
Pov Kean:
Setiap hal selalu memiliki batas termasuk bagi kita, mahluk paling sempurna di dunia ini. Ada batas kepintaran, keberuntungan, kekayaan, kekuasaan, kemampuan dan tentu saja batas keberanian.
Aku masih tidak percaya, aku berdiri di sini bersama seorang gadis yang sedari tadi menggenggam pergelangan tanganku dan memintaku untuk tidak beranjak. Dia membawaku pada sebuah batas, batas yang tidak pernah aku sukai karena ini menunjukkan kelemahanku sebagai seorang laki-laki.
Ya, itu adalah batas keberanianku.
Gadis di sampingku seolah tengah menguji, seberapa besar keberanianku menghadapi rasa takut yang sudah aku miliki lebih dari 20 tahun silam. Dia wanita paling keras kepala, bersikukuh memintaku untuk berdiri di sampingnya dan menahan tanganku tanpa bisa aku lawan.
Tenagaku tidak cukup besar untuk melawan genggaman tangannya yang semakin lama semakin erat. Dia seorang perempuan, bagaimana bisa ia sekuat ini? Atau, aku seorang laki-laki, bagaimana bisa aku selemah ini?
Seperti anak kecil, aku berdiri di ambang batas rasa takut dengan nafas yang terasa mulai berat saat satu per satu lantai di turuni oleh litf di hadapanku. Aku mengabaikan lingkungan di sekelilingku yang mungkin juga sedang menunggu apa yang akan terjadi di detik saat pintu lift terbuka.
“Ding!” jantungku seperti berhenti berdetak saat suara lift itu berbunyi tepat beberapa detik sebelum pintu terbuka.
“Bertahanlah tuan, sebentar saja.” Bisik Disa yang masih bisa senyum di sampingku. Gila! Dia benar-benar mengujiku. Dia bahkan tidak memperdulikan keringatku yang bercucuran dan tangan yang mulai basah.
Lututku rasanya gemetar, seperti tulang-tulang kakiku melunak dan kehilangan keseimbangan untuk menopang tubuh jangkungku.
Perlahan pintu lift terbuka, aku berusaha mengatur nafasku yang terengah dengan keringat dingin yang bercucuran. Bayangan saat aku berada di ruang tertutup dipenuhi nyala api dan asap tergambar jelas dalam pikiranku. Semuanya terlalu menakutkan dan tidak pernah ingin aku ulang. Jika hal itu terjadi lagi, siapa yang akan menolongku? Dia? Aku sangsi.
Namun, aku terperangah saat tiba-tiba pintu lift di hadapanku terbuka. Yang ku lihat bukan lapisan besi warna abu-abu, melainkan warna kombinasi putih dan biru dengan sedikit efek transparan seperti kaca. Hah, hampir saja tubuhku roboh kalau Disa tidak menahannya.
“Disa, ini?” aku menoleh Disa yang memegangi tubuhku. Dia hanya tersenyum tipis lantas melangkah masuk ke dalam lift.
“Hem, ini ruangan kokpit anda tuan.” Tutur Disa seraya tersenyum memandangi lukisan tiga dimensi yang ia buat.
Perlahan aku menegakkan tubuhku. Seperti ada dorongan kuat yang membuat kakiku melangkah masuk ke dalam lift dan melihat lukisan mural yang dibuat Disa. Aku nyaris tidak percaya, semuanya terasa seperti nyata. Ada warna biru yang menggambarkan langit yang cerah, warna putih dengan bentuk awan dan tentu saja, sisi kiri dan kanannya terasa seperti dinding kaca.
Aku merasa seperti aku memang benar-benar seorang pilot. Sesuai dengan cita-citaku selama ini.
Ku sentuh permukaan dinding lift, sangat halus. Entah bagaimana Disa membuatnya. “Apa, ini kamu sendiri yang membuatnya?” aku masih merasa takjub dengan apa yang Disa buat.
