
Suasana masih terasa canggung saat Reza dan Nita datang ke rumah. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu sejak kejadian di galeri itu. Tidak bisa di pungkiri, Reza masih menyimpan kekecewaan atas penolakan Disa terhadapnya.
Di taman belakang Reza masih sibuk bertelpon seraya menekan-nekan mouse pad di laptop. Ada pekerjaan yang menunggunya dan harus dengan segera ia kirimkan ke dekan.
Disa memperhatikan dari kejauhan. Di antara fokusnya menyimak obrolan Nita dan Arini, ia masih memperhatikan gelagat Reza yang mencoba menghindar darinya. Ia tidak tersenyum ramah seperti biasanya. Mungkin rasa kecewanya masih terlalu dalam.
“Saya gak tau kalo kamu ikut lomba itu sa. Kalau tau, mungkin saya akan datang untuk memberi dukungan.”
Hanya Nita yang masih bersikap sama. Meski ia tahu Disa dan Reza tidak memenuhi harapannya dengan menjalin kedekatan yang lebih serius, wanita cantik ini masih bersikap sama pada Disa. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Hanya saja kali ini Nita tidak terlalu banyak membahas Reza di depan Disa. Tidak ada lagi ajang promosi putranya yang ia lakukan dengan menggebu-gebu pada Disa.
Harapannya mungkin pupus tapi kebaikannya tidak berubah sedikitpun.
“Tidak apa-apa bu, semoga ada kesempatan untuk ibu bisa hadir.” Nita salah satu yang mendukung kreativitas Disa, tentu saja merupakan suatu kebanggan jika suatu saat Nita datang dan memberinya dukungan.
“Aku juga sedih gak bisa dateng ta.” Kali ini Arini yang menunjukkan wajah muramnya. Ia menggenggam tangan Disa seperti sudah sangat terbiasa. “Aku gak mau bikin disa malu dengan kedatanganku.” Imbuhnya setengah berbisik.
Walau berusaha tersenyum namun di yakini perasaannya tidak baik-baik saja.
“Kamu masih minderan aja rin. Kamu harus percaya diri. Kamu itu tetep cantik. Mana ada orang takut liat kamu.” Hibur Nita dengan sepenuh hati.
“Benar. Nyonya tidak cocok untuk merasa rendah diri. Nyonya selalu cantik dan menyenangkan.” Ikut mengamini ucapan Nita.
“Kamu ini bisa aja ngomongnya.” Menepuk tangan Disa dengan gemas. “Dulu saya cantik banget loh sa. Iya kan ta?” Kembali Arini mengingat penampilannya yang dulu. Salah satu cara untuk membangkitkan rasa percaya dirinya.
Wajah yang cantik, kulit yang mulus dan terawat juga bentuk tubuhnya yang indah. Tidak berisi seperti sekarang. Terlalu banyak obat mengandung steroid yang ia konsumsi hingga membuat beberapa bagian tubuhnya menggembung walau tidak terlihat gemuk.
“Iya. Rini tuh banyak banget fans cowoknya. Mulai dari kakak kelas sampe adik kelas, banyak banget yang muja dia."
"Hampir tiap hari ada coklat atau bunga dan hadiah kecil lainnya di atas meja.”
“Tapi, dia tuh jual mahal banget, sampe akhirnya dia kena karma.” Ledek Nita saat mengingat masa-masa remajanya bersama Arini.
“Karma?” cukup membuat penasaran kata terakhir yang diucapkan Nita.
“Iya, saya dapet karma sa.” Aku Arini setengah berbisik pada Disa seperti tidak ingin ada orang lain yang mendengarnya.
“Saya menolak banyak laki-laki. Dari yang mirip actor eropa, hingga pria tampan india. Tapi saya malah mentok jatuh cinta sama papahnya kean. Hemh, cinta memang gak bisa milih.” Ucapan Arini seperti tanpa beban.
Sudah sangat lama perasaan itu ia rasakan bahkan hingga saat ini, perasaannya terhadap Sigit masih sama. Terlebih ada seseorang yang selalu membuat cintanya untuk sang suami menyala.
Ia beralih memandangi putranya yang sedang asyik bermain PS sambil menunggu Reza selesai bertelpon. Kehadiran Kean lah yang membuat Arini selalu merasa beruntung mencintai Sigit.
“Kamu pernah nyesel gak rin, nikah sama sigit?” tanpa sungkan Nita membahas masalah ini di depan Disa.
