
“Morning,..” sapa Shafira saat tiba di meja makan.
Ia mencium pipi Sigit dan Liana bergantian. Hari baru dengan sikap yang baru adalah resolusi Shafira mulai hari ini. Ia akan mulai menata hidupnya lebih baik seperti yang ia katakan pada Disa beberapa hari lalu.
“Duduk, sarapan.” suara tegas Sigit yang terdengar.
“Yes dady.” Shafira duduk di tempatnya. Ia mengambil roti untuknya sarapan.
“Kamu kemana semalam, mamih ke kamar kamu gag ada.” Liana dengan tatapan tajamnya pada sang putri, seperti tengah mengintrogasi.
“Nginep.” Shafira dengan sikap acuhnya seraya mengunyah roti bakar di mulutnya.
“Nginep dimana? Kok kamu gag bilang sama mamih?” Liana langsung menghentikan kunyahannya dan menatap Shafira dengan tajam. Ia butuh jawaban segera.
Begitu pula dengan Sigit, ia menunggu jawaban sang putri yang tampak acuh saja.
“Biasa aja dong mam, nginepnya juga gag jauh. Tuh di kamar mba disa.” Menunjuk arah kamar Disa dengan sudut matanya.
“APA?!!! Kamu nginep di kamar pelayan?!” menggebrak meja hingga membuat Shafira tersentak.
Sepertinya tidak hanya Shafira yang terkejut melainkan juga Sigit.
“Mamih kenapa sih? Biasanya juga mamih gag peduli aku nginep di mana dan sama siapa?”
Shafira terlihat mulai kesal, ia menaruh roti bakarnya. Selera makannya mulai hilang.
“Kamu tau kan disa itu siapa? Dia pelayan fira!” Liana masih tidak terima. Kalimatnya terdengar sangat kasar dan penuh penekanan.
“Emang kenapa kalo mba disa pelayan? Masalah buat mamih?” Shafira mulai menantang, dengan berani ia menatap mata Liana. Ia mulai lupa dengan resolusinya karena emosi yang tiba-tiba.
“Kenapa mamih harus resek banget? Mba disa memang hanya seorang pelayan tapi dia bisa ngasih apa yang gag aku dapet dari mamih dan dady yaitu perhatian dan waktu.” Tegas Shafira dengan sinis.
“Shafira, kamu,”
“DIAM!” berganti Sigit yang membentak
Ruang makan ini mulai berubah menjadi area perang dalam beberapa menit saja. Masing-masing dengan kekesalannya, masing-masing dengan kemarahannya. Terlihat kilatan petir di sorot mata masing-masing yang saling bertatapan lalu memalingkan wajah dengan dengusan nafas kesal.
Mulut Shafira mengatup namun tatapannya masih sinis pada Liana.
“Fira, tidur di kamarmu. Jangan membuat ulah.” Sigit merendahkan suaranya, ia berusaha menenangkan emosi putri dan istrinya. Lebih dari itu, ia ingin menikmati sarapannya dengan tenang.
Tapi tidak bagi Shafira, ia sudah malas berada di tempat yang sama dengan kedua orang tuanya. Ia beranjak seraya mengambil tas ranselnya.
“Kalian gag pernah memberikan apa yang aku butuhkan, saat aku menemukannya bahkan kalian ingin merampasnya. Kenapa kalian begitu egois?” tanya Shafira seraya menatap Liana dan Sigit bergantian. Sungguh ia sangat kecewa.
Emosi Sigit mulai terpancing. Ia meremas dengan kesal serbet yang ada di datangnya dan Shafira membaca gelagat itu.
“Aku pergi.” Ucap Shafira sebelum Sigit kembali mengeluarkan kalimat yang mengintimidasi dan menempatkannya di posisi yang tidak menyenangkan.
Mengalah, mungkin benar saat ini ia hanya bisa mengalah dan menghindar.
Sepeninggal Shafira, terdengar dengusan kasar dari mulut Sigit. Ia menatap Liana di hadapannya dengan penuh kekesalan.
“Bagaimana cara kamu mendidik anak itu? Kenapa semakin lama kamu membuatnya semakin liar? Apa kamu tidak bisa merawat dia sebaik kamu merawat baju, tas dan sepatu branded yang memenuhi lemari kamu?” sinis Sigit dengan penuh penekanan.
“Kenapa hanya menyalahkanku? Dia juga anak kamu mas.” Liana tidak mau kalah. Ia menyalak membalas teguran Sigit.
“Ya dia anakku. Dan kamu aku beri tugas untuk mendidiknya." Sigit berdiri di tempatnya, melempar serbet dengan kasar dan telunjuknya mulai menunjuk wajah Liana.