“Iya tuan. Apa anda menyukainya?”
“Hem.” Sahutku tanpa memalingkan pandangan dari mural yang di buat Disa. Ternyata secantik dan seindah ini karya yang bisa Disa buat.
Perlahan aku merasakan lift yang bergerak naik. Sudah sangat lama aku tidak merasakan perasaan ini hingga rasanya aku sudah lupa rasa naik lift.
“Terasa seperti meluncur di dalam pesawat luar angkasa bukan?” ujanya yang tersenyum di belakangku.
“Hem. Terasa seperti saat saya menerbangkan helicopter. Adrenalin saya melonjak. Rasanya saya telah keluar dari kurungan yang menyekap saya selama ini.” Ungkapku yang kemudian berbalik menatap Disa.
Aku lihat dia hanya tersenyum, seperti ikut bahagia karena berhasil menemaniku menghadapi rasa takutku. Timbul pertanyaan dalam benakku,“Tapi, untuk apa kamu melakukan semua ini?” sungguh, aku penasaran ia melakukan semua ini.
Wajah Disa yang menunjukkan senyum, kini berubah tegang. Sepertinya Ia tidak menyangka kalau aku akan bertanya alasannya. Aku benar-benar tidak sabar menunggu jawabannya.
“Em, saya….”
Kulihat jemarinya saling memilin, seperti ragu dan takut untuk mengatakan maksudnya.
“Katakan.” Pintaku tanpa menurunkan pandanganku dari menatapnya.
Entah mengapa aku merasa belakangan wajah Disa memiliki kombinasi yang pas saat aku lihat. Seperti menemukan ketenangan saat aku melihat wajah polosnya dan matanya yang jernih.
“Saya, pernah membaca sebuah artikel tentang seorang pemimpin.” Ia memulai ceritanya namun terjeda dengan lift yang berhenti bergerak disusul pintu yang terbuka. Ia melangkah keluar di lebih dulu lantas ku ikuti. Fokusku masih pada mendengar penjelasannya.
“Katanya, saat seorang pimpinan berada di lantai tertinggi perusahaannya, pandangannya akan jauh lebih luas. Dia bisa melihat banyak hal yang terjadi di bawah sana dan memikirkan cara menyelesaikan setiap masalahnya dengan tenang.”
Langkah kami terhenti tepat di hadapan sebuah pintu yang hanya ada satu di lantai ini. Aku bahkan baru mengetahuinya. Di daun pintu tertulis ruang direktur. Tidak jauh dari pintu, ada sebuah meja besar dengan tulisan sekretaris, bertengger di atasnya. Sungguh, aku benar-benar asing.
Disa membukakan pintu ruangan tersebut dan tampaklah sebuah ruangan besar dengan desain elegan. Dari cara menatanya, aku yakin ini hasil campur tangan gadis yang berjalan di hadapanku.
Langkahnya terhenti, lantas ia berbalik menatapku dengan segaris senyum.
“Bagi saya, tuan muda, seperti singa yang buas. Setiap gauman anda akan menjadi perintah yang akan menentukan nasib orang-orang yang ada pimpin kedepannya. Anda seorang yang kuat, bisa memimpin perusahaan ini dengan cara yang bijak sana.” Ia merentangkan tangannya dan membuat pandanganku teralih pada kursi direktur yang berada di samping jendela besar.
Lihat, gayanya sudah seperti tour guide.
“Tempat anda bukan di dasar kawah, melainkan di tempat tertinggi gedung ini.”
“Dan tentang alasan saya melakukan semua ini, karena saya merasa anda melakukan banyak hal untuk saya tuan. Dan sampai kapan pun saya tidak akan bisa membalasnya. Hanya hal kecil ini yang bisa saya lakukan untuk anda.” Tandasnya seraya mengangguk takjim.
