Marry The Heir

Marry The Heir
Kosong



Damar masih tercengang saat melihat seseorang berdiri di pintu rumahnya. Wajah yang sembab, senyum yang kelu serta binar mata yang sayu, menjadi pemandangan pertama yang dilihatnya. Di tangannya ia membawa tas ransel yang selalu ia gunakan saat harus bepergian jauh.


Kepulangan Disa memang sudah bisa ia perkirankan tapi tidak di sangka secepat ini.


Di rumah sakit, saat ia akan kembali ke ruang perawatan Meri, tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan Disa dan Kean. Disa menangis setelah berdebat alot dengan tuan mudanya. Saat itu Damar sadar, ada sesuatu yang terjadi di antara Disa dan majikannya yang membuat Disa merasa terhimpit.


Satu hal yang jelas ada dipikiran Disa adalah bahwa kemalangan ia dan ibunya adalah akibat dari hubungan terlarangnya dengan Kean.


Hati Damar ikut mencelos saat membayangkan seperti apa perasaan Disa saat ini.


“Apa gue boleh masuk?” tanyanya dengan ragu. Damar hanya mematung masih sangat terkejut dengan kedatangan Disa.


“Hem, masuklah.” Ia membukakan pintu lebih lebar, mempersilakan Disa masuk.


“Tante udah tidur?” Disa berusaha terlihat biasa saja. Walau sebenarnya Damar tahu apa yang terjadi pada sahabatnya.


“Udah, tadi habis minum obat. Lo udah makan?” pertanyaan penting itu yang kemudian ia ucapkan.


Disa menggeleng. “Nanti aja, belum lapar.” Ia memilih menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ikut menonton film kartu yang Damar putar di DVD.


Masih sama, Damar menyukai serial detective conan yang membuat ia terbiasa memecahkan teka teki termasuk menebak air muka Disa.


Dari dapur, Damar memandangi Disa yang tampak melamun. Ia membuatkan segelas teh hangat di gelas yang besar milik Disa.


“Nih!” disodorkannya segelas teh hangat itu pada Disa.


“Weit, tumben! Lo udah bisa bikin teh manis sendiri? Bikinin buat gue lagi.” Dengan senang hati Disa menerima gelasnya.


Damar tidak berkomentar, ia duduk di samping Disa dan melanjutkan menonton serial kartun favoritnya.


Disa menyeruput teh nya perlahan, sedikit demi sedikit merasakan rasa hangat yang masuk ke lambungnya. Sangat nyaman, membuat hidungnya yang semula tersumbat karena menangis, mulai terasa lega.


“Sabar, itu masih panas begok!” sengit Damar yang di balas kerlingan mata tajam oleh Disa.


Damar tersenyum tipis, paling tidak saat ini ia tidak lagi melihat Disa menangis.


“Kalo gue bilang gue berhenti kerja karena pengen jagain tante, kira-kira tante percaya gak ya?” tiba-tiba saja Disa bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.


Damar menoleh, memperhatikan wajah Disa yang terlihat galau. “Percaya kalo mata lo udah gak sembab kayak sekarang.” Timpalnya.


“Besok juga ilang.” Disa kembali menyeruput teh hangatnya perlahan.


“Kamar gue masih sama kan?” Di ambilnya tas ransel yang ia taruh di bawah lantas beranjak dari tempatnya.


“Hem. Sepreinya juga belum gue ganti dari sejak lo pergi. Baunya masih sama, bau asem keringet lo.” Ledeknya dengan ekspresi datar.


“Ish!” Disa melemparkan bantal sofa pada Damar dan dengan cekatan Damar menangkapnya.


“Tunggu, dari mana lo tau sepreinya bau asem keringat gue?” Disa baru tersadar akan ucapan Damar.


Damar yang sadar telah salah bicara, tidak lantas menjawab. Ia mengambil remote TV dan DVD kemudian mematikan keduanya. Beranjak dari tempatnya mendahului Disa menuju kamar yang letaknya bersebrangan dengan kamar Disa.