Sudah sangat lama ia ingin menanyakan hal ini pada sahabatnya, mengingat sikap Sigit yang dingin seperti es di kutub utara, bukan perkara mudah bertahan pada rasa sakit.
Hati Sigit sangat dingin. Tidak akan mencair kecuali tuhan memberikan matahari khusus di tempat yang dingin dan sepi itu.
“Em,, Perasaan sedih ada. Tapi aku gak pernah menyesal.” Aku Arini dengan yakin.
“Aku menghabiskan hidupku untuk orang yang aku cinta dan memiliki putra tampan yang begitu menyayangiku. Tidak ada yang aku sesali.”
“Aku hanya berharap, suatu saat istri kean tidak cemburu kalau suaminya lebih menyayangi ibunya.” Arini tersenyum di ujung kalimatnya.
Diantara banyaknya kesedihan dan perasaan terabaikan yang ia rasakan, keberadaan putranya seolah menjadi obat paling mujarab untuk menyembuhkan rasa sakitnya.
“Aku juga merasa beruntung punya reza. Ya walaupun anakku banyak tapi reza selalu meluangkan waktunya lebih banyak untuk memperhatikanku. Tidak sibuk dengan dunianya sendiri sampai lupa bertanya kabar ibunya.”
“Andai saja anakku yang lain memiliki perhatian setengahnya dari Reza, pasti hidupku terasa sempurna.”
Nita memandangi sang putra yang wajahnya terlihat kesal. Pasti masalah kampus lagi. Tidak jauh dari masalah mahasiswa yang minta transparansi nilai yang mereka rasa tidak layak mendapat nilai jelek dari Reza.
“Waktu cepet banget ya ta. Anak-anak kita udah dewasa aja. Kapan mereka punya pikiran buat ngasih kita cucu.” Pikiran Arini menerawang jauh membayangkan jika suatu saat putranya menikah.
“Tapi kalau kean nikah, aku pasti ikut dia. Aku mau selalu ada di samping anakku.” Arini dengan tekadnya yang bulat. Walau ia mengharapkan putranya menikah tapi rasanya tidak siap kalau harus kehilangan perhatian putranya.
“Kamu ini, nikah aja belum pikirannya udah aneh-aneh.” Timpal Nita.
Arini hanya tersenyum tanpa mengalihkan penglihatannya dari Kean.
Disa yang berada di tengah-tengah, kadang merasa iri dengan perhatian Arini dan Nita. Ia hanya seorang diri tanpa ada ibu yang mencemaskannya. Andai saja ia memiliki kesempatan untuk merasakan perhatian seorang ibu, pasti ia akan sangat bahagia.
Tiba-tiba saja Disa jadi mellow sendiri. Ia teringat pada neneknya di kampung halaman. Bagaimana kabarnya, sudah sangat lama ia tidak merasakan pelukan dan usapan hangat dari tangannya yang lembut.
Hah, rindu.
******
“Thanks!” Reza menyodorkan laptop Kean yang sudah selesai ia pinjam. Duduk di samping Kean dengan helaan nafas berat yang menyimpan banyak kegundahan.
“Serius banget lo. Ada masalah di kampus?” masih dengan stick PS nya, Kean asyik membobol gawang lawannya.
“Bukan masalah sih, cuma ada hal yang gak nyenengin aja.” Menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dengan mata menerawang ke langit-langit. Otakknya terasa lelah untuk berfikir.
“Mahasiswa?”
“Dan mantan suami dosen.” Sahut Reza.
“Hah? Gimana?” Kean menaruh stick PS nya di pangkuan. Perhatiannya beralih pada sahabatnya yang terlihat pusing.
“Lo inget ellen?” Reza menegakkan tubuhnya. Sepertinya ia memang perlu teman untuk bicara.
“Arkeolog itu?”
Reza mengangguk.
“Kenapa?” tumben sekali sahabatnya berurusan dengan laki-laki. Biasanya hanya para gadis.
“Suaminya dateng ke kampus nemuin dekan dan lapor kalo gue ikut campur urusan rumah tangganya."
"Nuduh gue milih pengacara buat gugat dia lah sampe gue di bilang pebinor. Gila gak tuh!” dengusnya kesal. Masih terngiang bagaimana suara dekan saat mengintrogasinya.
“Lo terlalu deket kali sama perempuan itu." simpulan pertama Kean yang membuat Reza harus kembali berfikir.
