
“Welcome to Jakarta!” suara flight attendant saat landing masih terngiang jelas di telinga Disa, seolah mengingatkannya kalau ia sudah harus kembali pada rutinitasnya di kota metropolitan.
Ironis, beberapa hari meninggalkan Jakarta dan berdiam diri di kota yang tenang dan sepi, seolah membangkitkan kembali semangatnya yang baru untuk memulai hari.
Tubuh Disa masih terasa lemas setelah banyaknya aktivitas dalam ruangan yang ia lakukan bersama Kean. Ya katakan saja seperti itu, hingga akhirnya sepanjang perjalanan, ia menyadarkan kepalanya ke bahu Kean sementara tangannya di genggam Kean dengan erat. Tidak ada protes dari suaminya, yang bahkan saat dalam pesawat Kean malah memijat kakinya. Mungkin merasa bersalah karena membuat tubuh Disa terasa remuk.
Sekali waktu, matanya yang sayu melihat ke luar jendela, memperhatikan kendaraan yang hilir mudik dan saling berpapasan. Kesibukan tergambar jelas dan membawa Disa untuk melihat realita pekerjaan yang sudah menantinya..
“Sayang, kamu tidur?” Kean sedikit mengintip Disa yang sedari tadi terdiam. Seperti sedang merasakan lelahnya.
Sayang katanya, kata manis itu mulai Kean ucapkan sejak kemarin malam.
“Hmmm” jawabannya mulai mirip dengan jawaban yang biasa ia berikan pada Disa.
“Bentar lagi kita nyampe rumah, siapin mental dan tenaga ngehadepin mamah dan bocah nakal itu.” satu kecupan di daratkan Kean di pucuk kepala Disa untuk menyemangati sang istri.
"Aa doang yang harus di hadepin pake mental sama tenaga mah." Disa mendelik kesal karena tangan suaminya selalu tidak bisa diam.
"Hahaha... Nanti aku gak ganggu kok, ada urusan soalnya. Kamu istirahat aja di rumah." Di usapnya kepala Disa dengan lembut lantas mengecupnya.
“Iya a. Nanti aa mau langsung ke kantor?” menegakkan tubuhnya yang sudah mulai terisi energi. Tidur selama dalam perjalanan ternyata cukup membuat tubuhnya segar.
Selama di pesawat Disa memang tertidur dan selama perjalanan dari bandara, ia mengumpulkan kesadarannya. Badannya masih terasa pegal-pegal walau sudah tidak separah sebelumnya.
“Iya habis makan siang aku ke kantor sebentar, ada yang harus aku urus. Kamu di rumah aja, jangan dulu pergi-pergian sama fira.” Berganti tangan Disa yang di kecup Kean.
Kean memang sengaja mengambil penerbangan pagi karena ada banyak pekerjaan yang harus di urusnya. Lagi pula, cukup lama ia meninggalkan kantor dan hanya lewat Roy ia memeriksa pekerjaannya.
“Maaf ya kalo kamu sampe kelelahan kayak gini.” Lirihnya penuh sesal. Ia menatap mata Disa yang sayu setelah beberapa hari ini ia buat tidurnya tidak nyenyak.
“Nggak perlu ngerasa bersalah a, aku baik-baik aja.” Ya secara batin ia memang baik-baik saja. Sangat baik malah.
“Hem, kemarilah. Aku masih mau meluk.” Kean menarik tubuh Disa ke dalam pelukannya. Seolah tidak peduli pada lirikan supir taksi yang memperhatikan mereka dari spion tengah mobilnya.
Ia tersenyum tipis, aura pengantin baru itu benar-benar terlihat jelas dari wajah pasangan ini.
Disa membenamkan tubuhnya dalam pelukan Kean. Menyesap wangi tubuh suaminya yang sudah sangat familiar. Wanginya segar dan membuat nyaman. Untuk beberapa saat mereka berpelukan sampai akhirnya tiba di rumah utama.
