
“Tolong hentikan.” Dua kata itu yang Kean ucapkan saat ia berdiri di hadapan Sigit. Hal yang menjadi pantangannya seumur hidup kembali ia lakukan untuk kedua kalinya, yaitu memohon pada Sigit.
Dulu, saat ia berumur 9 tahun, ia memohon agar tidak di kirim ke amerika bersama Arini. Ia ingin tetap disini, menjalani kehidupan normal sebagai seorang anak yang memiliki orang tua lengkap namun Sigit menolaknya.
Dan kali ini ia kembali memohon pada Sigit, untuk gadisnya yang memilih pergi meninggalkannya.
Setelah mencari tahu apa yang terjadi pada Meri, Kean akhirnya menemukan jawaban atas alasan Disa yang memilih mengakhiri semuanya. Kemarahan itu kembali datang dan tidak habis fikir kalau Sigit bisa sejahat ini. Demi ambisinya memiliki penerus dari kalangan terhormat dengan ringan ia menjatuhkan dan menyulitkan hidup gadis yang ia cintai.
Apa yang salah dengan perasaan yang ia punya? Bukankah cinta tidak pernah memandang materi? Cinta masalah keterikatan antar dua hati yang tidak berbatas pada seperti apa kriteria orang yang harus ia cintai. Dia hadir begitu saja, memberinya rasa bahagia, berdebar dan mulai merasakan ketenangan menjalani hidup.
Cintanya pada Disa, membuat langkahnya menjadi berarah. Ia mulai memiliki tujuan dan rencana yang ia tata dengan rapi. Disa menjadi bagian terbesar dalam rencana hidupnya di masa depan. Namun, secepat kilat Sigit meluluh lantahkannya. Membuat perasaan yang tumbuh antara ia dan Disa adalah sebuah kesalahan.
“Papah sudah pernah memberitahumu kalau hubungan terlarang itu tidak akan pernah berhasil. Apa sekarang kamu sadar kalau wanita itu tidak cukup layak untuk kamu perjuangkan di hadapan papah?” kalimat itu dengan enteng di ucapkan Sigit seolah laki-laki ini sedang menertawakan kebuntuan hubungan putranya dengan sang pelayan.
“Papah yang membuat disa pergi dan sekarang papah membuatnya seolah disa tidak patut untuk di perjuangkan.” Tantang Kean dengan mata menyalak. Hatinya semakin terluka, tidak hanya karena Disa memilih pergi tapi karena keacuhan Sigit terhadap perasaannya.
“Aku pikir, aku bisa memperbaiki banyak hal. Salah satunya, aku masih bisa memiliki kesempatan untuk memiliki seorang ayah. Disa yang membuatku mendekat pada papah tapi papah membuat disa pergi dariku”
“Tapi rupanya, aku terlalu muluk-muluk. Usahaku tidak akan berhasil kalau papah masih tetap menganggapku hanya sebagai pewaris dari kerajaan yang papah punya, bukan seorang anak yang membutuhkan kasih sayang ayahnya.” Lirih Kean dengan penuh kesakitan.
Laki-laki yang semula memunggunginya kali ini berbalik menatapnya. Ia melihat kilatan kemarahan yang di simpan Kean dalam hatinya.
“Kamu mengatakan itu karena kamu tidak mengerti maksud papah.” Masih dengan percaya diri Sigit mengatakan kalimatnya.
“Di masa depan, kamu akan mewarisi semua yang papah tinggalkan. Kamu akan memiliki seorang pewaris berikutnya yang akan meneruskan apa yang kamu lakukan saat ini.”
“Kamu tidak bisa memilih sembarangan wanita untuk melahirkan seorang penerus yang pantas. Darah seorang pelayan, tidak pernah bisa menyatu dengan darah suci keluarga hardjoyo. Kamu ingat itu baik-baik kean.” Lagi, Sigit menegaskan kalimat tentang siapa yang pantas menjadi pewaris.
Semakin lama Kean berhadapan dengan Sigit, semakin tidak ada titik temu yang ia dapat. Mungkin ia harus sedikit mengancam Sigit agar pikirannya berbalik.
“Bagaimana kalau aku memutuskan untuk tidak meneruskan menjadi pewaris papah?” pertanyaan Kean terdengar mendesak, membuat mata Sigit membulat mendengar ancaman putranya.
Kean bisa melihat gelagat Sigit yang mulai berfikir. Semoga ini berhasil mengubah pikiran Sigit.