“Suara ngorok lo aja gue hafal, apalagi bau asem keringet lo!” ledeknya dengan kekehan di ujung kalimatnya.


“Damong! Lo ya!” Disa segera mengejar namun dengan cepat Damar menutup pintu kamarnya.


Disa masih memandangi pintu kamar Damar yang tertutup. Tulisan don’t disturb hasil karyanya masih menggantung di depan pintunya. Sejak dulu Damar memang tidak suka siapapun masuk ke dalam kamarnya. Tidak Meri sekalipun.


Di balik pintunya Damar masih bersandar. Ia membayangkan bagaimana perasaan campur aduk yang dirasakan Disa. Untuk pertama kalinya sahabatnya patah hati dan bukan patah hati yang bisa dengan mudah ia lewati. Pasti hatinya masih berkedut ngilu saat ini.


“Lo jangan tidur malem-malem.” Seru Damar dari dalam kamarnya. Ia mencemaskan Disa saat ini lebih dari apapun.


“Iyak bawel!” ternyata Disa belum masuk ke kamarnya. Tapi tidak lama, terdengar suara pintu berderet lalu tertutup.


Damar bisa menghela nafas lega, jika malam ini ia akan mendengar suara tangisan Disa, ia akan memilih untuk mengabaikannya. Memang itu yang dibutuhkan sahabatnya saat ini. Menangis agar bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya.


Di dalam kamarnya, Disa mendudukan tubuhnya di tepian Kasur. Mengusap permukaan sprei dengan pelan. Benar kata Damar, spreinya belum di ganti dari sejak ia pergi dan baunya masih sama. Ia jadi senyum sendiri, Meri dan Damar seperti membiarkan semuanya pada tempatnya agar Disa terasa selalu ada.


Saat memutuskan untuk keluar dari rumah keluarga Hardjoyo, tidak terlintas di benaknya kemana ia harus pulang selain ke rumah ini. Ia berharap, Meri masih memperbolehkannya tinggal di rumah ini. Paling tidak, Disa bisa menjaga dan memperhatikan Kesehatan Meri.


Memandangi tas ransel yang berada di dekat pintu, membuat ia mengingat kembali saat-saat ia pamit pada Arini dan Kean.


“Saya permisi nyonya. Terima kasih atas semuanya.” Itu kalimat terakhir yang Disa ucapkan sebelum pergi.


“Hem, pergilah. Mulai sekarang, kamu bukan pelayan rumah ini lagi jadi, berhenti memanggil saya nyonya.” Arini mencolek hidung Disa dan tersenyum dengan hangat. Apa secepat itu Arini ingin menyudahi hubungannya dengan dirinya?


Disa hanya tersenyum samar.


“Jaga diri kamu baik-baik. Semangat untuk lombanya. Dan saya harap, di masa depan kamu menjadi orang yang sukses ya.” Ia mengusap lengan Disa dengan lembut untuk menyemangatinya.


Mengingat lomba, hanya dua hari lagi waktu yang tersisa. Ia belum mempersiapkan apapun karena terlalu banyak terdestraksi oleh masalah hati.


“Huft.” Disa menghembuskan nafasnya kasar. Merebahkan tubuhnya di atas Kasur seraya memandangi langit-langit kamarnya yang berwarna coklat kayu. Nyala lampu berwarna kekuningan masih terlihat terang walau di sekitarnya ada sarang laba-laba karena lama tidak dibersihkan.


Memandangi langit-langit kamarnya membuat Disa mengingat akhir dari perjumpaannya bersama Kean. Beberapa saat lalu, Kean mengantarnya pulang. Hanya sampai jalan utama karena mobilnya tidak cukup bisa melewati gang yang cukup sempit.


