
Turun ke bawah Disa membawa peernya pagi ini. Satu keranjang cucian yang di bawanya ke dapur.
“Nona muda? Se-selamat pagi.” Sapa Tina yang terkejut melihat kedatangan Disa.
“Pagi, maaf ganggu kamu sarapan.” Ada sepiring makanan yang baru di santap setengahnya oleh Tina. Ia langsung melap mulutnya dari sisa makanan begitu Disa datang.
“Tidak apa-apa nona muda. Ada yang bisa saya bantu?” terasa canggung mendengar kalimat itu dari temannya sendiri.
Tina memperhatikan keranjang baju yang di bawa Disa. Isinya sprei dan bahan linen lainnya. Ia langsung tersenyum seperti memikirkan sesuatu di kepalanya.
“Aku mau nyuci. Kalian lagi nyuci gak?”
"Tepat bukan pikiranku?" Batin Tina dalam hati.
“Mencuci bekas semalam nona?” menunjuk keranjang dengan sudut matanya. Bibirnya menahan senyum membayangkan apa yang pengantin baru ini lakukan semalam.
“Iya. Aku ikut nyuci yaa..” Disa langsung menuju ruang linen, tempat ia dulu biasa bekerja.
“Saya bantu nona.” Tina langsung mengejar. Mana mungkin ia membiarkan nona mudanya mencuci sendiri.
“Kamu lagi makan, lanjutin aja.” Timpal Disa dengan segaris senyum.
Satu per satu kain ia masukkan ke mesin cuci tanpa merasa terbebani. Harus Tina akui, walau Disa sudah menjadi nona mudanya, tidak lantas membuat sikapnya berubah. Disa masih orang yang sama, orang yang tidak suka merepotkan orang lain.
“Saya sudah selesai nona, mari saya bantu. Nona bisa duduk dulu.” Tina mengambil kain yang ada di tangan Disa tanpa permisi. Dalam pikirnya, kalau Kinar tahu ia membiarkan nona mudanya mencuci sendiri, tamatlah riwayatnya.
“Tapi na,” jadi tidak enak mengganggu Tina makan. Disa tahu, teman-temannya harus menyisihkan waktunya untuk mengurusi diri sendiri sebelum melakukan pekerjaan harian yang menuntut.
“Tidak apa-apa. Saya bisa menyambung sarapan saya nanti. Lagi pula saya sudah kenyang.” Jawaban yang nyaris sama yang biasa ia lontarkan pada majikannya dulu. Dan belum tentu artinya seperti yang diucapkan.
Disa hanya tersenyum. Ia memandangi temannya yang tetap bersikap baik terhadapnya.
Tina meneruskan pekerjaan Disa, memasukkan kain ke mesin cuci. Namun matanya langsung membulat saat melihat noda darah di spreinya.
“Nona, apa sebanyak ini?” menatap noda darah tidak percaya.
“Iya, aku lupa ganti.” Jawab Disa dengan maksud yang lain.
Bulu kuduk Tina langsung meremang, ngeri-ngeri sedap membayangkan apa yang terjadi pada Disa semalam. Ia pun melirik Disa dari atas hingga ke bawah, tapi tidak menemukan sedikitpun perubahan postur ada nona mudanya. Mungkin pagi ini sekujur tubuhnya terasa remuk redam.
“Ya udah, aku bikin sarapan dulu ya.” Disa beranjak menuju tempat memasak.
“Sa-saya bantu nona.” Jeda Tina. Lagi, ia tidak mungkin membiarkan Disa memasak.
“Na, aku bisa melakukannya sendiri. Hem?” Disa menahan tangan Tina yang berniat mengambil celemek dari tangannya.
“Tapi, mungkin nona lelah, sekarang istirahat saja.”
“Lelah? Lelah apanya? Aku semaleman tidur, bateraiku penuh na.” Disa jadi terkekeh mengingat ia tidur semalam dengan sangat pulas. Pasti tidak bergerak sedikitpun.
“Oh ya? Tapi,” masih membayangkan apa yang Disa katakan. Mana mungkin teman rasa nona mudanya ini tidur semalaman.
“Udah, aku bisa ngerjain ini sendiri. Jadi tenang aja okey.” Disa mengenakan celemeknya dan Tina hanya terpaku dengan pikiran nakalnya.
