
“Kamu menyukai pekerjaanmu?” tanyaku.
Dia menolehku, dengan ekspresi wajah yang tidak bisa aku tebak.
Tampak berfikir dan masih terdiam.
Langkah kami sangat pelan, setapak demi setapak membuat jejak jelas di atas pasir putih. Dia melepas sepatunya, begitupun denganku. Jejak kaki kami sekarang yang tertinggal dan saat pasang nanti jejak kami akan hilang tersapu ombak.
“Ya tuan. Saya menyukai pekerjaan saya.” Akunya dengan lugas. Harusnya sejak tadi dia mengatakannya, agar aku tidak bertanya-tanya.
“Apa yang membuatmu menyukainya?” Aku semakin penasaran.
“Em, karena ini pilihan saya?”
Aku sedikit menoleh, masih belum memahami sepenuhnya pikiran gadis di sampingku. Dan sepertinya dia membaca raut wajahku.
“Seseorang pernah berkata pada saya, ‘lakukan pekerjaan yang kamu cintai dan cintai pekerjaan yang kamu lakukan.’” Entah dari mana asal kutipan itu ia ambil yang jelas ia mengatakannya sambil tersenyum.
“Saat saya masuk ke rumah besar itu, saya tidak ingat persis apa yang saya rasakan. Hanya sebatas memilih langkah yang harus saya ambil dan bertanggung jawab pada pilihan saya."
"Hari berganti, saya mulai menyukai pekerjaan saya. Seperti ada dunia baru yang harus saya hadapi dari banyak kesempatan yang mungkin tidak berpihak pada saya. Setiap hari saya belajar untuk mencintai pekerjaan saya. Mencuci pakaian tuan dan nyonya besar. Menyertrikanya. Berbincang dengan teman-teman dan tentu saja mendapat perhatian dari bu kinar."
"Saya juga belajar untuk mencintai pekerjaan saya saat harus mengerjakan semuanya di rumah tuan muda. Bagi saya yang seorang pelayan, tidak ada pencapaian yang lebih besar selain, tuan merasa nyaman dan suka dengan apa yang saya lakukan.”
“Saya bekerja sebaik mungkin, tidak boleh membuat kesalahan karena berada di tempat yang saya pijak, adalah pilihan saya. Maka saya harus bertanggung jawab.”
Kalimatnya cukup panjang, membuatku mulai sadar kalau dia bisa cerewet juga. Suka tersenyum dan pikirannya sangat simple.
“Tapi tidak semua orang memiliki pilihan sepertimu disa. Ada orang-orang yang terjebak pada keadaan yang tidak mereka inginkan tapi tetap harus berada di sana untuk melanjutkan hidupnya.” Aku seperti tengah menceritakan bebanku, entah dia mengerti atau tidak.
“Menurut saya selalu ada pilihan, tuan.” Lagi, kalimatnya membuatku menoleh.
“Ada saatnya sebuah keadaan itu adalah sebuah keharusan yang tuhan pilihkan. Yang menurut kita buruk tanpa kita tahu bahwa itu lebih baik untuk kita. Pilihan tetap ada, kita memilih mensyukurinya agar merasa lebih bahagia, atau merutukinya dan tidak pernah merasakan ketenangan?”
Dia menatapku dengan hangat, membuatku terdiam.
Sedikit berfikir mengenai kalimatnya. Mungkin adalah aku yang masih menjadi deburan ombak dan mencari kebahagiaan tanpa tahu kapan harus menepi.
“Maafkan saya tuan, kalau ada kalimat saya yang salah.” Lanjutnya. Sepertinya ia sangat takut menyinggung perasaanku karena tidak menimpali kalimatnya.
“Tidak masalah. Hanya saja, saya sedikit kaget karena ternyata kamu bisa banyak bicara.” Sahutku dengan senyuman samar.
“Mungkin karena ini.”
Aku menoleh, ia tengah menunjuk tahi lalat di ujung bibir kanannya. Apa hubungannya?
“Kata orang, kalo ada tahi lalat di sini, biasanya bawel. Seperti saya.” Akunya yang kemudian terkekeh.
Aku ikut tersenyum, entah sejak kapan obrolan kami sangat ringan tapi berisi. Dan entah sejak kapan, aku mulai berbagi moment dengan seorang Wanita, memikirkan hal serius dalam satu pengemasan yang ringan. Sangat sulit mencari orang yang bisa di ajak berfikir serius tapi tidak membuatku merasa tertekan apalagi merasa di tinggalkan.
Kami meneruskan langkah, membuat jejak kami semakin Panjang. Ia melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, hampir setengah 7 malam.
“Tuan, saya mau ke mushola dulu. Bisa tolong buka pintu mobilnya? Saya akan mengambil barang-barang saya.” Ujarnya di sela langkah kami.
“Kamu tahu letak musholanya?”
Dia mengangguk yakin.
“Sepertinya kamu sering ke sini.” Terkaku.
“Iya tuan, saya memang sering ke sini. Kalau ada acara, biasanya bekerja di sini.”
Aku mulai tahu banyak tentang gadis ini. Ternyata dia bukan orang yang pemilih dalam hal pekerjaan.
