
“Paradisaaa…. Akhirnya kaamu dateng juga…” suara cempreng itu adalah milik Nita yang merentangkan tangannya menyambut kedatangan Disa.
“Iya bu, apa kabar?” salim pada Nita dan Nita memeluk Disa dengan erat.
“Alhamdulillah baik. Kamu apa kabar?” menarik tubuhnya agar bisa memandangi Disa di hadapannya.
“Alhamdulillah baik.” timpalnya dengan segaris senyum.
Wanita paruh baya ini selalu terlihat cantik setiap kali mereka bertemu.
Tanpa sadar, matanya melirik ke kiri dan kanan seperti mencari seseorang tapi tidak ada orang lain di gallery ini selain Nita.
“Reza lagi ke kampus sebentar, katanya mau bertemu dekan. Tapi nanti makan siang di sini kok.” Terang Nita tiba-tiba. Sepertinya ia mengerti arti gerakan kedua bola mata bulat milik Disa.
Disa tersipu saat mendengar kalimatnya dengan wajah yang merona.
“Oh iya bu.” Hanya itu sahutan Disa. Mendengar nama Reza selalu saja membuat jantungnya berdebar kencang.
“Ya udah, kamu mau minum apa? Yang dingin atau hangat? Jus mungkin, mau?”
“Em tidak usah bu.” Tolak Disa dengan halus.
“Ya udah, kamu tunggu sebentar nanti kita ke suatu tempat. Ada yang mau ibu tunjukkan”
“Baik bu.”
Disa duduk di salah satu sudut sofa saat Nita pergi sebentar untuk membuatkannya minum.
Mata Disa masih berkeliling melihat seisi galeri yang banyak perubahan. Ia melihat lukisannya di ruang depan, persis setelah ia membuka pintu maka, lukisannya yang akan pertama terlihat.
Ruangan tempatnya berada saat ini terasa lebih homy dengan adanya sofa bed dan televisi berlayar lebar. Mungkin ini ruang keluarga atau ruang santai galeri ini. Lantai 2 yang biasanya gelap kali ini terlihat ada lampu menyala, mungkin sekarang ruangan itu pun di gunakan.
“Minumlah, kamu pasti kangen sama minuman ini kan?” Nita datang dengan segelas minuman.
Minuman segar campuran antara minuman probiotik dengan sirup leci di tambah biji selasih dan es batu. Khas minuman buatan Nita.
“Terima kasih bu.” Meraih gelas yang disodorkan Nita.
“Ya udah, ayo kita ke ruangan lain, ada yang mau ibu tunjukkan.”
“Baik.”
Disa ikut beranjak dari tempatnya. Mereka menuju ruangan di belakang ruang ini. Disa yakin sebelumnya tidak ada ruangan ini di dalam gallery. Catnya masih putih bersih, seperti baru di rapihkan.
Saat membuka pintu, terlihat ruangan dengan dominan kaca di sekelilingnya. Mata Disa membelalak saat melihat kanvas lukisnya yang masih berada di easel dan belum selesai ia lukis. Ia menghampirinya lalu mengusap lembut kain putih yang sangat ia rindukan.
Dari ruangan ini ia bisa melihat taman samping tempat biasanya ia dan Nita berbincang santai tentang seni. Di samping easel, ada sebuah meja kecil tempat terdapatnya palete lukis dan beberapa kuas. Dan tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada sebuah piano yang tampak mengkilap terkena cahaya matahari. Mungkin itu piano milik Reza, tidak lebih besar dari piano yang di ruang tamu, tapi cukup antik.
“Duduklah.” Nita mendudukan Disa di kursi yang ia siapkan menghadap pada kanvas. “Di laci ini ada beragam cat air dan minyak juga alat Lukis lainnya termasuk alat gambar desain. Ini untuk kamu dan ibu harap, kamu sering main ke sini untuk membuat beberapa lukisan seperti biasanya.” Lanjutnya seraya memegangi pundak Disa dan mengusapnya lembut.
Disa membuka satu laci dan terlihat deretan cat air dengan beragam warna ada di sana. Rasanya seperti hidupnya telah kembali saat ia bisa mencium bau cat air dan cat minyak yang menyapa saraf pembaunya.
“Terima kasih banyak bu.” Ungkap Disa dengan penuh rasa haru.
Nita tersenyum tipis, ia duduk di samping Disa lalu memandangi tangan kanannya.
“Kalau saja tangan ini masih bisa berfungsi dengan baik, mungkin kita akan duduk bersisihan di sini dan sama-sama melukis apa yang ingin kita ungkapkan.” Raut wajah Nita berubah sendu.
Disa ikut memandangi tangan Kanan Nita yang masih terdapat bekas luka di pergelangan tangannya. Tentu bukan tanpa alasan raut wajah Nita berubah sendu. Hal terburuk dalam hidupnya telah mengubah banyak hal, termasuk kesenangannya.