“Ba-baik nona.” Sudahlah, Disa tidak akan bisa di bantah. Ia terlalu mandiri untuk sekedar meminta bantuan. Akhirnya ia kembali ke mesin cuci dan meneruskan pekerjaannya sambil sesekali memperhatikan Disa.
Disa mulai asyik membuat sarapan untuk suaminya. Roti isi, menu sarapan favorit Kean yang sudah lama tidak di buatnya sendiri. Tangannya bergerak lincah meramu bahan makanan juga membuat jus untuk Kean.
Tidak lama terdengar suara langkah kaki dan suara obrolan yang mendekat. Suara Wita dan Nina.
"Kamu aja yang ngasih nomornya, gak bakalan marah kok dia."
"Ih gak mau akh, belum tentu kak tina mau."
“Na, bang wahyu nitip salam noh!” seru Wita dari kejauhan.
“Ssstt!!!” Tina langsung mendesis, memberi kode pada kedua temannya agar menjaga sikap.
“Apaan sih! Aku cuma mau bilang, dia minta nomor hp kamu! Dia,” kalimat Wita langsung terhenti saat ia melihat Disa sedang tersenyum menyambut kedatangannya.
“Se-selamat pagi nona muda.” Kaget bukan kepalang. Pantas saja Tina memberinya isyarat untuk diam.
“Pagi. Habis dari pasar ya?” timpal Disa.
Ia ingat benar, kalau jam segini biasanya kedua temannya pergi ke pasar membeli bahan untuk makan siang nanti. Sementara satu orang menyiapkan sarapan pagi.
“Iya nona.” Jawab Wita takut-takut.
Tidak terlihat lagi sikapnya yang kadang sedikit kasar. Harus Disa akui ia merindukan sikap teman-temannya yang dulu. Tingkah mereka yang apa adanya tanpa harus susah payah menjaga sikap di hadapannya. Jujur, kadang itu tidak membuatnya nyaman.
“Ya ampun sa, kamu lagi bikin apa?”
Nina yang mengekori dari belakang langsung menghampiri Disa. Mendengar ucapan sahabatnya, mata Tina dan Wita langsung membulat.
Dengan penuh percaya diri ia menghampiri Disa dan berdiri di sampingnya memperhatikan apa yang Disa buat.
“Bikin sarapan. Kamu mau na?”
“Waahh ini enak kayaknya. Yang kayak gini namanya sarapan ta. Yang kamu bikin mah,” Nina menjeda kalimatnya saat melihat ekspresi kedua temannya yang mengatupkan bibir memintanya diam, seraya menggeleng dan melotot.
“NINA!” seru sebuah suara yang membuat ketiganya tersentak. Tentu saja suara Kinar yang membuat mereka langsung diam.
Wanita paruh baya itu menghampiri mereka dan menatap Nina dengan sinis.
“Apa kamu tidak bisa menjaga sikap kamu terhadap nona muda?” pertanyaan Kinar seolah mengingatkan Nina akan siapa Disa sekarang.
Nina langsung mendengus pelan, sadar akan kesalahannya. Bahunya yang semula tegak kini melorot. Di liriknya Disa dengan senyum tegang dan takut.
“Maafkan saya nona muda.” Lirihnya penuh sesal.
Disa hanya tersenyum. Ia tahu temannya pasti akan mendapat omelan dari Kinar.
“Gak pa-pa santai aja." Ia tidak mempermasalahkan sedikitpun sikap Nina terhadapnya.
"Aku bikin banyak kok isian rotinya, kalau mau silakan."
"Aku udah selesai bikin buat tuan muda.” Terang Disa santai.
Tapi Kinar tidak sesantai itu, ia menatap ketiga teman Disa bergantian dengan tatapan tajam yang membuat nyali mereka menciut.
Disa segera menyelesaikan pekerjaannya. Ia tahu apa konsekuensi yang akan di tanggung ketiga temannya kalau ia terlalu lama di dapur. Menata makanan dan minuman yang ia buat untuk Kean dan dirinya di atas baki.
Setelah semuanya selesai, ia melepas kembali celemeknya dan ketiga temannya hanya bisa memandanginya.
“Saya bantu nona.” Kinar berusaha membantu Disa.
