
Pekerjaan domestik memang terkadang cukup melelahkan. Setelah selesai menampung air ke dalam beberapa wadah, kali ini berlanjut pada pekerjaan penting lainnya yaitu memasak makan siang. Sudah hampir jam 1 siang dan Disa masih berkutat dengan pekerjaannya.
Terdengar langkah kaki tegas menuruni anak tangga, sudah pasti itu langkah kaki milik Kean yang baru selesai mandi. Sepulang olah raga tadi, ia ikut membantu Disa dan Wahyu yang sibuk menampung air di beberapa wadah. Walau sudah di larang tapi ia tetap dengan senang hati bergabung. Ia bahkan tampak akrab berbincang dengan supir pengangkut air bersih. Tuan muda ini memang cukup sulit di prediksi.
“Makan siangnya akan siap 10 menit lagi tuan.” Ujar Disa dari dapur.
“Hem.” Hanya itu jawabannya. Ia duduk di sofa, menyalakan televisi dan tak lama ia tampak sibuk dengan ponselnya. Suara di televisi hanya dianggap pemecah keheningan di rumah ini.
“Ting tong!” suara bell berbunyi.
Disa segera menghentikan aktivitasnya namun saat akan beranjak, terlihat Kean yang lebih dulu berdiri.
“Lanjutkan saja pekerjaanmu.” Ujarnya. Sepertinya ia tidak mau acara masak Disa terjeda.
“Oh, baik tuan.” Timpal Disa yang kembali melanjutkan pekerjaannya.
Kean membukakan pintu untuk tamunya dan saat pintu terbuka, “Wah, syukurlah lo ada di rumah.” Seru Reza seraya menepuk bahu sahabatnya.
“Assalamu ‘alaikum.” Begitu sindir Kean.
“Wa’alaikum salam. Hahahahha…” Sahutnya. “Lo tau gak siapa yang ikut sama gue?” pancingnya seraya mengangkat-angkat kedua alisnya yang tebal.
“Siapa?” tanyanya.
Reza sedikit bergeser, lantas seorang wanita mulai terlihat dari balik tubuh Reza. Wanita cantik yang sudah cukup lama tidak di lihatnya. “Tadaaaaa…. The one and only, princess Claire.” Serunya.
Kean tampak tercengang untuk beberapa saat ketika ia melihat sosok yang tidak di sangka akan berdiri di hadapannya.
“Hay yan.” Begitu sapa Clara.
“Oh, hay.” Sahut Kean yang mulai tersadar.
“Lo kenapa? Kayak ngeliat hantu aja. Gak nyuruh gue masuk nih?” Reza mendorong pintu rumah Kean yang belum seluruhnya terbuka.
“Hem, masuklah.” Ujar Kean.
Reza yang melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Sementara Kean masih memandangi Clara yang tersenyum di hadapannya.
“Aku boleh masuk kan?” tanya Clara, sangsi.
Kean membuka pintunya lebih lebar dan Clara pun masuk ke dalam rumah. Di mulut pintu Kean masih memandangi Clara dari belakang. Langkahnya yang pelan dan teratur seolah ia tengah berjalan di atas catwalk.
“Kok diem aja yan?” suara Clara kembali menyadarkan Kean.
“Oh ya.” Sahutnya yang kemudian menutup pintu dan menyusul Clara masuk.
“Hay sa!” adalah Reza yang menyapa Disa. Disa yang tengah fokus dengan masakannya segera menoleh saat mendengar suara yang ia kenali.
“Kak reza..” sahutnya dengan mata membulat. Ia segera mematikan kompornya dan mengelap tangannya dengan apron.
“Lagi sibuk kayaknya.”
“Lagi masak aja kak. Kak reza apa kab,..” kalimat Disa terhenti saat ia melihat seorang wanita masuk ke dalam rumah.
Matanya semakin membulat melihat sosok wanita yang celingukan melihat sekeliling rumah Kean
“Mba Clara Davina ya kak?” bisik Disa yang mendekat pada Reza.
“Hem, kamu kenal?” Reza balik bertanya.
