
POV Disa.
Kedatangan Kak Reza dan Clara Davina siang ini menyisakan hal yang mengganjal dalam pikiranku. Aku masih di dapur, membereskan piring-piring bekas kami makan siang bersama. Sesaat pandanganku tertuju pada sepiring nasi yang masih setengah penuh. Benar adanya kalau mba Clara tidak menghabiskan makannya karena keenganannya untuk duduk bersamaku di tempat yang sama. Wajah cantiknya berubah kesal, seperti ada kilatan petir yang menyambar saat ia menatapku dengan sinis.
Aku tersenyum kelu saat aku melihat pantulan tubuhku dari kaca kulkas. Rambut di kepang lalu di sanggul, wajah pucat dan berkeringat serta pakaian ini, stelan warna hitam lengkap dengan apron. Sementara dia, memakai dress rancangan seorang desainer terkenal dari kota paris. Sampai sini aku sadar, perbedaan kami sangat jauh hingga rasanya tidak berhak untuk menghirup oksigen yang sama apalagi makan di meja yang sama. Mungkin itu juga yang di pikirkan Clara.
Aku hanya bisa menghela nafasku dalam. Aku telah membuat kesalahan dengan tidak tahu malu duduk sejajar dengannya dan menikmati makanan yang sama.
Kata orang, banyak artis atau tokoh yang mengalami star sindrom, mereka merasa berjaya saat berada di puncak popularritas. Apa mungkin Clara juga seperti itu?
Hah, aku menggelengkan kepalaku untuk mengusir pikiran buruk itu dari isi kepalaku. Bukan kapasitasku untuk menilai sikap seseorang. Terlebih lagi, sikapnya siang ini sangat beralasan. Harus aku akui, Aku masih mengidolakannya. Alasannya, karena aku melihat Clara sosok yang berbeda dari orang terkenal lainnya. Saat itu, ada kesan pertama yang melekat saat pertama kali mengenal sosok bintang yang tengah bersinar itu.
Dulu, saat aku pertama masuk kuliah jurusan desain, nama Clara sedang sangat bersinar. Aku tahu dia dari Rianti yang juga sama-sama mengidolakan Clara. Sekali waktu aku menghadiri fashion show dimana salah satu model yang paling bersinar adalah Clara. Sosoknya yang cantik, putih, tinggi dan langsing seolah menjadi tolak ukur kecantikan seorang wanita kala itu. Dan aku sebagai perempuanpun mengakuinya kalau ia memang sangat cantik.
Tapi, bukan hanya itu yang membuatku mengidolakannya. Bukan hanya cantik, bertubuh ideal, penampilannya elegan. Saat fashion show itu, aku melihat ia melelang baju-baju yang pernah ia pakai dan uangnya ia gunakan untuk kegiatan amal. Membagikan uangnya kepada orang-orang yang kurang mampu dan mendapat musibah, menyantuni anak yatim, menjadi donatur di beberapa panti dan semua kebaikan lainnya yang dilakukan oleh peri baik hati. Semuanya ia lakukan dengan ringan dan terlihat tulus. Untuk kebaikan hatinya itulah aku mulai mengidolakan model itu. Aku mulai membeli majalah yang menampilkan wajahnya, aku membaca setiap artikel yang mengulas tentangnya dan tentu saja, beberapa foto cantiknya menempel di dinding kamarku.
Damar bilang, "Lo butuh hak 17 senti untuk bisa berdiri sejajar sama Clara Davina. Itu pun dia harus sedikit membungkuk."
Aku masih mengingat kalimat ledekan dari Damar yang sukses membuat bibirku mengerucut. Dia pikir, aku mengoleksi foto Clara karena ingin menjadi seperti dia, padahal bukan. Aku hanya berharap suatu hari ada model terkenal yang mau memakai baju rancanganku, maka untuk itulah aku menemukan alasan baru untuk mencintai pelajaranku.
Tidak lama setelah kegiatan amal itu, sosok Clara seperti menghilang. Beberapa majalah dan surat kabar memberitakan kalau wanita cantik ini sedang melebarkan sayapnya keluar negeri, tepatnya negeri paman sam. Kabarnya, media internasional sering meliputnya dan semakin bertambahlah kekagumanku pada wanita cantik itu.
