
Di halaman café mereka tiba. Disa melepaskan sabuk pengamannya sebelum ia turun.
“Terima kasih kak, maaf udah ngerepotin.” Kalimatnya mulai terdengar lebih santai, tidak lagi baku.
“Tidak masalah. Sepertinya ini café yang nyaman, aku baru tahu.” Reza ikut memperhatikan sekeliling café yang tampak mulai menyalakan lampu kerlap kerlip di beberapa sudut.
“Iya, makanannya juga cukup enak. Cocok untuk nongkrong.”
“Oh ya?”
Disa mengangguk yakin.
“Kalo gitu, lain waktu kamu temen aku nongkrong di sini. Apa bisa?”
Seperti mendapat durian runtuh, Disa mendapat ajakan untuk nongkrong dari the one and only Mahreza Adjie.
“I-iya kak.” Sungguh ia ingin berteriak saking senangnya.
“Okey, janji ya..”
Lagi Disa mengangguk dengan semburat senyum. Kebahagiaan yang sungguh tidak bisa ia sembunyikan.
“Kak reza hati-hati di jalan. Salam untuk bu nita.”
“Okey. Ingat, anak gadis jangan pulang terlalu malam, hem.”
“Iya kak.”
Disa memilih segera membuka pintu dan turun. Ia tidak mau melakukan hal bodoh lain yang akan merusak perpisahan manis mereka.
Ia melambaikan tangannya dan Reza membalasnya dengan suara klakson. Sungguh sesuatu yang manis bagi Disa.
“Hayoh! Dianter siapa?!”
“Astaga!” lagi jantung Disa hampir copot karena Shafira mengagetkannya.
Nona mudanya memang sangat suka membuatnya kaget. Beruntung jantungnya masih berada di rongganya, tersokong oleh otot-otot yang kuat sehingga tidak gampang melorot.
“Dianterin siapaaa?” Shafira masih dengan mode penasarannya, memperhatikan mobil yang melaju semakin jauh.
Kalau saja ia tidak terlambat, mungkin ia bisa berkenalan dengan laki-laki yang mengantar Disa.
“I-itu, putranya kenalan saya non.” Aku Disa sembarang. Ia masih memperhatikan mobil yang mulai berbaur dengan kendaraan lain kemudian menghilang di belokan berikutnya.
“Hah, yang nganter mba disa bocah?” Shafira di buat bingung.
“Eh bukan. Kenalan saya ibu-ibu dan itu anaknya.” Disa semakin random.
“Cowok?” dengan cepat Shafira bertanya.
Disa mengangguk pelan dan wajahnya memerah.
“Bilang aja gebetan atau pacar. Susah banget sih.” Protes Shafira yang menyikut lengan Disa dengan gemas. Ia berjalan lebih dulu masuk ke dalam café.
“Eh bukan, cuma teman aja.” Mempercepat langkahnya untuk mensejajari Shafira.
“Pacar juga gak pa-pa kali. Udah umurnya ini. Lagian aneh juga, gadis sebaik dan secantik mba disa kok belum punya pacar.” Mendudukan tubuhnya di kursi yang tadi ia tempati.
“Beneran non, cuma temen.” Disa keukeuh dengan pengakuannya.
“Okey, temen. Nih minum dulu, biar blushing-nya gag terlalu keliatan.” Menyodorkan jus yang sudah ia pesan lebih dulu.
“Emang saya blushing non?”
“Deuh gag nyadar. Udah minum aja.” separuh suara Shafira berbisik dan sisanya terdengar jelas.
Disa segera menyeruput minumannya hingga hampir tandas separuhnya.
“Gila, mba disa udah kayak punya belalai aja, setengah langsung habis.” Cetus Shafira yang geli dengan kelakuan Disa.
“Hehehe… Makasih non. Seger banget.” Timpal Disa yang mulai kembali pada mode on-nya.
“Okey, aku punya info nih buat mba disa.” Mengeluarkan benda pipih dari dalam sakunya.
“Apa non?” Disa tampak penasaran.
Shafira menyalakan ponselnya, men-scrollnya pelan dan menunjukkan sebuah gambar pada Disa.
“Lomba desain untuk pemula.” Ujarnya dengan segaris senyum.
Dengan cepat mata Disa membulat melihat sesuatu yang sangat menarik di hadapannya.
“Boleh saya lihat?” ia terlihat sangat antusias.
“Hem. Lihatlah info lengkapnya.” Menyodorkan ponselnya pada Disa.
Dengan segera Disa mengambil ponsel Shafira tanpa ragu. Sepertinya ia sangat bersemangat.
