
Belakangan ini Reza sangat sering main ke rumah Kean. Sesekali bersama Nita dan seringnya datang seorang diri, khusus untuk menemui Disa. Setiap kali datang ia membawa makanan sebagai buah tangan, persis ABG yang tengah mengapeli pacarnya.
Usahanya cukup gigih dan hampir setiap malam Kean menjadi penonton setia proses pendekatan Reza pada Disa.
Banyak hal yang mereka lakukan, mulai dari berjalan-jalan dan menghirup udara malam sambil menikmati es krim. Pergi ke minimarket untuk membeli barang unfaedah yang sebenarnya bisa mereka beli lain waktu. Berbincang berdua di taman bahkan sesekali Reza membantu Disa mengerjakan pekerjaannya. Mungkin itu usaha yang biasa bagi Reza tapi terasa begitu mengganggu bagi seseorang yaitu Kean.
Balkon yang biasanya menjadi tempat menyenangkan bagi Kean untuk melepas penatnya, menjadi tempat yang mulai ia hindari. Setiap malam ia harus melihat Reza datang dan pergi dari rumahnya, sementara Disa setia mengantarnya sambil melambaikan tangan setelah mengucapkan "Hati-hati di jalan.". Apa-apain ini? Apa mereka ingin membuat orang-orang iri? Tidak lihat apa kalau setiap malam Pak Wahyu dan Pak Rahmat baper sendiri melihat romantisme mereka?
Dan Arini, kenapa Arini tidak pernah protes? Dia bisa saja menolak kedatangan Reza yang sedikit banyak mengusik ketenangannya. Namun ia malah ikut menikmati obrolan random Reza dan Disa yang menurut Kean tidak bermanfaat sama sekali bagi Kesehatan jantungnya.
Seperti malam ini. Reza kembali datang dan ikut malam bersama mereka. Setelah itu ia mengajak Disa keluar sebentar dan pulang dengan membawa martabak aneka rasa. Ayolah, Reza bukan ABG lagi. Kean tahu benar, ini bukan cara Reza mendekati seorang wanita.
Pulang dari luar, Disa terlihat senang. Ia tersenyum lebar, lebih lebar dari yang pernah Kean lihat sebelumnya. Apa dia sebahagia itu? Kenapa Kean harus ikut senang saat melihat senyumnya? Rasanya tidak tega kalau tiba-tiba senyum itu hilang. Apa mungkin, Arini pun merasakan hal yang sama dengannya? Tidak tega melihat senyum Disa hilang lantas ia membiarkan Reza keluar masuk rumah ini hampir setiap hari.
Di anak tangga Kean terduduk. Ia memperhatikan Disa yang sedang menikmati martabaknya sementara Reza sedang bertelpon. Sayup-sayup Kean mendengar perbincangan mereka.
“Nyonya, ini ada jus buah delima. Katanya bagus untuk imunitas dan mencegah artritis.” Disa menyodorkan segelas jus yang baru ia buat untuk Arini.
“Wah sepertinya enak.” Arini menyukai warna merah yang menyegarkan penglihatannya. Biasanya ia hanya melihat jus berwarna hijau yang didominasi oleh sayuran untuk menjaga kesehatannya.
“Mau di minum sekarang nyonya?” tawar Disa.
“Boleh.” Arini tampak begitu bersemangat.
Disa mendekatkan gelasnya dan membantu Arini minum. Ini salah satu hal yang Kean sukai dari Disa yaitu cara memperlakukan ibunya.
“Apa enak nyonya?” melap sisa jus yang ada di sudut bibir Arini dengan tissue.
“Enak. Sepertinya ini akan menjadi salah satu minuman favorit saya.” aku Arini yang kembali meminta minumannya. Begitu lahap hingga habis setengahnya.
“Kalau nyonya suka, saya akan sering membuatnya. Selang seling dengan jus lainnya supaya nyonya tidak bosan.” Janji Disa.
Arini terangguk setuju. Memang sudah cukup banyak varian jus yang di buat Disa baik untuk Arini ataupun Kean.
