
Terduduk di atas tempat tidur Kean dengan sang tuan muda yang tengah menunggunginya. Ia membantu Kean melepas bajunya, lalu kaos dalamnya dan terlihatlah perban penutup luka Kean. Disa mengusapnya perlahan seperti tengah meratapi sesalnya atas luka yang ada di tubuh Kean. Di bagian punggung lainnya, ia melihat seperti ada luka bakar dan luka menggaris panjang seperti luka cambukan. Hanya bisa meringis saat membayangkan begitu banyak bekas luka di punggung bidang tersebut.
Perasaan lain di rasakan Kean. Bulu kuduknya meremang, saat sapuan tangan Disa terasa begitu lembut membelai kulitnya. Seperti ada desiran yang berselancar di atas permukaan kulitnya.
“Apa sangat sakit tuan?” tanyanya parau. Ia masih memandangi punggung Kean dan ikut merasakan sakitnya.
“Tidak. Saya memang tidak baik-baik saja, tapi saya tidak merasa tidak nyaman.” Akunya.
Terdengar helaan nafas lega dari mulut Disa. “Lalu luka lainnya, apakah ini karena kejadian itu?” Kembali mengusap luka Kean dengan perlahan, seperti tengah membayangkan rasa sakit yang Kean rasakan kala itu.
“Hem. Lukanya sudah kering dan hanya meninggalkan bekas jelek itu. Tapi momentnya, masih sangat terasa dan sering membuat saya takut.” Akunya dengan lemah.
Kean menoleh Disa yang berada di belakangnya, membuat pandangan keduanya bertemu saat Disa menatapnya.
“Kamu tau, masa kecil saya menyedihkan dan menakutkan disa.” Nafasnya tersengal, seperti ada yang masih ia tahan dan membuatnya sesak.
Raut wajah Disa ikut sendu, terbayang dalam pikirannya seperti apa masa lalu yang dilewati Kean. “Saya tau, karena itu saat ini anda sangat kuat.” Timpalnya dengan segaris senyum.
Kean hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang terlihat lebih tenang. Dalam keheningan mereka bertatapan cukup lama, seperti ada dorongan yang membuat keduanya semakin mendekat hingga Disa bisa merasakan hembusan nafas Kean yang berhembus di wajahnya.
Jantunganya berdebar sangat kencang, saat jarak keduanya semakin tipis. Disa refleks mengulum bibirnya, dan meremas sprei kasur Kean, ia berusaha meredam perasaan tidak biasa yang membuncah di dadanya.
Dalam beberapa saat Kean ikut mengulum bibirnya dan mengalihkan pandangannya dari Disa dengan helaan nafas kasar.
Disa tertunduk malu, apa yang baru saja nyaris terjadi dan tidak seharusnya terjadi? Berdekatan dengan jarak sedekat ini membuat perasaannya tidak karuan.
“Sa-saya akan membersihkan luka anda tuan.” Ujar Disa dengan terbata.
“Hem.” Sahut Kean yang tertunduk lesu, berusaha mengatur ritme nafas dan jantungnya yang memburu.
Apa yang baru saja terjadi? Ia merasa begitu dekat dengan Disa, hingga membuatnya nyaris tidak bisa mengendalikan diri. Pandangan mata Disa yang menenangkan, rasanya hampir membuat ia tertarik dan tenggelam pada sebuah moment yang terasa seperti sebuah romansa.
Jantungnya berbedar kencang dengan aliran darah yang terasa begitu cepat.
Huft, apa yang sebenarnya terjadi?
“Apa saya terlalu kuat menekannya tuan?” suara Disa membuyarkan lamunan Kean. Ia baru sadar kalau Disa sudah mulai membersihkan lukanya yang bahkan tidak terasa.
“Tidak.” Sahutnya.
“Apa mungkin terlalu pelan tuan?”
“Tidak.” Lagi ia menyahutinya dengan singkat.
“Saya beri sedikit obat luka ya tuan, mungkin akan terasa perih.”
“Hem.”
Seperti ada gigitan semut di lukanya saat Disa memberikan obat luka. Baru kali ini ia sadar kalau ia memang tengah terluka.
“Sudah selesai tuan.” Ujar Disa saat selesai memasangkan perban.
Ia kembali memakaikan kaos dalam dan baju Kean lalu merapikan set perawatan lukanya.
“Minum dulu obatnya.” Mengasongkan tiga butir obat dan segelas air pada Kean.
Hap! Satu kali teguk, obat itu berhasil Kean telan.