"Waktu lo, lo habisin sama dia. Gak salah lah kalo orang-orang mikir yang nggak-nggak. Inget, ini bukan amerika. Lo gak bisa sebebas itu deket sama perempuan.” tidak ada asap kalau tidak ada api, begitu pikir Kean.
“Ya gimana, ellen minta tolong gue. Masa gue cuekin. Gue cuma kasian sama dia, gak ada temen buat cerita."
"Dia sendirian bro di Jakarta sementara dia ada anak yang harus di jaga.”
“Terus lo ngerasa itu tanggung jawab lo?” tanya Kean yang membuat Reza bungkam.
“Kalo lo ngerasa gitu, jangan aneh orang-orang nyangka yang enggak-enggak.”
Mendengar ucapan acuh kean, Reza jadi termangu. Sahabatnya kembali bermain PS, sementara tiba-tiba saja ia seperti menyadari sesuatu.
“Apa itu juga alasan disa nolak gue?” pikiran itu yang kini muncul di benak Reza. Ia memandangi Disa yang sedang tertawa bersama dua Wanita di meja makan sana. Wajahnya terlihat ceria tidak seperti biasanya.
Kean ikut menghentikan permainannya. Ikut memandangi Disa dari sudut matanya. Hatinya jadi tidak karuan mendengar gumaman Reza.
“Apa itu juga alasan disa nolak gue?” lagi Reza mengulang pertanyaannya, fokus bertanya pada Kean.
Kean mengendikkan bahunya dengan senyuman samar yang ia tunjukkan. Ternyata sahabatnya masih memikiran penolakan Disa.
“Mungkin aja karena dia emang gak punya rasa lebih.” Lebih suka menyahuti seperti itu. Walau terdengar jahat, tapi dirasa lebih baik agar Reza mengakhiri harapannya pada Disa.
Menghadapi Sigit sudah cukup membuat perhatiannya tersita, jangan sampai ia memberi Reza peluang untuk kembali mendekat pada Disa. Terkadang kita butuh strategi untuk menghindari lawan agar tidak tidak menghabiskan tenaga sia-sia.
Reza tersenyum sedih mendengar sahutan Kean. Jika kenyataannya memang seperti itu, betapa menyedihkannya ia. Padahal ia sudah membayangkan kisah indah yang akan ia lewati bersama Disa. Tapi sepertinya semua hanya harapan.
“Kean, mamah mu boleh nginep di tempat tante nak?” suara Nita terdengar tiba-tiba. Berhasil mengalihkan perhatian Kean dan Reza di waktu bersamaan.
Terlihat Arini seperti yang tengah menunggu jawaban putranya. “Tumben, kok tiba-tiba?” menaruh stick PS nya lantas menghampiri Arini di meja makan. Ia membalik satu kursi dan menghadap pada Arini.
“Iya, tiba-tiba aja mamah kangen nginep di rumah tante nita. Gara-gara cerita-cerita masa remaja dulu.” Arini tersenyum gemas mengingat banyaknya kenangan yang mulai berputar di kepalanya seperti potongan film yang ia rindukan untuk ia ulang.
“Boleh. Tapi di temenin disa ya?” sahutnya seraya menoleh Disa.
Tidak yakin rasanya membiarkan Arini menginap di rumah Nita tanpa ada yang menjaga. Kalau ada Disa, ia merasa lebih tenang. Paling tidak ada yang menjaga sang ibu walau ia jadi cemas sendiri membayangkan Reza memiliki peluang untuk kembali mendekati Disa.
“Nggak sayang. Disa gak ikut.” Arini dengan yakin.
“Loh kenapa? Padahal dia bisa sambil ngelukis loh di sana.” Nita yang protes. Kalau sudah mendengar melukis seperti ia menyiapkan sebuah rencana untuk Reza dan Disa.
“Dia lagi sering begadang latihan desain. Mumpung mamah nginep di rumah tante Nita, dia bisa istirahat full.” Menoleh Disa yang terlihat serba salah. Jujur ia mulai cemas dengan kesehatan Disa.
Disa hanya tersenyum. Satu sisi mana mungkin nyonya besarnya pergi sendiri tapi di sisi lain,Arini mungkin hanya ingin berdua dengan Nita.
“Iya sih. Tapi tenang aja, tante juga bisa jagain mamah kamu kok.” Menaruh janjinya pada Kean. Ia tidak ingin Kean mencemaskan ibunya.
