
Di ruang kerjanya saat ini Sigit berada. Ia memang pulang lebih awal karena kondisi kesehatannya yang kurang baik. Beberapa saat lalu ia menerima laporan kalau perusahaan yang dipimpin Kean mendapatkan investor yang cukup bisa membantu kondisi keuangan perusahaannya.
Menghela nafas lega karena selangkah demi selangkah, Kean mulai membuktikan kemampuannya. Sepertinya keputusannya tepat untuk menyuruh Kean pulang ke indonesia.
“Aku dengar mas sakit.” sebuah suara membuyarkan lamunan Sigit yang masih memegangi ipad di tangannya.
Sigit tersenyum tipis saat ia tahu suara yang menyapanya siang ini.
“Terima kasih atas perhatianmu adik. Tapi maaf, karena membuatmu kecewa. Keadaanku sekarang sudah jauh lebih baik.”
Sigit membalik kursi yang semula membelakangi pintu masuk ruang kerjanya. Ia menatap Marcel yang masih berdiri di mulut pintu.
Marcel tersenyum tipis, ia berjalan masuk lalu duduk di salah satu sudut sofa dengan santai.
“Kenapa mas selalu sinis. Aku benar-benar peduli dengan kondisi kesehatan mas. Malah jauh lebih peduli dari putra kesayangan mas.” sinisnya yang membuat wajah Sigit berubah dengan cepat.
“Kalau tujuanmu datang ke sini untuk memancingku, kamu tidak akan berhasil.” timpalnya dengan tegas.
“Loh, tidak ada yang memancing. Aku benar-benar peduli dengan keadaan mas. Mas tentu tau kan mana keluarga yang tulus dan mana yang tidak?”
“Tulus?” Sigit menunjukkan seringai sarkasnya dari sudut bibirnya yang terlihat pucat. “Sejak kapan keluarga kita mengenal kata tulus?” tawanya terdengar geli di ujung kalimatnya yang sinis.
Ia merasa sejak terlahir di keluarga ini tidak pernah ada ketulusan dalam ikatan darah mereka. Yang ada hanya persaingan untuk saling menjatuhkan agar bisa meraih puncak tertinggi di keluarga ini.
“Ayolah mas. Jangan selalu menganggapku rival mas. Aku adik mas satu-satunya yang tidak akan mengecewakan mas. Termasuk kalau mas mau menyerahkan semuanya padaku.Aku benar-benar tidak akan keberatan.” timpal Marcel santai.
Tapi tidak sesantai itu bagi Sigit. Ia tampak mengepalkan tangannya mendengar kalimat sang adik yang menurutnya sangat provokatif. Sejak dulu, Sigit dan Marcel memang tidak pernah akur. Terlebih saat mendiang orang tuanya menyerahkan semua kekayaannya pada Sigit dan Marcel hanya mendapat bagian yang mereka sebut sisanya.
Perselisihan mereka berlanjut hingga saat ini. Mengusik ketenangan keluarga Sigit dan membuat sang kakak menyerahkan semua kekayaannya adalah satu-satunya tujuan Marcel. Tentu saja setelah ia gagal membujuk keponakannya, Kean.
“Aku sudah tau maksud kedatanganmu ke sini Marcel. Dan asal kamu tau, aku sudah semakin yakin kalau kean mampu meneruskan apa yang sudah aku rintis. Darah keluarga hardjoyo mengalir di orang yang tepat, putraku. Dia sudah bertumbuh, dia mampu menyelesaikan masalahnya. Dan aku yakin kamu pun sudah mendengarnya.” timpal Sigit dengan penuh percaya diri.
“Omong kosong!” gertak Marcel, sepertinya ia tidak terima dengan kalimat yang di lontarkan kakaknya. “Anak itu baru mampu menyelesaikan satu masalah dan mas sigit sudah sangat bangga. Apa mas sigit tidak melihat apa usahaku selama ini untuk membantu mas sigit mengatasi masalah perusahaan?” tantangnya dengan penuh kemarahan.
