk yang tidak perlu membuatnya takut.


Lalu jika wanita itu pergi, apa jadinya ia nanti?


Mungkin Disa benar kalau salah satu alasan ia menikahi Disa karena ia tidak mau kehilangan rasa nyaman yang Disa berikan tapi, lebih dari itu ia seperti menemukan obat penyembuh untuk rasa sakitnya.


Kean tersentak seperti tersadar akan sesuatu. Dengan segera ia bangkit dari tempatnya. Mengambil kaos polo yang kemudian ia pakai sekaligus mengambil kunci mobil. Rasanya ia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.


*****


Putaran roda berputar dengan cepat, menggilas jalanan basah karena air yang menggenang sisa hujan sore ini. Aspal yang gelap di bawah langit yang masih menghitam, seperti akan menurunkan kembali derai hujan yang membuat rasa sepi semakin menjadi.


Kean memburu waktu untuk pulang, menginjak pedal gas sangat dalam agar laju mobilnya semakin cepat untuk sampai di rumah.


Rumah, satu tempat yang Kean yakini ingin ia tuju saat ini.


“Selamat malam tuan,” sapaan itu ia dapatkan dari Wahyu yang membukakan gerbang untuknya.


Kean tidak menjawab, ia hanya menekan klakson beberapa kali agar laki-laki ini segera membukakan gerbang.


Seperti paham, Wahyu segera berlari dan bergerak dengan cepat, mendorong gerbang dengan sekuat tenaga. Setelah gerbang terbuka seluruhnya, Kean segera masuk ke halaman dan menginjak pedal rem hingga berdecit saat ban yang basah bergesekan dengan rumput yang basah pula.


Ia segera turun, dengan langkah panjangnya masuk ke dalam rumah.


“Ceklek.”


Daun pintu terbuka dan seperti biasa hanya suasana hening yang memenuhi ruangan.


Saat ia baru akan melangkah masuk, ia melihat Disa yang baru keluar dari kamarnya. Mungkin ia mendengar suara klakson mobil Kean atau suara mesin mobil yang sudah sangat familiar di telinganya.


Untuk beberapa saat mereka terdiam, saling memandangi dengan perasaan yang bergemuruh di dada masing-masing.


Kean memutuskan melangkah lebih dulu. Ia ingin melihat lebih jelas wajah yang saat ini menatapnya. Di tekannya saklar lampu saat ia melewatinya, agar ruangan lebih terang.


Wajah Disa terlihat dengan jelas, wajah sendu yang menyimpan banyak kesedihan namun terlihat berusaha baik-baik saja.


Beberapa langkah yang di ambil Kean membuat keduanya berdiri berhadapan.


Kean tidak menimpali. Ia lebih suka memandangi Disa yang merunduk di hadapannya saat mengecup tangannya. Seperti menyadarkannya kalau benar yang Nasep katakan, saat ini ia telah menjadi seorang suami dari wanita yang sangat ia cintai.


“Aku ambilin dulu aa minum.” Hanya beberapa saat setelah Disa melepas genggaman tangannya.


“Tunggu,” tahan Kean saat Disa berbalik.


Suara Kean yang rendah membuat jantung Disa kembali berdegub dengan kencang.


“Kita perlu bicara.” Imbuhnya.


Beberapa saat Disa tercenung sebelum ia berbalik dan mengiyakan ajakan Kean. Benar adanya kalau mereka memang perlu bicara.


“Iya, a.” sahut Disa. Ia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Kean dan berjalan lebih dulu menuju meja makan.


Kean mengikutinya, mereka sama-sama terduduk berhadapan.


Kean sedikit terkejut saat ada sebuah kue ulang tahun di hadapannya dengan sebuah lilin yang belum di nyalakan. Ada tulisan “Happy birthday, suamiku” di atasnya.


“Kamu mengingatnya?” tanya Kean seraya menatap Disa laman.


“Iya a. Aku memasang pengingat di kalenderku.” Sahut Disa.


Kean tersenyum samar, seraya memandangi kue di hadapannya. Ia nyaris lupa kalau hari ini ia tepat berusia 29 tahun. Usia yang cukup matang dengan pikirannya yang masih kerdil. Ironis.


