
“Perkenalkan, saya kean.” Begitu kalimat pertama yang di ucapkan Kean saat menghampiri Mery yang berdiri mematung di hadapan Disa.
Satu sama lain tampak canggung setelah Mery hampir melihat sesuatu yang terjadi antara Kean dan Disa. Wanita paruh baya ini memandangi sosok laki-laki tampan yang berdiri di hadapannya. Ia menatap tangan yang terulur ke arahnya hendak berjabat tangan. Gayanya memang berbeda pasti bukan orang biasa, itu yang di simpulkan Mery saat pertama kali melihat Kean.
“Pacar kamu sa?” beralih Mery menatap Disa yang terpaku di hadapannya. Gadis itu tampak gugup dengan wajah sedikit memerah. Di liriknya Kean yang menatapnya hangat.
Perlahan Disa mengangguk, membuat Mery menghela nafas lega. Rasanya ia paham. Sebenarnya dari cara Kean memandang Disa atau sebaliknya pun, Mery sudah bisa melihat kedekatan di antara keduanya namun ia butuh pengakuan dari keponakannya.
“Mery.” timpal Mery, membalas uluran tangan Kean. Mereka berjabat tangan singkat.
“Ini putra saya, damar.” Menoleh Damar yang berdiri di belakangnya dengan wajah dingin.
“Ya, saya tahu.” Hanya itu sahutan Kean, karena sebenarnya mereka sudah pernah bertemu. Dan ia mengingat benar bagaimana pemuda gondrong itu memeluk Disa dengan erat. Akhh rasanya masih tidak rela kalau mengingat kejadian itu.
Damar hanya menyunggingkan senyumnya tipis, tidak berniat untuk bersikap ramah.
Pacar Disa, mengingat sepenggal kalimat itu saja sudah membuat hatinya mencelos dan patah. Di pandanginya Disa yang tampak malu, semakin membuat hati Damar sakit. Cara Disa menatap Kean, seolah menunjukkan begitu besarnya perasaan Disa untuk laki-laki di sampingnya. Sesuatu yang tidak pernah Damar lihat sebelumnya.
“Jadi, anda tantenya disa?” Kean menyimpulkan.
“Iya.” Mery mulai bersikap ramah.
Terlihat wanita itu tersenyum membuat Disa bisa menghela nafas lega. Setelah beberapa waktu lalu saling berkirim pesan, Disa memang belum berbicara apa-apa lagi dengan Mery, wajar kalau tantenya cukup terkejut. Ia bahkan menggantung rasa penasaran Mery dengan tidak menjawab pertanyaannya karena ingin menyampaikan hal itu pada Mery secara langsung. Siapa sangka saat-saat seperti ini datang juga.
“Bisa antar tante ke toilet?” tanya Mery memberi kode.
Saat ini mereka sudah berada di kamar hotel Disa agar bisa berbicara dengan santai serta untuk menghindari banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.
“Iya tante, sebelah sini.” Tunjuk Disa, berjalan di depan Mery.
“Saya tinggal sebentar, kalian mengobrol lah dengan santai.” Mery menepuk bahu putranya, meminta menemani Kean.
“Silakan tante.” Ternyata seorang Kean selalu bersikap hormat pada orang yang lebih tua darinya.
Ditinggalkan Disa dan Mery, Kean dan Damar sama-sama terduduk di sofa. Damar tidak henti memandangi Kean sementara Kean dengan sikap tenang dan wajah tanpa ekspresi. Sudah bisa ia tebak bagaimana sakitnya patah hati yang di alami pemuda gondrong ini.
“Lo beneran pacaran sama disa?” pertanyaan ini yang sedari tadi ingin Damar tanyakan.
Kean hanya tersenyum, terlihat benar kekesalan yang terpancar dari mata Damar. Tapi bagi Kean ini suatu kemenangan. Melihat saingannya menyaksikan langsung kedekatannya dengan Disa.
“Lo serius sama disa?” pertanyaan berikutnya dengan nada suara tidak terima.
Kean mengendikan bahunya dengan senyum tertahan di bibirnya. Seru juga mempermainkan pemuda yang selalu membuatnya kesal saat kedua matanya menatap Disa. Terlalu penuh perasaan.
Damar mendenguskan nafasnya kasar seraya tersenyum sumbang, percaya diri sekali laki-laki di hadapannya.