“Tetehhhhh…” seru Shafira saat menyambut kepulangan Kean dan Disa.
Ia berlari menuruni anak tangga lantas memeluk Disa dengan erat.
“Aku kangeeennn…” rengeknya manja.
“Hehehehe.. Iya teteh juga kangen.” Mengusap pucuk kepala Shafira penuh sayang.
“Mah,” Kean menghampiri Arini yang menunggunya di kursi roda. Di raihnya tangan wanita itu untuk ia kecup.
“Gimana kabar mamah?” sedikit berjongkok untuk mengimbangi tinggi Arini.
“Baik. Kamu gimana nak?” diusapnya pipi Kean yang terlihat lebih cerah dan bersinar lebih dari biasanya.
“Baik. Nih aku uda bawa menantu mamah pulang. Udah tenang kan sekarang?”
“Mah,..” Disa bergantian mengecup tangan Arini, lantas Arini memeluknya dengan erat.
“Mamah seneng akhirnya kalian pulang.” Mengusap punggung Disa dengan lembut, terlihat jelas rasa haru di mata Arini.
“Iya mah, aku juga seneng udah pulang.”
Kean ikut mengusap kepala Disa, tentu saja istrinya ini senang, karena di rumah Kean tidak bisa terus mengerjainya setiap waktu.
“Ciee.. Ehm!” goda Shafira saat melihat sikap manis Kean terhadap Disa. Sesuatu yang langka menurutnya saat gunung es ini bisa bersikap manis pada orang lain.
“Ctak!” Kean mendaratkan satu sentilan di dahi Shafira, karena anak kecil ini selalu ribut mengganggunya dan Disa.
“Ish abang! Sakit tahu!” bibir Shafira mengerucut kesal pada kelakuan kakaknya. Ternyata sikap manis itu tidak berlaku padanya.
“Aa ih..” Disa segera mengusap kepala Shafira tapi Kean tampak acuh saja. Ini tidak seberapa di banding gangguan yang sering di berikan Shafira terhadapnya.
Sementara Arini hanya tersenyum, sedikit demi sedikit hubungan Kean dengan putri sambungnya semakin membaik. Keadaan rumah pun perlahan mulai tenang.
“Wah, kalian udah pulang ya?” suara Liana terdengar dari dalam rumah. Arini langsung menghela nafasnya dalam, bersiap menghadapi sumber kericuhan berikutnya. Ternyata ketenangannya tidak bertahan lama.
“Assalamu ‘alaikum tante.” Disa mengulurkan tangannya untuk menyalami Liana.
Dengan malas Liana membalas uluran tangan Disa. “Wa’alaikum salam.” Sahutnya enteng.
Disa mengecup tangan Liana dengan penuh hormat, sementara Kean masih memantau.
“Bagus lah kamu udah pulang, jadi saya tidak perlu capek-capek lagi ngurus mas sigit. Kamu akan merawatnya dengan baik kan?” sinis Liana yang membuat seisi rumah tercengang mendengar kalimatnya.
“I-Iya tante.” Sahut Disa tergagap. Tidak menyangka kalau sambutan Liana akan sedingin ini.
“Liana, jaga sikap kamu. Kamu baru mengurusi mas sigit beberapa hari saja udah pamrih. Kamu lupa kalau selama ini mas sigit mencukupi kebutuhan kamu?”
“Tunjukkan rasa hormat kamu terhadap suamimu dan terhadap menantu saya.” sengit Arini tidak terima.
Liana hanya tersenyum sarkas, lantas mengibaskan tangannya dari Disa.
“Ya, mas sigit memang suamiku tapi hanya sampai beberapa waktu lalu.” berganti Liana menatap Arini dengan sinis.
“Aku sudah menyerahkan surat gugatan ceria terhadap mas Sigit, dan Marwan sudah mengurusnya. Mungkin waktuku di sini hanya beberapa jam lagi saja.” Imbuhnya dengan tenang.