"Oh iya, jangan marahi teman saya, dia tidak sengaja." melirik Nina yang ketakutan tanpa berani mengangkat wajahnya dan melihat Kinar.
"Duluan ya..” ujarnya seraya membawa baki di tangannya.
Tangan Kinar menggantung, di abaikan Disa. Gadis itu melenggang pergi meninggalkannya dengan kemarahan yang belum hilang pada Nina.
“Kamu tau kesalahanmu?” kalimat itu yang kemudian Disa dengar dari kejauhan.
Ia hanya bisa menggeleng sambil berharap Nina tidak mendapat hukuman yang berat. Bagaimanapun ia tahu, mengubah kebiasaan dengan perubahan kondisi yang cepat itu tidak mudah. Termasuk membiasakan menganggap dirinya adalah bagian dari keluarga inti Hardjoyo.
Di kamarnya, Kean sudah selesai mandi dan sedang mengenakan pakaiannya. Tebakan Disa tepat, kalau Kean akan menghabiskan waktunya cukup lama di kamar mandi sehingga ia bisa selesai sebelum Kean menunggunya.
Pria gagah itu mematut dirinya di cermin. Memasangkan kancing kemeja di tangan kirinya lantas merapikan lipatan kemeja di pinggangnya. Disa selalu bisa menyiapkan pakaian yang nyaman dan cocok untuknya.
Saat melihat kedatangan Disa, ia segera menghampiri.
“Wah, sarapan yang aku tunggu.” Ujarnya seraya mengambil baki dari tangan Disa.
“Aku bisa kok a.” Disa berusaha mempertahankan apa yang ada di tangannya.
“Kamu udah masak, aku yang bawain ke balkon.” Tidak bisa di bantah, Kean berjalan lebih dulu di depan Disa.
Menempatkan baki di atas meja lantas Kean menarikkan kursi untuk Disa duduk.
“Makasih a.” manis sekali perlakuan Kean terhadapnya.
Pria itu hanya terangguk lantas duduk berhadapan dengan Disa. Satu tangkup roti Disa sodorkan di hadapan Kean dan mata Kean langsung membulat. Di ciumnya bau makanan yang enak, merangsang selera makannya untuk segera menikmati makanan padat itu.
Tanpa ragu, ia melahap roti isi membuat kedua pipinya menggembung penuh dengan makanan dalam waktu yang cepat.
“Em, ini lebih enak dari yang aku bikin.” Ujarnya dengan mulut penuh makanan. Mulutnya masih mengunyah dengan rakus seperti tidak sabar untuk menikmati gigitan berikutnya.
“Aa sarapan yang banyak, supaya kerjanya fokus. Katanya hari yang baik di mulai dari sarapan yang baik.” Mendekatkan segelas jus pada Kean. Senang rasanya melihat Kean begitu semangat menikmati sarapannya.
"Kaya tagline iklan aja kamu sa." ledek Kean yang terkekeh. Mereka sama-sama melempar tawa renyah.
Satu deringan telpon terdengar dari ponsel Kean. Kean segera menelan makanannya bulat-bulat sebelum menjawab panggilan dan menyalakan mode loud speaker.
“Iya mah.” Arini rupanya.
“Nak, kamu dimana? Kok gak ada di kamar hotel? Ini waktunya sarapan loh. Disa juga gak ada.” Suara Arini terdengar panik.
Astaga lupa, semalam mereka tidak mengabari Arini kalau mereka pulang ke rumah utama.
“Kean di rumah mah. Semalam disa pengen ketemu papah.” Kean melirik Disa yang juga menyimak pembicaraan.
“Ketemu papah? Emang papah kenapa?” dengar, Arini masih selalu mencemaskan Sigit.
“Gak pa-pa. Disa cuma pengen ketemu aja.” Tidak terlalu tertarik untuk membahas permintaan Disa semalam yang kadang membuatnya kesal.
“Ya udah, disa di sana dulu. Habis sarapan mamah sama fira juga nyusul pulang. Ada yang mau mamah kasih sama disa.” Cerocos Arini dengan cepat. Sepertinya saraf-saraf di wajahnya semakin membaik sehingga ia bisa bicara dengan cepat.
“Iya mah.”
