
Laju mobil yang kencang itu terhenti di depan gerbang rumah utama. Sepanjang jalan tidak ada yang mereka perbincangkan, membuat suasana terasa tegang dan menakutkan.
Disa menoleh suaminya yang berhenti sejenak untuk memandangi bangunan kokoh di hadapannya. Rumah yang ia benci, yang kali ini terpaksa kembali ia datangi. Tangannya mencengkram stir dengan kuat seperti ia tengah mengumpulkan keberaniannya untuk masuk.
Terdengar helaan nafasnya yang dalam, membuat Disa ikut menghela nafas dalam-dalam. Tidak terbayang apa yang akan dilakukan Kean di dalam nanti. Mungkin sesuai permintaannya, Kean akan melepaskannya di hadapan Arini dan hubungan mereka berakhir sudah.
Baru dibayangkan sudah menakutkan, keadaan dimana ia terpaksa mengakhiri sebuah perasaan agar tidak lagi ada yang terluka. Namun, bukankah ini yang Disa inginkan? Tidak tersiksa dalam ketidak pastian.
Mobil melaju pelan memasuki pelataran rumah. Tanpa berkata-kata Kean melepaskan seatbelt miliknya juga Disa. Ia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Disa. Mungkin ini akan menjadi sikap manis terakhir yang Kean lakukan untuknya.
Lihat, pria ini bahkan mengulurkan tangannya pada Disa.
“Turunlah.” Dengan suaranya yang rendah dan menggetarkan. Satu lagi hal yang harus ia lupakan dengan cepat.
Tidak ada alasan untuk ragu, bukankah ini yang Disa inginkan, ada kejelasan untuk hubungannya.
Disa menjabat uluran tangan itu dan Kean menggenggam tangannya dengan erat. Ia membawa Disa masuk ke dalam rumah dan mengabaikan sapaan Kinar yang tampak terkejut melihat kedatangan keduanya.
Ruang tamu dan ruang keluarga di lewati begitu saja. Langkah panjang Kean membawa Disa menuju anak tangga dan menapakinya dengan langkah cepat. Jujur Disa kepayahan.
Ruang atas sepi, seperti orang-orang tengah berada di kamarnya masing-masing. Diujung tangga sejenak Kean menghela nafas. Kemana Kean akan membawanya, ke kanankah untuk menemui Arini?
Ternyata Kean memilih untuk ke kiri menuju kamarnya. Tapi kamar itu pun di lewati Kean dan akhirnya mereka sama-sama berdiri di hadapan pintu kamar Sigit.
“Kamu ingin kejelasan bukan?” lirih Kean tanpa menoleh Disa.
Disa terangguk pelan. Jantungnya langsung berdebar kencang saat pintu yang di pilih Kean adalah pintu kamar Sigit. Apa yang akan dilakukan oleh suaminya? Apa semua akan baik-baik saja?
Semakin tidak karuan saja perasaan Disa. Tangannya sampai dingin karena gugup walau sudah di genggam oleh tangan Kean yang hangat.
Satu dorongan kuat membuat pintu kamar Sigit terbuka. Ada Arini yang duduk di samping Sigit dan tampak terkejut melihat kedatangan Kean dan Disa. Ini pertama kalinya Kean masuk ke ruang perawatan Sigit. Baik itu saat di rumah sakit ataupun setelah di rawat di rumah. Biasanya Kean hanya melihatnya dari pintu tanpa mau mendekat.
“Disa, kean? Kalian?” Arini menatap tidak percaya. Entah apa yang sedang dilakukannya di samping Sigit, yang jelas ada sisa air mata yang baru ia usap.
“Ada apa nak?” bergantian memandangi wajah Disa yang tegang dan wajah Kean yang dingin.
“Ada yang harus aku selesaikan dengan papah.” Sahutnya dengan penuh keyakinan. Tidak sekalipun pandangannya beralih dari Sigit yang ia tatap lekat.
Arini menoleh Disa, seperti meminta penjelasan. Disa hanya menggeleng, entah apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
Akhirnya Arini memilih menjauh, memberi Kean dan Disa ruang.