Namun, bukan Sigit namanya kalau ia tidak berhasil membalik keadaan. Laki-laki itu tersenyum sarkas, lantas kembali berbalik memunggungi putranya.
“Maka tentu kamu tahu, siapa yang akan menanggung akibatnya.” Tegasnya dengan ringan.
Mendengar Sigit yang balik mengancamnya, dada Kean berguncang hebat. Kemarahannya semakin memuncak hingga kepalan tangannya semakin kuat dan geriginya yang terdengar menggeretak.
Sesulit ini menghadapi Sigit, seolah laki-laki ini tahu pada bagian mana ia harus mengancam Kean agar patuh padanya. Manusia tidak berhati tidak akan pernah bisa diajak berbicara bahasa perasaan.
Kean tidak lagi berbicara. Ia berbalik meninggalkan Sigit. Kalau keputusan Sigit seperti ini, maka ia pun sudah membuat keputusan dalam hatinya. Keputusan yang akan membuat Sigit menyesal karena telah mempermainkannya. Terserah jika keputusan inipun akan membuat hidupnya rumit. Mungkin selamanya ia hanya bisa menjadi sang penerus, bukan sang putra bagi Sigit.
Jika tidak hari ini maka ia pastikan kalau Sigit akan menyesal di kemudian hari.
*****
Malam terasa begitu panjang bagi Kean dan Disa. Suasana rumah yang sunyi tanpa ada perbincangan yang berarti. Hanya suara singa yang mengaum dari tayangan yang sedang di tonton Kean. Tidak benar-benar di tonton karena laki-laki itu tidak memberikan fokusnya pada perkelahian Singa dan buaya.
Singa itu terluka karena gigitan buaya di kakinya. Walau berhasil di halau pergi oleh singa lainnya, namun sang raja hutan terlihat kewalahan. Ia terbaring kesakitan, di kelilingi oleh singa lain yang sedang mengaum mengekspresikan kemarahannya. Seperti Kean saat ini, dalam hatinya ia sedang menjerit menahan perih dari luka yang terus di berikan Sigit. Pikirannya menjelajah tidak di tempatnya. Kosong, tanpa ada tujuan yang ingin iaa tata.
Disa masih di tempatnya, merapikan bekas makan malam setelah mengolesi punggung dan tangan Arini dengan krim. Pekerjaannya malam ini hampir selesai, di akhiri dengan mencuci piring.
Kean yang beranjak lebih dulu dari tempatnya. Mematikan televisi dan melempar remote hingga jatuh terburai di lantai.
Jantung Disa nyaris copot saat suara tiba-tiba itu mengagetkannya. Tuan mudanya tidak ambil peduli sedikitpun, ia lebih memilih pergi meninggalkan Disa yang menatapnya nanar. Tidak ada kata-kata yang ia ucapkan, bungkam memang lebih baik.
Begitu asing, ya semua terasa begitu asing setelah kejadian siang tadi. Saat Disa kembali untuk menemui Meri, Kean sudah tidak ada di tempatnya. Laki-laki itu pergi dan baru pulang saat waktu makan malam.
Penampilannya sangat berantakan. Jasnya sudah tidak ia pakai begitupun dengan dasinya yang sudah ia longgarkan dengan bentuk tidak beraturan. Rambutnya yang selalu rapi, sudah carut marut bersanding dengan wajahnya yang lesu, penuh kelelahan.
Seharian ini ia bergelut dengan pekerjaan yang ada dihadapannya demi mengalikan pikirannya dari Disa. Disa, disa dan Disa. Nama itu berulang kali ia sebut dalam hatinya yang meringis.
Saat makan malampun, Kean hanya memainkan makanannya tanpa minat untuk memakannya. Laki-laki itu sibuk dengan pikirannya dan ocehan Arini tidak ada yang ia tanggapi. Hingga makan malam selesai, hanya dua suap nasi yang masuk ke mulutnya serta segelas air yang ia tenggak hingga habis. Seperti dahaganya tidak pernah usai.
Setelah makan, ia menghabiskan waktunya dengan duduk-duduk di sofa. Menyalakan televisi dengan pikiran yang entah kemana. Dan kali ini ia pergi, meninggalkan Disa yang sedari tadi menahan sesaknya.
Kean benar-benar mengabaikannya. Tidak sekalipun laki-laki itu meliriknya atau berbicara dengannya. Mungkin seperti ini cara ia menunjukkan rasa kecewanya karena Disa tidak mau bertahan untuk menunggunya.