Dengan semangat Disa mengangguk.
“Claire.” Panggil Reza yang membuat Clara menolehnya. “Kenalin, ini disa.” Lanjutnya.
Disa mengulurkan tangannya dengan gemetar, sementara Clara masih memandangi Disa dari atas ke bawah.
“Apa gue juga harus kenalan sama pelayan di sini?” tanya Clara yang seolah enggan untuk menjabat tangan Disa.
“Eiss lo ngomong apa sih. Disa ini temen gue juga.” Timpal Reza. Ia menarik tangan kanan Clara dan mempertemukannya dengan tangan Disa.
“Saya salah satu fansnya mba clara.” Ungkap Disa dengan penuh kesungguhan.
“Oh ya?” Clara berusaha melepaskan tangannya dari datang Reza dan Disa lalu mengusapkan tangannya pada baju seolah sedang membersihkan noda dari tangannya.
Reza hanya menggeleng melihat sikap Clara yang memang seperti itu. Ya namanya juga tuan putri, Reza berdecak dalam hatinya.
“Iya. Saya pernah hadir di salah satu fashion show mba clara sekitar 2 tahun ke belakang.” Disa berusaha mengingat waktu ia dan teman-temannya melihat sebuah Fashion show.
“Fashion show yang mana? 2 tahun ke belakang saya memang jadi tamu penting di beberapa acara.” Akunya dengan angkuh, seolah ingin menunjukkan jarak yang jauh antara ia dengan Disa.
“Em yang mba clara sebagai top model di hari batik nasional. Waktu itu mba clara memakai gaun batik nusantara. Sangat cantik dan elegan.” Ungkap Disa yang serasa kembali ke memory-nya 2 tahun silam.
Clara mengibaskan rambutnya dengan elegan, ya ia memang cantik dan elegan saat mengenakan gaun apapun.
“Disa, lanjutkan pekerjaanmu.” Suara berat milik Kean yang saat ini terdengar.
Disa melihat jam di dinding dan tidak terasa 10 menit yang ia janjikan hampir habis.
“Oh baik tuan.” Sahutnya dengan sigap. “Saya tinggal dulu mba.” Lanjut Disa pada Clara yang menyunggingkan senyum sarkasnya.
“Claire.” Panggil Kean yang berjalan keluar rumah dan menuju taman. Seperti mereka akan membicarakan sesuatu yang penting dan tidak ingin di dengar orang lain.
“Okey. Mari tuan muda.” Sahut Clara seraya terkekeh manja menyusul langkah Kean menuju taman.
Disa kembali ke dapur dan sesekali melihat ke arah Kean dan Clara. Mereka tampak serasi, dalam pikirnya.
“Masak apa nih sa?” suara Reza menyadarkan Disa dari pikirannya tentang 2 orang di luar sana.
“Oh ini, tuan muda minta dibuatkan ikan goreng asam manis, capcay sama ini tempe goreng.” Terang Disa, menunjuk beberapa masakan yang ia buat termasuk capcay yang masih dalam kuali.
“Aku cicip boleh?” Reza sudah mengambil sendok, sepertinya capcay adalah makanan yang ingin ia coba.
“Boleh, tapi kayaknya brokolinya masih agak keras.”
Tanpa menunggu Reza menyendok capcay dari kuali, meniupnya sebentar dan, “Awwhh pangas.” Cetusnya yang kepanasan.
“Hahaha.. Kan udah aku bilang, masih belum mateng. Ini mendidih loh kak.” Disa tertawa dengan renyah melihat tingkah Reza.
Ia segera mengambil air minum dan memberikannya pada Reza. Satu tegukan dan air minumpun habis.
“Hah, tapi rasanya udah enak sa. Kamu pinter masak sih.” Ungkap Reza seraya mengusap kepala Disa.
Wajah Disa langsung merona mendapat perlakuan manis dari Reza.
“Hehehe.. Nggak juga kak.” Kilahnya yang berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
Selintas ia melihat Kean dan Clara di luar sana. Bibirnya tampak tersenyum tipis melihat mereka berbincang.