Kean menggenggam tangan Disa dengan erat, sangat erat seperti enggan untuk melepaskannya lantas ia mendekat pada Sigit.
Di belakang sana, ada Shafira dan Kinar yang masih terengah mengikuti langkah panjang Kean dan Disa sampai di mulut pintu. Banyak pertanyaan di benak mereka, apa yang akan Kean lakukan pada Sigit.
“Pah,” suara berat dan dalam itu diucapkan Kean tanpa ragu.
“Aku datang membawa istriku, Paradisa Sandhya.”
Disa ikut menatap Sigit beberapa saat, lantas beralih memandangi suaminya saat namanya di sebut.
“Wanita yang papah larang untuk aku nikahi karena papah pikir dia tidak layak untuk menjadi istriku."
"Namun aku tetap menikahinya karena aku mencintainya.”
“Wanita ini juga yang membuatku bersumpah tidak akan memberi papah keturunan jika papah masih menganggapnya rendah dan tidak layak.”
Sampai kalimat ini, Disa merasa tertohok. Ternyata ia lah yang membuat Kean bersumpah pada papahnya. Tubuhnya mendadak lemas dan genggaman tangannya hampir lepas, namun Kean semakin mengeratkan genggaman tangannya.
“Apa papah tahu, hingga detik ini aku masih sangat kecewa pada papah. Papah tidak pernah memberikan sedikitpun kesempatan untukku menjadi seorang anak di tengah-tengah keluarga hardjoyo.”
“Papah hanya berpikir kalau aku adalah manusia yang diciptakan hanya untuk meneruskan kekuasaan papah dan kelak memberi papah anak cucu untuk meneruskan semuanya.”
“Papah telah mengambil banyak hal di masa laluku. Mengambil kebahagiaanku, mengambil kesempatanku untuk merasa di sayangi dan diinginkan, juga mengambil kesempatanku untuk merasa kalau aku memiliki hak sebagai seorang anak, bukan hanya sebagai pewaris.”
Arini tersedu di tempatnya, mendengar penuturan Kean yang menyakitkan. Sebesar itu rasa sakit yang anaknya rasakan dan ia tidak pernah bisa melakukan apapun melainkan hanya menjadi beban bagi putranya.
“Aku bisa berdamai dengan itu. Tapi, aku tidak akan membiarkan papah mengambil masa depanku. Membuatku merasa bersalah pada wanita yang aku cintai dan terpaksa melepaskannya pergi. Tidak pah, aku tidak akan membiarkannya.”
“Aku,”
Kalimat Kean terjeda. Ia menoleh Disa dan menatapnya dengan laman. Matanya sudah merah dan basah, beberapa saat lagi mungkin akan pecah.
“Aku mencintainya."
"Dia wanitaku, dia hidupku, dia penyembuhku, dia yang membuatku berusaha untuk berdamai dengan papah. Menuruti keinginan papah dengan harapan semuanya akan membaik. Meski papah tidak pernah menganggap usahaku.”
“Dia juga yang lebih dulu memaafkan papah bahkan sebelum aku memintanya untuk menerima kekurangan keluargaku.”
“Aku percaya padanya. Dia akan menjadi istri yang baik. Dia akan melengkapiku. Dia yang papah bilang tidak layak, menjadi layak dengan caranya sendiri. Dan dia,”
Kean menghela nafasnya dalam, dengan penuh keyakinan ia mengatakan, “Dia yang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Maka aku mencabut sumpahku.”
Tanpa terasa, air mata Disa lolos menetes begitu saja di pipinya. Berganti ia yang mengeratkan tangannya pada Kean. Ketakutan yang beberapa detik lalu memenuhi ruang hatinya, mendadak sirna begitu saja, berganti rasa bahagia karena Kean menganggapnya ada.
“Terlepas kelak papah menyayangi anak-anakku atau tidak, aku akan tetap menyayangi mereka."
"Aku akan menyayangi mereka dengan cara kami."
"Aku akan menjaga mereka dari jangkauan papah."