Baru beberapa waktu lalu aku melihat sebuah majalah yang menampilkan berita tentang Clara menjadi headline-nya. Wanita berhati baik itu sudah kembali dan membawa kata-kata yang membuatku merasa seperti mendapat suntikan semangat.
“Tidak ada mimpi yang sia-sia selagi kita mau berusaha mewujudkannya.” Ya kalimat itu yang masih selalu terngiang di pikiranku dan masuk kedalam lubuk hatiku yang terdalam.
Jika sekarang kondisinya seperti ini, mungkin salahku yang tidak cukup tahu diri dengan posisiku sendiri.
Hah, aku kesal pada diriku sendiri. Harusnya pertemuan pertama kami memberi kesan yang baik tapi dia pulang dengan wajah kesal.
Di sela makan siang kami tadi, kak Reza berusaha memperbaiki keadaan. Dia banyak membahas tentangku dan juga tentang Clara. Tapi sepertinya cerita tentangku tidak cukup menarik untuk seorang Clara Davina.
“Disa ini sempat kuliah desain loh. Dan dia yang ngerancang baju yang tempo hari di pake sama naomi. Lo inget kan?” tanya kak Reza pada Clara yang sedang memainkan makanannya. Aku tahu mood-nya sudah terjun bebas.
Dia mengangguk dengan senyum semu. “Ya gue liat. Cuma gue lebih suka karya yang berkualitas, bukan karya murahan.” Timpalnya dengan ringan.
“Hek!” seperti jantungku di tendang bebas dan terlepas dari tempatnya saat mendengar kalimat Clara. Sangat tajam menurutku.
Antara sedih dan kecewa tapi aku mencoba berfikir kalau ini masukan membangun untukku. Seorang super model yang mengomentari karyaku, tentu bukan tanpa alasan. Mungkin karyaku yang kurang layak.
“Em, kedepannya saya akan memperbaiki desain saya supaya lebih layak lagi mba.” Ujarku dengan suara sedikit parau. Rasa percaya diriku turun drastis dan membuatku langsung tidak yakin pada perlombaan yang aku ikuti nanti.
“Kedepannya? Memangnya ada yang sudah berniat memakai desain kamu?” kali ini Clara menatapku dengan sinis. Bibirnya memang tersenyum tapi bukan senyuman yang aku harapkan.
“Em, saya..” aku hanya bisa tertunduk lesu. Tenagaku bahkan habis hanya sekedar untuk menatap soorot matanya yang cantk dan berkilauan.
“Akan ada saatnya sa, akan ada. Claire cuma lagi nyemangatin kamu aja.” Kak Reza yang bersuara. Ia menyentuh bahuku mungkin maksudnya untuk menyemangatiku.
Aku hanya tersenyum samar. Ku dengar Clara berdecak, entah apa yang kemudian ia ucapkan dalam hatiinya. Tuan muda yang ada di hadapanku hanya menatapku sekilas dan kembali memalingkan wajahnya saat aku mencoba tersenyum.
“Makasih mba clara, masukan mba clara membuat saya lebih bersemangat untuk melakukan hal yang lebih baik lagi.” Timpalku dengan penuh semangat.
Clara hanya tersenyum, entah apa maksudnya tapi aku tahu, kalimatku hanya di anggap angin lalu .
“Disa!”
“Ya Saya!” aku langsung terhenyak saat mendengar suara berat dan dalam itu. Secepat itu pula lamunanku buyar.
Entah sejak kapan tuan muda berdiri di sana dan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku mengerti.
Aku menaruh mangkuk yang sedari tadi aku usap dengan spons hingga busanya sangat banyak. “Ada yang bisa saya bantu tuan?” tanyaku seraya tersenyum. Aku masih berusaha agar tidak terlihat sendu. Bagaimana pun, tuan mudaku tidak berkewajiban melihat wajah kusutku.
“Bawakan kudapan ke ruang kerja saya.” titahnya ringan. Suaranya tidak terlalu keras seperti saat tadi Ia memanggilku.
“Ba-baik tuan. Segera saya siapkan.” Sahutku dengan yakin.
