Marry The Heir

Marry The Heir
Menambahkan daftar teman



Langit semakin gelap dan gemintang terlihat semakin bersinar di atas sana. Mereka masih berada di dalam mobil sport mewah yang melaju membelah jalanan seraya menikmati udara malam saat atap mobil terbuka.


Music jazz ternyata menjadi musik favorit Kean. Suara saxophone berpadu dengan gesekan biola menghasilkan melodi yang nyaman di telinga. Hanya musik tanpa vokal yang terdengar sepanjang perjalanan menemani mereka menggulung jarak menuju rumah utama.


Karena terlalu menikmati suasana Disa sampai lupa kalau ia masih menggunakan seragam pelayan stelan hitam dan hanya apronnya saja yang dilepas karena kotor terkena pasir tadi sore.


Disa masih tersenyum sendiri, seraya menikmati hembusan angin yang menerbangkan helaian rambutnya yang tidak terikat. Ia menempatkan dagunya di atas lengan yang tertumpu pada pintu mobil. Dalam pikirnya, Disa sang pelayan lusuh dan di sampingnya ada tuan muda yang tetap terlihat tampan meski hari nyaris sampai di penghujung.


Disa melihat pantulan wajahnya di kaca spion dan tampak mengernyitkan dahinya sendiri saat melihat wajahnya yang sudah kucel dan berminyak. Sedikit melirik Kean yang masih asyik menikmati pacuannya menginjak gas di atas aspal hitam yang lenggang dengan kendaraan yang mulai jarang.


100 km/jam, tidak terasa lagi cepat tapi melesat.


“Apa tuan muda gak malu bawa pelayan kayak aku kemana-mana?” gumam Disa, bertanya pada dirinya sendiri.


Ia kembali memperbandingkan penampilannya dan penampilan Kean yang jauh berbeda. Ya, kasta mereka memang berbeda, harusnya mereka tidak berada di tempat yang sama.


“Saya tau, saya tampan tapi kamu tidak perlu terus memandangi saya.” Suara Kean membuyarkan lamunan Disa yang tengah memandanginya.


“Ma-maaf tuan.” segera menegakkan tubuhnya dan mengalihkan pandangannya agar tidak terus menatap Kean.


“Sepertinya kamu mulai akrab dengan roy?” tanyanya kemudian, mengabaikan rasa malu Disa beberapa saat lalu.


“Mas roy?” mengutip nama yang disebutkan Kean.


“Perbincangan kalian sepertinya sangat seru.” Timpalnya ringan.


Ia kembali mengingat saat ia baru keluar dari toilet dan mendapati Disa tengah asyik berbincang dengan Roy sambil tertawa-tawa. Entah apa yang keduanya perbincangkan yang jelas mereka kembali diam saat Kean datang.


“Beliau teman yang menyenangkan. Banyolannya receh tapi membuat saya tertawa. Tuan pasti banyak tertawa kalau dekat mas roy.” Sahut Disa yang antusias menceritakan pengalaman serunya.


Kean hanya tersenyum kecil, ia bahkan tidak tahu kalau Roy suka membuat jokes garing yang membuat Disa bisa  tertawa selebar itu.


“Teman, kalian berteman?” Kean menggaris bawahi sebagian kalimat Disa. Disa mengangguk dengan semangat dipadu senyuman yang tidak pernah hilang dari wajahnya. “Sepertinya kamu sangat mudah berteman?”


“Tidak juga tuan.” Sahutnya pendek. Kean menoleh Disa sejenak untuk kemudian meneruskan fokusnya mengarungi jalanan. “Saya memang mudah terbuka pada orang baru, tapi tidak banyak orang yang mau berteman dengan orang seperti saya.”


“Sebuah pertemanan tidak bisa hanya salah satu pihak yang menginginkannya. Keduanya harus terbuka agar bisa berteman baik.” menghela nafasnya lalu menghembuskannya pelan. Cukup terdengar oleh Kean, seperti ada kegalauan dalam ujung nafasnya.


“Lalu, siapa saja yang menjadi temanmu?” sepertinya Kean tertarik untuk melanjutkan obrolan mereka. Mana mungkin sudah saling tertawa tapi masih di anggap sulit mencari teman.


“Ada beberapa. Mas roy, non fira, tina, nina, wita dan kak damar.” Akunya yang tersenyum di ujung kalimat.


Kean mencoba mengingat salah satu nama yang disebutkan Disa. Rasanya ia ingat nama itu.


“Bukannya kamu bilang dia kakakmu?” ingatannya membawa Kean pada laki-laki yang ditemuinya di halte bis dan menatapnya dengan tidak suka.


Dari caranya melihat Kean, seolah ia tengah berkata untuk tidak mendekati Disa. Dan itulah yang membuat ia penasaran.