“Untuk kepentingan perusahaan atau untuk kepentingan pribadimu?” tanya Sigit yang membuat Marcel terdiam.
Terlihat Marcel yang mengepalkan tangannya menyimpan banyak kemarahan. Dan Sigit menyadari benar itu.
Ia beranjak dari tempatnya, lantas meraih gagang telpon untuk menghubungi seseorang.
“Bawakan minuman kemari.” titahnya lantas ia kembali menutup telponnya. Ia tahu adiknya perlu banyak menelan ludah kasar mendengar penolakannya untuk memberikan sebagian kekayaan keluarga Hardjoyo kepada sang adik.
Kembali memandangi Marcel lalu menghampirinya dan duduk di sofa berhadapan dengan sang adik.
“Kenapa kamu selalu mencari celah untuk kita berdebat? Bukankah sudah jelas kalau orang tua kita memberi kita masing-masing bagian yang adil?”
Sigit mulai merendahkan nada suaranya. Ia sudah sangat lelah berdebat dengan orang-orang tidak hanya di kantor tapi juga di rumah. Ia ingin merasakan sedikit ketenangan saat ia tengah berada dalam kondisi sakit.
“Adil? Sejak kapan orang tua kita adil? Sejak dulu hanya mas sigit dan mas sigit yang menjadi kesayangan papah.” kilah Marcel dengan kesal.
Sigit hendak menimpali, namun tiba-tiba saja suara Marwan yang terdengar dari luar.
“Mohon maaf tuan, pelayan membawakan minum untuk anda.” ujarnya dengan suara tenangnya.
Menghela nafas lega, akhirnya ia bisa sedikit menurunkan tensi emosinya. “Masuklah.” sahut Sigit. Ia memang memerlukan jeda untuk mengurangi sedikit kemarahannya.
Dari balik pintu terlihat seseorang masuk dengan membawa nampan di tangannya. Adalah Disa yang membawa dua cangkir teh sesuai perintah Kinar.
“Permisi tuan.” ujarnya seraya menaruh cangkir di atas meja.
Ia sedikit terkejut saat melihat wajah orang yang dari luar terdengar berdebat sengit dengan tuan besarnya.
Dan Marcel, ia pun cukup terkejut saat melihat sepasang mata yang tengah menatapnya. Lantas ia tersenyum, sesaat sebelum Disa mengalihkan pandangannya.
“Kau boleh keluar.” suara Sigit yang terdengar.
“Baik tuan, saya permisi.” Disa mengangguk hormat sebelum ia keluar dari ruang kerja tuan besarnya.
*****
POV Disa
Seharian tidak berada di rumah tuan muda tidak berarti tidak ada pekerjaan yang menantiku. Ada empat keranjang cucian yang harus aku setrika di tambah cucian yang masih di jemur di luar sana. Teriknya matahari membuatku enggan untuk keluar rumah dan mengambil kain-kain yang mulai kering. Tapi apa boleh buat, akhirnya aku harus ke taman belakang dan mengambil baju-baju yang kering sebelum berjatuhan dan tugasku kembali bertambah. Sungguh tidak ada akhirnya pekerjaan yang harus aku selesaikan ini.
Tanganku sudah sangat pegal dan aku memerlukan sedikit peregangan. Aku berdiri sebentar, meregangkan tanganku, memijat lenganku dan sedikit memutar pinggangku hingga berbunyi, "Kriek."
Hah, rasanya sangat nyaman. Duduk berjam-jam memang memberi effort yang cukup besar bagi kondisi otot-otot tubuh dan tulang belakangku yang rasanya mulai kaku.
“Tring!” kembali ponselku berbunyi, memberi notifikasi pesan masuk.
Diam-diam aku mengeceknya setelah memastikan tidak ada orang yang melihat.
