Marry The Heir

Marry The Heir
Melukis mimpi bersama clara



Kilatan blitz kamera saling berbalas mengabadikan perayaan ulang tahun sebuah majalah fashion terkenal di singapura. Mereka mencoba mencari sudut yang tepat dan mengabadikan moment saat bagian-bagian penting itu menyemarakkan acara. Setelah bersulang memberikan selamat untuk bertambahnya usia dari perusahaan tersebut, para tamu di suguhi sebuah peragaan busana dari para tetamu khusus, para model yang melenggok di atas catwalk.


Clara adalah salah satu model yang ikut andil dalam acara tersebut. Ia melenggang bebas di atas catwalk mengenakan baju yang di rancang Disa saat kompetisi dengan penuh penjiwaan. Pschye ini terbang semakin tinggi, semakin di kenal banyak orang dan memancarkan kecantikan seorang Clara Davina yang dipuja banyak pasang mata.


Penampilannya yang cantik layaknya dewi yunani membuat banyak orang berdecak kagum. Orang-orang bertepuk tangan dan antusias mengabadikan penampilan Clara. Ia dewinya malam ini.


Di ruangan terpisah, Disa dengan Mila assistant-nya tengah bersiap untuk wawancara dengan owner dari majalah tersebut. Di ruang make up, Mila memoles wajah Disa dengan make up tipis yang terkesan natural dan cantik. Disa mengenakan sebuah dress terusan formal berwarna navy yang classy.


“Lipstick-nya aku merahin dikit ya, biar kamu gak keliatan pucet di kamera.” Ujar Mila, mengoleskan kembali lipstick tipis di bibir Disa.


“Gangan kelalu elah yaa... (Jangan terlalu merah yaa..)” ujarnya, berbicara dengan mulut terbuka ternyata cukup sulit.


“Nggak. Tipis-tipis aja kok.” Timpal Mila.


“Okey, selesai.” Mila memperhatikan tampilan Disa yang sudah selesai ia dandani.


“Wah, bisa-bisa tuan muda pangling liat istrinya secantik dan seelegan ini.” Puji Mila. Ia merapikan rambut Disa yang dibiarkan tergerai di bahunya. Juga merapikan dress yang membalut tubuhnya.


“Beliau pernah liat aku dandan lebih heboh dari ini kak. Waktu nikah.” Sahut Disa. Ia jadi memandangi penampilannya sendiri dari pantulan kaca. Mila memang pandai merias wajah orang lain. Tangannya seperti memiliki tongkat sihir untuk menutup kekurangan di wajah Disa.


“Tapi auranya beda de, lebih classy gitu.” Mila ikut mengagumi penampilan Disa.


“Ini karena kakak mahir mendandaniku. Make up bisa merubah segalanya kan?” cukup ia memuji dirinya sendiri, orang dibelakangnyalah yang berjasa saat ini.


“Tapi kamu emang dasarnya cantik kok. Apalah aku yang kentang. Liat, warna kulit muka kita aja beda jauh.” Menunjuk kulit wajah Disa dan dirinya bergantian.


“Setiap wanita itu cantik kak, terlebih di mata orang yang tepat.” Tidak enak rasanya mendengar Mila insecure sendiri.


“Tapi tidak semua wanita terlihat cantik di hadapan semua orang.” Mila ikut memoles bibirnya dengan lipstick. Berharap sekejap ia bisa secantik Disa.


“Yang bikin gak cantik di hadapan semua orang hanya masalah selera aja. Udah ah, kita siap-siap. Bentar lagi harus mulai.” Disa ingin mengakhiri obrolan tentang membandingkan fisik tersebut.


“Okey, okey. Anda memang selalu bisa menjawab nona muda.” Menaruh kembali lipstick di tempatnya lantas mengajak Disa keluar.


Sebuah ruangan sudah di siapkan untuk wawancara. Dua buah kamera di pasang dari sudut yang berbeda dan mengarah pada sepasang kursi tempat duduk Disa.


Seorang interviewer sudah duduk lebih dulu di sana bersama owner majalah, Audi.


“Over here, miss paradisa.” Ujar interviewer yang Disa tahu bernama Ivy.


“Thank you.” Sahut Disa. ia mengambil tempat di samping Ivy.


Wawancara exclusive pun di mulai. Walau akan di terbitkan dalam sebuah majalah, namun rupanya mereka akan mengunggahnya dalam youtube channel oficial mereka.


“Just relax, we'll start in 3 minute.” Terang Ivy.


Disa terangguk setuju. Ia menghela nafas dalam-dalam, untuk meredam rasa tegang dan gugup yang tiba-tiba ia rasakan.


