
Kepulangan Disa dan Naka ternyata membawa banyak kebahagiaan di dalam rumah keluarga Hardjoyo. Setiap harinya selalu di penuhi suara tawa pemilik rumah dan para pelayan yang menemani Naka bermain. Rumah megah ini sekarang tidak hanya sebuah bangunan saja melainkan benar-benar menjadi sebuah rumah.
Taman belakang menjadi tempat favorit bagi Naka untuk bermain. Sigit dan Marwan menjadi rival cucunya untuk bermain bola. Mereka dengan senang hati menghindar, pura-pura kalah atau terjatuh saat kaki kecil Naka menendang bola ke arah gawang kecil yang di jaga Sigit.
Tidak terlalu baiknya kondisi Kesehatan Sigit membuat ia hanya jadi penjaga gawang. Sementara di gawang Naka, yang berjaga adalah Nina.
Kinar, Arini, Tina dan Wita adalah pemandu sorak yang asyik berteriak di pinggir lapangan menyemangati Naka. Seperti ini yang terjadi setiap harinya membuat suasana rumah tidak pernah sepi.
"Bruk!" Naka terjatuh, saat bola yang hendak di tendangnya malah tidak sengaja terinjak.
"Astaga tuan muda!" seru Kinar yang segera berlari menghampiri Naka.
"Tunggu kinar." seru Arini, menahan Kinar agar tidak mendekat.
Naka kecil melihat ke sekelilingnya, bibirnya sudah menipis seperti akan menangis.
"Come on jagoannya grandma sama grandpa, bangun anak kuat." seru Arini dari tempatnya. Ia berusaha menyemangati cucunya yang hampir menangis.
"Ayo naka, bangun! Tendang ke sini sayang." Sigit ikut menyemangati dengan membiarkan gawangnya kosong.
Naka yang hampir menangispun akhirnya bangun, membuat para pemandu sorak ikut berseru menyemangati.
"Den naka, jagoan! Den naka, jagoan!!" seru Tina yang diikuti Nina dan Wita, begitupun Marwan.
Kinar yang semula akan mendekat akhirnya mundur menjauh. Ia ikut bersorak menyemangati tuan mudanya yang mau bangun dari tempatnya.
"Grandpa, ready?" serunya mengambil ancang-ancang.
"Okey, ready." Sigit pura-pura bersiap dengan membungkukkan tubuhnya.
Satu tendangan dari kaki kecil Naka melewati Marwan yang pura-pura tidak bisa menahan tendanan Naka lalu,
"GOAL!!!" seru Arini saat Sigit gagal menangkap bola tendangan putranya.
"YEAYY!!!!" Naka melonjak-lonjak girang. Senyumnya yang manis mengembang sempurna.
Kean yang semula akan kembali ke taman untuk menghampiri putranya yang terjatuh akhirnya mengurungkan niatnya. Ia lebih suka melihat bagaimana Naka tertawa dengan riang saling berguling di taman dengan Sigit, kakeknya. Sungguh pemandangan yang indah bagi Kean.
Siang itu Kean memang sengaja pulang untuk sekedar makan siang, sebentar saja menemani Naka bermain sudah membuat badan Kean mandi keringat. Rencananya ia akan berganti baju sebelum kembali ke kantor namun langkahnya terhenti saat mendengar Naka terjatuh. Dan ia sangat beruntung karena bisa melihat moment manis yang ia abadikan lewat kamera ponselnya.
Kean memang tidak pernah mengalami moment seperti itu bersama Sigit, tapi Naka mengalaminya. Kehadiran Naka benar-benar merubah suasana rumah ini menjadi penuh kebahagiaan. Terlebih anak laki-lakinya yang sedang aktif-aktifnya memang lawan yang cocok untuk berolah raga. Lihat saja Marwan yang sampai kelelahan mengejar putranya kesana kemari menendang-nendang bola.
Kean hanya tersenyum melihat pemandangan di taman belakang dari kaca jendela. Ia ingin Naka lebih banyak mendapatkan moment langka ini di ingatannya.
Beralih menuju kamar, “Sayang,” panggil Kean saat masuk ke dalam kamarnya.
