Marry The Heir

Marry The Heir
Kesempatan lain



"Apa? Lo beneran gak bakalan ambil?"


Suara lantang itu adalah milik Clara yang menatap Disa dengan tajam. Seperti halnya Kean, Clara sama terkejutnya mendengar kabar tentang batalnya keberangkatan Disa ke Paris.


Beberapa saat lalu Kean memberitahunya kalau Disa tidak jadi mengambil program study-nya di Paris. Kean sengaja mengabari Clara setelah dia memberitahunya kalau ia menemukan tempat yang lebih nyaman untuk Disa tempati.


Jujur, Keanpun masih belum sepenuhnya memahami bagaimana pemikiran Disa saat ini hingga memutuskan untuk tidak jadi pergi.


Katanya, "Aku sadar a, untuk menjadi layak buat aa, bukan hanya berarti harus memiliki kesetaraan yang sama dalam hal material. Tapi aku harus bisa mengisi kekosongan di keluarga kita. Menjadi istri yang baik dan anak yang berbakti. Apa keinginanku berlebihan?" tanya Disa pada Kean.


Sampai titik ini, Kean sadar keinginan Disa untuk tidak pergi memiliki alasan yang kuat dan ia menghargai itu.


"Iya claire, aku menundanya." suara pelan itu adalah milik istrinya. Ia masih bisa tersenyum tenang menghadapi sikap agresif Clara.


"Kenapa? Ini kesempatan langka disa. Kenapa malah lo sia-siain?"


"Ini pasti gara-gara lo kan?" Clara langsung menatap Kean sinis, seolah pria ini adalah penyebab Disa tidak jadi berangkat.


"Lo kan yang ngelarang dia pergi? Lo emang resek ya!" gerutu Claire menghakimi sahabatnya.


"Nggak claire, bukan aa yang melarangku pergi." Disa menatap Kean takut-takut.


"Ini keputusanku sendiri dan aku sudah mempertimbangkannya."


"Em sebenarnya bukan tidak aku ambil, aku hanya menundanya saja." lagi, Disa dengan kukuhnya meyakinkan Clara.


Kean tidak melihat sedikitpun keraguan di matanya, seolah keputusannya sudah final.


"Terus, kalo bukan gara-gara kean, kenapa lo gak jadi pergi? Kendala bahasa apa gimana?"


"Gue denger waktu lo interview sama kak mareta lo cukup bisa ngomong bahasa inggris. Terus masalahnya apa?"


Clara masih tidak terima dengan keputusan Disa. Kean jadi bertanya, apa yang membuat Clara begitu antusias ingin Disa pergi.


"Em, bukan karena kendala bahasa." Disa menggelengkan kepalanya.


"Aku punya alasan sendiri kenapa tidak berangkat sekarang. Aku harap kamu menghormatinya." Disa menoleh Kean seolah meminta bantuan untuk menjelaskan pada Clara.


"Claire, gue gak ngehalangin disa sama sekali, makanya gue sampe nanya-nanya tempat buat dia tinggal." gayung bersambut, Kean berusaha menengahi.


"Tapi, keputusan dia udah bulat dan gue menghormatinya. Jadi gue harap, lo juga gak mempermasalahkan hal itu." tegas Kean pada Claire.


Claire terduduk malas, tangannya bersidekap tanpa melepaskan pandangannya dari Disa.


Kean genggam tangan Disa untuk menguatkannya dan meyakinkannya kalau pilihannya, ia dukung.


"Ya gue sih sebenarnya gak masalah kalo lo nunda. Cuma, jujur gue udah bilang sama temen-temen gue kalo orang yang desainin baju buat gue, bakal sekolah di paris."


"Mereka nunggu lo banget, karena penasaran sama kemampuan lo."


"Ya gue tau, gue emang gak ada hak buat maksa lo, tapi gue niatnya cuma buat bantu lo, supaya jejaring lo nambah aja. That's it."


Clara memberi alasannya mengapa ia begitu terkejut dengan batalnya keberangkatan Disa.


Bisa di pahami, ini sebagai bentuk terima kasihnya pada Disa walau dengan cara yang berbeda.


"Makasih claire, untuk kepercayaannya. Maaf udah ngecewain." Disa menatap Clara dengan rasa bersalah. Ini yang tidak Kean suka, tidak seharusnya wanitanya bersikap seperti ini.


