Marry The Heir

Marry The Heir
Harus memilih



Sudah sekitar sepuluh menit Kean berdiri di depan lift khusus direktur dengan pintu lift yang beberapa kali terbuka lalu kembali tertutup. Kean masih berdiri di tempatnya, belum memiliki keberanian untuk masuk dan menetap beberapa saat di sana. Orang-orang bergantian masuk ke dalam lift khusus karyawan yang berjarak sekitar 2 meter saja dari tempatnya berdiri.


“Selamat pagi tuan.” Sapaan pun sudah berpuluh kali ia dengar dari karyawan yang melewatinya dan menatapnya dengan bingung. Mereka tampak sungkan saling berbisik mungkin mempertanyakan apa yang dilakukan Kean di depan lift.


Berulang menghela nafas dalam ternyata tidak lantas membuatnya berani untuk masuk ke dalam lift. Bayangan gelap dan terkurung dengan perasaan sesak menjadi ketakutan yang kembali muncul walau sudah susah payah ia tekan. Kenapa begitu sulit keluar dari rasa trauma?


“Wah sepertinya ada yang menunggu saya.” seorang laki-laki berdiri di samping Kean. Dengan pakaian rapi dan rambut klimis, sudah pasti dia adalah Marcel.


Kean hanya berdecik, tidak seharusnya mereka bertemu dalam keadaan seperti ini.


“Lift ini tetap boleh di gunakan oleh saya bukan?” imbuhnya yang tersenyum sarkas. Seolah tahu, masuk ke dalam ruang persegi ini adalah ketakutan terbesar Kean.


Kean tidak menimpali, ia tidak sedang ingin berdebat. Keberanian yang ia kumpulkan sedari tadi, harus hancur karena kedatangan Marcel.


“Wah, setengah jam lagi rapat direksi di mulai. Sepertinya mereka sedang menunggu kita.” Melihat jam di tangannya lantas menekan tombol lift agar terbuka.


Saat pintu terbuka, Marcel lebih dulu masuk, berdiri tegak dengan kedua tangan yang ia masukkan ke saku celana. Ia  senyuman lebar seolah mengejek ketidakmampuan Kean untuk masuk ke dalam.


“Kamu tidak ikut? Masih muat loh untuk satu orang lagi.” Tawaran yang terdengar seperti ledekan memang sangat menyebalkan. Senyumnya begitu lebar seperti ia telah menang telak dari Kean.


Kean memalingkan wajahnya. Tidak ingin terintimidasi oleh tatapan Marcel yang merendahkannya.


“Sepertinya lift ini memang hanya cocok untuk calon pemenang, bukan pecundang.” Tandasnya, kemudian ia menekan tombol lift untuk menutupnya. Perlahan pintu lift tertutup dan Marcel masih sempet untuk melambaikan tangannya pada Kean. Puas sekali sepertinya.


“SHIT!” dengus Kean. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Karena rasa takutnya membuat ia memberi kesempatan pada Marcel untuk merendahkannya.


Kean melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Ia tidak bisa menunggu lagi. Alih-alih menggunakan lift, ia lebih memilih menggunakan tangga darurat. Sepertinya ia harus kembali menyiapkan kedua tungkai kakinya untuk berlari menaiki anak tangga sampai ke lantai 6 kantornya. Tidak ada pilihan lain.


Jantung Kean berdegub kencang dengan keringat yang bercucuran dan nafas yang terengah. “BRAK!” pintu darurat terbuka dan ia sudah tiba di lantai 6. Sedikit membungkukan tubuhnya dengan tangan kanan yang menopang badan. Ia berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan.


“11 Menit, rekor naik tangga yang hebat.” Suara Marcel kembali terdengar.


Dengan santai bersandar pada dinding seraya memandangi jam di lengan kirinya. Ia melirik dengan puas, melihat Kean yang kelelahan.


“Hah, rapikan dulu penampilanmu. Jangan buat para direksi menertawakan penampilan direktur utamanya.” Marcel merapikan jas Kean serta dasinya yang berantakan.


“GAP!” Kean mencengkram tangan Marcel kemudian menghempaskannya. Tidak ada bosannya Marcel menggangu orang lain. Seperti hidupnya terlalu sepi kalau tidak bertikai dengan Kean.


“Wah, sorry lupa. Penampilan kamu cuma boleh dirapihkan oleh, pelayan itu ya?” bisik Marcel yang terkekeh di ujung kalimatnya. Ia berdecik, melapkan tangannya ke dada Kean dengan ekspresi jijik.


