Marry The Heir

Marry The Heir
Saling menguatkan



Kehebohan tidak hanya terjadi di ruang keluarga tempat pertemuan pertama antara Arini dengan keluarganya. Di dapur pun mereka masih saling berbisik-bisik seraya merapikan hidangan makan malam yang tidak di cicipi sedikit pun.


Di meja dapur, semua makanan terhidang lengkap. Disa dan ketiga temannya masih memandangi dengan bingung banyaknya makanan mewah yang menjadi basi dan mungkin terpaksa harus mereka buang.


Setelah kedatangan Arini, acara makan malam tidak pernah terjadi. Mereka terlihat canggung satu sama lain dan bubar jalan, masuk ke kamarnya masing-masing. Tidak ada perbincangan berarti karena Arini beralasan lelah dan ingin beristirahat.


Seketika itu, suasana menjadi hening dan menegangkan.


“Jadi, gimana ini? Boleh kita makan apa nggak?” tanya wati yang mengusap perutnya yang keroncongan. Saat ini mereka memang belum makan malam karena menunggu tuan rumah mereka selesai makan lebih dulu.


“Kamu lagi tegang kayak gini, masih aja mikirin makan.” Tina menyikut Wati dengan kesal.


“Ya walaupun tegang, perut kita kan tetep harus di isi. Gimana sih na.” Timpalnya seraya mengambil sendok dan hendak mencicipi salah satu menu.


“PLAK!”


“Bentar dulu!” seru Nina seraya memukul tangan Wati. “Minta izin dulu sama bu kinar.” Imbuhnya yang menatap Wati dengan kesal. Terkadang, satu temannya ini memang tidak bisa membaca situasi.


“Emang bu kinar ke mana?” Wati menaruh sendoknya dengan terpaksa. Padahal ia sudah ingin menikmati hidangan special yang mereka buat sedari sore.


“Nyamperin nyonya besar.” Bisik Nina.


“Nyonya besar yang mana?” Tina ikut memelankan suaranya.


“Nyonya besar mamahnya tuan muda, nyonya arini.” Timpal Nina.


Mulut Tina dan Wita sama-sama membulat mendengar jawaban Nina.


“Kak, kamu yang paling lama di sini. Emang gak pernah ketemu nyonya arini sebelumnya?”


Kali ini semua pandangan tertuju pada Tina sang senior. Ia memang sudah bekerja lebih dari 5 tahun di keluarga ini. Rekor terlama bagi pelayan yang seringnya dengan mudah berganti dalam hitungan bulan.


“Enggak. Aku malah gak tau kalo ibunya tuan muda dan nona muda itu beda.” Tina mengendikan bahunya.


Sejak datang ke rumah ini, ia memang hanya tahu kalau majikannya adalah Tuan Sigit dan Nyonya Liana serta nona mudanya Shafira. Baru belakangan ini pula ia tahu kalau tuan besarnya memiliki anak sulung, Kean.


“Kalian sadar gak sih kalau keluarga ini tuh kayak keluarga misterius di cerita-cerita? Kita gak tau siapa yang jahat dan siapa yang baik sampai satu per satu anggota keluarga di rumah ini datang dan pergi dengan cara yang tidak baik-baik.” Nina menatap satu per satu temannya bergantian. Sepertinya di kepalanya sedang memutar reka ulang cerita misteri sebuah keluarga kaya raya.


“Maksud kamu?” Wati dengan wajah bingungnya.


“Ya, satu per satu anggota keluarga di rumah ini datang. Kita gak bener-bener tahu siapa majikan kita. Jangan-jangan nanti ada lagi yang dateng ngaku sebagai istri ke tiga, ke empat atau ke lima tuan besar. Terus satu sama lain saling ngejahatin, saling maki atau nyelakain diam-diam. Misal rem mobilnya di bikin blong atau makanannya di kasih racun. Ihhhhh ngeri yaa…” Nina bergidik mendengar ceritanya sendiri.


Mereka sama-sama memandang makanan yang ada di hadapan mereka. Saling menoleh dengan rasa takut kalau cerita Nina benar. Bayangkan jika cerita Nina benar, maka mereka lebih dulu yang akan keracunan makanan.