Sulit, namun ia masih berusaha.
Selesai dengan pekerjaannya, Disa segera mematikan lampu ruangan. Hanya lampu pijar kecil yang menyala disudut ruangan. Suhu ruangan mendadak dingin, entah karena udara yang berubah atau hatinya yang merasa dingin.
Disa segera menuju kamarnya, menaiki satu per satu anak tangga dengan perasaan sesak yang semakin menjadi. Saat tiba di lantai 2, ia melihat Kean terduduk sendirian di balkon. Di sampingnya ia menyalakan ponsel yang memutar lagu yang penah ia dengar bersama Disa. Lagu yang membuat ia terbawa suasana hingga berani mencium Disa untuk pertama kalinya.
"So I'm gonna love you
Like I'm gonna lose you
I'm gonna hold you
Like I'm saying goodbye
Wherever we're standing
I won't take you for granted
Cause we'll never know when
When we'll run out of time
So I'm gonna love you
In the blink of an eye
Just a whisper of smoke
You could lose everything
The truth is, you never know
So I'll kiss you longer, baby"
Beberapa bait itu yang Disa dengar dan membuat hatinya terrenyuh. Sekarang Kean tahu rasanya menyembunyikan isakan di balik sebuah lagu.
Hah, rasanya baru kemarin ia memulai semuanya. Menunjukkan perasaannya pada seorang wanita setelah melewati perjalanan panjang untuk mengalahkan rasa takutnya untuk menjatuhkan hatinya pada wanita yang ia cinta.
Tapi sekarang semua harus berakhir. Sigit bukan orang yang mudah untuk ia hadapi dan Disa tidak pernah bisa ia lindungi.
“Satu-satunya yang harus kamu lakukan, lepasin disa. Jangan buat dia semakin sakit.” Begitu kalimat yang ia dengar dari Arini. Kalimat itu terdengar mudah dikatakan tapi sangat sulit untuk ia lakukan. Jika bukan karena menghargai dan ingin melindungi Disa, sudah pasti Kean tidak akan pernah membiarkan Disa pergi.
Aarrghh!!! Rasanya Kean ingin berteriak sekencangnya mengeluarkan semua perasaan marah yang menggerogoti hatinya.
Semua hal manis itu satu per satu harus ia lepaskan dari genggaman tangannya seperti air matanya yang menetes tanpa terasa. Bayangan pertama kali ia bertemu dengan Disa, diam-diam memperhatikan Disa di CCTV, senyum dan tawa Disa yang pertama ia dengar, semuanya terus berulang di kepalanya. Hingga hari ini, ia melihat air mata Disa yang membuat dadanya sesak.
Ingin bertahan namun ia tidak sejahat itu memaksa Disa terus merasa sakit. Terlalu cinta ternyata membuatnya menjadi terlalu sakit. Ia mulai melipat satu persatu scene kenangannya bersama Disa yang datang silih berganti di rongga pikirannya. Menggetarkan dan menyayat hingga membuat hatinya nyaris hancur dengan banyaknya luka yang tertinggal.
Melihat Kean yang hanya termenung, Disa segera masuk ke kamarnya. Mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Terduduk ia di hadapan meja riasnya, memandangi wajahnya yang pucat seperti lampu yang kehilangan pijarnya.
Sesakit itu saat ia harus melihat sikap Kean yang berubah 180 derajat. Tidak ada lagi senyuman hangat, tatapan lekat apalagi sentuhan yang membuat bulu kuduknya meremang.
Disa memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya. Ia menangis tertahan dengan isakan yang ia buat lirih. Hanya bahunya yang terlihat bergerak naik turun. Mereka sama-sama menangis di bawah suara musik yang seolah menjadi awal cerita mereka.
"Semua akan baik-baik saja sa, pasti akan baik-baik saja." Mantra itu ia ucapkan beberapa kali untuk menguatkan hatinya. Namun sayangnya kali ini tidak bekerja. Ia belum bisa menelan kepahitan yang ia hadapi, masih harus terbiasa menerima luka yang masih menganga.
Tuan mudanya, benar-benar memenuhi keinginannya. Melepaskannya dan mengakhiri ceritanya mereka berdua.
Ia pikir ia akan kuat. Ia pikir tidak akan sesakit ini.
Tapi ternyata ia salah. Semua tentang Kean, terlalu menyakitkan untuk ia tahan apalagi di lupakan.
Bisakah ia bertahan dalam keadaan seperti ini?
****