Selesai menikmati jusnya, mata Arini melirik martabak yang ada di hadapan Disa. Salivanya mendadak terkumpul di ujung tenggorokannya yang kemudian ia telan kasar. Sepertinya sangat enak jika ia mencicipi satu potong saja.
“Disa, boleh saya mencobanya satu?” pinta Arini dengan ragu.
Disa melirik martabak di hadapannya yang memang mengundang selera. Pantas saja kalau Arini pun ikut tergiur.
“Apa tidak apa-apa kalau nyonya makan martabak?” jadi merasa bersalah saat menghidangkan makanan yang tidak bisa dinikmati nyonya besarnya.
“Satu gigitan saja, sepertinya sangat enak.” Arini mulai memelas seperti orang ngidam dan membuat Disa tidak tega.
“Apa nyonya memiliki alergi, semisal susu, tepung atau kacang?” bertanya dengan mendetail, ia tidak mau makanan yang ia berikan pada Arini menjadi sumber penyakit baru.
Mendengar pertanyaan Disa, Kean ikut tersenyum. Sebesar itu perhatian Disa pada ibunya.
“Tidak, saya tidak punya alergi.” Aku Arini dengan yakin. Sudah tidak sabar untuk menikmati makanan di hadapannya.
“Em, baiklah. Saya bersihkan dulu dari toping kacangnya ya nyonya, takutnya nyonya tersedak.”
“Iya sa.”
Mengambil satu potongan martabak lantas membersihkannya dari toping kacang. Arini menunggu dengan tidak sabar dan saat suapan pertama, matanya langsung membulat senang.
“Enak sa.” Serunya.
“Benarkah?”
Arini mengangguk yakin.
“Nyonya kunyah dulu sampai halus, supaya tenggorokannya tidak sakit.” Rasanya begitu menyenangkan melihat Arini yang menikmati makanannya.
Dengan semangat Arini menguyah. Satu suapan, dua suapan hingga akhirnya satu potong martabak habis. Sudah sangat lama Arini tidak menikmati makanan ini dan rasanya benar-benar nikmat.
“Enak sekali sa.” Ujarnya yang di tutup dengan menghabiskan segelas jus delima.
“Syukurlah kalau nyonya suka.” Kembali melap sudut bibir Arini dengan hati-hati.
“Em, saya udah kenyang. Antar saya ke kamar ya.”
“Baik nyonya.”
Melihat Disa yang beranjak mengantar Arini akhirnya kean memutuskan untuk turun. Ia duduk di sofa, memperhatikan Reza yang masih bertelpon di luar sana, entah dengan siapa. Saat melihat Kean, Reza segera menghampiri.
“Udah selesai kerjaan lo?” tanyanya lantas duduk di samping Reza.
“Hem.” Tadi ia memang beralasan harus mengecek beberapa pekerjaan setelah makan malam walau ujungnya tidak ada yang ia kerjakan selain mendengarkan perbincangan orang-orang di bawah.
“O iya bro, minggu besok boleh gak gue ngajak disa jalan? Nyokap mau ngajak disa ke rumah.” Tiba-tiba Reza menyampaikan permintaannya.
Alih-alih menjawab, Kean lebih memilih menyalakan PS nya dan mengambil stick. Memberikannya satu pada Reza dan bersiap membantai sahabatnya secara virtual.
“Kenapa lo nanya gue? Biasanya juga lo nanya langsung sama nyokap.” Timpalnya dengan fokus yang tetap tertuju pada layar televisi. Ia memilih para pemain handal untuk mengalahkan sabahatnya.
“Ya kan elo yang ada depan gue.” Sahut Reza entang. Ia pun mulai memilih pemain yang akan ia gunakan untuk melawan sahabatnya. “Ah elah, keduluan gue ngambil messi.” Protes Reza saat satu pemain incarannya ia ambil.
Kean tidak menyahuti, ia lebih berfokus pada isi pikirannya. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Reza. Salah satunya, “Lo serius sama disa?” bertanya dengan acuh adalah gaya Kean walau sebenarnya jawaban Reza bukan satu hal yang bisa ia acuhkan.
“Emang gue gak keliatan serius?” Reza balik bertanya. “Ampir tiap malem gue dateng ke sini, lo pikir buat apaan?” Reza tertawa kecil di ujung kalimatnya. Ada-ada saja pertanyaan sahabatnya.
