Marry The Heir

Marry The Heir
Siluete membawa emosi



POV Kean:


“Tet tet tet!!!!” suara klakson masih terus aku bunyikan saat antrian panjang kendaraan menjeda laju mobilku pulang menuju town house. Rasanya kesal saat buru-buru ingin sampai rumah malah harus menunggu belasan menit hanya untuk berbelok saja.


Kebiasaan, daerah ini selalu macet di jam seperti ini. Entah apa alasannya yang jelas hal ini membuat daerah town house cukup di kenal karena kemacetannya dan membuat town house ini tidak terlalu diminati oleh calon pembeli ataupun penyewa. Padahal mendiang kakekku sudah membuat town house ini sedemikian rupa agar terkesan homy dan ramah lingkungan. Tapi banyaknya kendaraan yang melewati jalur strategis ini membuat area ini selalu macet, menyebabkan harga jual tinggi cukup sulit untuk di tawarkan.


Ku lihat seorang anggota polisi mengatur lalu lintas dengan tangan yang melambai-lambai serta peluit yang tidak berhenti ia tiupi. Suaranya yang melengking membuat kepalaku pusing saja. Arrgghh!! Semakin kesal saja.


Kemacetan ynag tidak bisa diurai dengan cepat, membuatku kembali memikirkan rencanaku mengajak Disa ke Bandung. Jujur, bukan tanpa alasan saat tadi tiba-tiba aku mengajak Disa pulang ke Bandung besok. Aku hanya merasa kalau ada yang harus aku selesaikan secepatnya sebelum lebih banyak hal yang mengganggu.


Beberapa waktu lalu, saat aku keluar dari toilet, tanpa sengaja aku melewati dua kamar yang saling berhadapan di rumah tante Mery. Satu kamar dengan pintu kayu dan tulisan huruf polos di permukaannya, aku yakin milik Disa dan satu lagi, aku penasaran.


Ku lihat pintunya sedikit terbuka dan membuatku iseng untuk melihatnya. Ini salah satu alasan mengapa saat bertamu harus tetap memakai etika dan aku malah melanggarnya.


Ku buka pintu yang membuatku penasaran ini. Lampunya menyala redup dengan sebuah lampu tidur yang belum di matikan, atau mungkin sengaja tidak di matikan.


Lampu tidur yang terbuat dari rajutan benang dan di bentuk menjadi bulat seperti bola itu, aku yakin adalah karya Disa karena di kakinya, ada inisial Disa yang tertulis.


Aku memperhatikan sekitar ruangan kamar. Aku lihat di dinding di penuhi gambar dan pandanganku langsung terhenti saat ku lihat salah satu gambar yang ada di belakang pintu kamar.


Sebuah siluete berwarna hitam putih yang aku perhatikan tidak terlalu aku mengerti. Aku penasaran, lantas aku benar-benar mematikan cahaya lampu dan saat keadaan gelap, gambar itu semakin terlihat jelas. Rupanya gambar itu di buat versi negative film agar tidak sembarangan orang tahu.


Aku mulai mengerti arti dari siluete hitam putih itu. Hatiku langsung gemetar saat aku sadari kalau siluete itu adalah Disa. Ya benar-benar Disa. Gambar Disa seperti saat sedang berada di sebuah taman dengan baju hangat yang membungkus tubuhnya. Bukan, mungkin ini lebih cocok sebagai daerah pegunungan atau sejenisnya. Tunggu, apa disa pernah camping?


Di tangan Disa di gambarkan sedang memegang sekuntum bunga liar yang ia cium seraya memejamkan mata. Bibirnya yang tersenyum cantik membuat hatiku berdesir. Rasanya aku bisa menduga siapa pemilik kamar ini. Dan rasanya keyakinanku benar kalau pemilik kamar ini adalah pengagum rahasia Disa.


Sial, kenapa aku jadi sangat kesal? Ingin rasanya aku merusak gambar itu dengan cat berwarna merah dan ku tulisi “Jangan di lihat!” Aarrgghh bikin geram saja.