“Kenapa?” tanya Reza yang mengikuti arah pandang Disa.
“Em nggak. Aku cuma liat tuan muda sama mba clara cocok banget. Kayak pangeran dan tuan putri. Pasangan yang sempurna.” Ungkapnya dengan segaris senyum.
“Euuhh belum tau aja kamu kalo mereka lebih seperti kucing dan anjing. Gak pernah akur. Aku juga aneh kenapa mereka bisa ngobrol berdua.” Reza ikut memandangi kedua sahabatnya.
“Oh ya?”
“Hem!” Reza menyahuti dengan yakin.
Setelah beberapa saat memandangi mereka, Disa kembali pada pekerjaannya. Meninggalkan capcaynya beberapa menit ternyata sudah cukup membuatnya matang. Maka masakannya selesai sudah.
****
POV Kean:
Aku masih tidak percaya kalau yang berdiri di hadapanku adalah Claire. Aku pikir dia masih di amerika karena tidak ada kabar sama sekali kalau dia akan pulang.
“Hay yan.” Dua kata itu yang menyapaku siang ini dan dengan cepat aku sadar, ada yang harus aku tanyakan padanya.
Dia berjalan dengan santai, masuk ke dalam rumahku, melihat kiri dan kanan seperti berada di tempat yang asing.
Saat tiba di ruang tengah, Disa menyapanya. Aku tidak menyangka kalau ternyata Disa mengenal Claire. Pernah sekali waktu aku melihat Disa membaca majalah yang ada di ruang kerjaku. Kupikir saat itu karena Disa tahu dari majalah, ternyata dia mengenal secara langsung. Dia mengaku sebagai fans, rasanya aku ingin tertawa. Apa benar ada yang mengidolakan sosok wanita di sampingku?
Mereka berjabat tangan dan Reza yang seolah memaksakannya. Aku bisa melihat keenganan yang tergambar jelas di wajah Claire. Sementara Disa, dia terlalu polos. Ia tidak mengerti arti gestur Claire yang sebenarnya sangat ketara.
Ya, Claire memang seperti itu. Mungkin kebiasaannya memilih teman masih belum bisa ia ubah. Ia hanya mau berteman dengan orang-orang yang ia anggap setara dengannya. Tapi melihat dia menatap Disa dengan sedikit merendahkan, aku tidak menyukainya. Satu hal ini masih saja belum bisa aku terima dari Claire.
“Disa, lanjutkan pekerjaanmu.” Ujarku, mengakhiri tatapan sinis Claire pada Disa.
Claire hanya membalasnya dengan sunggingan senyum sarkas.
“Claire.” Panggilku. Aku berjalan lebih dulu keluar rumah dan menuju taman. Aku perlu membicarakan sesuatu yang penting dan tidak perlu di dengar orang lain selain aku dan Claire.
“Okey. Mari tuan muda.” Sahut Claire seraya terkekeh manja menyusul langkahku menuju taman.
Aku terduduk di bangku taman dan menatap Claire yang masih berdiri di hadapanku.
“Duduklah.” Dengan isyarat mata aku meminta Claire duduk.
Ia menurut walau bibirnya tampak mengerucut.
“Lo gak bilang kalo lo pulang.” Aku mengawali kalimatku seraya menatap Claire yang memainkan kuku ekstension di jarinya.
“Ya gimana, bokap nyuruh gue pulang.” Sahutnya enteng, tanpa menatapku.
“Claire,..” aku meraih tangan Claire dan dia langsung terpaku menatapku.
“Okey, gue salah gak ngasih tau lo kalo gue bakal pulang.” Dia melepaskan tanganku yang mengenggam pergelangan tangannya. “Tapi dia baik-baik aja kok. Ada perawat yang ngejaga dia siang dan malam.” Sepertinya ia tahu arti wajah cemasku.
Aku menghela nafasku dalam. Memang tidak seharusnya aku menyalahkan Claire karena dia ingin pulang. Hanya saja, semua terlalu mendadak. Aku menitipkan wanitaku pada Claire, karena Claire satu-satunya yang bisa aku percaya. Tapi saat ia memilih pulang, bagaimana wanitaku di sana? Apa dia baik-baik saja?