"Aku tidak akan membiarkan mereka merasakan apa yang aku rasakan di masa lalu.” Tandas Kean dengan penuh penekanan.
Kembali terdengar tangis Arini yang pecah. Ia terisak di belakang sana bersama Kinar dan Shafira.
Melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan sumpahnya, membuat Kean bisa tersenyum tenang, ia telah menang menghadapi rasa takutnya sendiri berkat wanita di sampingnya.
Sekali lalu, Kean menangkup kedua sisi wajah Disa lantas mengecup dahi, beralih pada kedua mata, lalu kedua pipi dan hidungnya, di akhiri dengan kecupan lembut di bibirnya. Ia tidak lagi peduli pada pasang mata yang menatap mereka.
“Aku mencintaimu. Aku mohon jangan pernah meninggalkanku untuk alasan apapun.” Lirih Kean dengan penuh harap.
Sorot matanya yang dingin, kini berubah hangat. Membuat jantung Disa berdebaran dengan kencang seperti ia telah jatuh cinta kembali pada pria di hadapannya.
Disa terangguk pelan. Semua yang ingin ia dengar, sudah ia dengar lebih dari cukup. Saat ini ia hanya ingin memeluk Kean dengan erat, sangat erat.
Kean membalas pelukannya. Tubuh jangkungnya mengungkung tubuh Disa yang mungil. Ia kembali mengecup pucuk kepala disa, menyesap wangi rambutnya yang sangat ia rindukan. Lantas memejamkan matanya, menikmati desiran halus yang kembali merambat di aliran darahnya dan membuat jantungnya berdegub kencang.
Seperti inilah seharusnya rasa tenang saat melabuhkan hati pada hati yang tepat.
****
Flashback
Suasana panas di ruangan kerja Sigit masih jelas terasa saat Kinar masuk ke ruangannya untuk memberikannya obat. Baru beberapa menit lalu Kean pergi dengan kemarahan yang menyala di matanya.
Di tempatnya, Sigit terduduk lesu di kursi, bersandar lemah tanpa tenaga. Entah apa yang ada di benaknya saat ini, yang jelas dari pantulan kaca cermin di hadapannya, ia terlihat sangat sedih.
“Tuan, saatnya minum obat.” Ragu Kinar menaruh obat di meja kerja Sigit.
Mendengar suara Kinar, lantas Sigit memutar kursinya dan berhadapan dengannya.
“Kinar, apa kamu masih membenciku? Membenci sikap angkuhku?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan yang tidak Kinar sangka akan menyambutnya.
“Tidak tuan, saya tidak pernah membenci anda.” Kinar tertunduk di hadapan Sigit. Tidak ingin membalas pandangan Sigit yang lekat dan membuatnya merasa bersalah.
Sigit tersenyum samar, lantas ia beranjak menghampiri Kinar, duduk bersandar pada meja kerjanya membuat jarak mereka cukup dekat.
“Lalu apa kamu masih mencintaiku?” tanyanya lirih.
Pertanyaan Sigit memang tidak terduga membuat perasaan Kinar tidak karuan. Ia mencengkram tangannya sendiri yang saling tertaut. Dengan segenap keberanian ia menatap Sigit.
“Tidak tuan. Saya tidak lagi mencintai anda.” Tegas Kinar tanpa ragu.
“Oh ya? Lantas mengapa kamu masih ada di sini? Bukankah kamu bisa pergi dari sini, meninggalkanku dan berbahagia dengan laki-laki lain?” jawaban Kinar ternyata berbuntut panjang.
Kinar menghela nafasnya dalam dan berusaha tersenyum pada Sigit.
“Saya bertahan bukan karena anda tuan." kalimat Kinar terdengar tegas.
"Sejak tuan muda lahir, saya sadar saya tidak pernah memiliki tempat di rumah ini. Semua orang tidak mengharapkan kehadiran saya, termasuk anda yang selalu mengingkari perasaan anda sendiri pada nyonya besar.”