Semakin kesal karena ku lihat juga sebuah foto yang bertengger di atas meja samping tempat tidur dan sepertinya baru di ambil.


Itu pun foto Disa yang terlihat sangat cantik sedang melukis dinding. Sudah ku katakan kalau Disa itu terlihat lebih cantik saat melakukan apa yang ia sukai bukan? Dan rupanya tidak hanya aku yang menyadarinya.


Damar, sahabat rasa pacar yang semakin terasa menggangguku.


Tidak bisa aku bayangkan beberapa minggu ini Disa akan kembali tinggal serumah dengan laki-laki gondrong itu.


Sumpah aku tidak rela.


Aku tidak bisa membiarkan mereka bertemu setiap hari. Saling melempar senyum, saling memperhatikan. Disa juga mungkin akan membuatkannya makanan dan sering berbicara dengan laki-laki ini. Bagaimana kalau laki-laki ini masuk ke kamar Disa dan melakukan hal yang tidak-tidak?


Astaga! Astaga! Aku tidak bisa membiarkannya.


“Priitt!!! Jalan pak!” seru polisi yang berteriak di luar sana.


Aku baru sadar kalau aku sudah terpaut jarak beberapa meter dari kendaraan di hadapanku. Mungkin orang-orang sepertiku yang sering melamun di jalanan menjadi salah satu penyumbang kemacetan.


Tidak, aku harus segera sampai rumah dan mandi untuk menyegarkan pikiranku.


Asal kalian tahu, itulah yang membuatku mengajak Disa pulang ke Bandung besok. Mungkin aku harus mempercepat semuanya. Aku tidak ingin memberi kesempatan para impostor masuk dan menyusup ke hati Disa. Bukan tidak percaya pada Disa tapi aku tidak rela ada laki-laki lain yang berusaha mendapatkan Disa.


Tiba di rumah, ku lihat ada sebuah mobil terparkir di halaman. Aku mengenalinya sebagai mobil Reza. Segera aku turun dan dari pintu sudah terdengar suara mamah dan tante Nita yang sedang berbincang seru.


“Kean, udah pulang nak?” tante Nita yang menyapaku lebih dulu saat pintu terbuka.


“Sore tante.” Sapaku basa-basi.


“Sore. Disanya mana?” Tante Nita langsung celingukan mencari Disa di belakangku.


“Oh, pulang ke rumah tantenya. Barusan kean antar.” Tetep ya, tante Nita masih selalu menanyakan Disa. Apa dia masih berniat untuk menjodohkan Disa dengan reza? Jangan harap.


“Tante kira disa ikut pulang ke sini..” wajahnya terlihat menyesalkan.


Aku pun mengharapkan hal yang sama tan, sayangnya saat ini hanya bisa mengharapkan saja. Tuh kan jadi ingat lagi pikiranku yang tadi aku coba redam. Damar, lihat saja kalau dia berani mendekat pada Disa, aku tidak akan tinggal diam.


“Bro!” Reza yang sedang asyik main PS menyapaku.


“Yo! Gue ke atas dulu, perlu mandi.” Langsung aku katakan keinginanku. Aku memang mau mandi dan mengguyur tubuhku agar terasa lebih segar.


“Mah, “panggilku pada mamah.


“Ya sayang?” aku berharap itu Disa yang mengatakannya.


“Kita ke bandung besok.” Tegasku. Tante Nita dan Reza langsung menoleh padaku dengan pikiran yang sudah bisa aku tebak. Saat aku menyebut kata Bandung, tentu mereka mengerti maksudku.


“Oh iya nak, besok pagi kita ke bandung.” Mamah langsung mengamini.


Aku tidak memperdulikan pendapat yang lain, mereka hanya perlu tahu kalau aku memang sedang mempercepat sesuatu dan jangan ada yang menghambatku.


*****


“Bro!” suara Reza terdengar jelas saat laki-laki itu menghampiri Kean yang sedang terduduk sendirian di balkon.


