
“Tuan besar, sudah sadar nyonya.” Kalimat itu yang diucapkan Tina saat membawa Arini menunju lantai dua. Jawaban yang butuh waktu untuk meredakan rasa keterkejutannya.
Benar saja, Arini melihat Disa dan Kean berdiri di mulut pintu dengan Kean yang menggenggam tangan Disa.
“Pergilah, minta kinar telepon dokter.” Ujar Arini saat ia sudah bisa mendekat sendiri dengan kursi rodanya.
Tina pun segera pergi dan mencari Kinar.
“Dia istriku. Tentu saja dia ada di sini.” terdengar jawaban Kean yang tegas.
Arini semakin mendekat, suara Kean yang mulai meninggi seperti alarm yang membuat Arini bersiap untuk kemungkinan perdebatan yang akan terjadi.
Dilihatnya Sigit hanya tersenyum tipis lantas menatap Kean dengan tajam. “Istrimu?” tanya Sigit, seperti tidak percaya.
“Ya, dia istriku. Walau papah menolaknya, dia akan tetap menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku.” Suara Kean tidak kalah tegas.
Bisa terlihat mata Sigit yang memandangi Disa dari atas sampai bawah, sementara Disa hanya tertunduk dengan wajah tegangnya.
Arini segera mendekat untuk menetralisir keadaan.
“Mas,” panggil Arini dengan suaranya yang lirih dan mata yang berkaca-kaca menyimpan tangis. Antara senang dan takut melihat Sigit tersadar saat ini.
“Kamu menikahinya saat papah sedang tidak sadarkan diri. Pengecut!” decik Sigit.
Terasa Kean yang mengepalkan tangannya menahan marah sekaligus menggenggam tangan Disa dengan erat.
“A,” lirih Disa, menahan lengan Kean agar tidak beranjak dari tempatnya. Ia tahu kalau kalimat ayah mertuanya seperti pancingan untuk Kean.
Kean berusaha mengatur nafasnya agar tidak terpancing, di tolehnya Disa yang berusaha tersenyum untuk menenangkannya walau ia tahu perasaan Disa jauh lebih tidak tenang dari yang ia rasakan.
“Aku tidak merasa kalau tindakanku layaknya seorang pengecut. Aku menikahinya karena aku memang mencintainya dan itu bentuk tanggung jawab seorang laki-laki terhadap wanitaku.” Terang Kean yang berusaha terlihat tenang. Jujur, ada Disa di sampingnya cukup membuat tingkat kemarahannya menurun.
“Bertanggung jawab? Apa kamu menghamilinya?” tanya Sigit kemudian.
“MAS!” suara Arini yang kali ini terdengar jelas. Ia mendekat pada Sigit dan menatapnya dengan laman.
“Disa bukan perempuan seperti itu.” Tegas Arini membela menantunya.
“Dady, abang cinta sama teteh, makanya abang menikahi teteh.” Shafira ikut berbicara. Ia tidak tega melihat Disa yang merasa terintimidasi.
“Kalian membelanya.” Sigit tersenyum kelu, lantas menatap Disa dengan laman. “Padahal dia seorang pembohong.” Imbuhnya.
Baru kali ini Disa berani mengangkat wajahnya, membalas tatapan Sigit. Entah apa maksud ayah mertuanya yang mengatakan ia sebagai pembohong.
"Apa maksud mas? Disa berbohong apa?" Arini tidak terima mendengar seruan Sigit terhadap menantunya.
Sigit tidak menurunkan pandangannya sedikitpun dari Disa. Ada yang berbeda dari cara Sigit menatap Disa saat ini.
“Kamu lupa kalau sudah berjanji untuk menjaga saya bukan? Apa kamu berubah pikiran? Kemana kamu selama ini?” tanya Sigit kemudian.
Disa tersentak, seperti tersadar dari sesuatu. Pertanyaan Sigit seolah membuat kakinya ingin melangkah untuk mendekat. Mungkin saja Sigit sebenarnya tidak sedang menolaknya. Apa Sigit merubah penilaiannya terhadap Disa?
Disa berusaha melepaskan tangan Kean yang menggenggamnya erat. Perlahan ia melangkah menghampiri Sigit dengan perasaan yang berkecambuk di dadanya. Ia berusaha mengikuti kata hatinya dan semoga saja benar.
“Disa!” Kean menahan Disa agar tidak mendekat. Disa hanya tersenyum, berusaha meyakinkan Kean kalau ia akan baik-baik saja mendekat pada Sigit.