“Jangan mainin disa, dia,”
“Saya akan menikahinya.” Dengan bangga kalimat itu diucapkan Kean untuk mematahkan ujaran Damar. Satu hal yang tidak akan pernah bisa Damar lakukan karena Disa selalu menganggap laki-laki ini adalah kakak sambungnya.
“Bukankah sebagai seorang kakak, harusnya kamu merasa bahagia melihat adik sepupumu bahagia?” Kean tersenyum tipis di ujung kalimatnya seperti tengah menertawakan kekesalan Damar.
Damar tampak mengepalkan tangannya dengan nafas yang terdengar mulai kasar.
“Kamu tentu mendengar kabar yang sedang hangat-hangatnya di media dan harus kamu tau, itu bukan hanya kabar tapi kenyataan. Kami akan segera menikah. Mungkin, beberapa hari lagi saya dan orang tua saya akan ke bandung untuk menemui keluarga Disa.” Kalimat Kean terdengar penuh penekanan. Penuh penegasan yang mengisyaratkan agar Damar mengetahui batasannya dengan Disa.
“Dan saya harap, kamu berhenti memikirkan disa apalagi mengkhayalkannya. Itu tidak baik untuk Kesehatan mental dan hatimu.” Tandas Kean dengan senyuman sarkas.
Ia tengah menunjukkan sikapnya yang tidak menyukai pikiran dan perasaan Damar terhadap Disa.
Damar tidak menimpali, lidahnya terlalu kelu untuk membalas kalimat Damar yang membuat hatinya tertohok. Benarkah ia tidak akan bisa lagi berada di dekat Disa? Kenapa hatinya jadi sangat sakit? Perih seperti ada ribuan anak panah yang menghujam jantungnya.
Ternyata membiarkan orang yang kita sayangi bahagia dengan pilihannya, tidak semudah itu. Ada rasa sakit yang harus di lewati sendiri dan perlu waktu untuk menunggunya sembuh.
Alasan pergi ke toilet memang hanya sebuah alasan yang di buat Mery karena sebenarnya ada banyak hal yang ingin Mery tahu dari Disa tentang hubungannya dengan laki-laki tadi.
“Di sini tante.” Disa membukakan pintu kamar mandi dan Mery malah menarik tangannya untuk masuk.
“Kamu serius dengan laki-laki itu?” pertanyaan itu yang langsung di utarakan Mery saat sudah merasa aman untuk berbicara.
Disa tersenyum seraya mengangguk.
“Apa laki-laki itu juga yang bikin kamu nanya tentang pertimbangan untuk menikah.” Pertanyaan Mery terdengar semakin tajam dan menuntut untuk di jawab.
“Iya tante.” Sahut Disa tegas.
“Astaga,.. Kamu tau kan itu siapa?” Mery masih tidak percaya dengan jawaban Disa.
“I-iya tante. Dia majikan disa tan,” jadi bingung dengan pertanyaan Mery dan ekspresinya yang terlihat menyesalkan.
“Tapi dia calon suami orang sa. Apa gosipnya emang bener kalo kamu ngerebut pacar model itu? Bukannya tadi kalian tampil sama-sama? Kamu mau jadi pelakor sa?” Mery memegangi bahu Disa dengan kuat. Matanya menyalak, tidak terima dengan apa yang dilakukan keponakannya.
“Pelakor?!” Disa menggaris bawahi pertanyaan Mery.
Beberapa saat pikirannya seperti berputar hingga menyimpulkan kalau mungkin tantenya adalah korban gossip yang beredar. Terlihat jelas mata Mery yang menatapnya penuh tanya.
“Disa gak pernah jadi pelakor tan.” Berusaha menegaskan.
“Kalo yang tante pikir tuan muda adalah tunangannya clara, itu udah nggak lagi tan. Mereka malah gak pernah bertunangan sama sekali.”
“Tapi rani bilang, putra keluarga hardjoyo itu sahabat sekaligus pacar model kamu. Kamu gimana sih?” masih kesal. Ternyata Mery bukan termakan gossip di tv tapi dari Rani, yang sama-sama pernah bekerja di keluarga Hardjoyo.
“Bukan gitu tan,” Disa menarik tubuh Mery dan mendudukannya di dudukan toilet. Mery harus di tenangkan sebelum mendengar penjelasannya.
