Marry The Heir

Marry The Heir
CCTV Hidup



POV Kean:


Beberapa hari ini aku memang tidak bertemu dengan pelayan di rumah. Tepatnya setelah hari minggu pagi itu. Aku disibukkan dengan pekerjaanku dan biasanya baru pulang jam 8 malam. Tentu saja dia sudah pulang.


Selalu, rumah sudah sangat sepi dan lampu menyala terang. Sepertinya ia mulai paham kalau aku tidak suka berada di bawah cahaya remang-remang.


Aku kembali teringat akan keisenganku saat memutar CCTV yang terpasang di rumah dan terkoneksi dengan ipad ku. Awalnya aku hanya ingin mengecek apa CCTV nya berfungsi dengan baik atau tidak.


Namun ternyata, ada hal yang membuatku cukup terkejut. Saat iseng aku memutar ulang CCTV dan yang ada hanya rekaman pergerakan pelayan bernama Disa itu.


Beberapa hari ini aku mulai paham kebiasaannya saat datang ke rumahku.


Tiba di rumah biasanya jam 5 pagi. Ia sudah mengenakan baju pelayan dan rambutnya pun sudah terkepang rapi dengan kondean jepit sarang seperti yang biasa aku lihat. Dia akan melepaskan coat berwarna abu tua atau coklat lalu menggantungnya di hanger dapur. Ia pun bercermin di pantulan microwave yang ada di dapur, mungkin sedang merapikan anak rambutnya.


Kenapa dia tidak pergi ke kamar mandi agar bisa melihat penampilannya secara utuh?


Lantas ia bersiap untuk memasak, mengeluarkan semua bahan dan menanak nasi. Sambil menunggu nasi matang, biasanya dia akan membereskan ruangan. Mulai dari menyapu, mengepel dan merapikan sofa. Sepertinya ia cukup merasa aneh karena setiap hari sofa selalu berantakan bekasku tidur.


Ya, sudah beberapa malam aku tidur di sofa. Walau saat bangun badanku terasa pegal tapi aku merasa kalau ini lebih nyaman dan menenangkan. Televisi menyala semalaman, menemaniku yang terlelap di bawah selimut tebal sambil memeluk guling. Aku baru akan pindah ke kamar sekitar jam 4 pagi, saat mata sudah tidak terlalu ngantuk.


Hanya ada sisa makanan dan minuman yang biasanya terserak di atas meja.


Selama dia bekerja, aku memperhatikan wajahnya, ia membersihkan rumah dengan wajah ceria. Sesekali dia berjoget berjingkrak dan mulutnya tampak bergumam. Mungkin bernyanyi karena aku tidak bisa mendengar suara apa yang keluar dari mulutnya. Tapi melihat kelakuannya, kadang aku ikut tersenyum. Padahal menurutku itu rutinitas yang menyebalkan. Dia yang membereskan dan aku yang membuatnya berantakan. Tapi kenapa dia terlihat bahagia?


Selesai dengan beres-beres, ia akan langsung memasak. Menyiapkan sarapan lalu menatanya dengan cantik. Dan sarapan itu aku lah yang menikmatinya. Biasanya akan bertahan sampai jam makan siang.


Rutinitas yang membosankan menurutku karena setiap hari itu yang ia lakukan. Variasinya hanya pada siang hari. Kadang ia mencuci, menyertika baju, menyapu taman dan menyemprot bunga-bunga agar tidak layu.


Dua hari ke belakang, ia membawa keranjang dari walk in closet. Satu keranjang penuh ia bawa. Mencucinya seharian lalu menjemurnya di halaman belakang. Langkahnya masih saja cepat padahal satu tangannya memegangi pinggangnya yang mungkin terasa pegal atau sakit karena bekerja seharian.


Dia seperti gasing, kesana kemari tanpa pernah beristirahat sedikitpun. Pekerjaannya sambung menyambung tapi sepertinya dia menyukainya.


Jika aku perhatikan, ia memang tidak pernah mencicipi masakan yang ia buat. Tapi rasanya lumayan enak, cocok dengan lidahku. Dan yang lebih parah, dia tidak pernah makan atau minum selama ada di rumahku. Dia membawa bekal sendiri, sebuah botol minum dan kotak makanan yang akan dia makan saat jam harusnya coffe break.


Padahal seingatku, aku hanya melarangnya untuk mencicipi makananku bukan melarangnya makan dan minum di rumahku.


Dia terlalu patuh.


Dua hari ke belakang, aku di kejutkan dengan dia yang tiba-tiba naik ke atas sofa. Ku pikir dia akan melepas kamera CCTV yang aku tempelkan pada lampu, ternyata tidak. Ia berjinjit dan berusaha membersihkan kaca jendela bagian atas.


Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, membuat dia tidak bisa menjangkau bagian itu meski dia sudah berjinjit. Alhasil, dia terjatuh, terjungkal. Beruntung menimpa sofa. Aku yang melihatnya ikut kaget sendiri.


Sebenarnya aku ingin tertawa tapi takut dosa. Jujur ini cukup menghiburku.


Di hari berikutnya, dia mencuci cangkir yang lama tidak di pakai. Lantas berusaha menyimpannya di kitchen set bagian atas. Lagi, tubuhnya yang kurang tinggi menjadi masalah tersendiri untuknya.


Dia mencoba menggunakan paving blok tidak terpakai yang ada di halaman belakang. Menyusunnya lalu naik ke atasnya. Aku geli sendiri khawatir dia terjatuh lagi karena pasti sangat sakit.