O ya, baru tadi pagi aku sadar kalau semalam Kak Reza mengirimiku pesan. Pesannya baru aku baca pagi-pagi saat baterai ponselku sudah terisi penuh.
“Apa kamu sudah sampai rumah?” begitu pesan yang ia kirimkan semalam. Bibirku melengkungkan senyum dan sedikit berjingkrak karena kegirangan, saat melihat pengirim pesan itu benar-benar kak Reza.
Bodoh, aku kira pesan dari Damar adalah pesan terakhir yang harus aku baca, ternyata ada pesan penting lainnya yang tidak boleh aku lewatkan.
Aku membalasnya di pagi hari. “Selamat pagi kak reza, mohon maaf semalam ponsel saya mati.” aku beralasan. Semoga saja kak Reza masih punya minat untuk membalas pesanku.
“Pagi Disa, tidak apa-apa. Aku hanya cemas karena membiarkan seorang gadis pulang sendirian.”
Pesan itu yang membuat hariku terasa begitu indah. Seperti ada musim semi di indonesia dan bunga sakura berguguran di sekitarku. Rasanya aku ingin selalu tersenyum dan diam-diam berulang membaca pesan yang dia kirim.
“Jangan terlalu lelah, kamu pun perlu istirahat.” begitu bunyi pesan balasan setelah aku mengatakan kalau aku masih bekerja dan teman-temanku sedang pergi keluar karena mendapat tugas lain majikanku.
“Disa!”
Dengan cepat aku menyembunyikan ponselku ke dalam saku rok.
“Iya bu.” sahutku yang masih terkejut.
“Buatkan dua cangkir teh hijau dan bawa ke ruangan tuan besar. Sekarang.” titahnya.
“I-Iya bu.” aku refleks berdiri karena kelihatannya Bu Kinar sangat tergesa-gesa.
Tentu saja, tidak ada yang boleh lambat dalam merespon perintah tuan dan nyonya di rumah ini.
Aku segera keluar dari ruang linen setelah mencabut kabel setrikaan yang beberapa saat akan aku tinggalkan. Dua cangkir teh aku buat dan menempatkannya di atas nampan. Aku berjalan dengan cepat menuju ruang kerja tuan besar di lantai dua. Ku lihat ada Pak Marwan yang sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil membaca sebuah surat kabar harian ibu kota.
Ia memang asisten tuan besar tapi posisinya sama dengan bu Kinar, mereka tokoh central, bagian tidak terpisahkan dari rumah besar ini.
“Mau kemana disa?” tanyanya saat melihatku melintas di hadapannya.
Entah sejak kapan ia tahu namaku. Mungkin mengingat nama pelayan menjadi salah satu tugasnya. Tentu saja, ia salah satu perpanjangan tangan pemilik rumah ini selain Bu Kinar.
“Saya diminta untuk mengantarkan teh ini ke ruangan tuan besar pak.” sahutku.
“Oh baik. Mari saya antar.”
Ia beranjak dari tempatnya dan berjalan di depanku dengan jarak dua langkah saja. Aku mengekorinya dengan langkah hati-hati. Laki-laki di hadapanku, walau sudah cukup berumur dan bahunya sedikit melorot, ternyata langkahnya masih sangat cepat. Kaki pendekku hampir kepayahan mengejarnya.
Saat tiba di depan pintu ruangan tuan besar, Pak Marwan sedikit menguping. Untuk beberapa saat beliau memintaku menunggu. Mungkin sedang ada perbincangan serius yang tidak boleh aku dengar. Tapi, suara mereka sangat keras. Aku masih bisa mendengarnya walau sayup-sayup.
Memejamkan mata dan mengosongkan pikiran, aku tidak perlu memikirkan apapun dari perdebatan yang aku dengar ini.
Tak lama, Pak Marwan mengetuk pintu perlahan. “Mohon maaf tuan, pelayan membawakan minum untuk anda.” ujarnya dengan suara tenang.
Terdengar sahutan tuan besar dari dalam sana dan Pak Marwan langsung membukakan pintu untukku.