“Assalamu ‘alaikum pah…” ujar Disa. Di raihnya tangan Sigit tanpa rasa takut lantas ia salami dan ia kecup dengan penuh rasa hormat.
Tangan Sigit yang gemetar, tidak menolak saat Disa meraihnya. Ia memandangi Disa cara yang tidak bisa di jabarkan. Entah apa yang Sigit rasakan saat ini. Mungkin ia masih diliputi kebingungan dengan keadaan di sekitarnya. Berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain memerlukan kesiapan dan kesadaran penuh, Sigit sedang berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya. Mana yang hanya bunga tidurnya saat ia tidak sadarkan diri dan mana yang memang kenyataan. Satu hal yang ia ingat, suara milik Disa yang selalu menemaninya yang kemudian dalam beberapa hari ini tidak di dengarnya.
“Maaf karena aku pergi tanpa pamit. Aku juga tidak menemani papah beberapa hari terakhir ini. Maaf pah.” Lirih Disa kemudian.
“Kemana saja kamu? Kenapa kamu tidak membangunkan papah dan menemani papah?” protes Sigit dengan penuh kemarahan. Lihat matanya yang merah dan berair. Apa ia serapuh ini sekarang?
Disa tersenyum dengan tangisnya yang ia coba tahan. Ia tidak salah menyangka, Sigit bukan menolaknya tapi sedang kecewa terhadapnya.
“Papah menungguku?” suaranya parau. Ia menatap Sigit dengan jarak yang dekat, sekali lalu mengusap kasar air mata yang tiba-tiba mengalir deras.
Sigit terangguk pelan. Sementara Arini, Kean dan Shafira hanya saling toleh. Mereka nyaris tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Seperti ada ikatan kuat antara Disa dan Sigit yang tidak mereka miliki. Suasana berubah dari penuh kemarahan menjadi penuh rasa takut yang dirasakan Sigit, seperti menyadarkan mereka kalau Sigit tidak sedang menolak Disa, melainkan mengungkapkan kekecewaannya karena merasa di tinggalkan.
“Maaf, aku tidak bermaksud meninggalkan papah.” Imbuh Disa kemudian. Di genggamnya tangan yang sering ia latih agar otot tangannya tidak mengecil dan diusapnya air mata yang menetes pelan dari sudut mata Sigit.
“Kamu tahu, tidak ada yang membacakan do’a bangun tidur untuk papah. Tidak ada juga yang membacakan do’a sebelum makan dan memberi papah makanan yang langsung masuk ke perut. Semuanya hening, sepi dan papah sendirian. Kamu pergi kemana, hem?” susah payah Sigit menahan air matanya. Egonya sebagai seorang laki-laki yang tidak mudah tersentuh seperti menahannya tapi ia tidak bisa membohongi perasaan yang ia rasakan sekarang. Selama ia tidak sadarkan diri, hanya suara Disa yang ia ingat di alam bawah sadarnya.
Disa tidak mampu berkata-kata. ia tidak salah dengar bukan? Di kecupnya tangan Sigit layaknya seorang anak yang sangat menghormati ayahnya. Lantas Sigit mengusap kepala Disa dengan penuh kasih dan memeluknya denagn erat. Rasa haru pun tidak bisa lagi di pungkiri. Arini ikut tersedu melihat apa yang terjadi di hadapannya. Tidak terkecuali Shafira yang ikut terisak dan Kean dengan matanya yang berkaca-kaca.
Selama Sigit berada dalam kondisi vegetative, ia merasa seperti jiwanya tidak berada pada tubuhnya. Berjalan kesana kemari hingga ia lelah dengan pikiran kosong tidak bisa berpikir dan kebingungan. Ia hanya merasa ada di tubuhnya saat ia merasa kalau Disa mendekat.
Seperti saraf-saraf di otaknya mulai terhubung walau samar. Mendengar Disa berceloteh, membacakan do’a-do’a untuknya, mengaji di dekatnya dan mengurusnya dengan penuh kasih seperti menemani Sigit yang berada dalam ruangan gelap yang menyekapnya dan Disa menemaninya dari luar dengan sebuah lilin kecil yang meneranginya.
Lalu, beberapa hari ini ia merasa kosong, sepi dan sendiri. Ia berpikir, apa mungkin Disa pun mulai mengabaikannya? Meninggalkannya sendirian dalam ketakutan? Mengapa seisi ruangan mendadak dingin dan mencekam? Apa sekarang ia telah ditinggalkan?