Aku mengusap wajahku dengan kasar. Perasaanku mulai tidak karuan. Aku mencoba menghubungi perawat di sana tapi tidak ada jawaban. Mungkin karena di sana saat ini masih tengah malam.
“Tenang, dia pasti baik-baik aja. Percaya sama gue.” Claire mengusap bahuku perlahan lalu memainkan jarinya di membentuk symbol melingkar di bahuku.
“Claire, jangan becanda.” Aku segera menghindar. Aku tidak terlalu suka kalau Claire sudah mulai bermain-main denganku.
Aku sedikit menoleh Claire yang tersenyum samar. “Gue kira lo udah berubah. Masih takut sama sentuhan perempuan?” tanya Claire seolah mengujiku.
Aku tidak menjawab karena bagiku tidak ada yang perlu aku jawab.
Ya, aku memang tidak suka saat seorang perempuan menyentuhku. Aku tidak ingin ada perasaan yang bangkit dan membuat prinsipku rusak. Tapi kemudian aku ingat saat Disa menyentuhku. Rasanya begitu hangat dan nyaman. Aku bahkan memeluknya. Untuk pertama kalinya aku tidak takut berada di dekat seorang perempuan. Astaga! Tanpa sadar sedikit demi sedikit tebing prinsipku berjatuhan.
Disa, sekilas pandanganku tertuju pada dua orang yang sedang asyik di depan tungku. Ya, Reza dan Disa. Mereka tampak asyik berbincang dan sesekali aku mendengar tawa keduanya.
Argh! Menyebalkan. Kenapa mereka semakin dekat saja?
Aku beranjak dari tempatku tapi Claire menahan tanganku. “Temenin gue bentar lagi yaan.” Rajuknya, manja.
Aku melihat pergelangan tanganku yang di pegang Claire. Bukan rasa seperti ini yang waktu itu aku rasakan saat Disa menyentuhku.
“Sorry, gue laper.” Sahutku seraya melepaskan genggaman tangan Claire.
Aku mendengar decikan kesalnya, hanya saja itu tidak aku anggap penting. Bukankah Claire memang seperti itu?
Saat aku masuk ke dalam rumah, aku melihat tawa Disa langsung terhenti. Entah apa yang membuat mereka tertawa dengan renyah.
“Tuan, anda akan makan sekarang?” tawarnya seraya mendekat.
“Hem.” Seperti biasa, itu sahutanku yang sudah sangat ia mengerti.
“Baik saya siapkan tuan.” Senyumnya langsung terbit dan berbalik mengambil masakan yang dia buat.
“Mau aku bantuin gak sa?”
Argh lagi-lagi suara Reza yang aku dengar. Kenapa dia suka sekali mepet Disa. Apa dia serius? Disa itu polos, jangan sampai Reza mempermainkannya.
Suara di kepalaku yang mengeram kesal dan tanganku yang mengepal.
“Kak reza duduk aja. Aku bisa sendiri kok.” Sahut Disa dengan riang.
Astaga, rasanya aku ingin meneguk habis satu teko air minum di hadapanku.
Reza menghampiriku lalu duduk di sampingku. “Claire gak lo ajak masuk?” tanyanya, seraya mengambil segelas air.
Aku hanya mengendikan bahuku, aku memang tidak mengajaknya. “Lo jangan jadi tuan rumah yang pelit dong, masa Claire gak di ajak makan. Dia sengaja loh, belum makan.” Imbuhnya.
Aku hanya melirik Claire, bukannya tidak perlu berbasa-basi mengajaknya makan karena dia pasti langsung menghampiri?
“Okey, gue yang ngajak ya.” Lagi Reza bersuara.
Ah bodo amat pikirku, terserah mereka mau makan atau tidak. Pikiranku sedang tidak nyaman, tidak ingin memikirkan hal lain di luar hal yang menurutku lebih penting.
“Claire, makan yuk!” panggil Reza dari sebelahku.