Ingatan Disa membawa ia pada saat SMA dulu. Pertama kali ia masuk ke galeri ini adalah untuk mengerjakan tugas seni budaya dari gurunya. Menurut Guru Disa, ini adalah gallery seni milik sahabatnya yang mengalami kecelakaan beberapa tahun ke belakang.
Sebuah perampokan terjadi di gallery ini saat sekelompok orang ingin mencuri sebuah lukisan mahal karya salah satu maestro terkenal. Nita berada di tempat ini dan melihat langsung kejadian itu. Sebisa mungkin ia mempertahankan lukisan itu agar tidak diambil oleh para pencuri.
Naas, salah satu pencuri melayangkan sebuah pisau tajam hingga melukai tangan Nita. Beberapa saraf di tangannya putus, hingga tangannya tidak bisa lagi leluasa saat ia ingin melukis apa yang ia inginkan.
Nita sempat putus asa dan terpuruk. Separuh kebahagiaannya lenyap setelah tragedi itu. Namun berganti tahun, ia mulai bisa menerima kenyataan. Ia memutuskan untuk membuka gallery ini sebagai tempat untuk anak-anak belajar melukis. Disa adalah salah satunya.
Melihat banyaknya anak muda yang belajar melukis, impiannya seolah terwakili. Ia tidak lagi bersedih dan merasa kesepian. Walau ia tidak bisa lagi melukis, paling tidak ia masih bisa melihat warna warni cat yang membuat hidupnya kembali berwarna.
“Kamu suka?” suara Nita terdengar sedikit bergetar.
Disa terangguk yakin.
“Lakukan apa yang kamu cintai dan cintai apa yang kamu lakukan paradisa.” Pesan Nita dengan segaris senyum.
"Iya bu." sahutnya.
Disa menghela nafas dalam, ia tidak menyangka akan mendapat perhatian sebesar ini dari Nita. Seperti halnya Nita, bagi Disa pun melukis membuat hidupnya semakin berwarna.
*****
“Halo, iya mah?” suara Reza terdengar tegas saat menjawab telpon dari Nita. “Iya, reza udah di jalan pulang. Bentar lagi nyampe.” Imbuhnya. Tangannya masih sibuk mengatur laju mobilnya.
Saat ini ia tengah melajukan mobilnya membelah jalanan ramai ibu kota menuju galery. Dari tempatnya saat ini, ia melihat dua orang wanita seperti tengah bertengkar di tepian jalan. Rasanya ia mengenal salah satunya.
“Mah, udah dulu yaa.. Bentar lagi reza nyampe kok. Bye..” tandasnya.
Reza menepikan mobilnya dan turun dengan tergesa. Ia memperhatikan dua Wanita yang tengah berdebat serius tersebut dan ia yakin kalau ia mengenalnya.
“Kamu gag usah jadikan anak kamu sebagai alasan buat ngehubungin suami saya lagi. Hubungan kalian sudah selesai!” teriak salah satu Wanita tepat di wajah wanita satunya yang tak lain adalah Ellen.
“Tapi mba, ghea masih punya hak atas perhatian ayahnya. Dia masih putri mas Darwin. Dia,”
“DIAM!!!” “PLAK!!!”
Suara bentakan bersahutan dengan sebuah tamparan keras yang mendarat di pipi Ellen. Ellen terhuyung, seraya memegangi pipi kirinya yang memerah.
“Bu ellen,” Reza segera mendekat dan membuat kedua Wanita yang tengah terengah karena terbakar emosi itu beralih menatapnya.
“Oh, jadi kamu sudah punya laki-laki lain dan masih gatal dengan suami saya?” seru Wanita tersebut dengan tatapan sinis pada Reza dan Ellen.
Ellen hanya terdiam, ia bahkan tidak mengeluarkan satu kata pun selain hembusan nafas kasar dan tatapan tajamnya pada Wanita di hadapannya.
“Bukan, saya hanya,”
“Urus perempuan bodoh ini!” mendorong Ellen hingga hampir menubruk Reza dan dengan segera Reza menahannya. “Ingat, jangan berani-berani lagi menghubungi suami saya dengan alasan putri kamu. Paham?!” mentoyor kepala Ellen yang hanya terpaku di tempatnya.
Wanita itu menatap Ellen dan Reza dengan tajam. Sepertinya kemarahannya belum sepenuhnya hilang, namun tetap ia pergi dengan langkah panjangnya masuk ke dalam sebuah mobil mewah lalu menginjak pedal gas dan rem bergantian, hingga suara decitan ban terdengar nyaring.
Dalam beberapa saat mobil itu pun pergi dan berbaur dengan kendaraan lain di jalanan.
“Bu ellen baik-baik saja?” tanya Reza sekali lalu menatap wajah Ellen yang masih tertunduk.