"Ya mau gimana lagi kalo itu emang udah jadi keputusan lo."


"Tapi, ada baiknya juga lo gak jadi pergi. Soalnya gue juga mau ngajak lo kerja sama." Clara menoleh Marcel yang duduk di sampingnya.


"Oh ya? Kerja sama apa?" terlihat lagi wajah antusias Disa yang Kean sukai.


"Yang, kamu deh yang jelasin." Dia menoleh Marcel dengan yakin.


"Ya, sebenernya ini rencana kolaborasi gitu antara claire sama kamu." Marcel mengawali kalimatnya.


Kean dan Disa masih menyimaknya.


"Jadi, melihat hasil karya kamu waktu ikut ajang kemaren, manajemennya claire, mau ngajak kamu collab, bikin baju exclusive buat claire."


"Rencananya kalau ada event selama 3 tahun ke depan, manajemen akan meminta kamu yang nge-handle masalah baju untuk claire. Karena manajemen merasa kalau kamu cukup mengenal claire."


Marcel menjeda kalimatnya, menunggu respon Disa dan Kean. Tidak ada protes.


"Ya kami gak akan membatasi kalau kamu masih mau membuat desain untuk orang lain hanya saja, dalam kontrak itu, kami mengajukan agar desain untuk claire menjadi prioritas."


"Gimana?" Marcel menatap Kean dan Disa bergantian.


"Apa event tersebut sifatnya terjadwal atau situasional?" Disa mulai tertarik untuk mengetahui lebih rencana kerjasamanya dengan Clara.


"Ada beberapa yang sudah terjadwal namun banyaknya yang siatuasional. Tapi tenang, sekalipun itu event yang situasional, kamu akan selalu punya waktu untuk menyiapkan semuanya paling tidak 1 bulan. Gimana?"


Perhatian kini seluruhnya tertuju pada Disa yang sedang menimbang-nimbang tawaran Clara dan Marcel. Jujur, ia bersyukur karena walaupun ia urung belajar di Paris, tapi ia punya kesempatan lain untuk mewujudkan mimpinya. Dan baginya ini kesempatan besar yang diberikan seorang model top untuk menjadi rekanannya.


Namun yang menjadi pertanyaan Disa, bisakah ia mengimbangi ritme kerja Clara? Bisakah idenya selalu muncul setiap kali ia membutuhkannya?


"Bisa beri aku waktu untuk berfikir?" tanya Disa kemudian.


"Yes!" seru Clara dengan semangat. Walaupun Disa tidak langsung mengiyakan tawarannya, tapi paling tidak wanita ini memikirkannya.


"Berapa lama gue bisa dapet jawaban lo?" Clara menunggu jawaban Disa dengan semangat.


"Em, " Disa menolah Kean yang duduk di sampingnya. Kean hanya mengangguk, ia setuju saja dengan keputusan apapun yang akan di ambil istrinya.


"Mungkin semingu. Ya, aku minta waktu seminggu."


"Yaps! Deal!" Clara langsung mengulurkan tangannya pada Disa.


"Gue akan nunggu lo seminggu dan besok pagi, gue minta assistant gue ngirim draft kerja samanya buat lo. Gimana?"


"Baik." Disa menerima uluran tangan Clara.


"Yes!" Clara berseru senang.


Akhirnya ia bisa memulai sesuatu yang baru untuk kariernya. Bekerja sama dengan Disa yang secara profesional sangat mengenalnya. Ia yakin, bersama Disa ia bisa membuat gebrakan baru di dunia fashion.


******


Hari-hari baru Disa benar-benar di mulai sebagai seorang pemilik butik dan sebagai seorang istri juga anak. Di waktu-waktu tertentu, ia akan berperan sebagai seorang istri, di waktu lainnya ia berperan sebagai seorang anak dan wanita karier.


Ya, Arini bilang saat ini Disa adalah seorang wanita karier walau bekerja di butik yang ia miliki sendiri. Ritme kerjanya jelas walau sering ada gangguan tiba-tiba dari suaminya. Berusaha mengatur waktu adalah peer Disa berikutnya.


Mila, nama wanita yang dicarikan Roy dari sebuah perusahaan penyedia jasa manajemen sumber daya manusia atas permintaan Kean. Ia bisa bekerja dengan cepat dan profesional, seolah wanita ini memang di bentuk untuk pekerjaan seperti ini. Ia terpaut usia beberapa tahun lebih tua dari Disa. Pembawaannya yang ramah, seolah menjadi partner kerja yang pas untuk Disa.