“Tan, clara memang pacar dari salah satu keluarga hardjoyo. Tapi itu tuan marcel, adik dari tuan besar. Dan tuan muda, memang berteman akrab dengan clara. Sejak mereka kecil mereka sudah berteman. Tapi, mereka gak ada hubungan lebih dari sekedar pertemanan.” Terang Disa dengan meyakinkan.
“Kamu yakin sa? Tante gak mau kamu jadi bermasalah gara-gara seorang laki-laki.”
“Kamu baru beranjak dan menapak di dunia yang baru, dunia yang memberi kamu kesempatan untuk melakukan hal yang lebih besar lagi.
“Tante mohon, jangan lakukan hal yang bisa merusak nama baik kamu. Hem?”
Raut wajah Mery berubah cemas. Rasanya Disa tahu alasan mengapa Mery begitu tidak percaya dengannya. Semuanya adalah bentuk perhatian dan kecemasan sebagai orang tua.
Menggenggam tangan Mery dengan erat, seraya menatap mata sendu di hadapannya.
“Iya tan, disa janji disa gak akan ngelakuin hal semacam itu. Disa juga seorang perempuan, disa gak mau menyakiti hati perempuan lain dengan alasan cinta. Disa gak mau tan.” Tegas Disa.
“Kamu sudah berjalan sejauh ini, bertahan selama ini. Gunakan kesempatan kamu dengan baik, karena tante tidak bisa melakukan apapun untuk kamu selain mendo’akan yang terbaik.” Bisiknya dengan bercampur isakan.
Disa hanya terangguk. Di pelukanya Mery dengan lebih erat lagi. Ia merasa sangat beruntung, untuk alasan apapun Mery selalu ada untuknya meski sudah menjadi orang lain.
****
Setelah kepulangan Mery dan Damar, Disa mulai merapikan barang-barangnya. Sisa-sisa kain yang terserak di lantai, bekas benang dan manik-manik yang berjatuhan menjadi peer besar untuk Disa selesaikan sebelum meninggalkan kamar hotelnya.
Di dekatnya, Kean terduduk di atas sofa seraya memandangi tropi juara milik Disa yang ada di tangannya. Ia ikut merasakan kebanggan yang begitu besar saat mengingat moment-moment yang ia lewati tadi. Dan saat ini gadisnya seperti tidak lelah untuk melakukan pekerjaan berikutnya.
Ada satu hal yang mengganggu pikirannya saat ini yaitu rencana kepulangan Disa ke rumah Mery.
“Sa,“ panggilnya ragu. Di taruhnya tropi itu di atas meja.
“Ya saya, Ada yang tuan perlukan?” berbalik dan memandangi Kean yang menatapnya lekat.
Kean menepuk tempat di sampingnya untuk meminta Disa duduk.
“Apa tuan mau makan?” menghampiri Kean dan duduk di sampingnya. Mungkin tuan mudanya lapar atau bosan karena di hotel tidak ada PS.
“Nggak, aku gak butuh apa-apa. Hanya perlu bicara sebentar.”
“Saya mendengarkan.” Disa memfokuskan dirinya menyimak pembicaraan Kean.
Kean jadi tersenyum gemas melihat sepasang mata yang menatapnya hangat. Lantas ia menangkup sebelah sisi wajah Disa dan mengusapnya dengan lembut. Wanita ini selalu menyejukan pandangan matanya. Memberi kedamaian dari setiap keberadaannya.
“Bisakah, kalau aku minta kamu jangan pulang ke rumah tantemu?” terdengar yakin dan penuh kecemasan.
“Kenapa tuan? Tante mery satu-satunya keluarga yang saya punya di Jakarta. Lagi pula, tante sudah mewanti-wanti agar saya tinggal di rumahnya dulu. sebelum,” ragu Disa meneruskan kalimatnya.
“Sebelum apa?” Kean yang penasaran.
“Menikah.” Sambungnya pelan dengan wajah merona. Masih terlalu sungkan menyebut kata tersebut.
Kean hanya tersenyum, mendengar kata sakral itu selalu membuatnya gemetar sekaligus senang.
“Kamu bisa tinggal di rumahku dulu. Pintu rumah selalu terbuka untuk kamu.”
Disa menggeleng. “Tidak tuan.”
“Status kita saat ini hanya berpacaran, belum resmi menikah. Saat ini, saya harus menjaga kehormatan saya juga kehormatan tuan.”
“Tapi dulu pun kita tinggal serumah setelah kita sama-sama sadar punya perasaan. Apa bedanya?” kadang terlalu sulit bagi Kean untuk memahami hal yang bisa di anggap simple.