Terlihat Disa yang sedang berada di depan cermin untuk memoles wajahnya. Tumben sekali.
“Iya a. Aa mau mandi?” tawar Disa yang melihat Kean berkeringat.
“Iya, aku mandi bentar. Kamu mau kemana, kok udah rapi aja?” memperhatikan Disa yang sudah berpakaian rapi dan formal. Wangi parfumnya juga membuat betah.
“Aku mau ke tempat bu mareta, ada yang harus aku obrolin soal fashion show minggu ini terus ke butik ngerjain beberapa baju yang belum selesai.” Membantu suaminya melepaskan satu per satu kancing kemeja lalu melepas kemeja yang sudah basah dengan keringat.
“Mau aku antar?” tawar Kean yang mengekori istrinya menuju kamar mandi untuk menyiapkan handuk.
“Nggak usah a, aku sama fira. Sekalian dia mau ketemu produser katanya bareng temen-temen band-nya.” Mengatur suhu air hingga pas.
“Tunggu,” Kean menahan Disa agar tidak lantas keluar dari kamar mandi.
“Kenapa a?” Disa jadi bingung melihat Kean yang menatapnya begitu lekat.
“Kamu pake lipstick?”
Disa menoleh kaca di dalam kamar mandi, ternyata warna bibirnya memang cukup ketara.
“Oh iya, biar gak terlalu pucat. Ini di beliin fira dari inggris, katanya bagus buat bibir aku yang pecah-pecah.” Terang Disa.
“Aku gak mau kamu pake lipstick itu keluar rumah.” Mulailah ini sikap mr posesif.
“Oh ya udah, nanti aku tipisin warnanya.” Tidak ada gunanya menentang karena Kean pasti dia yang akan menang.
“Aku yang hapus.” Lirihnya.
“Hah, giman-“ belum selesia Disa meneruskan kalimatnya Kean sudah lebih dulu meraih tengkuk Disa yang ia buat mendekat dan mencium bibirnya dengan serakah. Ia melummatnya dengan sungguh-sungguh untuk menghapus lipstick di bibir Disa.
Jujur, warna bibir Disa yang cukup merah membuat wajahnya terlihat cantik berseri. Ia tidak mau memberi kesempatan pada laki-laki lain untuk mengagumi istrinya.
“Hahhh…” Disa terengah setelah Kean melepaskan pagutannya.
“Jail!” dipukulnya dada Kean dengan bogem mentahnya.
Kean hanya tersenyum, meraih tangan Disa untuk ia genggam. Ia pun masih berusaha mengatur nafasnya yang memburu.
“Jam berapa kamu akan bertemu mareta sayang? Apa masih ada waktu buat aku?” lirih Kean yang menempatkan dahinya di dahi Disa.
“Waktu buat aa aku sediain nanti malam ya, sekarang aku lagi terburu-buru.” Sudah pasti suaminya menginginkan lebih dari sekedar ciuman panas seperti ini.
“Aku gak akan pulang malem.”
“Hem, okey! Sekarang aa mandi dulu.” Disa membenamkan handuk di tangan suaminya.
“Baiklah.. Muach!” satu kecupan Kean hadiahkan di dahi Disa. Ia pun beranjak menuju shower setelah melepas satu per satu kain penutup tubuhnya di hadapan Disa, membuat Disa bisa melihat seluruh tubuh suaminya yang polos.
“Astaga, kebiasaan deh.” Disa segera berbalik dan keluar dari kamar mandi sebelum Kean berubah pikiran dan menarik tangannya. Sementara laki-laki itu hanya tertawa kecil mendengar protesan istrinya.
Menyiapkan baju untuk Kean sebelum ia pergi. “A, aku berangkat yaaa… Assalamu’alaikum..” seru Disa dari balik pintu kamar mandi.
“Iya hati-hati sayang.” Balas Kean sekali lalu mengucap balasan salam Disa dalam hatinya.
Kean mulai menikmati sesi mandinya yang selalu lama. Seperti mandi adalah bagian intim ia dengan dirinya sendiri.