“Terima kasih sudah mengingatnya.” Memandangi kue itu dengan penuh rasa kagum. Bisa ia bayangkan kalau Disa membuatnya dengan sepenuh hati.


“Aa mau tiup lilin sekarang?” tawar Disa tiba-tiba. Ia berusaha mencairkan suasana.


“Em, aku terlalu tua untuk tiup lilin.” Kean menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


Seumur hidupnya baru kali ini ia merayakan ulang tahun dengan tiup lilin. Biasanya teman-temannya hanya akan mengajaknya nongkrong di café atau bar. Tidak ada ucapan selamat ulang tahun, yang ada hanya euphoria ikut merayakan hari lahir Kean.


“Jangan liat ceremonialnya tapi liat esensinya.” Disa menyalakan lilin dengan korek yang ada di dekatnya.


“Usia kita berkurang dan kedewasaan kita harus bertambah.” Diangkatnya kue tersebut dan mengarahkannya pada Kean.


“Make a wish a,” imbuhnya seraya tersenyum tipis.


“Aku tidak layak meminta apapun.” hanya ditiupnya lilin tersebut hingga menyisakan kepulan asap kecil yang hilang dalam beberapa kibasan tangan.


“Semoga aa panjang umur, murah rejeki, selalu sehat dan di berkahi sepanjang langkah aa.” Ucapan do’a itu Disa sampaikan dengan lirih dan penuh ketulusan.


Kalimat standar itu mendadak terdengar istimewa saat seseorang yang istimewa mengucapkannya.


Kean memandangi wajah cantik di hadapannya.


“Terima kasih.” Ungkapnya.


Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan dalam keheningan. Masing-masing sudah mengumpulkan kalimat untuk mereka utarakan, hanya belum tahu seperti apa harus memulainya.


“Aku,”


“Aku,”


Ucap keduanya bersamaan.


“Kamu duluan,” Kean mempersilakan. Ia memilih duduk bersandar sambil menunggu Disa menyampaikan maksudnya.


“Em, boleh hari ini aku membuat permintaan?” tanyanya ragu.


“Hem, katakan.” Kean harus menahan nafas beberapa saat melihat wajah gelisah Disa.


Disa berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menyampaikan maksudnya. Setelah berpikir panjang, mungkin ini waktu yang baik untuk mengatakan semuanya.


“Bisakah kita mengakhiri semuanya sekarang?” tanyanya dengan suara gemetar. Keberanian yang ia kumpulkan ternyata tidak cukup kuat untuk membuat suaranya terdengar yakin.


Kean menunduk sejenak, tersenyum samar pada dirinya sendiri. Ia tidak pernah menyangka Disa akan mengatakannya saat ini, di saat ia ingin memperbaikinya.


“Kamu akan pergi?” Kean lebih memilih bertanya. Mungkin ini ada hubungannya dengan protes Clara siang tadi.


“Terlepas aku pergi atau tidak, aku perlu kejelasan.” Kali ini kalimatnya terdengar tegas, seperti kalimat yang pernah di katakan Disa pada Reza dan membuatnya cukup tertohok.


Kalimat sederhana ini ternyata jadi cambuk yang menyakitkan saat mendengarnya langsung dari Disa.


"Aku sudah bilang aku perlu waktu untuk berpikir, tidak bisakah kamu menunggu?"


"Sampai kapan? Apakah waktu yang aa perlukan juga diharuskan dengan mengabaikanku?" Disa dengan cepat menimpali.


"Yang aa perlukan, waktu untuk berpikir atau waktu untuk terbiasa mengabaikanku?"


"Atau waktu untuk membuatku terbiasa diabaikan?"


"Bagaimana rasanya membuat orang lain merasakan diabaikan, apa menyenangkan?" gemetar suara Disa seolah menyimpan banyak kegetiran.


Semalaman ia di buat cemas. Tidak, sekian lama ia dibuat ragu oleh perasaan Kean dan selama itu pula Kean seperti terbiasa membuat Disa menunggu dengan tidak pasti. Bagi Disa ini sudah cukup. Sudah cukup memaklumi apa yang Kean lakukan terhadapnya.


Kean hanya termangu, menatap mata Disa yang mulai merah dan basah. Lagi, ia sendiri yang membuat wanitanya menangis.


“Aku merasa, aku bisa menerima apapun kekurangan pasanganku.”