“Apa? Di saat seperti ini kamu malah mau pergi?"
"Kamu tahu kan kalau mas sigit membutuhkan kamu saat ini?” Arini tidak habis pikir dengan sikap Liana yang seenaknya.
Liana tersenyum tipis, ia menatap Shafira yang tampak terkejut dengan ucapannya. Hal terberat untuk ia tinggalkan, sudah tidak lagi menjadi bebannya. Putrinya sudah dewasa, sudah bisa mengatur hidupnya sendiri.
“Mba juga tahu kalau selama ini mas sigit gak pernah ada saat aku butuh. Oh tidak hanya aku, bahkan saat mba rini butuh bukan?” pertanyaan Liana seperti alarm yang mengingatkan Arini pada kekecewaannya.
“Kalian beruntung, karena ada anak ini yang masuk ke kehidupan kalian.” Melirik Disa dengan sudut matanya.
“Kalian mulai merasakan ketenangan dan aku, aku tetap seperti ini. Ada, namun tidak pernah di anggap ada.”
“Jadi, tidak perlu menahanku. Karena aku tidak punya alasan untuk bertahan di rumah ini.” Tegas Liana, dengan suara yang sedikit parau di ujung kalimatnya.
“Mih, mamih mau kemana? Mamih mau ninggalin fira?” Shafira segera menghampiri Liana. Ia masih sangat terkejut dengan ucapan Liana. Awalnya ia pikir Liana hanya menggertak saat mengatakan akan pergi tapi kali ini sepertinya serius.
“Fira, mamih akan memulai hidup baru. Menjadi diri mamih yang di cintai paling tidak oleh mamih sendiri.”
“Kamu tidak perlu khawatir, bukannya kamu lebih terbiasa bersama mereka di banding mamih?”
Liana memalingkan wajahnya dari shafira. Lantas ia berusaha menghalau air matanya ikut menetes melihat sang putri yang terisak.
“Itu karena mamih gak pernah ada buat aku. Mamih sibuk dengan diri mamih sendiri. Sibuk membahagiakan diri mamih sampai mamih mengabaikanku."
"Mamih gak pernah peduli saat aku terpuruk atau membutuhkan seseorang.” Tangis Shafira benar-benar pecah. Ia tidak bisa lagi menahan perasaannya selama ini.
“Ya, karena itu lah sebaiknya mamih pergi!” seru Liana membuat suasana hening seketika.
“Kamu bahagia kan dengan mereka? Maka, lanjutkan kebahagiaan itu."
"Jangan menahan mamih, karena mamih pun ingin merasakan bahagia, terbang bebas menjauh dari sangkar emas yang semakin lama semakin menjadi penjara untuk mamih.”
Shafira hanya terisak, ia memeluk Disa yang ada di sampingnya.
Berat untuk Liana tapi ia lebih tidak bisa bertahan dalam kondisi seperti ini.
“Aku minta maaf kalau selama ini aku telah menyakiti mba rini.” Suara Liana terdengar bergetar, berusaha menahan tangis.
“Aku tidak pernah berniat menyakiti siapapun, termasuk mba rini.”
“Aku masuk dalam kondisi yang sulit, kondisi yang tidak seharusnya aku datangi dan posisi yang tidak semestinya aku tempati.”
“Aku ingin berdamai dengan diriku sendiri dan aku pikir, ini langkah yang tepat.”
“Satu kali lagi aku akan merepotkan kalian, tolong jaga fira. Jangan benci dia seperti kalian pernah membenciku.” Liana melirik Kean yang terpaku di depannya. Seperti pesan itu ia sampaikan untuk anak sambungnya yang mulai melunak pada putrinya.
Tidak ada yang menimpali, semuanya berlalu begitu saja. Bagi Liana, semuanya sudah selesai. Ia sudah tidak semestinya berada di rumah ini, maka ia melenggang pergi meninggalkan orang-orang di hadapannya.