Selesai berpakaian, Kean keluar dari kamarnya dan terlihat Arini dan Sigit yang sudah berada di ruang keluarga. Mereka tengah meneguk minuman dingin untuk menghilangkan dahaga. Wajah Sigit masih merah karena kelelahan.
“Masih di taman, lagi main tembak-tembakan air sama Marwan dan para pelayan. Kamu mau ke kantor lagi nak?” Arini menepuk tempat di sampingnya, meminta Kean agar duduk sebentar.
“Iya, ada kerjaan yang harus kean cek tapi gak lama kok.” Ikut duduk di samping Arini dan menikmati minuman dingin yang sudah di sajikan untuknya.
“Kamu liat, naka happy banget ya..” lirih Arini dengan pandangan yang tertuju ke jendela.
“Hem, dia seneng kalo banyak yang ngajak dia main.” Ikut memandangi putranya yang asyik menembakkan pistol air menyerang Marwan.
“Dia udah besar, kapan kamu sama disa mau ngasih dia adik? Kasian biar dia gak kesepian.” pertanyaan itu terdengar dari mulut Sigit.
“Iya mamah juga pengen denger lagi suara bayi di rumah ini. Kangen,” Arini meraih tangan putranya yang ia tepuk-tepuk lembut.
“Nanti lah mah pah, aku kasian sama disa.” Kean meneguk kembali minuman yang ada di tangannya.
“Dia baru aja pulang, biarin dia istirahat dulu. Dia pasti capek banget selama di paris, nyeimbangin belajar sama ngurus naka itu gak gampang. Aku pastiin dia belum pernah tidur lelap.” Terang Kean.
Ia jadi mengingat saat Disa di Paris. Sering sekali Clara memberitahunya kalau Disa begadang untuk mengerjakan tugas desain.
“Siang dia gak bisa ngerjain apa-apa, karena naka ngajak dia main sekarang dia lagi ngerjain tugas, tuh.” Clara mengerahkan ponselnya untuk merekam apa yang sedang Disa lakukan di ruang desain.
Membayangkan hal semacam itu dilakukan Disa hampir setiap hari rasanya ia tidak tega. Tapi memintanyaa berhenti juga ia tidak bisa.
“Untuk masalah anak aku serahin sama disa. Dia yang punya badan, dia yang lebih tau kapan tubuh dan mentalnya siap untuk kami punya anak lagi. Lagi pula, satu orang naka udah cukup membuat kalian kelelahan bukan?” ujar Kean yang menatap Sigit dan Arini bergantian. Masih terlihat kalau mereka lelah.
“Ya, andai aja papah lebih bisa menjaga kesehatan papah, mungkin papah masih bisa berlarian ngejar naka. Itulah kenapa punya anak itu mending di usia muda.”
“Iya mas, tapi punya anak itu bukan hanya masalah kesiapan fisik, tapi kesiapan mental dan emosional juga.”
Sigit dan Kean terangguk setuju.
“Kamu harus lebih giat bekerja, papah gak mau cucu dan mantu papah kekurangan satu apapun. Kalo sekiranya disa kerepotan sambil dia kerja, kamu harus menjamin dia gak akan kekurangan apapun kalau dia tinggal di rumah. Jangan sampe dia capek udah nyurusin kita, ngurus kerjaan juga. Padahal nyari duit itu tugas kamu.” Tegas Sigit.
“Iya pah, mah. Kean gak pernah nyuruh disa kerja kok. Itu atas permintaan dia sendiri. Aku hanya bisa mendukung dan mengingatkan dia kalau ternyata dia sudah melewati batasnya sendiri. Untuk sekarang, biarin disa melakukan apa yang dia sukai. Aku gak mau disa ngerasa terkekang nikah sama aku." terang Kean.
"Kalo gitu kean ke kantor ya dulu supaya pulangnya gak terlalu malam.” Meraih tangan Arini dan Sigit untuk ia salami.
“Hati-hati kamu nyetir, jangan kayak pembalap, inget di rumah ada keluarga yang nungguin.” Sigit memberi peringatan.
“Si papah ngomongnya udah kayak tulisan di spanduk polisi aja.” Ledek Arini.