“Tentu berbeda. Dulu saya bekerja untuk tuan. Tapi sekarang, tidak ada alasan untuk saya tinggal di rumah tuan.”
“Gimana kalau kamu tinggal di apartemen? Atau menempati salah satu rumah di town house, itu lebih aman.”
“Lebih aman dari?” Disa mengernyitkan dahinya, tidak memahami apa yang sebenarnya di takutkan Kean. Bukankah berada di dekat keluarga sendiri itu jauh lebih aman?
Town house yang di tempati Kean saat ini memang salah satu properti Arini. Ia bebas memilih rumah mana yang mau ia tempati atau untuk di tempati oleh Disa. Tapi bagi Disa, ini terlalu berlebihan. Ia tidak bisa menerima fasilitas yang belum sepatutnya ia dapatkan.
“Dari, laki-laki itu.” lirih Kean.
“Laki-laki? Maksud tuan?” berusaha mencerna maksud Kean.
“Hah aku males nyebutnya. Si gondrong itu.” lebih suka menyebut salah satu ciri-cirinya.
“Damar? Memangnya kenapa dengan damar?” Disa masih tidak mengerti apa yang sebenarnya Kean takutkan dari Damar. Toh sahabatnya baik-baik saja dan bisa menjaga sikap.
“Jangan bohong sa, kamu sadar kan kalau laki-laki itu suka sama kamu?” gengsi sebenarnya mengatakan ini, tapi Disa harus di beri paham.
Disa tersenyum tipis, mendekatkan wajahnya ke wajah Kean untuk melihat lebih jelas ekspresi kekasihnya kalau sedang cemburu.
“Apa tuan sedang cemburu?” goda Disa yang menatap laman Kean.
“Em, enggak juga.” Suaranya terdengar tergagap. Mengusap bibirnya dengan lidah seakan tiba-tiba bibirnya terasa kering dan kelu.
Disa terus mengikuti arah pandang Kean yang mencoba berpaling agar tidak semakin salah tingkah.
“Aku gak cemburu.” Menyembunyikan rasa gugupnya, Kean malah memainkan kunci mobil di hadapannya. Disa yang menyadari tuan mudanya salah tingkah berusaha menyembunyikan rasa gemasnya pada ekspresi Kean.
“Ya udah kalo gak cemburu, kenapa juga ngelarang saya tinggal di sana.” Pancing Disa seraya menyandarkan tubuhnya pada pinggiran sofa dan menyilangkan tangannya di depan dada.
Terdengar hembusan nafas Kean yang terdengar berat. Begitulah tuan gengsi yang tersiksa dengan perasaannya sendiri namun tidak bisa menyampaikannya dengan lugas.
“Kalau nanti kita menikah, kamu gak akan minta tinggal di sana kan?” tanyanya tiba-tiba.
“Tergantung.” Disa mengendikkan bahunya, berusaha terlihat acuh untuk menggoda Kean.
“Tergantung apa?” Kean mulai berani menoleh. Jawaban Disa terdengar lebih mengancam menurutnya.
“Tergantung suami saya mengizinkan atau tidak.” Sahutnya ringan seraya menoleh Kean.
Kean tampak terkejut saat curi-curi pandangnya bertemu dengan tatapan lekat Disa. Ia memalingkan wajahnya seraya menahan senyum. Suami, kenapa jadi berdebar mendengar kata itu.
"Kamu akan tinggal dimana pun saat saya meminta?" perlu meyakinkan lagi.
"Hem, karena suami adalah pemimpin saya dan kewajiban saya untuk menurut."
Lagi kalimat Disa membuat Kean tersenyum senang. "Termasuk melakukan apapun yang saya minta?"
"Misalnya?" Disa balik bertanya namun Kean malah senyum-senyum tidak jelas.
"Kamu akan tau nanti." sahutnya dengan wajah memerah.
Disa hanya menggeleng, apa yang ada di benak Kean tidak bisa ia tebak.
Acara beres-beres sepertinya harus di tunda, karena keduanya masih betah duduk berdampingan sambil saling memperhatikan satu sama lain. Melempar lelucon yang sudah lama tidak membuat mereka tertawa.
Satu hal yang mereka harapkan saat ini, “Detik, bisakah waktu berhenti sebentar? Aku tidak ingin beranjak dari keadaan ini.”
*****