“Benar tuan.” Aku Disa. “Dulu kak damar adalah teman saya sejak SMP. Tapi saat masuk SMA, mendiang paman saya menikah dengan ibunya. Hubungan kami sedikit merenggang karena mungkin saya telah memasuki posisi yang seharusnya hanya dia yang mengisi yaitu sebagai anak kesayangan tante meri.”


“Dengan kehadiran saya, perhatian tante meri jadi terbagi dan lebih banyak hal yang harus tante meri lakukan untuk mengurus keluarganya. Di tambah, sepertinya saya tidak bisa menjadi adik yang baik.” Kalimat Disa terdengar penuh sesal.


“Apa menurutmu begitu?”


Disa mengangguk yakin. Sementara tidak bagi Kean. Dalam pikirannya sebagai seorang laki-laki, bukan hal egois itu yang ada dipikiran laki-laki berambut gondrong tersebut.


“Sepertinya kamu sangat sedih kehilangan satu temanmu itu.”


Mengangguk pelan seraya memandangi tangannya sendiri yang saling memilin. Ada yang ia pikirkan tapi kemudian ia tepis dengan tersenyum. “Benar tuan. Seperti ada yang kosong. Kami biasanya tertawa bersama. Melakukan hal gila bersama tapi saat ini kami dengan kehidupan masing-masing yang semakin lama semakin tidak saling mengenal.”


“Saya mulai tidak yakin kalau saya mengenal dia sebagai teman saya karena jarak kami terlampau jauh.”


Disa tertunduk lesu, sepertinya kesedihannya memang mendalam.


“Jangan terlalu bersedih. Mungkin saya bisa menambah daftar untuk menjadi salah satu temanmu.” Ujarnya seraya mengulurkan tangan.


Disa menoleh Kean yang mengulurkan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih memegang stir.


“Benarkah tuan?” matanya membulat, merubah ekspresinya dengan cepat.


Kean mengangguk dengan segaris senyum di bibir seksinya. Dengan cepat Disa menjabat tangan Kean dengan kedua tangannya. Menggenggamnya dengan erat membuat rasa hangat menjalari aliran darahnya.


Hanya beberapa saat tangan mereka saling menggenggam namun waktu beberapa detik itu cukup membuat Disa terlihat bahagia. Kean tampak terlihat biasa saja, namun entahlah dalam hatinya. Dalam pikirnya, ternyata semudah ini merubah air muka Disa dari sendu menjadi ceria.


“Apa tidak masalah tuan berteman dengan orang seperti saya?” tanyanya yang tiba-tiba ragu.


“Maksud kamu?” Kean mengernyitkan dahinya dan sedikit menoleh.


“Em maksud saya, saya hanya seorang pelayan,” menunjuk dirinya sendiri. “Sementara tuan adalah,” menatap Kean dan tidak mampu meneruskan kalimatnya. Entah seperti apa ia harus menggambarkan laki-laki dihadapannya.


“Apa ada persyaratan kesetaraan dalam sebuah pertemanan?” berganti Kean yang bertanya seolah tahu arah pembicaraan Disa.


“Em, tidak tuan.” Timpalnya cepat. Beruntung ia sadar bahwa dalam sebuah pertemanan tidak boleh di awali dengan sebuah batas. “Saya beruntung bisa berteman dengan anda.” Imbuhnya dengan penuh kesungguhan.


Kean tidak menanggapi hanya tersenyum dalam hati.


Perjalanan panjang terlalui sudah. Saat ini mereka telah tiba di depan pagar rumah utama. Seorang petugas keamanan membukakan pintu gerbang dan menyapa Kean dengan sopan. Kebiasaannya masih sama, ia tidak menanggapi ucapan laki-laki yang menyapanya.


Laju mobil mulai terhenti. Keduanya sama-sama turun dari mobil dan berjalan menuju rumah utama. Hanya saja Kean melalui pintu utama, sementara Disa melalui pintu belakang.


“Hem, “ Kean kembali pada mode lamanya, dingin. Perubahan ekspresinya sangat drastis, mungkin karena ia mulai membayangkan saat harus menghadapi orang-orang yang ada di rumah ini.


Ia meneruskan langkahnya masuk ke dalam rumah utama, sementara Disa masih mematung dan baru beranjak setelah melihat Kean masuk ke dalam rumah dan menghilang di balik pintu.


Inilah perbedaan mereka, sang pewaris melalui pintu utama dan sang pelayan melalui pintu belakang. Pada titik ini Disa mulai merasa takut kalau mungkin tidak seharusnya ia menjabat tangan Kean dan menjadikannya sebagai teman. Karena mungkin suatu hari mereka harus melepaskan status itu karena sebuah batasan yang jelas dan tidak bisa di langgar.


******


Sampai di depan kamar, yang pertama Disa lihat adalah ketiga temannya Tina, Nina dan Wati. Sontak langkah Disa terhenti melihat tatapan ketiga orang yang seperti tengah bersiap menyambutnya dengan banyak pertanyaan.