Sayup-sayup ia mendengar suara riuh di bawah sana. Suara tawa dan suara Disa yang selalu membuat saraf-sarafnya kembali berreaksi pada suara Disa. Ia yakin Disa ada, tapi mengabaikannya, seperti otaknya mulai berpikir kalau ia harus bangun dan bertanya sendiri apa Disa benar-benar mengabaikannya?
Dan saat ini, wanita ini berdiri di hadapannya. Wanita yang kerap memanggilnya papah tanpa Sigit tahu alasannya. Wanita yang kata Kean sudah ia nikahi. Benarkah? Kapan? Berapa lama ia terbaring hingga tidak tahu apapun? Apa Kean sudah mencabut sumpahnya? Kenapa banyak hal yang tidak masuk dalam otak Sigit dan ia hanya bisa merasakan perubahan suasana di sekitarnya saja? Apa kondisi ini yang selama ini ia alami, bisa merasakan tapi tidak bisa berpikir apapun?
“Jangan tinggalkan lagi papah. Papah takut sendirian.” Lirih Sigit dengan penuh kesungguhan. Rasanya ia tahu mengapa selama ini Disa memanggilnya papah. Panggilan yang membuatnya merasa hangat, ia harus menguatkan dirinya dan keluar dari ruangan gelap yang menyekapnya.
“Iya pah.” Disa melepaskan sejenak pelukannya dari Sigit. Diusapnya air mata Sigit dengan lembut.
“Papah harus tahu, walaupun disa pergi, disa gak pernah bermaksud meninggalkan papah.” Suara Disa terdengar terbata-bata bercampur tangis.
“Papah harus tau, selama ini, papah gak pernah sendirian. Ada mamah yang selalu duduk di kursi roda sambil memegangi tangan papah. Mamah selalu membacakan do’a untuk kesembuhan papah. Lalu, ada fira yang senang bernyanyi di dekat papah, katanya supaya papah happy dan cepat bangun. Lalu, ada aa,”
Disa menjeda kalimatnya, menoleh pada Kean di belakangnya lantas mengulurkan tangannya agar Kean mendekat.
Kean seperti paham dan ia pun menghampiri.
“Aa yang selalu menjaga amanat papah untuk menjaga perusahaan dan memastikan tidak ada karyawan yang keringatnya sia-sia bekerja di perusahaan.”
“Selain itu, ada bu kinar yang selalu menyiapkan makanan dan pakaian papah. Perawat yang selalu memastikan kondisi papah stabil dan semua orang di rumah ini yang selalu peduli sama papah dan berharap papah segera sembuh.”
“Jadi, papah gak pernah sendiri, apalagi di tinggalkan.” Disa meraih tangan Arini dan Kean serta Shafira untuk bertumpu di atas tangannya dan tangan Sigit. Saling menggenggam dan mengutarakan rasa sayang dan peduli yang selama ini hanya mereka simpan tanpa bisa mengungkapkannya.
“Terima kasih. Maaf karena membuat kalian mencemaskanku.” Ujar Sigit dengan suara tercekat.
Disa hanya tersenyum.
Di sampingnya, Kean memandanginya dengan tidak percaya. Ternyata apa yang Disa lakukan begitu membekas di hati Sigit. Ia memang sering kali melihat Disa berada di ruangan ini. Disa yang selalu menganggap Sigit adalah salah satu prioritasnya dan kadang membuat Kean kesal.
Disa yang selalu mendekat sementara ia yang hanya memperhatikan apa yang Disa lakukan dari celah pintu. Ia tidak memiliki keberanian sebesar keberanian Disa, tidak memiliki kasih sayang sebesar kasih sayang Disa.
Dan lagi, ia merasa sangat diberkati dengan hadirnya Disa dalam kehidupannya.
Dikecupnya pucuk kepala Disa dengan penuh sayang. Ya, ia sangat menyayangi wanitanya, teramat sangat menyayanginya hingga ia tidak tahu harus seperti apa mengungkapkannya.
Satu hal yang harus ia lakukan sekarang, memperlakukan Disa dengan sebaik mungkin. Membiasakan mengungkapkan bahasa cintanya agar Disa tahu kalau ia sangat menyayangi istrinya. Jangan ada lagi Kean yang harus membuat istrinya berpikir keras apa yang ia mau. Cukup kubur Kean yang dulu bersama masa lalunya yang kelam. Saat ini tidak hanya Sigit yang lebih baik tapi ia dan semua orang di rumah ini. Biarkan matahari menyinari rumah ini dan memberikan rasa hangatnya.
*****