Claire mengangguk dan langsung datang menghampiri. Dia duduk di sampingku berhadapan dengan Reza. Kami tidak banyak bicara, Claire dengan ponselnya dan aku dengan pikiranku.
Satu per satu hidangan di bawa Disa. Dia benar-benar membuatkan ikan goreng favoritku.
“Silakan tuan.” Ujarnya saat Ia menaruh menu terakhir di hadapanku.
Aku meliriknya sedikit dan dia masih tersenyum di tempatnya. Memberikan piring ke hadapanku, Claire lalu Reza.
“Wah, kayaknya enak banget nih.” Reza langsung mengambil capcay yang ada di hadapanku. Memang kurang asem sahabatku yang satu ini. Dia lupa siapa tuannyaa di rumah ini.
Kali ini ikan, dia akan mengambil ikan. Dengan cepat aku mengambilnya lebih dulu, tidak mau terdahului lagi.
“Ish, kalian kayak bocah aja sih pake rebutan makanan segala.” Gerutu Claire yang tidak aku pedulikan.
Aku langsung mengambil potongan besar dan menyisakan separuhnya di piring.
“Wah beneran, lo emang pelit.” Reza ikut menggerutu dan aku hanya tersenyum puas.
“Tenang, masih ada kok. Saya ambilkan lagi.” Sahut Disa dengan sigap.
Aku kesal sendiri. Memang harus di beri paham Disa ini, maksudnya kan aku tidak mau berbagi makanan favoritku tapi dia malah mengambil satu ekor lagi ikan yang berukuran besar. Dengan cepat mata Reza membulat, haish menyebalkan. Serasa di curi tempatku dari prioritas Disa.
“Kamu makan sa. Masa dari tadi masak terus tapi kamunya gak makan.” Aku melihat Reza memegang tangan Disa dan dengan cepat wajah Disa merona.
“Nggak kak, aku makan nanti aja. Silakan duluan.” Sahutnya, berusaha melepaskan tangan dari genggaman Reza.
“Udah mending makan bareng. Ayo sini.” Reza menarik kursi di sampingnya sedikit mundur, mempersilakan Disa duduk.
Disa melirikku dan Claire, sepertinya ragu.
“Udah duduk aja. Kamu biasa makan satu meja kan sama tuan muda kamu.” Reza menarik tangan Disa dengan paksa agar Disa duduk.
Disa hanya tersenyum dan salah tingkah.
“Ini lo yakin kita makan semeja sama pelayan?” suara Claire yang protes. Wajah Disa langsung tegang, seperti merasa bersalah. “Lo sering makan semeja sama dia?” Claire bertanya kepadaku dengan wajah kesal, seperti merasa di rendahkan.
“Hem.” Aku menyahuti singkat dan meneruskan suapan sendok yang tadi hampir masuk ke mulutku.
“Tadi gue gak biasa yan.” Claire mulai merengek. Ini yang tidak aku suka.
“Claire, jangan gitu ah.” Reza mulai terpancing seolah dia seorang kakak yang sedang menasihati adiknya.
“Em, saya makan nanti aja. Silakan makan duluan.” Disa langsung berdiri. Sepertinya ia tidak mau menjadi sumber masalah.
“Bagus kalo nyadar.” Gumam Claire yang masih bisa ku dengar dan aku yakin Disa pun mendengarnya.
“Mau kemana kamu?” tanyaku. Aku sudah mulai kesal dengan atmosfer di ruang makan ini.
“Em, saya mau..”
“DUDUK!” titahku hingga Disa terperanjat.
Disa menoleh Claire lalu menatapku.
“Apa kamu tidak dengar perintah saya?” tanyaku dengan nada sedikit tinggi.
“De-dengar tuan.” Dia langsung patuh. Duduk di hadapanku dengan takut.
“Hah! Lo gak asyik yan.” Dengus Claire. Ia langsung menaruh sendok dan garpunya dengan kasar. Aku tahu ia tidak suka makan semeja dengan Disa tapi aku tidak peduli. Yang mau makan silakan duduk dan yang mau pergi, tidak akan aku tahan.
Hingga akhirnya kami makan dalam suasana hening.
*****