“Kamu dari mana sa?” tanya Tina seraya bersidekap menatap tajam Disa.


“Aku dari,” menunjuk random ke belakang.


“Kamu bareng tuan muda ya?” Wati mencondongkan tubuhnya mendekat pada Disa. Kalimatnya terdengar sinis.


“I-Iya.” Disa terangguk lesu.


“Dari mana?” tanya ketiganya bersamaan.


Mata Disa membulat dengan air wajah terlihat tegang.


“Dari,…” bagaimana ia harus menjelaskan?


“Sedang apa kalian?” suara Kinar terdengar memecah ketegangan.


Mereka kompak membuka barisan dan menurunkan tangan mereka yang tersilang di depan dada.


“Ada tuan muda kenapa kalian malah berkumpul di sini dan tidak menyiapkan minuman?” lanjut Kinar, menatap satu per satu pelayannya.


Disa pun tidak lepas dari tatapan Kinar dan membuatnya menunduk takut.


“Ba-baik bu, saya siapkan.” Sahut Tina yang segera bubar jalan di susul kedua temannya.


Tertinggal Disa yang masih mematung di tempatnya saat Kinar masih memandanginya tanpa berkata apapun.


Berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun membuat Disa bisa menghembuskan nafasnya yang beberapa saat ia tahan. Syukurlah, Kinar tidak memarahinya.


Sepeninggal orang-orang, Disa masuk ke kamarnya, ia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat.


“Disa!” lagi sebuah suara memanggil, membuatnya mengurungkan niat untuk masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dengan keringat.


Saat ia berbalik, ketiga temannya sudah kembali berada di hadapannya.


“Kamu yang ngasihin.” Wati menyodorkan baki berisi minuman dan makanan untuk menjamu tuan muda mereka.


“Tapi, bajuku,” Disa melihat bajunya sendiri yang sudah mulai kotor.


“Kami gak siap bikin kesalahan lagi depan tuan muda.” Cetus Nina seraya melepas apronnya dan memakaikannya pada Disa.


Mereka pikir mungkin Disa tumbal yang paling baik.


Hanya bisa membuang nafas kasar dan berusaha tersenyum saat apron sudah terpasang dan Wati kembali mengasongkan bakinya.


“Makasih disa.” Ujar Tina seraya tersenyum dan menepuk bahu Disa.


Menghampiri orang yang sama di tempat yang berbeda dan suasana yang berbeda. Di mobil tadi, laki-laki ini adalah temannya tapi kali ini ia kembali menjadi putra dari majikannya. Ya, inilah batas yang tidak pernah bisa mereka langgar.


“Silakan tuan.” menaruh minuman dan makanan di atas meja.


Kean hanya melirik dan kembali anteng dengan ponselnya. Wajahnya yang tadi cukup santai, kali ini sudah berubah dingin. Cepat sekali perubahan suasana hatinya.


“Kean,..” sapa Liana yang baru keluar dari kamarnya. Mereka sontak menoleh ke arah datangnya suara.


Ia menuruni anak tangga dengan cepat hendak menghampiri Kean dengan senyum terkembang. Mereka kompak berdiri saat Liana menghampiri Kean.


“Kamu mampir nak?” sapanya yang berusaha memeluk Kean.


Dengan cepat Kean menghindar, membuat kedua tangan Liana tergantung di udara. Jangankan salim apalagi berangkulan seperti ibu dan anak, laki-laki itu lebih memilih melengos berganti menghampiri Marwan yang berdiri di ujung tangga


“Silakan tuan,..” ujarnya menyilakan Kean naik menuju kamar majikannya.


Liana masih mematung di tempatnya, begitupun Disa. Liana masih dengan senyumnya yang kaget namun ia terlihat kecewa.


“Mungkin dia terburu-buru.” Gumamnya saat ia menoleh Disa.


Disa hanya terdiam, entah seperti apa Ia harus bersikap.


Liana menjatuhkan tubuhnya di sofa, sepertinya ia masih dengan ingatannya tentang sikap Kean barusan.


Sejujurnya, tidak hanya Liana yang terkejut dengan sikap Kean, melainkan juga Disa. Ia masih mengingat kata-kata Kean saat laki-laki itu kembali bertemu dengan traumanya. Terdengar jelas kalau Kean mengatakan, jika saja saat itu tidak ada ibunya dan ia langsung terisak.


Namun entah ada apa sekarang, Kean seperti menghindari Wanita yang kini terduduk di sofa dengan tatapan kosong dan air mata yang mulai menetes satu per satu. Seperti ada sakit yang di tahannya di dalam hati.


Pikiran Disa tidak sehebat itu mengerti perasaan Liana. Mungkin Wanita di hadapannya butuh ruang dan waktu hingga Ia harus membiarkan Liana sendiri dulu.


*****