Ini hal baru bagi Disa, baik itu wawancara exclusive ataupun tampil di hadapan kamera yang merekam setiap gerak geriknya. Ia harus memperhatikan benar image yang mungkin di tangkap orang-orang baik dari cara ia berbicara ataupun bersikap. Di tambah, pertanyaan dan jawaban dalam wawancara ini dengan menggunakan bahasa Inggris. Selain ia harus berpikir keras untuk memilih jawaban untuk setiap pertanyaan, ia pun harus memikirkan cara menjawab yang benar dalam bahasa Inggris. Aarrghh inilah yang sempat membuatnya frustasi. Berbicara bahasa indonesia saja masih suka tertukar mana formal dan tidak formal apalagi dalam bahasa asing.


Waktu 3 menit berlalu begitu saja dan wawancara pun di mulai. Pertanyaan pertama adalah tentang identitasnya.


“I’m paradisa sandhya from indonesia.” Sahutnya dengan bangga. Wajahnya masih terlihat tegang, sulit sekali tersenyum saat sedang tegang seperti ini.


Di tempatnya Mila merekam apa yang dilakukan Disa dan mengirimkannya pada Roy.


“Ya, i’m married.” Pertanyaan berikutnya yang Disa jawab dengan sangat yakin.


“You make a lot of men heart broken.” Timpal Ivy menyayangkan. Ia tidak mengira kalau di usia semuda ini Disa sudah menikah. Ya, 22 tahun. Disa hanya tersenyum tidak menimpali.


“I saw your design. Wow, it’s so beautiful.” Puji Ivy dengan sepenuh hati.


“Thank you. But i think it’s looks beautiful because the right person wears it. I mean, clara can express the dress I made so it give more value.” Sahut Disa dengan yakin.


Ia melihat sendiri bagaimana cara Clara memperagakan busananya. Seperti ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.


Pertanyaan demi pertanyaan terus bergulir dan Disa bisa menjawabnya dengan lancar. Semakin banyak pertanyaan, ternyata membuat Disa semakin terbiasa dan lebih santai. Clara yang baru turun panggung langsung bergabung, ikut melihat wawancara Disa bersama Mila dan assistant-nya.


Ia jadi tersenyum sendiri, gadis yang sempat ia rundung ternyata memiliki banyak daya tarik. Tidak hanya kemampuannya dalam mendesain dan membuat baju tapi juga dari cara ia berbicara dan bersikap.


“Lo beruntung kean.” Gumam Clara.


Selama ini ia tidak pernah melihat Kean berhubungan dengan wanita manapun meski banyak wanita yang mengejarnya tapi, saat sahabatnya itu menikah, ternyata ia memilih wanita yang tepat yang tidak bisa Clara bandingkan dengan para gadis yang mengejar sahabatnya.


Dulu ia sangat bosan meladeni permintaan teman-teman modelnya yang ingin mendekati Kean. Kean selalu saja menolaknya. Katanya, ia tidak tertarik dengan wanita. Tapi siapa sangka, sahabatnya malah jadi budak cinta seorang wanita sederhana yang saat ini sedang duduk di hadapannya.


Sesi wawancara sudah selesai. Seorang fotografer menghampiri Disa dan akan mengambil fotonya untuk di muat di majalah. Disa terlihat bingung sendiri harus bergaya seperti apa.


“Mba, bisa bantu nona muda?” bisik Mila.


“Hem.” Clara menghampiri Disa.


“Claire, aku gak bisa berpose.” Bisik Disa malu-malu.


“Gue ajarin, tapi lain kali lo belajar sendiri.” Dengan tanggap Clara membantu Disa.


Disa hanya terangguk dan menurut saja saat Clara memintanya untuk berpindah ke salah satu sudut.


“Tangan lo taro di sini.” Clara mengarahkan tangan Disa agar berada di pinggangnya. “Kakinya maju satu.”


Instruksi berikutnya. “Okey cukup, sekarang dagu lo angkat dikit sama badan lo tegak.” Dan Disa menurut saja, percaya pada pengarah gayanya.


“Senyum tipis kayak lo lagi jual mahal sama kean.” Bisik Clara.


“Hahaha.. Gaya lo di bikin agak mahal gitu, gimana sih.” Terang Clara yang akhirnya tertawa melihat wajah bingung Disa.


“Oh kirain.” Disa berusaha tersenyum tipis sesuai petunjuk Clara.


“Okey good. Lo jangan gerak lagi.” Clara mengunci pose Disa dan segera menjauh.


“Okey, take the photo.” Titah Clara pada sang fotographer.