“Masuklah.” gumamnya yang masih sayup-sayup aku dengar.
Aku mengangguk patuh dan segera masuk ke dalam ruangan tersebut.
Saat pintu terbuka, aku melihat ruangan luas di hadapanku. Semuanya di dominasi oleh warna coklat tua. Mataku sedikit berkeliling mencari keberadaan tuan besar dan ternyata ia duduk di sofa sudut. Hampir saja aku tidak menyadarinya.
Aku segera mendekat lantas duduk bersimpuh saat nampan di tanganku aku taruh di atas meja.
“Permisi tuan.” ujarku seraya menaruh satu persatu cangkir di hadapan tuan besar dan tamunya.
Tunggu, rasanya aku mengenali wajah laki-laki yang saat ini tengah menatapku. Dimana kami pernah bertemu?
Cukup lama aku terpaku, mengingat wajah laki-laki yang saat ini tersenyum samar padaku. Aku memang tidak begitu pandai mengingat orang.
Tapi rasanya aku ingat. Dia laki-laki menyebalkan yang aku temui di toko baju sebuah mall besar. Tatapannya masih sama, merendahkan.
“Kau boleh keluar.” suara tuan besar yang terdengar dan aku langsung tersadar.
“Baik tuan, saya permisi.” aku mengangguk hormat sebelum berdiri untuk keluar dari ruang kerja tuan besar.
Dengan cepat aku keluar dari ruang besar yang tiba-tiba terasa pengap. Pintu pun di tutup oleh pak Marwan dan aku segera turun. Menuruni anak tangga dengan cepat, tidak peduli harus berjalan pelan dan anggun.
“Tunggu!” sebuah suara memanggilku saat aku sudah berada di ruang keluarga.
Aku menghentikan langkahku dan berbalik.
“Kau gadis itu bukan?” tanya laki-laki yang baru aku tahu fotonya ada di ruangan tuan besar.
Kalau tidak salah ingat, menurut Nina namanya tuan Marcel, adik dari tuan besar.
“Benar tuan.” terpaksa aku mengaku. Karena secara tidak langsung, dia adalah majikanku juga.
Dia berjalan ke arahku, dan aku segera menunduk. Sangat tidak enak bersitatap dengan laki-laki bermata elang ini.
“Ternyata kamu bekerja di sini.” ujarnya saat ia berdiri tepat di hadapanku. “Siapa namamu?” tanyanya seraya menunduk berusaha melihat wajahku.
Aku menghela nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sepertinya aku tidak bisa menghindar lagi.
“Saya disa tuan.” sahutku yang berusaha tersenyum.
Wajahnya tidak berekspresi, ia hanya memandangiku dari atas ke bawah membuatku merasa risih. Ternyata kebiasaannya tidak berubah dari sejak pertama kami bertemu.
“Kamu lebih cocok memakai gaun hitam itu di banding seragam ini.” menunjuk baju yang aku kenakan.
Aku kembali tersenyum, lagi ia membahas masalah gaun hitam yang aku coba. Entah apa maksudnya, mungkin dia ingin mengejekku. “Terima kasih taun, hanya saja saya lebih nyaman dan merasa cocok dengan pakaian ini.” sahutku dengan mantap.
Dia hanya tersenyum. Membuatku harus berfikir keras mencari arti dari senyumannya yang menurutku menyebalkan.
Berjalan mengelilingiku entah dengan pikiran seperti apa di benaknya. “Okey disa, sampai bertemu di lain waktu.” ujarnya sok akrab.
“Tidak tuan, saya tidak ingin bertemu lagi dengan anda.” hanya hatiku yang mengatakan itu karena mulutku tidak cukup bernyali untuk mengatakannya langsung.
Aku hanya mengangguk hormat. “Saya permisi tuan.” pamitku tanpa menunggu balasannya.
Aku segera berbalik, bagiku pertemuan ini selesai.
******