“Anda hanya tidak tega, jika harus mengatakan langsung kalau perasaan anda sudah jauh berubah pada saya tuan, tapi saya bisa merasakan itu.”
“Saya tahu, usaha nyonya besar telah meluluhkan hati anda dan saya tidak pernah menyalahkan itu.”
“Saya bertahan di sini hanya karena, tuan muda membutuhkan saya."
"Beliau berhenti menangis saat saya menggendongnya, dia tidur lelap saat saya memeluknya dan dia terlihat bahagia saat saya menemaninya bermain. Hal kecil yang tidak bisa anda lakukan bukan?”
Kalimat Kinar membuat Sigit memalingkan wajahnya. Menyebalkan namun benar adanya.
“Beliau satu-satunya keluarga hardjoyo yang menggenggam tangan saya dengan erat."
"Beliau satu-satunya yang membuat saya merasa kalau keluarga hardjoyo telah menerima kehadiran saya dan memberi saya tempat.” Kinar memandangi telunjuknya sendiri yang sering di genggam Kean saat kecil.
“Hanya itu alasan saya bertahan di sini tuan. Saya, menyayangi tuan muda. Putra anda dengan nyonya besar yang sering anda lupakan.” Tegas Kinar.
Sigit tersenyum samar. Ia mengambil sebutir obat yang Ia masukkan kemulutnya. Mengecap rasanya beberapa saat sebelum kemudian ia muntahkannya kembali.
“Apa kamu tahu apa yang sekarang terjadi padaku kinar?” Sigit beranjak dari tempatnya, beralih memandangi taman di luar jendela ruangannya.
“Aku sudah benar-benar menghancurkan hidupku sendiri juga putraku.” suaranya terdengar putus asa.
“Kamu harus tahu, di kemudian hari, kamu tidak akan mendengar lagi nama hardjoyo yang sangat kamu benci kinar. Kean yang akan mengakhirinya.”
“Anak yang kamu sayangi, dia bersumpah di hadapanku kalau dia tidak akan pernah memberiku keturunan.”
“Tidak akan ada lagi seorang anak yang memohon untuk di sayangi dan tidak akan ada lagi seorang putra yang dipaksa untuk menjadi penerus dari keluarga hardjoyo. Semuanya berakhir kinar.” Lirih Sigit yang terpekur di tempatnya dengan air mata yang menetes.
Sungguh, Kinar tidak pernah menyangka kalau Sigit akan mengatakan hal ini.
Lantas ia berbalik menatap Kinar dengan matanya yang basah.
“Aku menyedihkan bukan? Aku kehilangan kamu juga kehilangan putra dan masa depan keluarga hardjoyo dalam waktu bersamaan. Padahal aku sudah melakukan banyak hal untuk mempertahankannya. Mempertahankan keluarga hardjoyo agar tetap terlihat layak sebagai pewaris yang di pilih papah.”
“Apa salah kalau aku hanya ingin memenuhi janjiku pada papah kalau aku bisa menjadi seperti dirinya? Kalau dia harus menyesal karena pernah mengasingkanku. Dan dia harus tahu kalau aku tetap anaknya walau terlahir dari rahim yang tidak seharusnya.”
Sigit terpekur dengan tangisnya yang dalam. Kinar ikut menangis, menangisi kemalangan tuan besar sakaligus sahabatnya. Sayangnya, ia tidak bisa mendekat apalagi memeluk Sigit untuk menenangkannya. Ia hanya bisa berdiri di tempatnya dengan rasa iba yang ia ungkapkan lewat air mata.
“Anda masih bisa memperbaiki semuanya tuan. Anda masih memiliki kesempatan.” Hibur kinar dengan sungguh-sungguh.
Sigit hanya menggeleng. Pikirannya buntu hanya sekedar untuk memikirkan cara bagaimana ia memperbaiki semuanya.
Andai Sigit bangun dan melihat apa yang Kean lakukan saat ini. Benar bukan, kalau semuanya bisa di perbaiki? Ini hanya masalah waktu dan siapa yang tersadar lebih dulu agar tidak terpuruk.
*****