Marry The Heir

Marry The Heir
Relationshit!



Suara nafas Kean terdengar menderu saat ia tengah melakukan skiping. Sudah 8 menit ia melakukan olah raga ini dan 2 menit lagi targetnya tercapai. Keringat terlihat bercucuran membasahi kaos yang membalut tubuh atletis Kean. Otot kakinya tampak tegang dan berkilauan saat keringatnya disinari langsung oleh cahaya matahari.


Pagi ini ia memilih untuk olah raga di taman saja karena rasanya cukup malas untuk sekedar pergi ke gym. Serangkaian olah fisik ia lakukan dan skiping adalah bagian terkahir yang harus ia selesaikan.


Target 10 menit terlampaui sudah. Kean menghembuskan nafasnya perlahan dan berusaha mengatur riitme nafasnya. Ia melihat smart watch yang ada di lengan kirinya. Goal olahraganya sudah tercapai sesuai yang ia catat dalam aplikasi olah raganya.


Terduduk di bangku taman, lantas meneguk air dalam tumbler hingga menghabiskan setengahnya. Ia pun mengelap wajahnya yang basah karena keringat. Hah, rasanya cukup segar. Hembusan angin pagi membuat tubuhnya terasa semakin segar.


Setelah semuanya di rasa cukup, ia kembali ke rumah dan terlihat Disa yang masih membuatkan sarapan pagi.


“Apa kamu membuat roti isi?” tanya Kean saat melihat Disa menempatkan menu sarapan di atas meja.


“Iya tuan. Anda akan sarapan sekarang?”


“Hem.” Perutnya memang sudah keroncongan minta di isi. mungkin menunggu beberapa menit hingga ia siap sarapan pagi.


Kean pergi ke dapur untuk mencuci tangannya di wastafel. Sekilas ia melirik apa yang sedang di lakukan Disa.


“Kamu bikin jus apa?” tanyanya saat melihat Disa sedang menyiapkan buah dan sayur.


“Saya membuat jus brokoli, wortel dan apel. Ini bagus untuk Kesehatan anda tuan.” Terangnya dengan senyuman tipis.


“Apa kamu juga meminumnya?”


“Tidak tuan.” Timpal Disa sambil bergidik.


“Kenapa?” Kean beralih memperhatikan Disa. Ia bersandar pada tahanan wastafel.


“Saya tidak suka brokoli.” Ujarnya pelan.


“Saya juga tidak suka brokoli.” Timpal Kean dengan wajah serius


“Oh ya? Kenapa tuan tidak protes? Saya bisa menggantinya.” Disa menghentikan tangannya yang sedang memasukkan beberapa potong brokoli ke dalam blender.


“Karena saya tau kamu susah payah membuatnya.” Timpal Kean seraya beranjak dari tempatnya dan duduk di kursi meja makan.


Masih memandang ke arah berlalunya Kean, Disa mengulum senyumnya. Ini pertama kalinya ia mendengar tuan mudanya berbicara manis.


“Tapi kalau ada masakan saya yang kurang enak atau tidak sesuai dengan selera anda, tuan bisa mengatakannya. Supaya bisa saya perbaiki.”kalimat diplomatis itu yang akhirnya ia ucapkan.


Jika dipikirkan kembali, walau kata Kinar, Kean rewel soal makanan, tapi tidak pernah sekalipun tuan mudanya protes. Sepertinya masakannya cukup cocok dengan lidah Kean.


“Hem!” sahut Kean dengan segaris senyum.


Harus ia akui, selama ini tidak ada masakan Disa yang tidak ia sukai. Hanya saja, terkadang rasa special masakan Disa yang berkurang saat ada orang lain yang ikut menikmati masakan Disa. Perasaannya sebagai Prioritas Disa ikut tergeser dan itu yang membuatnya tidak nyaman.


“BRAK!” suara bantingan pintu terdengar jelas membuat Kean dan Disa terperanjat. Kean yang berada di meja makan, lebih dulu melihat apa yang terjadi.


“ASTAGA!!!” dengus Kean saat melihat Adam yang asyik bercumbu dengan Jesica tiba-tiba masuk ke rumahnya tanpa permisi. Keduanya seperti tengah di gulung gairah hingga tidak memperdulikan di mana mereka berada.


Tubuh Jesica terdorong ke dinding, sepertinya nafsu Adam sedang sangat membuncah. Gila, sejak semalaman hingga saat ini mereka seperti tidak ada puasnya.


“Ada apa tu,”


Kean segera beranjak saat melihat Disa yang berusaha melihat ke arah pintu. Refleks ia menarik tangan Disa dan membawanya bersembunyi di balik tirai.


“Tuan ada apa?” bisik Disa yang kebingungan. Mungkin ada perampok atau sejenisnya, tapi mana mungkin beraksi siang-siang.


“SSSTT!!!!” Kean berdesis pelan.