“Bukan karena permintaan nyokap lo?” Kean balik bertanya, lebih spesifik.
Reza menghentikan sejenak gerakan tangannya dan tampak berfikir. “Apa itu penting buat lo?” Reza menoleh sahabatnya yang tampak terlalu bersemangat menekan joystick psnya.
“Gue cuma pesen lo jangan mainin disa.” Timpalnya lantas menekan tombol enter dan balik menatap Reza dengan dingin.
“Waw! Apa yang gue liat ini? Lo nasehatin gue soal deketin cewek? Atau lo gak suka karena cewek yang gue deketin itu disa?” Reza menyeringai sarkas. Baru kali ini ia melihat ekspresi Kean saat membahas perempuan.
Biasanya ia santai saja melihat Reza mendekati wanita satu, dua bahkan tiga dalam waktu bersamaan.
“Gue gak peduli lo deketin siapa. Tapi siapapun itu, jangan lo sakitin kayak yang udah-udah.” Sahutan Kean terdengar cukup serius. Seperti tengah menghakimi Reza yang doyan berganti-ganti pacar.
“Men, gue gak pernah mainin cewek!" elak Reza. Tidak suka juga di bilang mempermainkan perempuan.
"Gue laki, mesti memilih mana yang cocok buat gue. Kalo mereka gak cocok buat gue, ya maaf kalo gue tinggal. Apa salahnya?” Reza dengan alibinya yang merasa benar.
Baginya, saat ia merasa cocok dengan 1 gadis, maka ia akan bertahan. Namun saat ia merasa ada yang tidak cocok, maka akan dengan mudah untuk ia lepaskan. Simple menurutnya.
“Nah itu yang salah! Lo bukan ngerasa gak cocok tapi lo gak bisa nerima kekurangan orang lain.” Tegas Kean dengan sedikit berapi-api.
“Wo wow wow! Lo ngapa sih men?!” mendengar ucapan Kean rasanya cukup mengejutkan bagi Reza. “Sejak kapan lo ngerti masalah relationship building? Lo bahkan gak tertarik sama perempuan. Lo cuma tertarik sama diri lo sendiri yang lo rasa paling penting di banding hal lain.”
“Brak!” Reza melempar Stick PS nya dengan kasar. Mood-nya untuk bermain hilang begitu saja.
Kean tidak menyahuti. Ia pun menaruh sticknya lantas menyandarkan tubuhnya seraya bersidekap. Ia pun tidak mengerti bagaimana ia bisa terpancing oleh Reza. Bukankah biasanya ia juga acuh kalau Reza berganti pacar lebih sering di banding berganti pakaian.
Dan bagi Reza, Kean sudah melewati batasnya. Menurutnya Kean tidak berhak menentukan cara ia memperlakukan perempuan. Ia berhak memilih siapa yang menemaninya menua nanti. Ia tidak ingin karena keidak cocokan antara ia dan calon pasangannya kelak membuat hubungan mereka harus kandas di tengah jalan. Baginya pernikahan itu sakral, hanya bisa dipisahkan oleh maut seperti halnya kedua orang tuanya. Tidak ada drama perselingkuhan seperti yang biasa dilakukan banyak pasangan akhir-akhir ini. Salahkah kalau ia berusaha mempertahankan idealismenya?
“Tunggu, lo ngomong gini bukan karena gag suka gara-gara yang gue deketin itu disa kan?” tanya Reza tiba-tiba. Seperti ia baru tersadar dari sikap dan perkataan Kean.
Kean tidak menjawab. Ia memilih beranjak dari tempatnya. Baginya tidak ada perlu ia jelaskan. Namun saat ia berbalik, ia melihat Disa di pintu kamar Arini. Reza ikut menoleh dan sama-sama menatap Disa.
Rasa canggung mengambil alih atmosfir ruangan. Reza yang tersadar lebih dulu mengakhiri kecanggungan ini.
“Gue pulang.” Ujarnya seraya beranjak. Kean tidak menyahuti. Ia memilih pergi menuju kamarnya dengan langkah tegas dan panjang.