"De, aku analisa dulu ya ajuan kerjasama dari claire. Ini kayaknya ada beberapa yang harus di revisi."


Mila memulai pekerjaannya dengan memeriksa draft dokumen yang dikirimkan assistant Clara.


Nilai kerja sama ini cukup besar dan bisa memenuhi kebutuhan Disa untuk mengelola butiknya. Namun lebih dari itu, ini tantangan baru untuk Disa. Anggap saja ini sebagai jalan dalam mengembangkan kariernya untuk lebih di kenal oleh banyak orang.


"Hem iya kak. Claire bilang, waktu aku satu minggu untuk mempertimbangkan."


Mereka langsung terlihat akrab. Disa yang terbuka dan Mila yang supel, membuat mereka langsung klop.


Disa yang lebih muda darinya, di anggap adik sendiri oleh Mila. Dan Disa merasa beruntung karena ia seperti memiliki seorang kakak yang diutus suaminya untuk menemaninya bekerja di butik. Semua kebutuhan Disa, Mila lah yang mengaturnya.


"Okey. Oh iya, ini ada permintaan desain dari sahabatnya fira. Katanya, dia udah pernah bilang sama kamu." semua lalu lintas permintaan desain dan baju, masuk melalui Mila terlebih dahulu. Seperti yang dipesankan Kean, tidak ada yang boleh mengganggu nomor pribadi Disa selain dirinya dan orang-orang terdekatnya saja.


"Oh ya.. Aku udah pernah bikin konsepnya. Nanti aku selesein." mereka duduk di meja masing-masing dengan kesibukan masing-masing.


Alarm di ponsel Mila sudah berdering, yang berarti tugas lainnya sudah menunggu untuk di kerjakan.


"De, mau makan siang apa? Aku pesenin." termasuk mengurus jadwal makan siang Disa.


Ini point penting yang di tekankan Kean karena ia tidak mau Disa tenggelam dalam pekerjaannya hingga melupakan kebutuhannya sendiri.


"Em, aku kayaknya mau pulang dulu ke rumah kak. Mau liat papah dulu." melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Gimana kalo kita makan dalam perjalanan pulang? Aku punya rekomendasi tempat makan yang akan kamu suka." tawarnya masih tentang makan.


"Em, aku makan di rumah aja kak sama mamah. Kakak mau ikut pulang ke rumah atau gimana?"


"Gak usah, aku di sini aja takut ada pelanggan yang nyariin kamu. Aku sih gampang, nanti aku pesen makanan online aja." bagaimana pun ia tahu batasan untuk tidak mencampuri urusan pribadi majikannya.


"Okey." Disa terangguk setuju.


"Aku pesenin taksi online-nya ya, kamu tunggu bentar." sampai hal sekecil ini pun di handle oleh Mila.


"Iya kak, makasih." sudah, Disa hanya menyahuti seperti itu karena sudah pasti ia tidak akan bisa menolak.


Mila seperti wanita yang khusus di utus Kean untuk menjaganya dan memastikan semua kebutuhannya di penuhi dengan baik. Ia tahu benar harus seperti apa men-treat Disa agar nyaman dan bisa bekerja dengan baik. Tapi jangan salah, ia pun seperti mata-mata yang akan mengawasi Disa saat bertemu dengan kliennya dan melaporkan hal detail pada Roy.


Seperti beberapa waktu lalu, saat ada seorang laki-laki muda yang datang untuk membuat gaun untuk kakak perempuannya. Mila jadi penetralisir keadaan saat laki-laki itu mulai bertanya hal pribadi pada Disa. Ia benar-benar menjadi CCTV hidup sekaligus penjaga keamanan Disa, seperti yang diharapkan Kean.


Fiuhh, berasa Kean ada dimana-mana dan bisa melihatnya.


Taksi di pesan Mila sudah tiba. Dengan mobil SUV itu Disa di antar pulang ke rumah.


"Sus, papah udah makan?" tanya Disa saat sampai di kamar perawatan Sigit.


"Belum nona muda. Kata nyonya besar, menunggu nona muda pulang." jawab perawat yang bertugas menjaga Sigit.