“Saya akan turun ke bawah, apa ada hal lain yang tuan perlukan?”
“Tidak. Saya akan beristirahat.” Sahutnya cepat.
“Baik.”
Disa beranjak dari tempatnya dan mengangguk pamit. Langkahnya terlihat cepat meninggalkan kamar Kean. Setelah pintu tertutup, Kean baru menoleh dan Disa sudah tidak berada di sana. Sebuah helaan nafas kasar yang terdengar. Entah itu sebuah kekecewaan atau kelegaan. Ia masih mengingat saat ia hampir terlarut dalam perasaannya yang sulit ia kendalikan. Beruntung ia masih sadar sepenuhnya, sadar bahwa mungkin Disa tidak merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan.
Hah, memang Kean merasakan apa? Ada yang tau?
*****
Malam sudah cukup larut namun Disa belum bisa memejamkan matanya. Ia membolak-balik tubuhnya, miring ke kiri dan ke kanan, mencari posisi yang nyaman. Gerakannya terhenti saat ia tidur telentang dan memandangi langit-langit kamar tamu yang ia tempati. Untuk kedua kalinya ia menginap di kamar ini tapi rasanya masih belum kerasan.
Disa menaikkan selimutnya hingga ke batas dagu lalu mengigitnya pelan. Ingatannya kembali berputar saat ia berada di dalam kamar Kean. Untuk pertama kali ia merasa gerah dan tidak karuan berada di dalam kamar yang selalu dingin tersebut.
Memejamkan matanya dengan rapat saat bayangan wajah Kean yang begitu dekat dengan pelupuk matanya. Netra pekatnya seolah mengunci pergerakan bola matanya dan mengalirkan perasaan yang tidak bisa di jelaskan.
“Astagfirullahaladzim…” ia mengusap wajahnya dan membuka matanya agar bayangan Kean segera pergi dari pikirannya.
Bulu kuduknya kembali meremang saat mengingat hembusan lembut nafas Kean yang menerpa wajahnya dan membuatnya bergidik.
“Lupain disa, lupain..” gumamnya seraya memukul-mukul kepalanya sendiri. Dari sekian banyak moment yang ia lewati bersama Kean, entah mengapa kejadian tadi terlalu membekas di pikirannya. Terlalu sulit melupakannya dan membuat sebagian perasaannya terbawa.
“Triing!”
“Astaga!” seru Disa yang tersentak dengan dentingan suara ponselnya sendiri.
Cahaya putih di layar ponselnya berkerlip beberapa kali menandakan ada pesan masuk. Siapa juga yang mengiriminya pesan semalam ini?
Segera mengambil ponselnya yang tengah di charge lalu mengecek pesan yang masuk.
“Disa, bagaimana kondisi tuan muda? Apa makannya banyak? Apa tidurnya lelap?”
Disa tidak lantas membalas. Ia harus mengecek sendiri keadaan Kean untuk memastikan bahwa tuan mudanya pasti baik-baik saja.
Beranjak dari tempat tidurnya lalu mengganti bajunya dengan seragam pelayan. Tidak mungkin ia menghampiri Kean dengan memakai dasternya. Rambutnya hanya ia kepang, tidak ia sanggul dengan menggunakan penjepit rambut seperti biasanya.
Berjalan menuju kamar Kean dengan langkah yang di buat pelan. Di depan pintu Disa berdiri mematung. Antara harus masuk atau menunggu sebentar dan mencuri dengar untuk memastikan keadaan Kean baik-baik saja.
Menempelkan daun telinganya ke pintu dan mencoba menguatkan sinyal indra pendengarnya. Terdengar samar-samar seperti ada orang sedang terengah di dalam sana. Disa mengernyitkan dahinya, apa mungkin ia salah dengar.
Melihat lampu kamar Kean yang menyala terang, Disa semakin menempelkan tubuhnya ke pintu. Ya, ia yakin kalau ia mendengar suara lirih dari dalam kamar Kean. Perasaannya mulai tidak tenang, ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Kean.
“Tuan, apakah anda sudah tidur?” ujar Disa perlahan.
Tidak ada suara yang terdengar dan hanya suara engahan itu yang masih bisa di dengarnya. Ia semakin takut terjadi sesuatu pada Kean, akhirnya ia memutar handle pintu dan, “Tuan maaf, saya masuk.” Ujarnya.
Saat pintu terbuka, terlihat Kean yang tengah meringkuk di bawah selimutnya. Hanya kepalanya yang terlihat dengan nafas terengah. Matanya tertutup dan sepertinya ia mengigil.