Sepanjang perjalanan mereka saling terdiam, hingga waktu terasa merambat pelan membuat perasaan keduanya semakin tidak karuan.


“Di sini saja tuan.” Disa menunjuk sebuah bangunan tokk yang sudah tutup di samping gang menuju rumah Meri.


“Apa masih jauh dari sini?” Kean memarkirkan mobilnya sejenak dan mematikan mesin.


“Tuan tidak perlu turun, saya bisa pulang sendiri dengan selamat.” Disa mempertegas penolakannya dengan sehalus mungkin.


“Apa sekarang saya pun tidak boleh tau apapun tentang kamu? Dimana kamu tinggal, dengan siapa dan hal lainnya?” pria itu terlihat kesal. Disa benar-benar menjaga jarak darinya.


“Tidak seperti itu tuan. Hanya saja,” Disa berfikir untuk mencari alasan. Tapi melihat wajah Kean yang kesal dan menatapnya tajam, ia malah buntu.


“Ya saya tahu, sekarang kita sudah jadi orang asing.” Kean mendenguskan nafasnya kesal. Memalingkan wajahnya dari Disa dan membuat gadis itu merasa bersalah.


“Tidak begitu tuan, kita buka orang asing. Hanya saja, harus lebih berjarak agar saya lebih mudah terbiasa.” Disa ikut tertunduk, merutuki ucapannya sendiri yang keceplosan. Harusnya kalimat itu ia simpan dalam hati.


Kean tersenyum samar. Menjadi terbiasa itu sulit dan membutuhkan waktu yang lama.


“Apa saya masih boleh bertanya kabarmu?” tanyanya akhirnya. Sedikit melirik Disa yang tampak termenung namun kemudian mengangguk pelan.


“Apa saya masih boleh mengirimkan pesan?”


Lagi Disa mengangguk. Mungkin ia harus membiarkan Kean melakukan apa yang ia inginkan karena lambat laun, setiap orang akan bertemu dengan rasa jenuh saat melakukan hal yang sia-sia. Tapi paling tidak, mereka tidak melakukan hal yang memaksa perasaannya untuk mati.


Seperti halnya Kean, Disa pun masih ingin mengenang kebersamaannya bersama Kean dulu. Perlahan, tidak terburu-buru. Karena yang terlarang adalah kedekatan mereka bukan perasaan yang bisa mereka simpan untuk masing-masing.


“Sesekali, mainlah ke rumah dan temui mamah. Mungkin mamah akan merindukan teman ngobrolnya yang cerewet.” Kean sedikit menoleh Disa yang terangguk seraya tersenyum.


“Baik tuan.” Sahutnya.


Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan, mengucapkan kata perpisahan lewat tatapan matanya yang sendu. Ini berat, karena masing-masing harus berusaha meredam gejolak yang ada di dadanya.


Kean menggerakan jemarinya mendekat pada Disa, sekali ini saja ia ingin menggenggam tangan Disa untuk terakhir kalinya. Namun Disa memilih menghindar. Ia tidak ingin usaha awal yang ia lakukan dengan penuh tekad, harus kembali mentah karena tidak bisa menahan gejolak terasaan saat Kean menyentuhnya.


Kean urung meraih tangan Disa. Ia memalingkan wajahnya melihat keluar jendela. Tarikan nafasnya terdengar berat. Tentu, lukanya masih terasa sakit.


“Saya permisi tuan. Selamat malam.” Disa mengambil tas ranselnya dan segera turun dari mobil Kean. Tidak sekalipun ia berbalik dan Kean hanya terdiam di tempatnya, memandangi Disa yang semakin lama semakin menjauh.


Seperti inilah seharusnya. Disalah yang melangkah pergi bukan Kean yang beranjak. Ini lebih baik, karena paling tidak, ia tidak lagi merasa di tinggalkan.


“Selamat tinggal tuan.”


******


“Disa!” suara panggilan itu terdengar nyata di telinga Disa, membuatnya terperanjat dan bangun.