“Pekerjaan apa yang kamu lakukan di sini?”
“Menghibur anak-anak.” Aku nya.
“Saya biasanya pake kostum badut dan anak-anak mengerumuni saya. Sangat menyenangkan, karena untuk beberapa saat seperti saya masuk ke dunia mereka yang seru dan ceria, dimana yang menjadi kesedihan hanya sebatas tidak di beri uang jajan.” Bibirnya tersenyum tipis, dengan tatapan nanar seperti sedang mengingat kejadian yang ia ceritakan.
Mendengar ceritanya tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Aku pun berusaha mengingat suara yang keluar dari mulutnya.
“Berjalanlah lebih dulu.” Ujarku dengan sedikit paksaan mendorong bahunya untuk berjalan di depanku.
“Hah?” seperti pinguin, ia terpaksa berjalan tapi kemudian berhenti. “Ada apa tuan?” tanyanya dengan wajah bingung.
“Berjalan saja lebih dulu.” Lagi aku memberi perintah.
Lantas ia berbalik, mengikuti perintahku dan sesekali menoleh. Mungkin ia merasa bingung.
“Buka ikat rambutmu.” Aku mengeraskan suaraku agar dia mendengarku.
“Hah?” lagi ia berbalik.
Aku menggunakan isyarat tangan agar ia berbalik dan dia menurut. Perlahan ia melepas jepitan rambutnya, membuat rambutnya yang terkepang jatuh tegak lurus. Ia mengusap rambutnya dengan canggung agar helaian rambut yang terburai tetap rapi.
Aku hanya tersenyum. Sepertinya dugaanku benar. kepangan yang sama, langkah kaki yang sama dan suara yang sama. Hanya suasananya yang berbeda.
Kembali aku meneruskan langkahku, menyusulnya dengan langkah yang lebih panjang. Saat melewatinya, aku sedikit mendekat lalu berbisik, “Jalan Winnie the pooh!” Bisikku.
Ia tampak tercengang, sementara aku melenggang santai mendahuluinya.
“Tunggu tuan,“ teriaknya.
Setengah berlari ia mengejarku. Tiba di sampingku dengan terengah dan berbalik untuk berjalan mundur supaya bisa melihat wajahku.
“Bagaimana tuan tau kalau saya memakai kostum Winnie the pooh?” tanyanya dengan wajah bingung.
Aku hanya mengendikan bahuku dengan segaris senyum. Terkaanku benar, dia gadis Winnie the pooh yang mengganggu tidurku hingga kepalaku berdenyut nyeri.
“Tuan, apa sebelumnya kita pernah bertemu?” dia semakin penasaran.
“Mungkin saat kita sama-sama belum terlahir.” Sahutku acuh.
Tunggu, dia menyebutku tua. Aku menatapnya dan ia segera menghentikan langkahnya. Kembali berputar agar langkahnya sejajar denganku.
“Maaf tuan, saya hanya bercanda.” Ujarnya yang tertunduk malu.
Aku hanya tersenyum samar, memperpanjang langkahku, membuatnya kepayahan mensejajariku.
Hahaha.. Sangat lucu dan cukup membuatku terhibur.
Dasar, si bawel ini.
*****
POV Disa.
Ada apa dengan hari ini, kenapa semuanya benar-benar tidak terduga untukku?
Beberapa jam lalu, tuan muda yang saat ini duduk di sampingku tiba-tiba saja pulang sebelum waktunya. Saat aku datang, ia sedang mencuci apel, buah favoritnya. Tiba-tiba juga, ia melarangku untuk memasak lalu tiba-tiba mengajakku pergi.
Terlalu banyak tiba-tiba hingga menjadi terlalu banyak kejutan yang sebenarnya tidak aku sukai.
Ya, aku membenci semua yang namanya kejutan karena bagiku kejutan selalu berakhir dengan rasa pahit.
Sore tadi, setelah sholat dan saat kami pulang dari ancol, laki-laki di sampingku ini mengajakku makan di sebuah restoran bergaya eropa. Restoran yang menyajikan makanan internasional dan tersaji di piring besar namun jumlahnya sangat sedikit. Cukup membuatku merinding karena aku tahu harganya pasti sangat mahal. Satu porsi ayam yang dibumbui mayonnaise ini mungkin setara dengan selama tiga hari makan nasi padang.
Di restoran ini sudah ada mas Roy yang menyambut kami saat kami tiba. Ternyata kami tidak makan berdua, huft hampir saja aku berfikir yang tidak-tidak.
“Silakan tuan.” Sambut mas Roy saat kami masuk ke sebuah ruangan yang terlihat sangat eksklusif.
Hanya ada satu meja di ruangan ini dan dipenuhi makanan dengan berbagai macam menu.
“Hay disa.” Mas Roy menyenggolku saat kami bersitatap.
“Hay!” bisikku.
Aku membatasi diri untuk tidak terlalu akrab dengan mas Roy karena sepertinya tuan muda tidak terlalu menyukainya. Mungkin keakrabanku dengan mas Roy membuat sisi profesionalnya terganggu. Jika aku perhatikan, mas Roy hanya teman di tempat kerja saja. Tidak berhubungan sama sekali dengan urusan pribadi tuan muda.