“Pelayan yang mengubah banyak hal dari seekor anak macan.” Imbuhnya dengan seringai sarkas pada Kean.


“Tidak perlu menyebut nama disa dalam masalah kita.” Suara Kean terdengar tegas. Ia sangat tidak suka mendengar Marcel menyinggung tentang Disa.


“Oh ya, disa namanya. Hampir saja lupa. Aku hanya ingat wajahnya yang cantik." Marcel seolah tengah mengagumi bayangan Disa yang ia ciptakan di kepalanya.


"Mungkin sesekali dia harus merasakan menjadi pelayan di rumahku, supaya tahu dia sadar perbedaan melayani seekor anak macan dengan melayani harimau jantan.” Timpal Marcel dengan kekehan di ujung kalimatnya.


“Jaga mulut kamu!” Kean mencengkram kerah leher Marcel dengan kuat. Ia paham benar maksud pembicaraan seorang laki-laki seperti Marcel. Emosinya benar-benar terpancing setelah beberapa kali Marcel menyebut nama Disa dengan ekspresi yang mengesalkan.


“Wah, kamu posesif sekali sama pelayan itu. Apa seposesif ini juga pada pelayan lainnya?” ledek Marcel dengan tawa yang menantang.


Kean tidak menimpali, ia hanya menggeretakkan giginya menahan geram. Baginya Marcel selalu saja menguji batas kesabarannya.


“Tuan muda.” Sebuah suara terdengar di belakang Kean. Adalah Marwan yang saat ini menghampirinya. Ia menggeleng, sebagai isyarat agar Kean menghentikan kemarahannya. “Direksi sudah menunggu anda tuan.” Imbuhnya.


Kean melepaskan cengkraman di kerah Marcel walau masih mengepalkan tangannya menahan geram. Kalau saja tidak sedang di kantor dan tidak banyak pasang mata yang memperhatikannya, mungkin ia sudah menghajar habis Marcel saat itu juga.


Marwan mencoba menenangkan Kean, membawanya menjauh dari Marcel.


"Kamu masih bersumbu pendek, sangat mudah terbakar. Mungkin sesekali harus ku buat meledak." gumam Marcel yang masih merapikan penampilannya. Cukup menyenangkan melihat anak macan menyalak menantangnya. Seperti mendapat hiburan di tengah kebosanan.


Tanpa ia tahu, yang ia bangunkan adalah seekor singa.


****


Sore itu Kean pulang lebih awal. Di tangannya ia membawa sebuah paper bag sebuah brand fashion terkenal. Ada Arini yang menyambutnya di dalam rumah.


“Wah anak mamah udah pulang.”


“Sore mah.” Kean mendaratkan sebuah kecupan di kening Arini.


“Sore sayang. Tumben pulang lebih awal?” sedikit melirik pada paper bag yang di bawa Kean. Ia familiar sekali pada brand yang di dominasi pakaian dan aksesoris wanita.


“Em, kean ada janji malem ini.” Mendorong kursi roda Arini sambil memperhatikan lingkungan sekitarnya. “Kemana disa?” terasa ada yang kurang kalau saat ia pulang tapi tidak melihat keberadaan Disa yang biasa menyambutnya dengan senyum terkembang di tambah segelas air.


“Lagi sholat di kamarnya. Kenapa, kok pulang-pulang nyariin disa?” tanya Arini usil. Kean seperti belum tenang kalau belum melihat gadis manis itu.


“Dia janji nemenin kean ke suatu tempat.” Akunya yang kemudian menaruh paper bag di atas meja dan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia sangat lelah setelah seharian rapat dengan direksi. Beruntung pekerjaannya cepat selesai sehingga ia bisa pulang lebih awal.


“Oh ya? Janji mau kemana?” Arini sangat penasaran. Baru kali ini putranya memiliki janji pergi dengan seorang perempuan.


“Gak kemana-mana, di sini-sini aja mah.” Kean masih berusaha menutupi. Ia baru sadar kalau selama ini ia belum pernah pergi dengan perempuan selain mamahnya.


“Di sini-sini aja tapi kok beliin baju?” selidik Arini. Ia menatap lekat wajah putranya yang berusaha terlihat biasa-biasa saja. Padahal terlihat jelas kalau Kean gelisah.


“Dia kok yang janji mau nemenin kean pergi.” Berkilah adalah jalan ninjanya. Seperti tidak ingin terlihat kalau ia ingin pergi dengan Disa.