"Bukankah tugasku untuk memenuhi kebutuhan kamu yang haus akan kegelamoran dan gaya hedon kamu yang selangit?”
“Kamu selalu menyalahkanku untuk semua masalah yang terjadi di rumah ini tapi kamu,”
“Jadi kamu pikir ini salahku?!” dengan cepat Sigit menimpali, tidak memberi kesempatan bagi Liana untuk menjawabnya.
“Bagaimana bisa dia merasa lebih nyaman dengan kasta terrendah di rumah ini yaitu pelayan? Dimana peran kamu sebagai seorang ibu, hah?!”
Sigit masih tidak menerima pembelaan Liana.
Liana hanya terdiam dengan tangis yang mulai pecah. Ia menghela nafasnya yang terasa berat lantas memalingkan wajahnya dari Sigit. Jemari lentiknya perlahan mengusap air mata yang menetes.
“Salahkan aku kalau itu bisa membuat kamu puas.” Lirih Liana yang beranjak dari tempatnya.
“LIANA! Mau kemana kamu? Pembicaraan kita belum selesai!” teriak Sigit yang membuat Liana menghentikan langkahnya.
Tangannya tampak mengepal namun tidak lantas berbalik. Ia kembali menghela nafasnya dalam, berusaha mengeluarkan bongkahan besar yang selalu membuat dadanya terasa sesak.
“Buat aku ini bukan pembicaraan. Ini hanya cara kamu menghakimi dan mendikteku. Kamu bahkan tidak pernah memberiku kesempatan untuk bicara. Buatku, ini sudah selesai.” Ujarnya seraya kembali melanjutkan langkahnya.
“Liana. LIANA!!!” teriak Sigit.
Liana lebih memilih berlari, meninggalkan Sigit yang masih dikuasai emosinya. Baginya, saat Sigit mematahkan kalimatnya, maka pembicaraan di antara mereka tidak perlu dilanjutkan. Karena setelah itu, hanya akan ada titah Sigit berikutnya yang harus ia penuhi.
“SHIT!!!!” dengus Sigit dengan kesal. Masih berkacak pinggang, emosinya tidak reda hanya karena sebuah dengusan kasar dan gebrakan meja.
Yang tersisa saat ini hanya kesunyian di dalam rumah megah berlantai dua ini. Ia sendirian, tanpa ada siapa pun yang menemani.
******
“Disa tuh emang bikin ulah aja deh."
"Setelah kemaren bawa non fira ke rumah tuan muda, sekarang malah ngajak non fira nginep di kamarnya. Cari muka banget sih tuh anak.” Gerutu Wita setelah mendengar pertengkaran tuan dan nyonya besarnya.
“Kamu tau dari siapa disa bawa non fira ke rumah tuan muda?” Nina yang bertanya dengan penuh penasaran.
“Bang rahmat. Katanya disa di samperin sama nona muda pas lagi kerja terus malah ngajak nona muda masuk.” Wita masih dengan perasaan kesalnya membayangkan kondisi di rumah tuan mudanya.
“Gara-gara dia juga kan kita di anggap kasta paling rendah di rumah ini.” Lanjutnya yang membersihkan kulit labu dengan kasar.
“Kamu kan baru denger dari bang rahmat, belum tentu juga kejadiannya kayak gitu.” Tina berusaha menengahi. Ia menyangsikan kalau Disa benar-benar melakukan apa yang dikatakan Wita.
“Ya mau kejadiannya bener ato nggak yang jelas perang hari ini gara-gara disa. Udah deh kalian gag usah belain dia terus, mentang-mentang dia temen kalian.” Protes Wita pada kedua temannya.
“Bukan belain wita, cuma kita,..” Nina langsung mengatupkan mulutnya saat melihat kedatangan Kinar yang menghampiri mereka.
“Sepertinya pekerjaan kalian kurang, hingga masih bisa bergosip.” Sinis Kinar seraya menaruh keranjang cucian di samping Wita.
Mereka segera berdiri dan mengucap maaf.
“Ambil cucian yang kering.” Kinar mendorong keranjang cucian itu mendekat pada Wita.
“Tapi bu, ini kan,..” protesnya tidak jadi karena Kinar sudah lebih dahulu melotot pada Wita. “Baik bu.” Akhirnya dia menurut walau wajahnya tertekuk kesal.
Kinar pun pergi dan bayangannya menghilang di balik pintu.
“Tuh kan, kerjaannya disa jadi di kasih ke aku.” Rupanya kekesalan Wita belum selesai. “Ngapain juga dia seharian di rumah tuan muda. Dia kan bisa, “ suara Wita memelan saat satu per satu teman di hadapannya pergi meninggalkannya.
“Hey, kalian mau kemana?!” teriak Wita.