Tidak berselang lama panggilan pun terputus. Disa tersenyum tipis, ia selalu merasa hangat saat melihat interaksi Kean dengan Arini. Katanya, salah satu kriteria suami yang baik adalah dengan melihat sikap ia pada ibunya. Dan sikap Kean terhadap Arini sangat istimewa. Ia menempatkan Arini di puncak prioritasnya. Itulah yang membuat Disa tidak ragu mengiyakan Kean sebagai suaminya.
“Apa rencana kamu hari ini sa?” Kean memecah suasana yang sempat hening. Di tatapnya Disa dengan laman penuh perhatian.
Disa tampak berpikir, memang belum terbayang apa yang akan ia lakukan seharian ini.
“Em, aa mau makan siang di rumah apa di kantor?” ide memasak makan siang yang ada di pikirannya saat ini.
“Aku makan di luar. Kebetulan ada rekan bisnis yang ngajak ketemu untuk bahas pembukaan pabrik di luar kota.”
Disa terangguk paham. “Aku nanti mau nemenin papah ya.” Pikiran ini yang kemudian muncul.
“Untuk apa? Kita punya perawat yang akan mengurusi papah. Kamu diem aja di kamar, mau ngelukis boleh nanti aku minta roy ngirim alat Lukis. Atau kamu bisa nonton bareng si anak nakal dan nemenin mamah ngobrol.” pasti yang dimaksud Shafira.
“Tidak perlu mengurusi papah.” Emosi Kean selalu tidak stabil kalau sudah berhubungan dengan Sigit.
“A,..” Disa meraih tangan Kean dan menempatkan tangannya di atas tangan suaminya.
“Masa aa mau nyuruh aku acuh sama orang-orang di rumah? Papah kan bagian dari rumah ini juga.” Berusaha untuk membujuk Kean walau ia tahu akan cukup sulit.
Kean tampak menghembuskan nafasnya kasar, ucapan Disa memang benar dan tidak bisa ia bantah. Hanya saja ia tidak menyukainya.
“Lakukan apa yang bisa membuat kamu seneng tapi, jangan terlalu banyak mengurusi orang yang tidak perlu kamu urusi. Kita sudah membayar perawat jadi jangan merasa berkewajiban kamu untuk merawatnya.” Kean dengan ketegasannya.
Baiklah, kali ini Disa iyakan saja. Tidak baik berdebat saat baru akan memulai hari. Lihat saja nanti apa yang bisa ia lakukan namun tidak membuat suaminya marah.
“Iya a. Kan ada mamah juga di rumah, paling nanti aku sama mamah. Aa pulangnya jangan malem-malem yaa…” Disa merubah suaranya sedikit manja, mungkin ini akan ampuh untuk menurunkan kemarahan Kean.
“Iya, aku gak akan pulang malem. Aku pastikan makan malam di rumah. Tapi ingat, biarkan bu kinar yang memasak. Kamu tidak perlu repot.” Kean seperti sedang menjauhkan ia dari pekerjaan yang sebelumnya biasa ia lakukan.
Apa ini salah satu treat like a queen?
Disa terangguk pelan.
“Aku udah selesai, mau berangkat dulu. Ada meeting pagi ini.” Kean melihat jam di tangannya, sudah hampir jam 8.
“Minum dulu jusnya, tadi aku gak sempet bikinin sebelum aa olah raga.”
Kean langsung meneguk jus di gelasnya, selalu suka saat Kean menyukai apa yang ia buat untuknya.
Beranjak dari balkon, Disa segera membantu Kean bersiap. Memakaikan dasi seperti biasanya dan tentu saja jas yang rapi.
“Aku gak lama, hem. Baik-baik di rumah.” Ucap Kean seraya memegangi kedua pundak Disa lalu mengusapnya.
“Iya, aa juga hati-hati di jalan. Semangat kerjanya dan jangan lupa makan.”
“Hem, dah.” Satu kecupan Kean hadiahkan di dahi Disa.
Disa memejamkan matanya beberapa saat, rasanya sangat tenang saat hati sudah memiliki tempat untuk bersandar.
Di detik berikutnya, Kean berlalu. “Assalamu ‘alaikum…” ujar Disa sambil melambaikan tangan.
“Wa’alaikum salam..” sahut Kean dengan segaris senyum sebelum pergi.
Terbalik? Ya! Hanya belum terbiasa.
*****