Arini hanya mengangguk seraya tersenyum. Ia tahu, Kean bukan tipe yang bisa di desak untuk masalah seperti ini.


“Wah, umurnya panjang.” Bisik Arini seraya menepuk tangan Kean. Ia menunjuk pada Disa yang baru turun dari kamarnya.


Kean hanya tersenyum kecil melihat wajah Disa yang polos dan bersih. Selalu ada ketenangan terlebih saat gadis itu tersenyum.


“Selamat sore tuan.” Langsung mengambil segelas air yang kemudian ia taruh di hadapan Kean. Melihat Kean yang ada di rumah sesiang ini membuatnya penasaran kalau tidak melirik jam di dinding. Baru setengah lima sore pikirnya.


“Hem. Ambil itu.” Menunjuk paper bag dengan sudut matanya. Gengsinya memang masih lumayan tinggi.


“Apa ini tuan?” sedikit mengintip, tapi belum terlihat jelas isi paper bag itu apa. Bagian atasnya masih di staples.


Kean beranjak dari tempatnya setelah meneguk minumnya hingga habis. Melihat Disa yang terlihat senang mendapatkan sesuatu darinya membuat ia salah tingkah. “Kamu buka aja.” Sahutnya. “Kamu janji mau pergi menemani saya kan?” imbuhnya yang tetap menekankan kalau Disa lah yang berjanji akan pergi.


“Em iya. Apa hari ini tuan?” bingung juga tidak ada angin tidak ada hujan tapi ajakan Kean seperti petir yang menyambar tiba-tiba.


“Iya, memang kenapa?” kesal juga Disa tidak mengingat janjinya. Padahal saat di tawari menemaninya pergi, Disa langsung menjawab, “Bisa tuan.” Dengan yakin.


Kean masih mengingat jawaban yang terus berdengung di kepalanya dan membuatnya merasakan hal yang berbeda.


“Tapi, kalau hari ini, nyonya besar,”


“Aku yang nemenin mba.” Timpal Shafira tiba-tiba.


Kean tampak terkejut, sejak kapan anak ini ada di rumahnya tanpa rasa sungkan.


“Fira nemenin mba disa latihan. Ya sebagai model ceweknya. Katanya, model cowoknya abang ya?” dengan berani Shafira mengenggol lengan Kean, seperti ia tahu arti keterkejutan Kean.


“Berani sekali anak ini.“ batin Kean. “Tunggu, disa bilang kalau aku model laki-lakinya. Apa dia juga cerita kejadian malam itu?”


Pikiran Kean mulai menjelajah tidak tentu arah. Padahal hanya adegan mengukur postur tubuhnya tapi saat mengingatnya kembali malah membuat jantungnya berdebar kencang. Usapan tangan Disa masih terasa di leher, punggung dan dadanya.


Kean menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan yang semalam menjadi sebuah mimpi hingga ia melenguh. Gila, ini pertama kali bagi Kean bermimpi tentang seorang wanita dengan beberapa adegan erotis di dalamnya.


“Abang mau ngajak mba disa kemana?” lagi suara kepo Shafira menyadarkan Kean dari pikirannya. Entah ini sebuah keberuntungan atau kemalangan.


“KEPO!” solot Kean seraya berlalu.


“Isshh! Di tanya bener-bener juga.” Shafira mendengus kesal seraya mengerucutkan bibirnya.


Arini dan Disa ikut tersenyum melihat tingkah Kean dan Shafira. Perlahan rasa canggung itu mulai hilang. Shafira memang sangat berusaha keras untuk membuat keadaan membaik.


Tadi siang, ia membawa buah-buahan dan makanan untuk Arini. Katanya buah yang ia beli kualitas premium dari jepang dan korea. Memang bisa di percaya, karena satu keranjang buah itu berharga hingga 18 juta.


“Mba disa pergi aja sama abang. Aku yang jagain tante. Tapi jangan lupa bawa jaket tebal.” Bisik Shafira yang semangat membongkar paper bag dari Kean.


“Ya siapa tau masuk angin. Mba disa kan pergi sama gunung es. Bisa beku di jalan kalo gak bawa jaket.” Cetus Shafira asal.


Arini terawa kecil mendengar celoteh Shafira. Mukanya yang lempeng dan celetukannya membuat yang mendengar tertawa geli.


“Bisa aja kamu. Nanti abang kamu denger, bisa di marahin kamu.” Ancam Arini.