"Kalo mamah dimana ya? Ada ke sini gak sus?" Disa celingukan karena sedari datang, ia belum melihat Arini.


"Nyonya besar mungkin di kamarnya. Tadi beliau menerima telpon dari seseorang dan langsung ke kamarnya."


"Oh okey, makasih."


Disa pergi lebih dahulu ke ruangan kecil, khusus ia menyimpan barang-barang keperluan Sigit. Di sana ia biasanya membuatkan Susu untuk makan siang Sigit.


Tanpa sengaja, ia mendengar Arini yang sedang bertelepon.


"Iya bagus roy, kamu pantau terus. Laporkan pada saya perkembangannya." kalimat itu yang di dengar Disa.


Tidak bermaksud menguping namun suara Arini terdengar cukup jelas.


"Iya terima kasih. Jangan lupa ingatkan kean makan siang, karena ia tidak makan di rumah hari ini." imbuh Arini.


Disa hanya tersenyum mendengar pesan Arini. Ia tidak menyangka kalau Roy juga cukup dekat dengan ibu mertuanya. Mungkin ini sebagai cara Arini memperhatikan putranya lewat roy.


Kembali melanjutkan tugasnya, Disa masuk ke ruangan tersebut. Satu gelas susu sudah di seduhnya dan siap ia berikan pada Sigit.


"Sa, kamu udah pulang nak?" sapa Arini yang baru keluar dari kamarnya.


"Em iya mah. Mamah udah makan siang?"


"Belum. Kamu kasihin dulu susunya, nanti kita makan siang sama-sama."


"Iya mah."


Disa kembali masuk ke kamar Sigit di ikuti Arini.


Jadwal makan siang Sigit memang sudah waktunya.


"Pah, kita makan dulu yaa... Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar. Selamat makan.."


Melalui selang nasogastric-nya Disa memberikan susu itu pada Sigit sementara Arini memperhatikan dari jauh. Telaten sekali menantunya merawat suaminya. Terbit rasa syukur di hati Arini karena telah membawa Disa masuk ke rumah ini.


"Nona, ini obatnya." perawat tadi memberikan obat yang sudah ia racik untuk di berikan pada Sigit.


"Makasih sus." di susul obat yang ia masukkan ke dalam selang tersebut.


"Alhamdulillah, gimana makan siangnya pah? Enak?" Diusapnya perut Sigit dengan perlahan.


"Papah pasti suka sa, apalagi di suapin langsung sama menantunya." sahut Arini seraya mendekat.


Andai saja ia mengenal Disa jauh lebih cepat atau paling tidak saat ia masih di Amerika dulu, mungkin ia akan sangat bersyukur karena mendapat limpahan kasih sayang dari menantunya. Sayangnya, setiap hal sudah ada waktunya sendiri yang tidak bisa ia tarik maju, atau ulur mundur.


"Iya semoga papah suka. Mamah mau makan sekarang?" berganti Arini yang di ajak makan.


"Sebentar sa, mamah masih pengen di sini." Arini mendekat, lantas meraih tangan Sigit untuk ia gengam dengan erat.


"Mas, kamu liat, walau pun anakku adalah anak laki-laki, tapi aku bisa memberi kamu anak perempuan yang manis. Dia juga sangat menyayangi kita." Arini menoleh Disa di sampingnya lantas tersenyum tipis.


"Aku harap, kamu segera bangun mas dan bisa melihat langsung bagaimana putri kita ini mengurus kita." di genggamnya pula tangan Disa dengan erat.


Disa tersenyum haru merasakan hangatnya sentuhan Arini. Hal seperti ini lah yang selalu ingin ia rasakan. Merasa dekat dengan orang-orang yang di sayanginya dan membuatnya enggan menjauh.


"Kelak, saat papah kamu bangun, mamah yakin dia akan sangat senang karena kamu berada di sisinya dalam kondisi ia sedang sangat jatuh. Dan mamah berharap, sikap kean pun bisa melunak terhadap papahnya." tutur Arini seraya memandangi Sigit.


Disa hanya terpaku seraya mengaminkan harapan Arini. Ia pun memiliki harapan yang sama, dimana suaminya mulai belajar memaafkan ayahnya dan mau menemani Sigit selagi ia masih ada. Ia tidak mau Kean menyesali ketiadaan kedua orang tuanya seperti dirinya.


*****