Laki-laki gondrong itupun menurut saja. Mengambil beberapa foto Disa dari berbagai sudut. Selama hampir setengah jam mereka mengambil foto dan Clara tidak lelah mengatur pose Disa agar terlihat sempurna.


Sepertinya Disa tidak perlu khawatir fotonya terlihat jelek karena sang model yang mengatur gayanya. Berdo’a saja wajah tegangnya tidak terlalu ketara di kamera.


*******


Disa sudah berganti dengan baju tidur setelah ia kembali ke kamarnya seusai acara. Ia tidak ikut sampai selesai karena cukup sulit untuk berbaur dengan orang-orang baru dalam waktu cepat. Setelah selesai wawancara, ia lebih memilih kembali ke kamar dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.


Sebuah ketukan di pintu mengalihkan perhatian Disa. Ia menaruh kembali ponselnya setelah mengirim pesan pada suaminya lantas beranjak untuk membukakan pintu.


“Claire?” ada Clara yang sudah berganti pakaian santai dengan wajah yang sudah bersih dari make up namun tetap terlihat cantik. Di tangannya ia menenteng satu kantong keresek yang entah berisi apa.


“Boleh gue masuk?” pintanya.


“Hem, masuklah.” Disa membukakan pintu lebih lebar.


Clara memperhatikan kamar Disa yang terlihat rapi, beda dari kamarnya di sebelah.


“Lo orangnya apik banget. Kita minum di balkon aja ya, biar kamar lo gak berantakan lagi.” Ujarnya yang menuju balkon kamar.


“Boleh.” Sahut Disa. ia berjalan lebih cepat mendahului Clara dan membukakan pintu balkon.


Mereka duduk santai di kursi yang ada di depan balkon, menikmati suasana malam di negeri singa putih.


“Lo minum alkohol?” Clara mengeluarkan beberapa botol minuman dari dalam keresek yang ia bawa.


“Nggak Claire, terima kasih.” Tolak Disa.


“Udah gue duga. Nih buat lo.” Clara memberikan minuman isotonic pada Disa.


“Thanks.” Sahut Disa.


“Lo tau, di acara sebesar ini gue bahkan gak punya temen buat sekedar selebrasi. No, bukan gak punya temen selebrasi, tapi gue punya banyak temen untuk selebrasi tapi gak pernah punya temen yang sehati.” Ungkap Clara tiba-tiba.


Mendengar ucapan Clara, Disa jadi menoleh wanita di sampingnya yang sedang meneguk sedikit minuman beralkohol di tangannya dengan santai. Hanya sekali ia menyeringai, saat rasa manis bercampur pahit di ujungnya itu terasa di tenggorokan.


“Gue harap lo mau nemenin gue sebentar di sini. Gue masih mau menikmati kebahagiaan karena di tawari kontrak exclusive menjadi brand ambassador sebuah brand tas international, untuk Indonesia.” Clara tersenyum di ujung kalimatnya. Ia merasa sangat bangga karena mendapat lagi satu pencapaian di kariernya.


“Wah selamat Claire.” Timpal Disa seraya mengulurkan tangannya.


Clara memandangi uluran tangan itu lantas tersenyum dan menyambutnya. “Thanks.” Sahutnya kemudian.


Mereka kembali terdiam, memandangi langit singapura yang gemerlap di hiasi bintang malam dan lampu-lampu gedung yang menjulang. Keduanya menghela nafas dalam, seperti berusaha melepas lelah hari ini.


“Penampilan lo tadi bagus, keluarga lo pasti bangga sama lo.” Ujar Clara tiba-tiba. Ia kembali teringat saat Disa ada di sesi wawancara. Walau terlihat tegang namun Disa bisa menjawab semua pertanyaan dengan bijak. Ia bisa membedakan mana area pribadi yang tidak perlu di ketahui public dan mana area karier yang wajib di ketahui public.


“Thanks Claire. Kamu juga tadi tampil sangat memukau. Kamu bintangnya malam ini.”


Clara tersenyum mendengar ucapan Disa. Sudah sering kali ia mendengar kalimat pujian itu tapi kali ini rasanya berbeda. Ucapannya terdengar tulus.


“Lo tau, sebagai seorang model gue harus bisa mendalami looks yang gue pake walau terkadang jauh dari keinginan gue. But, ya itulah professional. Selama pekerjaan itu tentang modelling, gua akan bersikap professional.” Clara kembali meneguk minuman beralkohol di tangannya, sedikit demi sedikit agar kesadarannya tetap terjaga.