Shafira hanya mengendikkan bahunya. “Abang udah gak galak kayak dulu kok tante.” Timpalnya acuh.


Sejak Kean datang bersama Disa ke acara di sekolahnya, ia tahu Kean tidak sejahat itu padanya. Saat Shafira memeluknya pun, Kean tidak mencoba menahannya. Mungkin di lubuk hatinya yang paling dalam, Kean tetaplah kakaknya yang paling baik.


“Kamu gak pa-pa nemenin tante di sini?” Arini bertanya dengan ragu.


“Gak pa-pa tante. Lagian mamih lagi pergi sama temen-temennya. Pulangnya pasti menjelang subuh lagi. Fira gak ada temen. Mba disa juga di sini terus. Gak ada yang bisa fira ajakin currhat.” Shafira merengut manja pada Disa.


Disa membalasnya dengan usapan lembut di kepala Shafira. Perlakuan yang Shafira sukai saat ia bermanja.


“Ya udah, kamu siap-siap dulu sa. Jangan sampe gunung es muntahin lava.” Timpal Arini. Ia mulai bisa bercanda tidak seserius saat pertama kali datang.


“Em, baik nyonya.” Sahut Disa.


Di tangga sana, ada yang berlari kecil setelah mencuri dengar obrolan para wanita, ia segera berlari menuju kamarnya, khawatir Disa melihatnya.


Hah, dasar abang Kean.


****


“Click clock Click clock Click clock.” Waktu merambat dengan cepat.


Setelah selesai sholat Maghrib, Disa langsung bersiap karena Kean akan mengajaknya pergi jam 7 malam. Sebenarnya tidak banyak yang ia siapkan tapi Shafira bersikukuh ingin mendandani Disa.


Di kamar Arini lah mereka berada saat ini.


“Lipsticknya aku ombre yaa, biar keliatan seger.” Shafira yang paling sibuk mendandani Disa. Memberikan bedak tipis-tipis, merapikan alis Disa hingga akhirnya memberi lipstick. Sangat asyik seperti tengah mendandani boneka kesayangannya.


“Jangan terlalu tebal fir, disa cocoknya make up soft.” Arini yang memberi komentar.


Sementara Disa duduk manis dan pasrah di dandani oleh dua wanita ini.


“Eye shadow-nya natural aja kali ya tan?”


“Iya, jangan terlalu mencolok soalnya bajunya udah elegan.”


Baiklah, dua wanita ini tampak kompak dengan ide-ide yang mereka buat. Selamat bereksperimen.


“Abang kok pinter ya milihin dres buat mba disa?” masih tidak habis pikir kalau seorang yang kaku bisa memilihkan dres yang elegan untuk Disa.


Sebuah dres berwarna hitam dengan panjang selutut dan jatuh sementara bagian tangannya berlengan panjang. Hanya bagian punggungnya yang sedikit terbuka. Di pinggangnya ada belt berbetuk pita yang menjadi pemanis.


“Selera abang kamu itu bagus, cuma warnanya memang warna-warna begini.” Arini ikut merapikan bagian belakang baju Disa.


Untuk kedua kalinya ia berdandan mengenakan baju yang harganya tidak murah. Sejujurnya ia merasa tidak cocok dengan baju seperti ini hanya saja tidak bisa ia pungkiri saat baju ini melekat di tubuhnya, menambah rasa percaya dirinya.


“Nanti kalo mba disa udah jadi desainer terkenal, fira mau kok jadi modelnya.” Celoteh Shafira yang masih asyik mentap-tap lipstick di bibir Disa. Sangat telaten.


“Aaminn…” Arini ikut mengamini do’a tulus Shafira.


Mendapat perlakuan yang begitu manis dari Arini dan Shafira membuat Disa sangat terharu. Rasanya seperti mimpi berada di tengah-tengah orang-orang yang begitu menyayanginya.


Di luar sana terdengar langkah tegas kaki yang menuruni tangga. Siapa lagi kalau bukan pangeran berjas hitam, Kean. Ia masih merapikan lengan kemejanya lalu jas yang melekat pada tubuhnya. Penampilannya benar-benar rapi, lebih dari biasanya.


“Abang udah turun. Ayo mba disa keluar.” Shafira langsung menyudahi acara rias meriasnya. Ia tidak mau membuat Kean menunggu yang berujung pada mood-nya yang berubah buruk.