Dan bodoh, kenapa tidak pakai kursi makan saja?


Tunggu, kenapa aku harus khawatir? Bukankah dia digaji untuk mengerjakan pekerjaan itu? Kenapa aku harus merasa kasihan? Bukankah pekerjaan yang dia kerjakan masih dalam batas wajar?


Dan lalu hari ini, kenapa aku harus menelpon Rahmat dan memintanya memberikan bangku kecil untuk naik? Ayolah ini menyebalkan. Tidak seharusnya aku bersikap lemah dan terlalu peduli seperti ini.


Aku merutuki otakku sendiri yang terkadang berfikir diluar nalarku sendiri. Ini bukan aku yang sebenarnya. Sepertinya beberapa kali malaikat kebaikan merasukiku dan membuat hatiku melunak.


Bukan aku menghindar, hanya saja aku tidak terbiasa berada di tempat yang sama dengan orang asing. Ya, dia masih asing bagiku.


*****


“Paradisa, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu.” Satu baris pesan di terima Disa saat ia tengah asyik mendesign sebuah baju.


Disa melihat sang pengirimnya, yang ternyata Nita. Dari panggilannya, sebenarnya sangat tidak asing. Karena hanya Nita yang memanggilnya dengan awalan nama lengkap. Katanya ia tidak ingin menghilangkan arti nama Disa yang sebenarnya.


Menurut ayahnya, kalau dalam Bahasa latin, nama Paradisa memiliki arti tempat yang indah persis seperti yang pernah di katakan Nita. Sepertinya benar kalau nama adalah do’a, dan ayah Disa dulu mengharapkan putrinya menjadi sosok yang indah.


"Kamu memang indah paradisa, bisa mendesain baju-baju cantik dan lukisan yang kamu buat pun sangat nyaman di pandang mata." begitu pujian Nita beberapa waktu lalu saat ia menghadiahkan desain dua buah baju untuk Nita.


Segaris senyum terlihat di sudut bibir Disa. Nita selalu mengingatnya padahal mereka sangat jarang berkomunikasi.


“Alhamdulillah, kabar baik bu. Ibu apa kabar?” pesan itu Disa kirim sebagai balasan.


“Alhamdulillah kabar ibu baik. Maaf ganggu malam-malam, ibu mau menyampaikan pesan dari tante adela.” Nama sang adik yang di sebut oleh Nita.


“Iya bu, bagaimana? Ada yang bisa saya bantu?”


“Em, tante adela minta ketemu kamu nak. Katanya beliau mau di buatkan desain baju untuk pesta. Kamu sekarang tinggal di mana nak? Biar tante adela yang nemuin kamu?”


Melihat pesan ini, Disa tampak termenung. Tidak mungkin ia mengundang tamunya ke rumah ini.


“Baik bu. Mungkin disa yang nanti main ke rumah ibu.”


“Wah boleh, kapan? Gimana kalo ketemu di gallery aja?”


Bibir Disa kembali melengkungkan senyumnya. Kalau gallery yang ia tuju, mungkin ia akan bertemu kembali dengan laki-laki sejuta pesona itu.


Disa melirik kalender duduk yang ada di atas mejanya. Seminggu lagi ia baru dapat jatah libur selama 1 hari. Kalau pun ia pulang ke Bandung, tidak akan cukup waktunya karena pagi hari ia sudah harus berada di rumah tuan mudanya.


Disa terdiam sejenak seraya menyandarkan kepalanya ke dinding dengan wajah menengadah. Ia memandangi pijar lampu kekuningan yang menyilaukan matanya. Bayangan orang yang ingin ia temui kembali tergambar di pikirannya. Ya, Jenar.


Apa mungkin ia harus Kembali menjadikan kesibukan sebagai alasan tidak bisa menemui sang nenek lagi?


Disa menghela nafasnya dalam, ia masih harus berfikir.


“Akan saya kabari secepatnya ya bu..” begitu balas Disa. Berdo’a saja kalau ia bisa menepati janjinya.


Fokus Disa kembali beralih pada ipadnya yang masih menyala. Ia kembali menggoreskan stylus pen-nya di atas permukaan kaca tersebut. Sebuah desain baju ia buat untuk nona mudanya. Walau tidak yakin dengan ukurannya, tapi saat ia memeluk Shafira tadi rasanya ia tahu ukuran lingkar tubuh nona mudanya.


Ia sudah berrencana untuk membuat gaun ini. Sebagai rasa terima kasih atas hadiah yang diberikan nona mudanya.


Mengingat Shafira membuat Disa menyimpulkan satu hal. Nona mudanya senang memberikan barang atau sesuatu sebagai ungkapan perasaannya. Ia seseorang yang royal dalam sebuah pertemanan dan sepertinya Disa harus menjaga sikap agar tidak ada pikiran buruk dari orang sekitarnya.


Ia sangat takut jika orang-orang beranggapan ia berteman dengan Shafira karena alasan kekayaan. Ia tidak ingin membuat suasana kerja yang menyenangkan rusak begitu saja.


Warna pink, warna yang cocok di gunakan oleh nona mudanya yang cantik dan berkulit putih. Disa menambahkan beberapa manik di baju yang ia rancang agar terlihat muda dan manis. Ia harus secepatnya membeli kain, agar bisa menjahit baju ini dan memberikannya pada Shafira. Semoga saja nona mudanya suka.


****