Ellen mengangkat wajahnya dan terlihat matanya yang merah dan basah. Di tambah pipi kirinya yang merah dengan sudut bibir yang terluka.
“Saya baik-baik saja. Terima kasih.” Ungkapnya seraya mengulum bibirnya yang pasti berdenyut ngilu.
Nafas Reza berhembus pelan dan hatinya ikut mencelos. Bagaimana bisa Wanita tadi menyakiti sesamanya di tempat umum dan terbuka seperti ini?
Ia melirik jemari Ellen yang masih tersemat cincin di jari manisnya. Ia juga mengingat ucapan Wanita tadi yang menampar serta memakinya. Namun ia tidak berani menyimpulkan, ia hanya harus memastikan kalau kondisi Wanita di hadapannya baik-baik saja.
“Bu ellen mau kemana, saya antar.” Tawar Reza dengan penuh perhatian.
“Terima kasih, saya bisa pulang sendiri.” Tangannya yang gemetaran mencari kunci mobilnya dari dalam tas.
Sepertinya ia belum menemukan kunci mobilnya walau sudah mengacak isi tasnya. Reza memperhatikan Ellen yang semakin lama wajahnya terlihat semakin kesal.
“Shit!” dengusnya saat kunci mobil yang ia temukan malah terjatuh.
Ia segera berjongkok mengambilnya namun, ia tidak kembali berdiri. Ia malah terisak dengan tangisnya yang terdengar pedih.
Reza yang berdiri di tempatnya, memilih untuk berbalik. Ia menghalangi tubuh Ellen yang tengah berjongkok sambil menangis. Ia ingin menghalangi Ellen dari tatapan orang-orang yang melintas di hadapan mereka.
Cukup lama Ellen menangis, seperti ada bongkahan besar di dadanya yang membuatnya hingga tersedu sedan. Bertanya sepertinya bukan hal yang bijak saat ini. Reza hanya bisa membiarkannya, hingga perasaan Ellen lebih baik setelah ia menangis.
Mengusap air matanya dan menyibak helaian rambut yang menutupi wajahnya. Lantas ia berdiri, berdehem mengatur tone suaranya yang ia yakini masih serak.
“Terima kasih pak reza.” Ucapnya, saat ia sudah merasa lebih baik.
Reza berbalik, menatap sejenak wajah Ellen yang kemudian tertunduk. Wajahnya sungguh tanpa ekspresi, ia tidak ingin Ellen merasa terhakimi dengan ekspresi wajahnya.
“Bu ellen mau pulang kemana? Saya antar.” Lagi ia menawarkan diri untuk mengantar Ellen.
“Saya akan pulang sendiri. Perasaan saya sudah lebih baik, maaf sudah merepotkan.” Sahut Ellen yang mengulum senyum seraya mengusap sisa air matanya.
Reza memandanginya sejenak, walau ia tidak tahu masalah apa yang dihadapi Ellen, namun ia merasa kalau Ellen sedang berusaha terlihat baik-baik saja.
“Hati-hati di jalan.” Timpal Reza kemudian dengan segaris senyum tipis yang ia tunjukkan.
Ellen hanya terangguk, lantas ia berlalu menuju mobilnya yang terparkir di depan mobil Reza.
Mesin mobil menyala, tanpa ba bi bu Ellen segera menginjak pedal gasnya dan mobil itu pun melaju di jalanan.
Reza terpaku untuk beberapa saat. Ia masih menimbang antara membiarkan Ellen pergi begitu saja, atau mengikutinya. Satu keputusan Reza ambil, ia memilih mengikutinya dengan jarak yang lumayan dekat. Perasaannya tidak tenang kalau belum melihat wanita itu sampai di rumahnya dengan selamat.
Berpacu dalam kecepatan tinggi, mobil yang di kendalikan Ellen seolah memberikan gambaran perasaan pengemudinya. Bergerak cepat dan sembarangan membuat Reza ngeri sendiri membayangkan cara Ellen yang mengendalikan mobilnya.
Beberapa kali kendaraan lain meneriaki Ellen dengan klakson namun sepertinya Ellen tidak peduli.
Hingga di depan sana, mobil SUV itu masuk ke sebuah perumahan. Di salah satu blok Ellen menghentikan laju kendaraannya. Reza masih mengekori dan memperhatikan dari kejauhan.
Tampak Ellen turun dari mobilnya dan tak lama seorang gadis kecil berlari menghampirinya. Entah apa yang mereka perbincangkan, Reza hanya melihat Ellen dan gadis itu saling berpelukan dan memberikan ciuman sebagai ungkapan kasihnya.
Reza mengetuk-ngetukkan jarinya di atas stir untuk beberapa saat. Tak lama Ellen dan gadis kecil itu masuk ke dalam rumah dan pintu rumah pun tertutup rapat. Sepertinya tugasnya sudah selesai untuk memastikan Ellen sampai dengan selamat.
*****