Namun mereka tidak menjawab dan memilih pergi untuk mengerjakan pekerjaan lain.
“HIH! Ngeselin!” dengus Wita. Lagi-lagi protesnya tidak di anggap.
Ia menghentakkan kakinya saat akan menuju halaman belakang tempat cucian di jemur. Bibirnya tampak mengerucut dengan gumaman kekesalan yang hanya bisa di dengar olehnya sendiri.
*****
Sepanjang langkahnya menuju ruangan Kean, Disa masih sempat berfikir. Mengapa seorang Direktur berada di lantai 2 kantornya padahal biasanya ruangan seorang direktur berada di lantai paling tinggi perusahaannya. Dan di gedung ini, harusnya ruangan Kean berada di lantai 9.
“Disa, sudah datang?”
Suara Roy yang menyapa Disa saat tiba di lantai 2.
“Selamat siang mas roy.” Sapa Disa dengan nafas yang masih terengah. Cukup lelah juga menapaki banyak anak tangga.
Setelah beberapa kali bertemu, mereka mulai mengenal satu sama lain.
“Siang. Masuklah, tuan muda sudah menunggu.” Mengarahkan tangannya ke pintu ruang kerja Kean.
“Baik mas roy, terima kasih.”
Disa kembali meneruskan langkahnya sementara Roy entah pergi kemana. Mungkin makan siang juga karena tuan muda dan asistennya itu tidak pernah terlihat makan siang sama-sama. Atau mungkin Disa yang tidak tahu.
Di depan pintu besar berwarna abu tua, saat ini Disa berdiri. Ia mengetuk pintu perlahan sebagai tanda ia datang.
“Masuk.” Suara Kean terdengar dari dalam sana.
Disa membuka pintu ruangan tersebut dan rasa dingin dari AC ruangan Kean seolah menyapu kulitnya yang kepanasan terkena terik matahari di luar.
“Selamat siang tuan, saya membawa makan siang anda.” Disa mengangguk santun di hadapan Kean.
“Hem.” Hanya itu sahutan Kean saat melihat sosok Disa yang muncul dari balik pintu. Ia masih di meja kerjanya dengan segudang pekerjaan yang membuat dahinya berkerut.
Disa melangkah masuk ke ruangan. Sofa adalah tempat yang ia tuju untuk menata makanan yang di bawanya. Sebelum menghidangkan, tidak lupa ia mencuci tangan agar semuanya bersih saat ia sentuh.
Wastafelnya ada di dalam ruangan pribadi Kean. “Tuan, saya izin masuk ke toilet.” Disa beranjak dari tempatnya dan meminta izin sebelum masuk.
“Hem,” jawaban kedua yang diterima Disa dan membuatnya bebas melenggang masuk ke dalam ruang pribadi Kean.
Ruangan yang cukup luas dengan sebuah sofa bed, televisi besar yang menempel di Dinding dan tentu saja sebuah tempat tidur dengan ukuran sama besar seperti yang berada di kamar Kean. Ada lemari kecil di sana dan satu stel baju tergantung di hanger yang dikaitkan ke gagang pintu lemari.
Sepertinya Kean selalu menyimpan satu baju di sana khawatir ia harus berganti baju. Cukup apik pikir Disa.
Kamar mandi yang berada di dalam cukup besar, namun Disa tidak masuk. Cukup mencuci tangan di wastafel dengan sabun anti kuman hingga tangannya terasa kesat dengan wangi mirip obat-obatan.
Sejenak ia pun melihat pantulan wajahnya di cermin, tampilannya cukup rapi karena naik taksi tidak lagi mirip anak kambing baru lahir seperti yang pernah di katakan Kean.
Kembali ke sofa, mengeluarkan lauk pauk, piring gelas dan sendok serta garpu yang ia bawa dari rumah dalam satu kotak makan besar. Serbet dan air minum pun ia siapkan.
“Silakan tuan.” Ujar Disa memanggil Kean yang masih duduk di tempatnya.
Kean beranjak dari tempatnya, melepas jas yang ia kenakan lalu menyampirkannya di sandaran kursi. Ia menggulung lengan bajunya dan beralih menuju wastafel tempat Disa mencuci tangan tadi.
Tidak lama waktu yang Kean habiskan untuk mencuci tangan lalu bergegas kembali ke sofa.
Duduk di sofa panjang dan Disa segera mendekatkan piring Kean bersamaan dengan barisan lauk pauk yang ia bawa. Mengambil nasi cukup banyak di tambah lauk pauk yang mengundang selera dalam satu piring yang sama.
“Sayurnya saya siapkan terpisah tuan.” Menyodorkan semangkuk kecil sayur bening mendekat pada Kean.