Aku seperti tersihir oleh kalimatnya. Aku melihat ketulusan dari setiap kata-kata yang mengalir dari mulutnya. Rasanya hatiku ikut tergetar. Tanpa dia sadari, hal kecil yang dia lakukan adalah hal besar untukku. Berada di tempat ini, tentu akan merubah banyak hal.
Ku tatap lekat matanya yang bening. Seperti ada desiran hangat yang mengaliri aliran darahku. Dan jantungku, tunggu, kenapa ia berdebar lebih kencang?
Ku kepalkan tanganku untuk meredam perasaan yang rasanya cukup asing dan belum pernah aku rasakan sebelumnya.
“Terima kasih disa, terima kasih banyak.” Ini ungkapan paling tulus yang bisa aku katakan pada gadis di hadapanku.
Seperti ada perasaan membuncah saat aku melihatnya mengangguk dan tersenyum begitu manis. Entah mengapa selalu saja fokusku teralihkan pada sepasang mata bening lalu hidungnya yang tidak terlalu tinggi lalu bibirnya. Ya bibirnya.
Aku mengulum bibirku sendiri lantas mengalihkan pandanganku pada sudut lain. Ingat, aku menghormatinya. Aku tidak boleh membiarkan naluriku sebagai seorang laki-laki merusak suasana yang saat ini menurutku sangat indah dan menenangkan.
“Apa ruangan ini, kamu sendiri yang mendesainnya?” aku mengalihkan pembicaraan, agar fokusku juga ikut teralih. Ini usahaku untuk mengendalikan diri.
“Em, iya tuan tapi hanya sebagian.” Ia seperti terperanjat dari rasa terkejutnya.
“Sebagian?” aku mengutip satu kata terakhir yang dia ucapkan.
Dia terangguk yakin. Lagi, dengan senyumnya yang manis. “Saya meminta mas roy untuk mencari jasa desainer interior untuk menata ruangan ini agar terasa lebih professional. Saya hanya menata sebagian, agar tuan mudah menempatkan barang-barang dan tempat bersantai di luar itu.” Disa menunjuk bagian luar kantor yang tampak dari ruang kerjaku.
Aku mengikuti arah telunjuk Disa dan kulihat ada sebuah tangga yang entah menuju kemana.
"Saya harap, tuan muda bisa bekerja dengan nyaman dan menyelesaikan semua pekerjaan di tempat ini. Saat tuan muda pulang, tuan bisa menikmati waktu tuan muda untuk memikirkan diri sendiri tanpa harus membawa beban sisa pekerjaan." kalimatnya terdengar lugas dan sedikit menggelitikku.
"Sepertinya kamu tidak suka saya membawa pekerjaan ke rumah." Aku tersenyum samar saat melontaskan pertanyaan itu.
Ia menggeleng, dengan sangat yakin. "Bukan tuan. Hanya saja, saya berharap semoga saat tiba di rumah, anda bisa memikirkan diri anda sendiri. Tidak lagi memikirkan pekerjaan yang membuat dahi anda berkerut tanpa henti." kalimatnya benar-benar diplomatis. Ia memang pandai menjawab pertanyaanku.
“Okey. Lalu, ada apa di sana?” aku menunjuk tempat yang tadi Disa tunjuk. Sungguh aku penasaran.
“Apa tuan mau melihatnya?” ia terlihat sangat antusias. Aku suka binar matanya.
“Hem.” Dengan yakin aku mengangguk.
“Baik. Mari sebelah sini tuan.” Ia berjalan di depanku, keluar dari ruangan lalu berbelok sedikit ke koridor kecil antara ruanganku dengan tempat sekretaris.
Kami menaiki anak tangga dan “Waw!” aku benar-benar terkejut dengan apa yang aku lihat.