“Ya itu kan emang penting. Soalnya dia suka gak kira-kira kalo bawa mobil.”
“Iyaa pah mah, Kean pasti hati-hati kok. Assalamu ‘alaikum…”
“Wa’alaikum salam.” Sahut Arini dan Sigit bersamaan.
Mereka sama-sama menghela nafas lega, suasana rumah yang hangat dan tentram akhirnya bisa mereka rasakan.
*****
Disa masih dengan kesibukannya yang menggunung. Ia harus menyelesaikan 4 gaun yang baru jadi setengahnya. Ia pun harus berkonsentrasi membagi fokus antara bekerja dan bicara dengan Clara lewat sambungan telepon.
“Lo uda dapet modelnya?” tanya Clara dari sebrang sana. Wanita itu sedang berada di salon untuk mempercantik kuku tangan dan kakinya.
“Belum, baru ada fira doang.” Sahut Disa seraya menatap sang adik yang asyik mencoba beberapa gaun yang di buatnya.
“Lo udah coba ngehubungi agensi?”
“Udah, tapi mereka udah lebih dulu di kontrak sama desainer lain. Kayaknya aku telat deh.”
Masalah Disa bertambah. Persiapan untuk baju saja belum selesai dan kali ini ia harus memikirkan tidak adanya model yang bisa memperagakan bajunya nanti.
“Ya udah gue coba nanya ke yayasan, siapa tau ada yang luang. Oh iya, kenapa gak lo coba hubungin sepupunya reza, gue yakin dia pasti mau.”
“Maksud kamu naomi?” Disa jadi teringat pada gadis berkulit coklat sepupu Reza.
“Iya, dia kan suka banget sama baju bikinan lo sebelumnya. Gue yakin tuh anak bakalan mau. Oh iya, marisa juga mau pake baju lo.” Tiba-tiba Clara ingat pada sahabatnya sesama model.
“Hah beneran claire? Kamu punya kontak managernya?”
“Gak usah ke managernya, nanti gue kontak dia langsung.”
“Tapi Claire, bentar deh, aku kan harus tahu berapa biaya buat pake mba marisa. Mending aku minta kak mila kontak managernya dulu kali ya?” langsung memberi isyarat pada Mila untuk mendekat.
“Ah elah, tuh anak kan emang pengen pake baju bikinan lo. Lo bikinin aja baju yang khusus buat dia, nanti gue yang ngomong. Sekalian gue confirm ke yayasan buat model yang lainnya.”
“Oh ya udah, nanti tolong kabari ya, supaya aku bisa nyari model lain kalo gak ada dari yayasan.”
“Iya nanti gue kabarin. Udah lo jangan stress mikirin model, lo fokus aja selesei baju lo, nggak mungkin lah gak ada model yang gak mau pake baju lo. Lo tunggu aja.”
Disa menghela nafas lega, “Iya Claire, makasih.” Sungguh ia sangat beruntung bisa kenal dengan seorang Clara.
Tidak berselang lama panggilanpun terputus.
“Gimana, kita jadi hubungin agensi yang ini?” Mila menyodorkan kartu nama yang diberikan Disa.
“Aku ngehubungi naomi dulu kak, sambil kita tunggu kabar dari Claire.”
“Hem, okey.”
Setelah bertelepon ternyata konsentrasi Disa bubar jalan. Ia perlu waktu sejenak untuk mengumpulkan kembali idenya.
Akhirnya ia hanya terduduk di kursi sambil memperhatikan baju-baju yang masih terpasang di manekin. Otaknya berputar memikirkan biaya untuk membayar para model, sementara uangnya sudah hampir habis dipakai untuk membeli kain dan keperluan desainnya.
“Sabar dan tenang sa, semua akan baik-baik aja.” Gumam Disa menyemangati dirinya sendiri.
Ia harus berpikir jernih agar bisa memikirkan jalan keluar untuk masalahnya. Saat ini ia hanya ingin memperhatikan Shafira yang asyik mencoba baju-baju buatannya. Melihat Shafira yang begitu senang dengan baju buatannya bisa mengurangi sedikit stresnya. Paling tidak, ada yang tersenyum memakai baju yang telah ia buat.
*****