Tuan muda tidak menimpali. Ia pergi begitu saja menaiki anak tangga lalu menghilang di ujung tangga sana.
Aku meninggalkan sebentar pekerjaanku di dalam wastafel. Menyiapkan kudapan untuk tuan muda sepertinya bisa mengalihkan sedikit pikiranku.
Ini sudah cukup sore, sebentar lagi maghrib. Jika saat ini tuan muda meminta kudapan, mungkin ia akan makan malam terlambaat. Huft, semoga aku tidak harus menemaninya hingga selesai makan. Perasaanku sedang tidak nyaman, aku ingin segera pulang daan mengguyur tubuhku dengan air dingin agar pikiranku kembali jernih.
Membuat bitterballen adalah kudapan pilihanku untuk tuan muda. Selain membuatnya tidak terlalu lama, makanan asin ini disukai tuan muda. Aku mulai sibuk dengan pekerjaanku. Mengupas kentang, mengukusnya, mencampurnya dengan bahan-bahan lain dan terakhir menumis daging. Aku isikan daging yang cukup banyak ke dalam adonan kentang. Menggulingkannya di terigu basah lalu tepung roti. Terakhir baru aku goreng.
Done! Semuanya selesai dan tidak terlalu lama. Aku segera menuju ruang kerja tuan muda. Saat akan mengetuk pintu, sayup-sayup aku dengar suara tuan muda yang sedang berbicara di telpon. Aku berdiri sebentar di tempatku, mengurungkan niatku untuk masuk dan menunggu tuan muda selesai berbicara.
“I know, I miss you too. But it’s just for a while. I'll pick you up soon. Hem, I love you my lady. (Aku tahu, aku juga merindukanmu. Tapi ini hanya untuk sementara. Aku akan segera menjemputmu. Hem, aku mencintaimu wanitaku.)”
Walau tidak mencoba menguping, suara tuan muda terdengar nyaring. Aku bisa merasakan rasa rindu yang membuncah di dada tuan muda. Entah dengan siapa ia bertelpon tapi aku yakin, dia wanita yang sangat di cintai tuan muda.
Hemh, aku tidak lagi mendengar suara tuan muda. Mungkin panggilan suaranya sudah selesai. Aku mencoba menghela nafasku dalam lalu mengetuk pintu perlahan, “Tuan, saya disa.” Ujarku.
“Masuklah.” Dia menyahuti.
Aku menyeting dulu bibirku agar tersenyum saat bertemu tuan muda. Setelah siap, ku dorong daun pintu agar terbuka lebar.
“Permisi tuan.” Aku melangkah masuk setelah meminta izin. Ku lihat tuan muda masih berdiri di depan jendela dan memainkan benda persegi di tangannya. Wajahnya terlihat serius dengan dahi berkerut.
Aku mencoba mengabaikan apa yang aku lihat, ku taruh saja semua kudapan di meja kerjanya lengkap dengan segelas minuman. “Silakan tuan.” Lanjutku.
“Hem.” Hanya itu jawabannya tanpa menolehku sedikit pun.
Setelah mengangguk pamit, aku segera keluar dari ruangan kerjanya.
“Disa.”
“Ya saya.” aku menghentikan langkahku lantas kembali berbalik dengan senyum yang otomatis melengkung di garis bibirku.
Ia menatapku sejenak dengan tatapan yang lagi tidak aku mengerti. Entah mengapa ia jadi lebih sering menatapku tanpa aku mengerti maksudnya dan membuatku harus berfikir keras mencari tahu maksud tatapannya. Tuan, tidakkah anda tahu kalau itu menambah beban saya?
“Setelah memasak makan malam, pulanglah. Istirahatlah.” Ujarnya. Nada suaranya cukup asing terdengar di telingaku. Seperti ada kecemasan di dalamnya.
“Saya baik-baik saja tuan.” Rasanya aku ingin mengatakan kalimat itu.
“Baik tuan.” Namun akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku.
Okey Disa, lanjutkan pekerjaanmu dan segera pulang. Aku menyemangati diriku sendiri.