Kompak mereka berdigik takut.


"Aku masih mau hidup na." Wati mundur beberapa langkah dari meja dapur. Ia tidak bisa membayangkan jika ia menjadi orang pertama yang keluar dari cerita itu dalam kondisi tidak bernyawa. Selera makannya pun hilang begitu saja, berganti rasa takut.


“Hush! Kalo ngomong, suka gak di saring. Nanti kedengeran bu kinar, mampus kamu.” Tina berusaha mengingatkan temannya.


“Ih kan aku cuma kira-kira aja.” Kilah Nina seraya melihat ke sekeliling mereka, khawatir Kinar mendengar perbincangan mereka.


"Makanya jangan kebanyakan nonton sinetron yang kena mental, bisa ikut sakit kamu." Tina mulai merepet memberi nasihat.


Nina hanya mengangguk-angguk saja sambil sesekali bergidik membayangkan kalau yang ia ucapkan itu benar.


Selama perbincangan hanya satu orang yang tidak terlibat. Adalah Disa yang sedari tadi melamun, memikirkan kejadian yang di lihatnya malam ini. Sejauh ini, ia merasa kalau ia sudah cukup mengenal Kean dan keluarga tempat ia bekerja. Kebiasaan setiap orangnya, hal yang mereka sukai dan tidak di sukai hingga bagaimana karakter orang-orang di rumah ini.


Tapi ternyata, tidak semua hal Disa tahu. Tuan mudanya yang sehari-hari ia lihat pun seketika menjadi asing dengan banyaknya kejutan tidak terduga yang ia lihat hari ini. Hingga saat ini, entah apa lagi rahasia keluarga ini yang belum muncul kepermukaan.


“Aku sih udah curiga sama nyonya liana dan tuan muda.” Wati kembali memulai perbincangan mereka. Belum puas rasanya kalau cerita belum mengalir sesuai isi pikiran mereka.


“Curiga gimana?” suara Tina dan Nina terdengar bersamaan.


“Ya, waktu tuan muda pulang, dia kayak yang kaget gitu ngeliat nyonya liana dan non fira. Gak cuma itu, tuan muda juga kayak yang gak suka sama nyonya liana dan non fira. Malah pas nyonya liana nyambut tuan muda juga, tuan muda gak salim apa lagi ngobrol basa-basi. Dia langsung masuk ke kamarnya dan ngurung diri di sana. Malah bu kinar yang dia salimin sama di peluk.” Kenang Wati pada kejadian beberapa bulan lalu.


Tina dan nina sama-sama mengangguk mendengar ujaran wati. Sepertinya mereka mulai paham alasan suasana rumah ini tidak terasa seperti rumah.


“Sa, emang tuan muda gak pernah cerita kalo dia punya ibu yang berbeda sama non fira?” baru kali ini Tina melibatkan Disa dalam perbincangan mereka.


Disa hanya terdiam, tidak menanggapi pertanyaan tina.


“Sa! Disa!” seru Wati. Disa masih tenggelam dalam lamunannya hingga ia tidak mendengar panggilan sahabatnya.


“DISA!” seru Tina lebih keras.


“Hah? Iya?!” Disa tersentak mendengar suara keras itu. Ia segera menoleh ketiga temannya yang menatapnya tajam.


“Kamu ngelamunin apa sih?” tanya Tina dengan menyelidik.


“Em, enggak kok. cuma,..” Menatap wajah ketiga sahabatnya yang seperti tengah menunggu jawaban. Entah seperti apa ia harus menjelaskan isi pikiranya pada teman-temannya.


“Tau nih ngelamun mulu.” Decak Wati.


“Tadi tuh kak tina nanya, emang tuan muda gak pernah cerita apa-apa kalo kamu lagi di rumahnya?” Wati mengulang pertanyaan Tina.


Disa menggeleng pelan. “Aku cuma kerja di sana. Bukan kewajiban tuan muda untuk memberitahukan masalah pribadinya sama aku kan?” lirih Disa.