Rupanya, ia mendesain rooftop kantor. Bisa ku lihat beberapa bangku yang di tata apik dan berpola. Ada tanaman merambat di atas kanopi yang memayungi kami agar tidak terasa panas. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat luasnya kota Jakarta dengan Gedung-gedung menjulang melebihi tinggi bangunan kantorku. Hembusan angin yang cukup kencang menerbangkan rambutku yang sudah ku tata pagi ini. Benar, rasanya sungguh melegakan.
Aku berjalan melewati Disa. Melihat ke sekeliling rooftop yang terasa seperti taman bermain untukku. Sungguh aku menyukainya. Seperti sebagian momentku yang hilang di masa lalu, kini dihadirkan kembali oleh Disa dalam bentuk kesempatan baru.
“Apa anda suka tuan?” suara Disa yang ku dengar dan ku lihat ia berdiri di depan pagar pembatas rooftop seraya menikmati hembusan angin. Helaian anak rambutnyaa tampak melambai di terbangkan angin.
“Tentu, saya sangat menyukainya.” Sahutku yang menghampirinya dan berdiri di sampingnya. Entah pada titik mana pandangan kami tertuju, hanya saja kami sedang menikmati apa yang kami lihat dengan mata kepala kami sendiri.
Aku menghela nafas dalam seraya menutup kedua mataku. Ku rasakan udara baru mengisi rongga dadaku membuat kedua paru-paruku mengembang sempurna. Ternyata, masih ada udara segar di bawah langit jakarta.
“Saya minta maaf karena selama beberapa hari saya tidak menjawab telpon anda tuan. Membuat anda marah dan mengabaikan anda sebagai majikan saya. Tapi sungguh, saya tidak pernah bermaksud seperti itu.” Disa menatapku dengan sendu saat mengutarakan kalimatnya.
Aku jadi ingin tertawa sendiri kalau mengingat kemarahanku padanya beberapa hari lalu. Aku tidak menyangka kalau ia tengah menyiapkan sesuatu yang besar di tempat ini.
Bisa ku bayangkan, saat aku menelpon mungkin kedua tangannya tengah berlumuran cat. Kepanasan di dalam lift dengan noda cat di wajah, baju hingga apronnya seperti yang aku lihat beberapa hari lalu. Aku jadi merasa bersalah karena mengira ia pergi diam-diam ke galeri untuk menemui Reza. Padahal, ia sedang sangat bersusah payah memebri kejutan yang sangat mengejutkan untukku.
Hah, maaf Disa.
“Kenapa kamu tidak mengatakannya dan malah berkomplot dengan roy?” aku masih tidak habis pikir. Pantas saja beberapa hari ini Roy terlihat aneh setiap aku membicarakan Disa.
“Berkomplot? Tuan membuat saya terdengar seperti seorang penjahat.” Sahutnya yang terkekeh.
Aku ikut tertawa. Ku perhatikan tangannya yang menggenggam pinggiran besi. Tangan itu yang membantuku melewati rasa takutku. Lalu ku lihat juga pergelangan tanganku yang tadi di genggam Disa. Rasa hangatnya masih terasa mengaliri aliran darahku.
“Di tempat ini anda bisa memikirkan lebih banyak hal. Memikirkan perusahaan bukan karena keuntungan semata. Selamat berjuang tuan, saya yakin anda bisa menghadapi semuanya.” Ujarnya seraya mengepalkan tangannya memberiku semangat penuh.
Aku hanya tersenyum, ternyata selain pandai melukis, ia pun pandai menghibur dan menyemangatiku.
Beberapa saat, hanya ada suasana hening di antara kami. Kami dengan pikiran masing-masing dan menatap jauh ke depan sana. Aku merindukan masa seperti ini. Di temani seseorang yang dengan tulus berdiri di sampingku tanpa perlu banyak bertanya hal yang basi dan membuatku muak. Aku senang karena di saat seperti ini adalah dia yang menemaniku dan berdiri di puncak tertinggi perusahaanku.
Terima kasih Disa. Terima kasih banyak.
******