“Kamu akan tinggal dimana?” suara Arini menjeda langkah Liana. Masih ada rasa peduli dalam hatinya.
Wanita cantik itu menghela nafasnya dalam lantas menghembuskannya perlahan.
“Treetops Executive Residences, singapura.” sahutnya tanpa berbalik.
“Aku bekerja pada sebuah perusahaan bisnis internasional. Tenanglah, kali ini aku bekerja dengan benar, bukan untuk menggoda suami orang.” Tegas Liana yang sekali lalu melangkah pergi meninggalkan semua orang.
Sementara Shafira hanya terisak di pelukan Disa. Walau selama ini interaksinya dengan Liana sangat sedikit, namun ia sangat menyayangi ibunya. Mungkin ia marah dengan beberapa hal yang dilakukan Liana, namun ia tidak bisa membayangkan kalau kemudian ibunya pergi dari sisinya.
“Tante, tante mau kan jadi mamahnya fira juga?” lirih Shafira yang tersedu-sedu. Takut-takut ia menatap Kean dan Arini bergantian.
“Tentu. Kamu juga putri tante.” Tegas Arini. Arini merentangkan tangannya menyambut Shafira.
Air mata Shafira kembali tumpah, di peluknya Arini dengan erat. Ia sangat merindukan pelukan seperti ini, pelukan seorang ibu.
Suasana sedih bercampur haru terasa benar menyelimuti kediaman Hardjoyo. Perhatian Disa beralih pada sang suami yang tidak berkomentar sedikitpun. Saat mereka bertemu pandang, Disa tersenyum tipis berusaha menyemangati suaminya.
Dan Kean, masih dengan wajahnya yang dingin, dengan isi pikiran yang tidak bisa di tebak.
*****
“Assalamu ‘alaikum pah..” sapa Disa saat masuk ke kamar Sigit dan menemui mertuanya. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu.
Di kecupnya punggung tangan Sigit dengan penuh rasa hormat.
“Gimana kabar papah?”
Kalau di perhatikan, kondisi Sigit semakin membaik. Tubuhnya sedikit berisi seperti yang selalu di laporkan perawat yang menjaganya pada Disa.
Selama di jogja, Disa memang hanya menerima info perkembangan kesehatan Sigit dari perawatnya. Ia rutin menanyakan kabar Sigit, kondisi tubuhnya yang tirah baring lama hingga exercise yang rutin di lakukan. Sesekali perawat Sigit mengirimkan foto Sigit pada Disa dan benar saja, kondisi Sigit semakin membaik.
“Maaf karena disa perginya lama. Papah udah makan siang?” Diusapnya keringat Sigit yang selalu memenuhi keningnya. Seperti laki-laki ini selalu bermimpi buruk dalam tidurnya.
Disa melihat meja yang ada di samping tempat tidur Sigit, obat-obatnya masih utuh yang berarti ayah mertuanya belum makan atau pun minum obat.
“Nanti disa ya yang suapin papah makan..”
“Oh iya, disa bawa kain batik untuk baju papah. Disa liat di artikel beberapa rumah sakit tentang kain atau pakaian yang cocok untuk pasien tirah baring lama dan disa nemu beberapa di jogja kemaren.”
“Nanti Disa jahitin buat papah.” Disa tersenyum saat menatap Sigit dengan laman.
“Pah, disa mau cerita dikit.” Diraihnya tangan Sigit lantas ia tekuk-tekuk seperti yang diajarkan perawat padanya.
“Hubungan disa sama aa udah makin membaik. Aa udah mulai terbiasa bercerita sama disa. Sikapnya juga udah gak terlalu dingin.”
“Kadang, dia bersikap romantis, bikin gemes.” Disa tersenyum di ujung kalimatnya.
“Aa bilang, banyak kenangan yang aa lewatin sama papah waktu di jogja."
"Dia seneng banget waktu pertama kali belajar naik kuda sama papah. Aku baru tahu kalau papah suka nonton balapan kuda di televisi.”