“Ya iya sih. Cuma kata bang rahmat, kamu cukup deket sama tuan muda. Sering pergi bareng, makan berdua. Masa sih tuan muda gak pernah cerita apa-apa?” sepertinya Wati tidak cukup percaya dengan jawaban Disa.


Lagi Disa menggeleng. “Ti, kamu tau kan siapa aku dan siapa tuan muda? Aku cuma pelayan yang di perlakukan baik oleh majikanku tapi bukan berarti tuan muda akan menceritakan masalah pribadinya sama aku.”


Ada perasaan gamang yang dirasakan Disa saat menjawab pertanyaan Wati. Ia dan Kean memang cukup dekat, bahkan mereka bilang kalau mereka berteman. Tapi ternyata, masih terlalu banyak hal yang tidak ia tahu. Selama ini ia hanya fokus pada Kean secara personal tanpa memperdulikan masalah di sekitarnya. Ia hanya membantu bagian yang terlihat saja, tanpa ia sadari lebih banyak hal tidak terlihat yang disembunyikan oleh tuan mudanya.


“Baiknya, kita cukup tau aja masalah majikan kita dan gak perlu kita bahas. Toh sepanjang apa pun kita membahasnya tidak ada untungnya buat kita dan tidak menyelesaikan mereka juga kan?” imbuh Disa yang membuat ketiga temannya mengangguk.


Mereka saling melempar pandang kemudian tersenyum samar. Ya, mungkin bagi mereka memang cukup tahu saja.


******


Kean masih di rumah utama, menemani Arini yang baru membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sedari tadi ia terus mengenggam tangan Arini yang terlihat lebih kurus dari terakhir ia melihatnya.


Beberapa bulan lalu, saat Kean terpaksa pulang, kondisi Arini terlihat lebih baik dari ini. Tubuhnya sedikit berisi dan wajahnya tidak setirus sekarang.


Jika saja Sigit tidak memaksanya pulang dengan ancaman akan mengabaikan biaya pengobatan Arini, mungkin Kean tidak akan meninggalkan wanita ini di amerika.


Hampir 20 tahun lalu, saat kebakaran melanda kediaman keluarga Hardjoyo, Kean dan Arini menjadi dua korban selamat. Saat itu, sang kakek meninggal dunia karena luka bakar yang sangat serius. Kean mendapat luka bakar di punggungnya dan Arini, lebih parah dari itu.


Luasnya derajat luka bakar membuat sebagian besar kulit tubuhnya tidak lagi memiliki lapisan epidermis. Walau sudah beberapa kali melakukan operasi, nyatanya luka bakar itu tetap meninggalkan bekas dan trauma.


Jika di hitung, lebih dari 6 kali Arini melakukan Skin graft atau transplantasi kulit. Mengambil kulit yang sehat dari beberapa bagian tubuh kemudian mencangkoknya pada area kulit lain yang bermasalah. Namun luasnya area luka bakar di sekujur tubuhnya, membuat operasi berikutnya terhenti. Sempat beberapa kali Arini terpaksa harus di rawat di ruang ICU, karena kondisi kesehatannya yang sering menurun.


Ia tidak bisa berkeringat dengan normal. Kadang terlalu kedinginan dan kadang kegerahan dan membuatnya tidak nyaman. Ia pun melakukan operasi pada matanya juga operasi plastik pada struktur wajah dan kepalanya. Tapi semua usaha itu tidak mengembalikan Arini menjadi Arini yang dulu.


Ia sering mengalami sesak karena kerongkongannya yang bermasalah setelah kejadian itu. Suaranya serak dan sering kali sulit bersuara terlebih saat emosinya tidak stabil.


Kean masih tidak percaya kalau Arini akan sampai di rumah ini. Menempuh perjalanan ribuan mill dengan kondisi tubuhnya yang tidak baik-baik saja. Entah bagaimana caranya Marcel membawa Arini pulang yang jelas untuk saat ini, ia hanya bisa mengucap syukur Arini bisa sampai dengan selamat.


Saat ini Kean masih menatap wajah Arini yang terlihat lelah. Bibirnya yang kaku berusaha tersenyum melihat putra kesayangannya yang terlihat baik-baik saja.