Dengan langkah pelan menyeimbangkan tubuhnya, Disa berjalan keluar kamar, menyusul Shafira. Saat pintu terbuka, “Taraaaaaa..” seru Shafira yang membawa Disa kehadapan Kean.


Untuk beberapa saat Kean terpaku, menatap Disa dengan tampilan yang berbeda. Rambut coklatnya di biarkan tergerai dengan riasan tipis yang membuatnya terlihat elegan.


“Hayoh! Abang terpesona ya.” Goda Shafira yang membuat Kean segera memalingkan wajahnya.


“Kamu udah siap?” Tidak menjawab malah menyibukan diri sendiri dengan mencari kunci dari pada menatap orang yang di ajak bicara.


“Ih abang ngeselin. Ini aku loh yang dandanin mba disa. Puji kek dikit.” Protes Shafira. Merasa tidak adil karena kerja kerasnya tidak di hargai.


“Apa yang harus di puji. Sama aja kok.” Cetus Kean yang akhirnya menemukan kuncinya dan segera menuju garasi.


“Sama-sama cantik.” Batin Kean mengimbuhi. Ia memang terlihat acuh namun sepersekian detik, tampilan Disa membuat jantungnya berdebar kencang hingga sulit mengedipkan mata. Apa seharusnya ia tidak jadi pergi daripada membiarkan orang-orang ikut-ikutan menikmati tampilan Disa?


“Udah, mba disa cantik kok. Itu mah mata abang aja yang butek.” Berusaha menghibur Disa yang tidak mendapat pujian dari Kean.


Disa hanya tersenyum samar. Memangnya komentar apa yang ia harapkan dari seorang Kean? Tidak ada bukan?


“Tunggu di depan.” Seru Kean dari dalam garasi.


“Ih tante, abang tuh ya. Bukannya mba disa di gandeng. Kan kita seneng liatnya.” Shafira masih saja protes karena merasa Kean tidak adil.


“Udah gak pa-pa. abang kamu kan emang gitu.” Timpal Arini. Baginya tidak perlu ambil pusing karena Kean biasanya lain di mulut lain di hati. Saat ini pun entah apa yang sedang di gumamkan Kean dalam hatinya.


“Ting tong!” suara bell menjeda obrolan ketiga wanita tersebut.


“Siapa bertamu malam-malam?” gumam Shafira yang beranjak dari tempatnya.


“Biar saya yang buka non. Sekalian ke depan.” Segera menahan tangan Shafira sebelum beranjak.


“Ya udah, nih dompet mba disa. Hati-hati di jalan ya.”


“Iya non. Mari nyonya.” Pamit Disa.


“Iya sa, hati-hati di jalan.”


Disa melangkah dengan hati-hati. Walau heels-nya tidak terlalu tinggi, tetap saja lumayan sakit kalau sampai keseleo.


Dengan segera ia membukakan pintu, dan “Kak reza?” gumamnya dengan mata membulat. Menatap tidak percaya laki-laki di depannya.


“Sa? Kamu mau kemana?” Reza tidak kalah terkejut. Ia memang tidak mengabari Disa akan datang karena niatnya ingin memberi kejutan tapi siapa sangka malah ia yang di kejutkan.


“Em, aku,”


“Tetet!!” suara klakson mengalihkan perhatian Disa. Rupanya Kean sudah menunggunya di dalam mobil.


“Oow.. Kamu keduluan. Aduh kasian. Jangan rebutan, mending cari yang lain.” Shafira malah bernyanyi di tempatnya. (Song: mata band, ketauan)


“Ssttt!!” Arini berusaha mendiamkan Shafira. “Za, masuk nak.” Suara Arini di buat lebih keras.


Reza dan Disa sama-sama menoleh dengan pikiran masing-masing.


“Mba disa berangkat aja. Nanti abang marah loh. Kak reza, aku sama tante yang nemenin.” Sambung Shafira yang ekspresif.


“Em, maaf kak. Aku.” Disa terlihat bingung. Antara meninggalkan Reza atau mengecewakan Kean. Tapi ia tidak bisa melanggar janjinya sendiri.


Akhirnya Reza hanya bisa mengangguk. Ia membiarkan Disa pergi walau rasanya tidak rela.


"Hati-hati di jalan." lirihnya.


Disa terangguk. ia melambaikan tangannya pada Reza. Dan di tempatnya, Reza masih memandangi Disa hingga mobil Kean pergi dan tidak terlihat lagi.


Kenapa hatinya merasa kecewa?


****