Kean tidak menyahuti, ia lebih memilih memulai makan siangnya.
Di dekat Kean Disa berdiri. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ruangan dengan gaya klasik khas pemilik perusahaan besar. Di dinding ruangan terpajang foto Kean dan sang ayah juga lukisan dari seorang pelukis terkenal.
Di pojokan ruangan di tempati bunga Snake Plant atau lidah mertua. Kabarnya bunga ini berguna untuk menghilangkan dan meresap racun pada udara. Ada juga pohon Dragon Tree yang di percaya bisa menyerap racun pada udara yang disebabkan oleh bensin dan pernis.
Beruntung ia masuk IPA saat SMA jadi sedikit tahu jenis-jenis bunga yang ada di ruangan tersebut.
“Kenapa tidak duduk saja dan melakukan aktivitas lain alih-alih memperhatikan saya makan?”
Rupanya ada yang sedang merasa di perhatikan. Geer juga dia.
“Ya?” Disa melongo bingung.
Kean Kembali menaruh sendoknya dan beralih menatap Disa.
“Duduk, jangan membuat saya merasa di awasi.” Perintah sekaligus protesan Kean.
“Ba-baik tuan.” Disa segera duduk dengan canggung dan Kean kembali melanjutkan makannya.
“Saya memang tampan tapi kamu bisa mengalihkan perhatian dengan membaca majalah di bawah meja.” kalimat narsis itu meluncur bebas dari mulut Kean tanpa menoleh Disa sedikit pun.
“Hah?” Disa bingung sendiri dalam hatinya. Ternyata selain kaku dan arogan, tuan mudanya juga narsis tingkat direktur.
“Baik tuan muda.”
Sudahlah, menurut saja dari pada urusannya panjang.
Disa mengambil sembarang satu majalah di bawah meja. Majalah bersampul tebal dengan dominan warna abu-abu ini cukup menarik perhatian Disa. Ada wajah yang sangat familiar menghiasi covernya.
Clara Davina seorang model terkenal. Saat ini ia dikabarkan tengah merintis usaha butiknya hingga masuk ke dalam salah satu profil tokoh dunia bisnis saat ini.
Disa mengenal Clara Davina sebagai seorang model muda yang sangat cantik. Tubuhnya yang indah dan sangat pantas mengenakan pakaian model apapun. Pernah sekali waktu ia melihat peragaan busana sebagai salah satu tugas kuliah dari dosennya dan melihat Clara Davina melenggak lenggok di atas catwalk.
Sosoknya yang anggun dengan wajah perpaduan asia dan eropa tentu menjadi anugrah dan daya tarik tersendiri yang dimiliki seorang Clara Davina.
“Kayaknya tuhan lagi senyum pas nyiptain clara davina.” Ujar Rianti kala itu. Ia pun sama-sama mengidolakan sosok cantik ini.
Membuka satu per satu halaman, tentang berita bisnis ia lewati saja dan lebih tertarik menuju halaman yang memuat berita tentang Clara Davina.
“Tidak ada mimpi yang sia-sia selagi kita mau berusaha mewujudkannya.”
Tulisan ini berukuran lebih besar di banding tulisan lainnya, seolah menjadi pembuka di awal wawancara sang reporter majalah dengan sang model cantik.
Disa mulai serius membaca dan bibirnya tampak melengkungkan senyum saat ia melihat begitu banyaknya kalimat positif yang di ucapkan Clara Davina.
“Masak pasta untuk makan malam nanti.” Sebuah perintah meluncur dari mulut Kean dan membuat Disa refleks menutup majalahnya.
“Ba-baik tuan.” Ia tergagap.
Karena terlalu asyik membaca, ia sampai tidak sadar kalau Kean sudah selesai dengan makan siangnya.
Menaruh kembali majalah d bawah meja dan segera bersiap untuk membereskan alat-alat makannya.
“Jam berapa tuan akan pulang, agar saya bisa menyiapkan semuanya tepat waktu.”
“Roy akan mengabari.”
“Baik tuan.”
Membereskan alat makan dengan segera karena Kean sudah kembali beranjak. Ia tahu, tuan mudanya sangat tidak suka pekerjaannya di ganggu.
“Saya permisi tuan. Selamat siang.” Ucapnya, saat sudah selesai membereskan semua peralatan.
Tentu Kean tidak menimpali, ia lebih memilih kembali menuju meja kerjanya dengan dahi yang mulai berkerut. Sepertinya yang dihadapinya bukan pekerjaan melainkan siksaan yang sangat ia benci.
Disa hanya menghela nafas dalam, dengan langkah pendeknya ia keluar dari ruangan sang direktur.
Pulang Disa, tugasmu selesai, gumamnya.
*****