“Apa mamah mau makan sesuatu? Atau mungkin ada yang mamah butuhkan?” tanya Kean seraya mengusap air mata yang terus menetes dari sudut mata Arini.


Wanita itu menggeleng. Bibirnya tampak bergetar hendak berbicara. “Bantu mamah bersandar.” Ujarnya parau.


Dengan sigap Kean mengangkat tubuh Arini dan membantunya untuk bersandar pada head board tempat tidur. Kean duduk di samping Arini, membawa Arini kedalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat.


“Sayang, apa papah memperlakukan kamu dengan baik?” suara Arini yang pelan namun lebih jelas.


Kean menghela nafasnya dalam. Ia berusaha memilih kalimat agar sebisa mungkin tidak menambah beban pikiran Arini.


“Semua baik-baik aja mah. Kean bisa menghadapi papah dan mengikuti semua kemauan papah.” Lirih Kean, sekali lalu mengecup pucuk kepala Arini.


Arini mengeratkan genggamannya di tangan Kean. “Maaf, karena mamah kamu terpaksa harus mengikuti semua kemauan papah. Melakukan hal yang tidak kamu sukai dan tidak bisa menjadi diri kamu sendiri.” Arini bersuara dengan penuh sesal. Air matanya pun kembali menetes di sudut matanya.


“Mah, mamah gak perlu minta maaf, kean baik-baik aja. Lagi pula kean mulai bisa memahami keinginan papah. Semua masih bisa kean ikuti. Yang terpenting sekarang, mamah sehat selalu. Selalu berada di samping kean lebih lama lagi.” Kean mengeratkan pelukannya pada Arini.


Arini kembali berusaha tersenyum dan mengangguk. “Kamu tau nak, saat memutuskan untuk pulang ke sini hal yang paling mamah takutkan adalah bagaimana kalau mamah tidak bisa bertemu dengan kamu?"


"Mamah takut mamah pulang dengan sia-sia dan hanya membuat kamu bersedih."


"Tapi kemudian mamah sadar, kalau alasan kepulangan mamah karena mamah ingin berada di samping putra mamah. Untuk itu mamah harus kuat, mamah harus bisa bertemu dengan kamu.”


“Perlahan, dada mamah gak sesak lagi. Mamah memang kedinginan selama di pesawat tapi mamah membayangkan kalau yang menerbangkan pesawat itu kamu, mamah merasa sangat bangga."


"Dengan harapan-harapan itu mamah bisa sampai ke sini. Melihat putra mamah yang tampan dalam keadaan baik-baik saja.” Ungkap Arini seraya mengusap wajah Kean.


Kean meraih tangan Arini kemudian mengecupnya dengan lembut. “Maafin kean mah. Harusnya Kean menyelesaikan semuanya dengan cepat agar kean bisa menemui dan menemani mamah lagi."


"Tapi semuanya terlampau sulit. Kean seperti di tempatkan di hutan belantara tanpa petunjuk apapun. Kean tergopoh-gopoh hingga akhirnya kean menemukan sedikit cahaya yang menemani langkah kean.” Tutur Kean dengan rasa sesal di dadanya.


“Anak mamah memang kuat dan hebat. Berada dimana pun, akan selalu menjadi laki-laki yang kuat dan mandiri. Itu kenapa, mamah tidak pernah ragu.”


“Tapi untuk sekarang, berada di sini membuat mamah merasa sangat bersyukur. Mamah tidak takut kalau mamah harus mati di tempat ini tanpa bantuan oksigen atau alat-alat canggih seperti di amerika. Asalkan di dekat kamu, mamah akan baik-baik saja.” Timpal Arini yang kembali berusaha tersenyum.


“Makasih mah. Makasih udah selalu ada buat kean dan menjadi alasan untuk kean mampu melakukan banyak hal..”


Arini terangguk lantas menempatkan kepalanya di dada bidang Kean yang kemudian ia tepuk lembut. Ini tempat yang ia rindukan dan selalu membuatnya merasa lebih baik. Kebahagiaan bisa berada di samping putranya, tidak akan ia tukar dengan apapun.


*****