Sementara Disa terpaku bingung, menatap dua laki-laki di hadapannya yang satu per satu pergi dengan ekspresi wajah yang tidak dimengertinya.
Ada apa dengan mereka?
******
Terlalu banyak hal yang dipikirkan, sering kali membuat kita tidak bisa memejamkan mata walau tubuh sudah terasa lelah dan mata sudah sangat mengantuk.
Seperti yang dirasakan Disa saat ini. Sedari tadi ia terus berganti-ganti posisi tidur. Miring ke kiri lalu ke kanan, telentang hingga telungkup tapi rasanya matanya malah semakin enggan terpejam.
“Domba 1 domba 2 domba 3 domba 4,” sampai puluhan yang di hitung Disa tapi masih belum membuatnya menguap apalagi mengantuk.
Ia kembali menyalakan ponselnya melihat email yang masuk beberapa hari lalu.
“Selamat,” adalah kata pertama yang ia baca dari pesan yang di kirim panitia lomba desain yang ia ikuti. Satu tahap sudah ia lalui dan berhasil masuk ke 15 besar. Rasa senang sekaligus bingung, seolah bercampur menjadi satu. Ia senang karena berhasil melewati rasa ragunya pada dirinya sendiri dan bingung karena tidak tahu apa ia harus meneruskan lomba ini atau menyerah sekarang.
Embel-embel hadiah beasiswa untuk belajar desain dari orang-orang yang mahir di bidangnya membuat Disa membayangkan seandainya ia berhasil mendapatkan kesempatan itu. Pintunya terbuka lebar untuk melakukan lebih banyak hal yang berarti. Walau menjadi desainer bukanlah cita-citanya, namun mengingat besarnya harapan sang paman dan neneknya agar Disa menjadi seseorang yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri membuat ia tidak bisa mengabaikan pesan ini begitu saja.
Challenge untuk masuk ke 10 besar adalah mendesain baju casual untuk laki-laki. Mendesain baju laki-laki itu susah-susah gampang. Susah karena harus unik dan gampang karena hanya di dominasi garis-garis lurus saja.
Kalau dulu saat ia membuat tugas, biasanya Damar akan membantunya. Ia bersedia menjadi model asalkan Disa membuatkannya mie kuah dan kopi hitam. Walau selama Disa mengukur tubuhnya Damar memasang wajah kesal tapi paling tidak itu bisa membantu Disa untuk mendapat ukuran yang tepat. Dan kali ini, entah siapa yang akan menjadi modelnya
Daripada tidak bisa tidur, akhirnya Disa beranjak dari tempat tidurnya. Mengambil beberapa kaos dari dalam lemari dan membentuknya bulat-bulat. Tidak hanya itu, ia pun mengambil kertas koran dari bawah serta gagang sapu yang jarang di pakai. Dengan menggunakan solasi, Disa mulai membentuk bulatan untuk ia rangkai menjadi sebuah mannequin.
Hampir satu jam ia membuat mannequin setinggi satu setengah meter, dari kaos dan kertas koran. Baginya yang terpenting adalah bagian tengah tubuh. Sedikit terkekeh saat ia melihat beberapa tonjolan yang tidak seharusnya ada di tubuh laki-laki.
“Bodoh! Dada cowok tuh rata disa!” Disa merutuki dirinya sendiri. Bermain dengan kertas koran dan gagang sapu ternyata cukup menyenangkan.
Setelah mannequin-nya jadi, ia kembali duduk dan mulai membuat desain di ipad yang di berikan Shafira. Mendesain sebuah celana, lalu kaos polo dengan tambahan gambar random di bagian bawah kaosnya. Ia menitik beratkan keunikan desainnya pada bagian ini. Beruntung ia cukup mahir melukis sehingga tidak perlu waktu lama saat membuat lukisan di kaos tersebut.
Hingga dini hari pekerjaannya baru selesai. Setelah mengirimkan desainnya, Disa melanjutkan menggambar hingga akhirnya ia tertidur di depan meja rias sekaligus meja kerjanya. Sepertinya mendesain bisa membuat otaknya lelah hingga akhirnya terlelap begitu saja.
****