Setelah berkirim pesan tentang rencana ke Bandung besok, Kean jadi melamun. Banyak hal yang ia pikirkan namun fokusnya tetap satu yaitu Disa. Kedatangan Reza yang kemudian duduk di sampingnya cukup membuat ia terkejut.


“Gue kira disa ikut, gue mau ngucapin selamat langsung sama dia.” Ujar Reza dengan tulus.


Kean hanya melirik. Menurunkan tangannya dari mengusap-usap pelipisnya. Kalimat Reza terlalu basa-basi menurutnya.


“Lo kan bisa nemuin dia langsung kayak yang udah-udah.” Timpal Kean sinis. Ia masih mengingat saat secara tidak sengaja melihat Reza datang ke rumah Mery untuk menemui Disa. Entah apa maksudnya yang jelas sahabatnya cukup lama berada di dalam rumah.


“Lo masih nganggap gue saingan?” Reza mulai tidak nyaman. Pikiran Kean masih selalu tentang persaingan mereka walau sebenarnya Reza sudah mengikhlaskannya.


“Karena lo masih usaha.” Sahutnya singkat.


Reza tersenyum tipis, ia bisa melihat dengan jelas kewaspadaan dan kecemburuan Kean padanya.


“Tapi gue gak pernah berhasil. Disa malah udah nolak gue sebelum gue berusaha lebih baik."


"Gue gak ngerti, seberapa kuat sih perasaan kalian berdua? Kenapa lo masih ragu?” rasa penasaran itu Reza utarakan apa adanya.


Baru kali ini Kean tersenyum, agak sinis seperti menertawakan kegagalan Reza atau keraguan yang ada dipikirannya.


“Lo gak bakalan ngerti karena lo gak pernah serius sama perempuan.” Sahut Kean santai.


Ia menoleh sahabatnya yang ternyata hanya cengengesan.


“Lo mau ngedatengin keluarga disa?”


Kean terangguk. Melihat keadaan Disa saat ini, berada di rumah Mery sepertinya tidak bisa ia biarkan terlalu lama. Kean sadar, ia tidak bisa memaksa Disa tanpa alasan yang jelas namun ia bisa melakukan hal yang pasti di harapkan setiap Wanita. Datang langsung pada keluarganya dan memintanya untuk segera menikah.


Ia berharap, harapan Imas kalau Disa akan mendapat laki-laki seperti dirinya benar-benar terkabul.


“Gue bisa luangin waktu buat nganter lo, itu pun kalo lo gak keberatan. Gue harap setelah itu lo bisa merubah pikiran lo tentang gue, kita bukan lagi saingan.” Tegas Reza.


Kean yang semula termangu, kali ini tersenyum tipis. Harus ia akui kalau ia masih selalu merasa resah saat mengingat Reza dan Disa. Reza yang seperti cinta mati pada Disa, tidak pernah mengalami hal yang sama pada wanita lain. Inilah yang membuat Kean takut. Takut jika perhatian Reza yang masih membuat Disa pun bisa luluh dan memiliki perasaan yang sama.


“Tumben lo move on cepet dari cewek?”


Perlu diuji kebenarannya kalau Reza benar-benar sudah melepaskan Disa.


“Susah sebenernya tapi gue sadar, dengan gue memaksa, itu cuma bikin gue sakit dan disa yang merasa bersalah.”


“Gue pengen liat dia bahagia dan kalo pilihannya itu lo, gue cuma berharap lo gak bakal nyakitin dia.” Tandas Reza.


“Nyakitin dia?” penggal Kean dengan senyum tipis, Reza selalu pandai membuat lelucon.


Tapi tunggu, menyakiti Disa, apa ia benar-benar tidak akan pernah melakukannya? Kenapa jadi ragu? Apa ia bisa membahagiakan Disa seperti harapannya dan harapan orang-orang di sekitarnya? Bisakah Disa menerima segala kekurangannya saat mereka kelak menikah dan tidak pernah meninggalkannya?


Kenapa jadi ada rasa takut?


*****