Ia memutar tubuh Disa agar membelakanginya dan melihat ke arah taman. Tubuh keduanya tertutupi gorden dan dengan cepat Kean menggunakan kedua tangannya untuk menutup telinga Disa saat samar-samar ia mendengar erangan Jesica.


“Gila! Kenapa kalian harus melakukannya di sini?!” dengus Kean dalam hati. Ingin rasanya ia mengumpati sahabatnya yang terkadang menyebalkan saat sedang bersama perempuan.


Disa yang masih kebingungan berusaha menoleh Kean namun Kean tetap menahan tubuh Disa agar tidak berbalik. Dari pantulan kaca, samar-samar ia melihat wajah Disa yang bingung namun pandangannya tetap fokus ke luar sana.


“Jangan keluar sampai semuanya selesai.” Bisik Kean yang samar di dengar Disa.


Disa hanya mengangguk lemah. Tanganya tampak memainkan apron dan terlihat sedikit gugup. Tentu saja jarak mereka yang sangat dekat membuat jantung keduanya berdebar kencang.


Kean menundukkan sedikit kepalanya. Untuk mengalikan pikiran dan pendengarannya, menyesap wangi rambut Disa yang semalam sangat wangi ternyata bisa mengalihkan pikirannya. Pagi ini pun wanginya sama bahkan lebih segar. Rambutnya yang kecoklatan dan tebal terlihat berkilauan saat terkena cahaya matahari, sangat sehat rupanya.


Ia laki-laki normal. Perasaannya tidak karuan saat ia mendengar suara-suara desahan Adam dan Jesica yang semakin menggila. Ia memejamkan matanya seraya berusaha menyampaikan telepati pada sahabatnya.


“STOP IT! STOP IT!!” seru perintah dalam rongga kepalanya.


Tapi apa boleh di kata, Adam memang telah tenggelam dalam gairah yang ia bangun. Beruntung ada satu orang yang menyadari hal aneh di sekitarnya. Ya, Jesica.


Saat mereka berada di sofa, ia melihat tirai yang menggembung. Jika di lihat ke bawah ada dua pasang kaki di sana.


“STOP IT!” serunya seraya mendorong tubuh Adam lumayan keras.


“What’s problem babe?” Adam yang terengah masih berusaha melanjutkan gairahnya yang sudah terlanjur tersulut. Ia menarik tangan Jesica untuk kembali mendekat.


“Please stop it!” akhirnya Jesica berusaha bangkit dari kungkungan tubuh Adam. Ia menunjuk dua pasang kaki yang berada di balik tirai.


“Oh Shit!” dengusnya. “I forgot that in this house there are innocent people. (Aku lupa kalau di rumah ini ada manusia polos)” menunjuk dua kaki yang berada di balik tirai.


Adam beranjak dari tempatnya seraya mengancingkan kembali bajunya. Begitupun dengan Jesica, permainan mereka harus di akhiri. Ia merapikan penampilannya, dresnya yang sudah melorot dan hampir terlepas serta tentu saja rambutnya yang berantakan.


“Just get out bro.” seru Adam lebih keras.


Kean menghela nafas lega. Akhirnya ia bisa keluar dari penyiksaan ini. Ia melepaskan tangannya yang menutup kedua telinga Disa. Ia berusaha mengatur ritme nafas yang masih menderu. Adegan Adam dan Jesica tentu saja membuat sesuatu dalam dirinya serasa bangkit dan terpanggil.


Disibaknya tirai yang menutupi tubuh mereka dan terlihat Adam yang terkekeh melihat ekspresi Kean dan Disa yang keluar dari persembunyiannya.


Disa menoleh Kean dengan wajah bingung, sementara yang di toleh hanya memalingkan wajahnya dan berusaha mengalihkan pikirannya dari kejadian yang ia dengar.


Adam memang gila! Umpat Kean dalam hati.


*****


Beberapa orang mampir terkadang hanya untuk sekedar singgah tanpa harus terlibat dalam sebuah cerita yang pelik. Dan itu lah yang terjadi pada Adam.


Beberapa bulan setelah kepulangan Kean, ia berfikir Kean akan segera kembali ke amerika mengingat keluarganya di Indonesia adalah satu-satunya yang tidak ingin ia temui. Terlebih Ia meninggalkan seorang wanita yang sangat berarti untuknya.


Namun hari-hari berlalu, tidak pernah ada kabar dari Kean. Tidak ada curhatan lagi tentang keenganannya untuk pulang. Seperti ia telah kembali ke tempat dimana seharusnya ia berada.


Reza, adalah orang yang menghubunginya dan memintanya untuk datang.


“If you are worried about him, then see for yourself. (Kalau kamu cemas dengan keadaannya, maka lihatlah sendiri.)” ujarnya beberapa waktu lalu.


Untuk alasan inilah ia datang menemui Kean dan ternyata alasan Kean tidak kembali karena sudah terlalu banyak hal yang berubah dalam dirinya.