“Begitupun lo. Sebagai desainer, lo pasti bakal ketemu sama beragam macam konsumen dan permintaan desain yang mungkin tidak sesuai dengan karakter atau jiwa lo. But, it’s no problem. Ini proses disa, supaya lo bisa bersikap profesional, lo harus hadapi ini.” Clara mengingat saat seorang model menghampiri Disa dan meminta di buatkan desain yang aneh-aneh. Ia tahu, itu tidak sesuai dengan karakter Disa.


“Dan dunia modelling dengan desain itu terikat erat. Lo gak bisa hanya belajar tentang desain tapi harus juga tentang modelling. Lo harus tahu, pada bagian mana lo mau para model menonjolkan keunikan atau nilai lebih dari desain lo, lo harus menguasai itu. Bagaimana para model harus berpose dengan baju itu, lo juga harus paham itu.”


“Lo harus tahu karena itu yang akan lo jadikan daya tarik buat desain-desain lo, gak cuma masalah kualitas dari bahan atau desain yang jelimet. Tapi, lo harus dapetin moment of truth ketika orang melihat desain lo dan gue yakin itu berbeda antara satu desain dengan desain lainnya. Untuk itu, lo harus belajar banyak. Buat karya lo sempurna.”


Disa tercenung mendengar ucapan Clara. Apa yang clara ucapkan memang benar adanya. Walau para model itu bisa di jamin profesionalitasnya namun sang desainer yang lebih tahu seperti apa desainnya harus di presentasikan.


“Lo harus belajar banyak hal disa, gak melulu bikin desain yang bagus. Dan gue,” Clara menjeda kalimatnya dengan sebuah helaan nafas dalam.


“Gue minta maaf kalau gue udah bikin lo kepaksa ngikutin kontrak yang kita bikin. Gue kepaksa menahan lo buat gak pergi jauh supaya gak ninggalin gue.” Ia menoleh Disa dan menatap Disa dengan lekat. Seperti ada banyak hal yang ingin ia utarakan.


“Kontrak kita 3 tahun, dan selama itu gue pengen mencoba banyak hal. Gue harap, lo yang ada di sisi gue. Orang yang cukup dan mau mengerti tentang gue. Karena setelah 3 tahun itu, gue memutuskan untuk menikah dengan marcel. Dan lo tau sendiri, setelah menikah tanggung jawab gue berbeda. Gue juga punya tanggung jawab lebih sama bokap gue. Gue harus bantu dia di perusahaan saat gue udah nikah nanti.”


“Jadi, selama 3 tahun ini, gue harap gue bisa meraih banyak mimpi gue.” Terang Clara yang kembali meneguk minumannya.


Disa tidak pernah menyangka ternyata seorang Clara memiliki pikiran yang seperti ini. Ia berusaha melemah dengan keadaan yang akan ia hadapi 3 taun ke depan. Itu akan sulit, maka ia sedang bersiap.


“Tapi, saat gue liat lo wawancara tadi, gue pikir lo benar tentang kupu-kupu. Dia berasal dari kepompong yang tidak bisa kita paksa untuk keluar meski kita udah gak sabar mau ngeliat seindah apa sayap yang dia punya. Kita juga gak bisa menahan dia agar tidak keluar dari kepompongnya hanya karena takut dia terbang jauh dan tidak kembali.”


“Waktu dia cuma 47 hari untuk menjelajahi dunia sampai dia mendapatkan apa yang ia inginkan dalam hidupnya. Setelah itu dia akan mati dan beberapa di antara kita mungkin akan dengan cepat melupakannya karena akan lahir banyak kupu-kupu lain dengan sayap yang lebih indah.”


“Gue gak mau itu terjadi sama kita. Gue sadar lo juga punya mimpi yang gak boleh gue tahan. Lo berhak meraih kesempatan yag ada di hadapan lo. Jika kemudian lo berpikir untuk meneruskan belajar di paris, gue bisa akhiri kontrak kita. Gue sadar, kita dua orang yang sama-sama mengerjakan apa yang kita cinta bukan terpaksa mencintai apa yang kita kerjakan.” Tandas Clara yang tersenyum tipis di samping Disa.


Ia sadar, ia tidak tidak bisa memaksa seseorang untuk tetap ada di sampingnya. Itulah mengapa ia mengatakan kalau sulit sekali mendapat teman yang sehati karena ia pun belum tentu bisa menjadi orang yang menyiapkan hatinya untuk memahami orang lain.


Disa tidak menimpali. Ia ikut meneguk minuman isotonic yang ada di tangannya. Mendadak Clara membuatnya harus berpikir dengan serius sebelum ia memutuskan untuk mengambil keputusan yang tepat. Clara benar, ia tidak boleh salah melangkah.


*****