Shafira yang ada di hadapannya hanya tersenyum melihat semangat Disa. Seperti ia melihat sesuatu yang lain dari sosok Disa yang lembut dan pendiam.
Disa membaca dengan lengkap informasi perlombaan dari judul awal hingga akhir. Dan saat semuanya selesai di baca, raut wajahnya berubah sendu.
“Kenapa?” Shafira penasaran. Bagaimana bisa raut wajah Disa berubah dengan cepat.
“Sepertinya saya tidak bisa ikut.” Ujarnya yang tertunduk lesu.
“Loh, emang kenapa? Ada syarat aneh apa sampe mba disa kena mental?” segera merebut ponselnya dan kembali membaca lengkap pengumuman tersebut.
“Saya tidak mungkin ikut karena saya tidak bisa sering pergi keluar untuk mengikuti lomba ini.” Keluhnya.
“Dan ini, hadiahnya bisa sampe belajar ke prancis loh, ketemu banyak desainer terkenal. Emang gag sayang sama kesempatan langka kayak gini?”
Kalimat Shafira terasa seperti nyala api yang membakar sumbu semangat Disa.
“Ayolah, kesempatan kayak gini gag datang 2 kali. Emang mba disa mau berada di posisi kayak sekarang terus?” kalimat Shafira berikutnya terdengar seperti katalisator bagi Disa.
Menggeleng, tentu ia tidak ingin terus menerus berada pada posisi seperti ini.
Dan ia sangat bersyukur bertemu majikan seperti Shafira yang berpikiran terbuka dan tidak menghambat potensinya. Ia malah menjadi sumber inspirasi dan penyemangatnya.
“Ayolah, semangat. Kalo mba disa menang, aku bersedia jadi modelnya mba disa. Memakai baju terbaik karya seorang Paradisa Sandhya dan berdiri dengan sangat bangga di atas panggung. Hem?” Shafira dengan imajinasi tingkat dewinya membayangkan ia berdiri di panggung mengenakan baju yang di rancang Disa.
Disa malah terisak. Ia benar-benar terharu mendengar ucapan nona mudanya.
“Lohh.. Kenapa? Ya, mau ya… Yuk semangat yuk!” Shafira berbicara sambil mengusap lengan Disa.
Akhirnya Disa terangguk setuju. Kalimat “Tidak ada mimpi yang sia-sia selagi kita mau berusaha mewujudkannya” Sepertinya benar adanya. Maka tugas Disa adalah memulainya.
****
Suara dentingan piano mengisi keheningan udara ruangan galeri yang berada di bawah cahaya remang-remang. Malam sudah cukup larut saat Reza masih menekan tuts pianonya merangkai alunan nada yang menghangatkan malam yang sepi.
Nita yang saat itu telah selesai berbenah, segera menghampiri putranya yang berada di ruang khusus yang sengaja ia buat. Reza lebih suka memainkan pianonya di ruangan ini di mana ada banyak lukisan dan pemandangan yang langsung tertuju pada taman di luar kaca sana.
Nita menghampiri sang putra dan duduk bersisihan dengannya. Reza yang menyadari kehadiran ibunya, lantas membuka matanya yang semula terpejam meresapi melodi yang ia jalin.
“Lanjutkan,” lirih Nita saat Reza menolehnya dan menghentikan gerakan tangannya.
Senyum tipis terkembang di bibir Reza dan perlahan menggeleng.
“Udah cukup malem, mamah mau pulang sekarang?” tawarnya saat melihat jam sudah menunjukkan jam setengah 8 malam.
Nita menggeleng lantas meraih tangan putranya yang ia genggam erat. “Bagaimana paradisa?” tanya Nita dengan segaris senyum terkembang.
“Paradisa?” mengulang nama yang disebut ibunya.
“Hem.” Sambil mengangguk. “Dia gadis yang baik bukan?” lanjutnya.
Reza hanya tersenyum lantas mengecup tangan sang ibu.
“Kenapa mamah begitu menyukai disa?” berganti Reza yang bertanya seraya menatap Nita yang tengah tersenyum padanya.
“Ya mamah gak akan ngasih tau, kamu cari tau sendiri lah. Kenali dia baik-baik.”
Reza tersenyum tipis mendengar jawaban Nita.
“Ya biasanya pandangan orang tua terhadap seorang gadis itu sedikit berbeda dan pasti ada alasan kuat kenapa mamah terus berusaha ngedeketin aku sama disa. Kalo mamah bilang dia gadis yang baik, bukankah itu hanya alasan klise karena pada dasarnya semua orang itu baik?”