“Hanya saja aku sadar kalau aku tidak bisa menerima satu hal.” Ia menatap Kean dengan laman, berusaha meyakinkan kalau ia teguh dengan pilihannya.


“Aku tidak bisa menerima seseorang yang tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri, terlebih berdamai dengan masa lalunya.” Lanjutnya dengan yakin.


Di telannya salivanya kasar-kasar lantas Ia meremas tangannya yang saling tertaut untuk meyakinkan diri melanjutkan kalimat berikutnya.


“Dalam hubungan kita, aku tidak hanya ingin merasa senang setiap hari tapi ingin merasa tenang menghadapi apapun berdua.”


“Aku ingin merasa di pedulikan keberadaannya, bukan hanya di puja sebagai satu-satunya yang dicintai suamiku.”


“Karena aku ingin merasakan bahwa keluarga kita bukan hanya sebuah ikatan pernikahan yang terpaksa melainkan tempat untuk pulang dan merasa di terima. Terlepas apapun yang pernah terjadi di masa lalu kita.”


“Mungkin bagi aa permintaanku berlebih. Tapi bagiku ini penting.” Tandas Disa yang akhirnya tertunduk. Semua yang ingin ia katakan sudah ia utarakan. Jika harus berakhir, bukankah seharusnya lebih cepat, agar sakitnya tidak semakin dalam?


Tidak ada perubahan ekspresi dari wajah Kean ataupun protes di tengah-tengah permintaannya. Tapi tatapannya yang laman membuat Disa tidak karuan.


“Maka untuk alasan itu kamu memilih pergi, sa?” lirih Kean.


Disa terangguk pelan tanpa mengangkat wajahnya. Ia sudah sangat lelah.


Kean mengusap wajahnya kasar. Ia tidak pernah menyangka kalau Disa akan meminta hal yang seperti ini. Hal sederhana namun terasa sulit untuk seseorang yang tidak terbiasa seperti Kean. Seperti apa itu merasa tenang, merasa di pedulikan dan merasa di terima, belum tergambar jelas di pikiran Kean.


Satu hal yang ia tahu saat ini, “Aku pikir, tidak akan semenakutkan ini saat kamu memutuskan untuk pergi." timpal Kean dengan tatapan yang menghujam.


Ia mencondongkan tubuhnya pada Disa, "Apa kamu pikir aku akan membiarkan kamu pergi?” kalimatnya terdengar tegas membuat Disa mengangkat wajahnya menatap Kean.


Matanya yang tajam dan wajahnya yang dingin, membuat perasaan Disa ketir.


“Kalau aa mencintaiku, aa akan tau apa yang harus aa lakukan untukku.” Disa menjaminkan hal itu pada suaminya.


Kean tidak menimpali. Ia lebih memilih beranjak lantas menghampiri Disa dan menarik tangannya.


“A,” Disa menahan tangannya yang di cengkram Kean dan di tariknya.


“Ikut aku, maka kamu akan tau.” Tidak sekalipun Kean menoleh.


“Tapi kita mau kemana a?” Disa mulai panik. Ia takut suaminya gelap mata setelah mendengar permintaannya.


“BISAKAH KALI INI SAJA KAMU PERCAYA SAMA AKU?!” seru Kean yang menatap Disa dengan tajam.


Matanya memerah dan seperti ada cairan bening yang berkumpul di sudut matanya dan siap untuk pecah.


Takut, seperti perasaan yang selama ini dirasakan Kean berpindah padanya.


Namun pada akhirnya, Disa mengangguk. Ia berusaha percaya pada Kean. Lagi pula, semua di mulai dari rasa percaya bukan?


Kean tidak lagi menunggu lama. Ia menarik tangan Disa agar mengikutinya. Membawanya masuk ke dalam mobil bahkan ia sendiri yang memasangkan seatbelt melingkari tubuh istrinya. Dalam satu injakan pedal gas, mobil berjalan mundur keluar dari gerbang menuju jalanan yang sepi.


Mereka sama-sama menatap jalanan yang gelap dan sepi. Sejenak Disa menoleh suaminya yang tidak berkata apapun. Wajahnya dingin dan tidak bersahabat. Kemana Kean akan membawanya pergi? Apa ia akan baik-baik saja?


*****