Langsung ku ambil bahan makanan di kulkas. Memotongnya, mencucinya lalu memasaknya dalam minyak panas. Semua aku kerjakan dengan cepat. Ternyata saat hati menyimpan kekesalan, pekerjaan jadi lebih cepat selesai tapi belum tentu kualitasnya baik. Aku membaui kembali masakanku yang sudah matang. Aku sedikit lupa apa aku sudah menambahkan bumbu yang cukup atau belum.
Arrgghhh!!! Aku kesal pada diriku sendiri. Satu menu akhirnya aku makan sendiri dan ternyata benar, rasanya hambar. Sudahlah, aku memasak yang lain saja. Yang lebih mudah dan enak. Ayam tepung misalnya.
Kali ini aku benar-benar memfokuskan pikiranku hanya untuk menggoreng ayam. Memastikan tidak ada bumbu yang terlewat dan dalam 15 menit semuanya matang.
Fiuh, akhirnya. Aku menaruh semua menu makanan di meja makan. Tugas terakhirku hari ini selesai juga.
Sebelum pulang aku memilih untuk sholat magrib dulu karena waktunya hampir habis. Ya, aku harus menenangkan diriku sendiri. Begini caraku untuk healing emosi yang terkadang membutakan pikiran.
****
Memilih pulang dengan menggunakan sepeda alih-alih menggunakan taksi, itu yang Disa lakukan saat ini. Malam belum terlalu gelap karena baru sekitar jam 7 malam. Kendaraan pun sudah mulai berkurang meski tidak terlalu sepi. Masih serasa di temani, itu yang Disa rasakan saat ini.
Mengayuh sepedanya dengan santai seraya menikmati hembusan angin malam yang membelai wajahnya ternyata memberi kesegaran tersendiri. Udara segar bisa ia hirup sepuasnya untuk mengganti udara dalam paru-parunya. Disa melambatkan kayuhannya, ia masih ingin menikmati waktunya dan menenangkan pikirannya lebih lama.
“Hal tidak menyenangkan hari ini, senyumin aja. Setelah ini, semua akan baik-baik saja disa.” Disa bergumam mengingatkan dirinya sendiri.
Sepanjang perjalanan menuju rumah utama, banyak yang bisa ia lihat. Lampu kecil di stang kanannya ia nyalakan agar memberi tanda pada kendaraan lain.
Satu hembusan dalam membawa Disa pada akhir sebuah senyum. Jika mengingat hari esok, rasanya semangatnya kembali menggebu. Ada hal yang akan ia lakukan setelah usahanya beberapa hari ini ia lakukan secara sembunyi-sembunyi.
Hah, seperti anak kecil yang berharap hari esok segera menjelang.
“Semangat disa, semangat!!!” serunya yang tanpa sadar mempercepat kayuhan sepedanya.
Di tempat yang berbeda, Kean masih termenung sendirian di ruang kerjanya seraya memandangi layar ponselnya. Ia membuka satu per satu foto dalam galeri ponselnya. Sudah sangat lama foto ia dan kedua orang tuanya tersimpan di memory telponnya. Terakhir ia berfoto dengan sang ayah adalah saat ia SD dulu dan dengan sang ibu, tentu tidak berbeda jauh.
Sesekali ia tersenyum saat ia melihat dirinya yang masih kecil dan tertawa dengan riang mempertontonkan barisan giginya yang ompong. Namun sering kali ia menekan sudut matanya saat tanpa sadar air matanya menetes ketika ia menyadari semua hanya tinggal kenangan.
Kini, ia tidak bisa lagi tertawa selebar itu. Entah kapan semuanya akan membaik. Entah kapan ia akan kembali merasa memiliki orang tua. Sampai detik ini, semuanya kosong. Semuanya sepi dan ia hanya sendirian.
Akhirnya Kean terisak dalam tangisnya yang dalam. Dadanya yang sesak, seolah meluruhkan banyak batu yang mengganjal bersamaan butiran air matanya yang turun. Sejak pulang dari amerika, ini kesedihannya yang paling mendalam. Merindukan kenangan bersama orang-orang yang mungkin hanya ada di masa lalu. Ya, masa lalu yang terlalu indah dan terkadang membuatnya ingin tetap berada di masa itu.
******
Siapa yang anda rindukan tuan muda?