Bermula dari saat ia masuk ke rumahnya, tidak ada ciri khas Kean yang kaku dalam mengatur ruangan. Kean tipe yang tidak suka orang lain mengatur masalah pribadinya termasuk pengaturan tempat yang membuatnya tidak nyaman. Memindahkan satu benda saja di rumahnya saat di amerika, sahabatnya itu bisa sangat kesal. Tapi kali ini berbeda, semua tertata baik dan ia yakin ini tidak dilakukan oleh Kean.


“Help me to see his feeling. (Bantu aku untuk melihat perasaannya.)” adalah permintaan Reza yang sangat khusus untuknya.


Kean tahu benar siapa dirinya. Laki-laki yang sangat memuja mahluk bernama wanita dan kegilaannya dalam mengejar seorang wanita. Jika sudah ia dekati, tidak akan mungkin bisa lepas.


Rupanya gadis ini wanita yang Reza maksud. Gadis berapron dengan wajah polos dan sorot mata yang teduh. Kedua sahabatnya seperti tengah berlomba untuk meyakinkan perasaan masing-masing pada seorang gadis.


Reza yang gamblang mengakui kalau ia diminta oleh ibunya untuk bersama Disa, sementara Kean yang pura-pura acuh padahal sangat peduli pada gadis ini.


Jika Adam ingat, saat-saat ia mengganggu Clara dulu, Kean terlihat acuh saja. Tapi begitu ia datang dan menghampiri gadis ini, Kean langsung pulang dan terlihat tidak suka dengan kata-kata manis yang ia lontarkan pada Disa. Sorot matanya yang tajam seperti mengarahkan sinar laser berwarna merah saat ia menggoda Disa.


Seperti ada yang harus ia lindungi dan jaga dari kenakalan Adam terhadap wanita. Hanya saja sepertinya Kean tidak menyadarinya atau justru pura-pura tidak menyadarinya.


“Who is she?” akhirnya Adam bertanya saat beberapa kali Kean menoleh Disa yang tengah berbincang akrab dengan Jesica.


“Who?” Kean balik bertanya dan pura-pura acuh.


Dengan sudut matanya Adam menujuk Disa dan tampak Kean yang menghela nafasnya dalam.


“You've met her right? (Kamu sudah berkenalan dengannya bukan?)” Kean balik bertanya dengan gaya acuhnya.


“You know that's not what I mean. (Kamu tahu bukan itu yang ku maksud.)” timpal Adam dengan wajah serius.


Kean mengalihkan pandangannya dari tatapan Adam. Ini terlalu mengusik perasaannya. Terlihat Kean yang memainkan ponselnya di tangannya dengan pikiran yang entah tertuju kemana.


“We're just friends. (Kami hanya teman.)” Kalimat Kean berusaha di buat tegas tapi sepertinya bukan jawaban itu yang ingin di dengar Adam.


“Hahahaha are you kidding me? (Hahahahhaa… Apa kamu bercanda?)” tentu saja Adam tidak percaya. “You know, never friendship between a boy and a girl. It's just a stupid relationship. Relationshit! (Kamu tau, tidak pernah ada pertemanan antara seorang laki-laki dan seorang wanita. Itu hanya hubungan yang bodoh. Hubungan yang sial!” tandasnya meyakinkan Kean.


Kean hanya terdiam seraya memandangi Disa yang tengah tertawa bersama Jesica. Lantas ia tersenyum.


“Don't be stupid bro. Don't be sorry. (Jangan bodoh sobat. Jangan sampai menyesal.)” Adam menepuk bahu Kean, meremasnya perlahan seolah tengah memberinya keberanian lantas beranjak menuju Jesica. Seperti tengah memperingatkan kalau ia lengah, mungkin seseorang akan segera mengambilnya.


Adam mengenal benar siapa Kean dan bukan tanpa alasan ia mengatakan hal tersebut. Jika tebakannya benar, Kean tengah menahan sesuatu karena terlalu takut. Ya, ia terlalu takut hingga mungkin kemudian ia akan menyesal.


Kean hanya memandangi arah berlalunya Adam lalu berganti memandangi Disa.


“Hay baby.” Sapa Adam pada Jesica. Ia merangkul Jesica dari belakang lantas mengecup lehernya.


“Hay.” Sontak Jesica berbalik dan mendaratkan sebuah ciuman yang berlanjut menjadi sebuah pagutan yang dalam.


Disa yang melihat kejadian itu segera memalingkan wajahnya. Tanpa sengaja pandangannya berada pada garis yang sama dengan tatapan Kean. Disa hanya tersenyum seraya menghela nafasnya dalam berusaha menetralisir pikirannya yang kacau setelah beberapa kali melihat adegan yang dilakukan Adam dan Jesica.


Hah, situasi macam apa ini? Sangat canggung!


Mungkin kalimat itu yang ada di hati Disa saat ini. Berdo’a saja agar kondisi ni segera berlalu.


******