Beberapa saat ia bengong, otaknya mencoba memiliah apa yang baru saja terjadi. Mimpikah, atau kenyataan? Kembali membaringkan tubuhnya saat Disa sadar kalau yang ia alami hanya mimpi.


“Aaahh.. astaga, aku begitu jelas mendengar tuan muda memanggilku.” Diusapnya matanya yang terbuka dengan terpaksa.


Suara Kean begitu jelas terdengar hingga ia tidak bisa lagi memejamkan matanya.


Terbangun di pagi yang asing dengan kebiasaan yang berbeda.


Jam 4 pagi. Biasanya Disa akan langsung mandi, menunggu subuh sebentar lalu setelah solat subuh ia akan pergi ke pasar. Pekerjaan rutinan yang ia lakukan selama berbulan-bulan telah menjadi kebiasaannya.


Kali ini berbeda, ia kembali memeluk gulingnya, mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya. Meri juga belum akan jualan sehingga seharian ini fix, sedikit yang bisa ia kerjakan. Ia mulai memikirkan, apa yang akan ia lakukan pagi ini?


Terbiasa bekerja dan sekarang berhenti ternyata memberi kekosongan tersendiri.


Demi membunuh waktu, Disa beranjak dari tempat tidurnya. Merapikan sprei dan selimut lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi air dingin. Di rumah Meri tidak ada pemanas air sehingga saat masuk ke dalam kamar mandi, suasan dingin itu langsung menyergapnya.


Menghabiskan waktunya lebih lama di kamar mandi, membersihkan tubuhnya hingga setiap inci. Cukup jarang ia melakukannya mengingat dulu waktunya tidak seluang itu. Mungkin ini waktu yang tepat untuk memanjakan dirinya. Setelah ini, ia akan bersepeda santai dan pergi ke pasar untuk membeli bahan masakan.


Ia akan memasak makanan sehat untuk tantenya yang sedang dalam masa pemulihan. Ya, mungkin ini lebih baik daripada waktunya terbuang percuma.


Di tempat yang berbeda, Kean pun mengalami hal yang sama. Terbangun dengan rasa hampa tanpa tujuan.


“Tuan muda, sudah jam 6 pagi.” Hampir saja Kean terlonjak saat mendengar suara di balik pintunya.


“Disa!” ia masih berharap kalau Disalah yang membangunkannya.


“Selamat pagi tuan. Sudah jam,”


“Sedang apa kamu di sini? Pergi!” sengitnya tidak membiarkan kalimat pelayan pengganti Disa selesai.


Pelayan baru itu hanya mematung dan dengan kasar Kean membanting pintu di depan wajahnya.


Diguyarnya rambutnya dengar kasar, ada rasa kecewa saat ternyata yang membangunkannya bukan Disa. Ia masuk kekamar mandi, mengguyur tubuh yang masih terbungkus kaos oblong dan celana pendek.


“SHIT!” di matikannya keran shower saat yang keluar ternyata air dingin. Ia memilih duduk di atas dudukan toilet seraya memeluk tubuhnya sendiri. Hal sekecil ini, seperti menyiapkan air mandinya sendiri saja ia tidak bisa. Betapa ia sangat ketergantungan pada semua yang selalu di siapkan Disa dengan sempurna.


“Sa, aku bahkan gak tau cara menyiapkan air untukku mandi dengan suhu yang pas.” Lirihnya dengan penuh kekesalan.


Ia membiarkan tetesan air yang mengguyurnya menetes dari rambutnya yang basah. Ia masih belum mau beranjak kemanapun. Ia lebih memilih menikmati lamunannya saat Disa menyiapkan air mandi serta handuk yang siap ia gunakan.


Disa yang cekatan dengan garis senyumnya yang selalu melengkung benar-benar ia rindukan. Ternyata menjadi terbiasa itu tidak semudah yang ia bayangkan.


******