“Mungkin itu yang bikin aa suka sekali nonton national geographic."
"Sejak pertama kali disa masuk ke rumah di town house, hanya tanyangan itu yang selalu aa tonton walau kadang sambil bengong.”
“Dan mungkin juga aa berharap kelak aa bisa nonton bareng lagi sama papah. Jadi, papah cepet sembuh yaa.. Disa juga mau nonton bareng sama papah dan aa.” tutur Disa dengan sungguh.
Tanpa Disa sadari ada seseorang yang memperhatikannya dari pintu. Saat suara langkahnya terdengar oleh Disa, gadis itu menoleh. Adalah Liana yang tersenyum tipis padanya.
“Tante,” Disa segera beranjak dari tempatnya,
“Duduk saja.” Tahan Liana.
Ia ikut duduk di samping Disa dan menatap Sigit dengan penuh perasaan.
“21 tahun lalu saya bertemu laki-laki ini. Belasan tahun kami hidup bersama walau karena keadaan yang memaksa kami untuk bersama.”
Liana memulai ceritanya sambil memandangi Sigit.
“Dia, laki-laki yang sangat menyebalkan, kamu harus tau itu. Sikapnya dingin, tidak beda jauh dari kean.”
Ada kemarahan yang bercampur rasa sayang yang di tunjukkan Liana.
“Selama saya bersama laki-laki ini, tidak pernah ada waktu yang cukup untuk memahaminya."
"Masih banyak hal yang tidak saya tahu tentang dia. Terutama jalan pikiran dan perasaannya.”
“Dia laki-laki yang sulit menunjukkan perasaannya baik lewat kata-kata atau pun sikap. Tapi, satu waktu dia bisa bersikap sangat manis hingga membuat saya terjebak dan melakukan kesalahan itu bersamanya.”
“Keluarga ini mungkin beruntung karena memiliki kamu yang masuk di saat keluarga ini hampir hancur, tapi bagi kamu mungkin tidak sama beruntungnya.”
Beralih Liana menatap Disa, baru kali ini wanita ini tersenyum pada Disa dan menatapnya laman.
“Kamu harus tau, terkadang menemani orang sakit yang menyimpan banyak luka, bisa membuat kamu juga ikut terluka."
"Kamu harus kuat, harus sangat kuat. Karena saat kamu tidak kuat, semuanya akan hancur.”
“Satu pesan saya, jangan terlalu polos apalagi terlalu percaya pada orang-orang yang menyimpan banyak luka. Mereka punya banyak rahasia yang dinding saja ikut menyimpannya dengan rapat."
"Kalau kamu berniat bertahan, bertahan lah sampai akhir. Tapi jika kamu tidak yakin, maka sebaiknya akhiri sejak awal, sebelum kamu ikut terluka.”
Tutur Liana panjang lebar. Entah ini kalimat penyemangat atau peringatan, yang jelas Disa harus memperhatikan ujaran Liana baik-baik.
Dari mata sipitnya yang begitu lekat menatap Disa, seperti ingin meyakinkan kebenaran dari apa yang ia ucapkan.
“Saya juga titip fira. Saya tahu kamu menyayanginya. Jadi, apapun yang terjadi nanti, jangan tinggalkan dia.”
Di genggamnya tangan Disa dengan erat, seperti Wanita ini tengah memberinya pesan terakhir.
“Iya tante, saya akan menjaga fira sebaik mungkin. Tapi, bisakah tante sesekali tetap bertanya kabarnya atau mengucapkan selamat tidur untuknya?” pinta Disa dengan sungguh-sungguh.
Liana hanya tersenyum, lantas mengalihkan pandangannya dari Disa. Ia menatap Sigit dengan penuh perasaan, lantas terangguk pelan.
Akhirnya Disa bisa menghela nafas lega. Walau seseorang harus pergi, bukan berarti tidak ada alasan untuk di kenang.
*****