“Boleh nak? Mamah udah lama gak cerita-cerita sama tante nita. Kangen banget.”
Melihat Arini yang begitu antusias, rasanya tidak tega untuk Kean menolak. Mungkin ia harus membiarkan Arini menikmati me time-nya dengan sahabatnya.
“Boleh. Tapi pastikan tidak ada barang penting mamah yang tertinggal ya.”
“YES!” langsung mendapat sahutan dari kedua wanita itu dengan tos.
Kean tersenyum melihat tingkah ibunya yang masih seperti ABG. Waktu begitu cepat berlalu. Dulu, ia yang harus meminta izin saat ingin pergi tapi kali ini Ia yang memberi izin saat ibunya ingin bepergian.
Tapi kemudian perhatiannya beralih pada Disa. Gadis yang mulai membuatnya sering curi-curi pandang.
“Selama mamah ga ada, kamu jangan rewel ya sama disa. Biarin dia istirahat.” Arini memperingatkan putranya lebih dulu. Sudah terbayang bagaimana putranya akan sering memanggil nama Disa dan Disa menyahutinya dengan cepat. Membuat suasana rumah terasa hidup.
“Kean bukan anak kecil mah.” Timpalnya yang kembali melirik Disa yang tersipu canggung. Kenapa lucu sekali kalau mukanya merah begitu?
Disa mulai mengepak barang Arini yang akan di bawa. Terutama obat-obatan yang ia simpan dalam wadah khusus. Girls day out kali ini sepertinya akan sangat seru bagi nyonya besarnya.
“Aku bantu,” ada Reza yang menunggu Disa di mulut pintu. Ia mengulurkan tangannya menyambut koper kecil milik Arini.
“Makasih kak.” Memberikan satu koper pada Reza sementara ia memegangi kotak obat Arini.
Mereka berjalan bersisihan menuju mobil Reza yang di parkir di halaman.
“Kamu apa kabar sa?” Reza memulai perbincangan.
Sudah sangat lama mereka tidak berbicara seperti ini. Biasanya setiap hari Reza mengiriminya pesan dan menelpon pada malam hari. Tapi sejak malam itu, semuanya berubah. Baru hari ini mereka kembali bertemu dan berbicara berdua.
“Alhamdulillah baik.” Sahut Disa. Masih canggung kalau harus berbicara sesantai dulu.
“Kamu gak bertanya kabarku, sa?” Reza tersenyum kecut. Biasanya saat bertemu Disa akan bertanya kabarnya, apa ia sudah makan atau belum. Pertanyaan universal tapi terasa spesial.
“Kak reza apa kabar?” akhirnya ia bertanya.
Reza tersenyum samar, semakin di rasa semakin ia mulai tidak mengenal Disa. Atau mungkin ia memang belum benar-benar mengenal Disa, hingga ia tidak tahu cara untuk mendapatkan hati gadis ini.
“Baik.” Menyahuti singkat. Kalaupun di buat panjang, “Mungkin aku terlihat baik-baik saja. Tapi sebenarnya tidak sa.” Batin Reza. Masih ada perasaan mengganjal, sekelumit kekecewaan yang belum sepenuhnya hilang.
Di hadapan mobil, Reza membuka alarm kuncinya. Menata barang milik Arini tanpa ada perbincangan yang berarti. Kean yang memperhatikan dari belakang, interaksi keduanya masih sangat canggung. Tapi ia bersyukur karena Disa terlihat berusaha menjaga jaraknya dari Reza. Mungkin Ia tidak mau membuat keadaan semakin tidak nyaman dengan kesalahpahaman.
Tapi kemudian ia berfikir, jika selama ini Disa tidak mencoba menjaga jarak darinya, seperti apa sebenarnya perasaan Disa?
Kean yang semula menyandarkan tubuhnya di pintu, berganti menegakkan tubuhnya saat pikiran itu hadir. Disa memang memberi batas pada kedekatan mereka. Ia tidak banyak bercerita seperti yang Kean lakukan belakangan ini. Tapi dari gesturnya, seperti ia kesulitan untuk menghindar. Di satu sisi ada yang di kendalikan, di sisi lain ia merasa lemah.
“Disa, bagaimana caraku tahu perasaanmu saat ini?” Kean bermain dengan fikirannya sendiri. Memikirkan cara mendekat paling alami tanpa membuat Disa merasa terpaksa.
Bagaimana? Rasanya ia harus tahu jawabannya segera.
*****