“Tuan,” seru Disa yang segera mendekat.
Ia mengecek suhu Kean dengan menempatkan punggung tangannya di atas dahi Kean. Sepertinya Kean demam dan wajahnya sangat pucat.
“Astaga anda demam tuan.” Ujar Disa yang terlihat panik.
Terlihat Kean yang mulai membuka matanya, “Di-sa,..” lirihnya dengan tangan terangkat berusaha meraih tangan Disa.
“Iya tuan, saya di sini.” Ujar Disa.
Ia meraih tangan Kean yang basah karena keringat dan panas.
“Tunggu sebentar tuan, saya akan menelpon bu kinar.”
Sambil memegangi tangan Kean, Disa mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Kinar.
Hanya satu deringan hingga suara Kinar terdengar.
“Bu maaf mengganggu malam-malam, tuan muda demam.” Terang Disa dengan cepat.
“Iya, tadi sudah minum obat setelah makan malam tapi sekarang malah demam.” Menoleh Kean yang masih menggigil.
“Baik bu, saya akan menunggu.” Ujarnya saat Kinar menyuruhnya menunggu dokter Frans dan panggilan pun terputus.
“Tuan, tunggu sebentar, saya akan mengambil kompres.”
Menaruh tangan Kean di bawah selimut dan dengan cepat ia berlari ke bawah. Mengisi wadah dengan air panas juga mengambil kain untuk kompres dan tidak lupa membawa kotak P3K. Setelah semuanya siap, ia kembali ke kamar Kean dengan langkah cepat.
Wadah berisi air ia taruh di atas meja samping tempat tidur Kean. Mengambil thermometer lalu menjepitkannya di sela ketiak Kean.
“Tunggu sebentar tuan, saya ambil kaos baru supaya tuan tidak masuk angin.”
Kean tidak menyahuti, matanya masih terpejam.
Mengambil kaos oblong milik Kean lalu segera kembali menghampirinya. Thermometer sudah berbunyi dengan suhunya 39,2 derajat, sangat panas. Pantas saja Kean begitu lemah. Disa berusaha untuk tidak panik. Ia membantu Kean untuk bangun dan mengganti bajunya yang basah. Perban lukanya pun ikut basah terkena keringat.
“Astaga tuan, saya harus bagaimana?” suara Disa terdengar mulai panik. Usahanya untuk bersikap tenang sepertinya runtuh begitu saja saat melihat keadaan Kean.
“Saya baik-baik saja disa.” Lirih Kean yang terdengar lebih seperti bisikan.
“Tidak tuan, anda tidak baik-baik saja. Sebentar lagi dokter frans akan ke sini memeriksa tuan.”
Kembali membaringkan Kean sedikit menyandar dan memastikan lukanya tidak tertekan. Disa duduk di samping Kean, menaruh bantal kecil di atas pahanya dan menempatkan tangan Kean yang luka di sana. Ia mulai mengambil kain bersih untuk kompres dan menempatkannya di dahi Kean. Begitu cepat kompresannya kering, mungkin karena demamnya yang cukup tinggi.
Rasanya begitu lama menunggu dokter Frans sampai ke rumah ini.
Beberapa menit berlalu, Kean sudah tidak terlalu mengigil. Disa membaringkan Kean di atas tempat tidurnya dan menyangga tangan serta punggung Kean dengan bantal.
“Tuan, tunggu sebentar, saya akan mengambil air minum.” Bisiknya yang di angguki Kean dengan lemah.
Laki-laki itu membuka matanya dan sedikit menatap Disa sebelum Disa berlalu.
Naik turun tangga yang biasanya melelahkan, kali ini tidak terasa lelah sama sekali. Seperti ada ribuan tenaga yang tiba-tiba masuk ke tubuh Disa dan membuatnya kuat berlarian kesana kemari. Ia mengambil satu teko air dan sebuah gelas untuk minum Kean.
“Mba disa,.” Suara Wahyu yang terdengar.
“Iya pak.”
“Pak dokternya sudah datang.” Menunjuk seseorang yang berjalan dengan cepat di belakangnya.
“Alhamdulillah, mari dok, di lantai atas.” Ajak Disa dengan tergesa.
“Baik, mari.” Dokter Frans berjalan dengan cepat. Kakinya yang panjang membuat langkahnya lebih lebar dari Disa.
“Pak wahyu, makasih ya.”
“Iya mba disa, sama-sama. Semoga tuan muda cepat sembuh.” Ujar laki-laki berkumis tersebut yang diangguki Disa.
******