Nita terangguk pelan, rupanya rencananya untuk mendekatkan Reza dan Disa sudah terbaca oleh putranya.
“Ya, mamah memang punya pandangan sendiri. Tapi, yang akan menjalani ke depannya kan kamu. Jadi ya kamu harus punya penilaian sendiri lah.” Elak Nita. Ia memang bukan tipe ibu pemaksa. Hanya saja ia tidak bisa menyimpan harapannya terlalu lama.
“Okey, sekarang aku tanya, kenapa harus disa? Kenapa baru dia wanita yang mamah sukai dan menyarankan aku untuk mengenalinya?” Reza bertanya lebih serius, mengunci pandangan sang ibu yang rasanya menyimpan banyak hal yang belum bisa ia selami.
“Treng…” Nita malah menekan salah satu tuts lalu tergelak.
“Udah mamah bilang mamah punya alasan sendiri. Yang jelas, mamah tidak mau kamu melewatkan kesempatan untuk mengenali gadis ini. Tapi jika setelah kamu mengenalinya dan kamu merasa gak cocok, ya mamah bisa apa?” tandas Nita yang selalu bijak.
Reza terangguk paham. Alih-alih melanjutkan perdebatan dengan ibunya, ia lebih memilih memainkan melodi pada pianonya. Dalam pikirnya, masih banyak waktu untuk melakukan apa yang Nita minta. Lagi pula, ia sudah tidak ingin sembarangan mendekati wanita. Ia ingin mengakhiri petualangannya dan memilih satu wanita yang tepat untuk masa depannya.
"Aku akan mencobanya, tapi tolong jangan memaksa. Karena aku sendiri, belum tau apa yang aku dan disa rasakan." gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Nita.
Nita menoleh lantas mengangguk. Ia mengusap kepala sang putra yang kemudian menyandarkan kepalanya di lengan kokoh Reza. Ia ingin lebih lama di sini, bersama sang putra yang selalu membuat perasaannya hangat.
*****
Klik klok klik klok, suara pendulum jam terus bergerak ke kiri dan kanan menghasilkan suara konstan. Kean masih di tempatnya, berdiri di balkon dengan segelas minuman bersoda di tangannya.
Tatapannya menerawang, melihat lurus ke depan sana melihat cahaya lampu yang terkadang muncul lalu kembali menghilang.
Ia kembali meneguk minuman bersoda untuk ke sekian kalinya dan tampak meringis saat perutnya mulai terasa tidak nyaman. Sudah cukup lama ia tidak minum minuman bersoda, tepatnya saat Disa menyembunyikan mie instan dan Minuman bersoda miliknya.
Saat melewati minimarket tadi, ia memang memilih mampir sejenak untuk membeli minuman yang akan menemaninya melewati malam.
Kembali ia teringat perdebatannya dengan Marcel siang tadi. Tamu tidak di harapkan itu membuat perasaannya semakin tidak nyaman. Tidak ada lagi ketenangan yang ia rasakan 24 jam lalu. Tepatnya saat seorang gadis memeluknya saat ia tengah terpuruk.
Tidak bisa ia pungkiri, mengulang traumanya menjadi sebuah ketakutan terbesar bagi Kean. Ia seperti akan bertemu dengan akhir hidupnya namun tiba-tiba rasa takut itu hilang saat ia merasakan hangatnya pelukan Disa yang hanya beberapa menit saja.
Gila, perasaan macam apa ini yang bisa tiba-tiba membuat jantungnya berdebar kencang namun merasa tenang dalam waktu yang bersamaan?
Jika saja saat itu Disa tidak datang dan menemaninya, mungkin ia harus mengulang terapinya dengan salah satu psikolog yang sudah sangat lama tidak ia temui.
Dan yang lebih gila, ia merasakan "Feeling lost" yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di hari kemarin mereka bersama seharian hingga Kean bisa menutup harinya dengan damai sementara di hari berikutnya harinya di buat berantakan karena ketidakberadaannya.
"Apa yang sudah kamu lakukan, hah?!" menggerutu pada pikirannya sendiri.
Ia meremas rambutnya dengan kasar, berusaha mengusir semua pikiran yang membuat perasaannya tidak menentu.
"Tenang kean, ini hanya perasaan sementara. Dia hanya kebetulan ada di saat kamu membutuhkannya." Menghela nafas dalam dan menanamkan lekat-lekat kalimatnya di pikirannya.
"Ya, ini hanya sementara." gumamnya lagi berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Ia kembali meneguk minumannya hingga tandas. Mungkin bermain PS akan membuat pikirannya teralihkan dan lupa pada hal yang bersifat sementara. Ya sementara.
*****