Sangat berbeda dengan tuan besar dimana semua masalahnya di atur dan di ketahui oleh orang kepercayaannya, Pak Marwan.
Aku sedikit berfikir, mungkin tuan muda orang yang sedikit tertutup untuk masalah pribadinya. Kami yang setiap hari bertemu pun perlu waktu berbulan-bulan hingga bisa berbicara santai. Sepertinya ia bukan tipe orang yang mudah percaya pada orang lain.
Masih di ruang makan yang sama, Mas Roy menarikkan kursi untuk tuan muda dan bergantian untukku. Kami bertiga duduk di tempat yang sama, mengitari sebuah meja bulat besar yang dipenuhi makanan. Entah acara apa ini sebenarnya yang jelas wajah mas Roy terlihat berseri sejak pertama kami datang ke tempat ini.
“Terima kasih atas undangannya tuan muda.” Ungkap mas Roy tiba-tiba.
“Hem,” ternyata tidak hanya padaku, pada Mas Roy pun bicaranya seperti itu.
Ia memasang serbet makannya, tidak bisa di pungkiri gayanya memang sangat berkelas. Dan aku baru tahu kalau ini sebuah undangan.
Aku menyenggol kaki Mas Roy di kolong meja, agar pandangannya beralih padaku.
Mas Roy hanya mengangkat kedua alisnya dengan senyuman yang terus mengembang.
“Kamu bisa bertanya pada saya disa, kalau ada yang ingin kamu tanyakan.” Suara tuan muda yang terdengar.
Dengan cepat aku menarik kakiku dari mas Roy, tunggu apa benar itu kaki mas Roy yang aku tendang di bawah meja?
Mas Roy hanya tersenyum simpul melihat wajah gelagapanku.
“Kamu ingin bertanya kenapa kita makan bertiga di sini bukan?” kali ini tuan muda mengangkat wajahnya, menatapku dengan tajam.
Sepertinya gelombang frekuensi otak kami sama, hingga ia bisa membaca pikiranku.
“I-Iya tuan.” Jawabku yang sedikit melirik Mas Roy yang tampak terkekeh. Puas sekali dia menertawakanku.
Terdengar helaan nafas dari sela bibir tuan muda yang membuatku bersiap menyimak kalimatnya. Mendengar helaan nafas dalamnya saja seperti menyuruhku bersiap untuk fokus pada kata-kata dan maksud di baliknya.
Ia menaruh kembali sendok dan garpunya di sisi kiri dan kanan. Kedua tangannya ia tempatkan di atas meja dengan mengerucut membentuk menara kemudian jemarinya saling mencengkram satu sama lain.
“Tadinya, saya akan mengatakan ini setelah kita makan malam. Tapi sepertinya ada yang tidak sabar ingin mendengar alasan kita makan malam bersama di tempat ini.” Laki-laki di hadapanku memulai kalimatnya dan sekilas menatapku dengan segaris senyum samar.
Aku hanya tersenyum canggung, ia memang serba tahu termasuk arti gesturku.
“Kamu perlu tahu, bukan tanpa alasan kita makan malam di sini.” Membagi pandangannya padaku dan Mas Roy yang tampak ceria sementara aku masih dengan wajah bingung nan menyimak.
“Saat ini kondisi perusahaan sedang cukup baik dan saya merasa ini adalah rejeki untuk kita semua. Kalian salah satu bagian dari pencapaian ini dan terima kasih atas bantuan kalian selama ini.” Ungkap tuan muda dengan penuh kesungguhan.
Wajah bingungku mulai mengukir senyum terlebih saat Tuan muda mengulurkan tangannya padaku dan pada mas Roy. Kami berjabatan tangan dengan erat.
Aku masih tidak menyangka kalau laki-laki angkuh dan dingin yang sebelumnya aku kenal, memiliki sisi humanis yang menghargai usaha orang lain. Aku tidak pernah tahu pada bagian apa aku telah membantunya. Aku hanya berusaha bekerja sebaik mungkin dan jika ternyata ia mengapresiasinya, tentu aku sangat bersyukur.
“Terima kasih tuan. Semoga tuan senantiasa membawa perusahaan tuan menjadi lebih baik lagi.” Ujarku yang ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh tuan muda.
“Tentu. Tapi sekarang, kita makan malam dulu.” Timpalnya.
Aku mengangguk setuju dan mulai menikmati makan malam mewah pertamaku dan mungkin ini akan menjadi kenangan seumur hidup.
Beberapa kali aku melirik tuan muda, aku masih belum benar-benar mengerti sikap dan pikiran laki-laki dihadapanku yang penuh kejutan. Pada satu waktu yang sama dia bisa membuatku bingung, kesal, canggung tapi ia pun membuat darahku berdesir saat kesempatan untuk menjadi diriku sendiri membuat kami merasa lebih santai.
Tanpa tekanan dan kami menikmati waktu kami.
Terima kasih tuan muda.
*****