Marry The Heir

Marry The Heir
Menikmati waktu bersama



Sudah hampir satu bulan ini Kean dan Disa tinggal di rumah utama. Suasana rumah yang mulai kondusif membuat Kean nyaris tidak pernah mengajak Disa pulang ke town house. Banyaknya hal yang berubah dari penghuni rumah ini membuat suaminya mulai kerasan tinggal di rumah ini. Hanya gangguan-gangguan kecil di pagi hari yang kerap membuatnya kesal.


Seperti saat ini, Disa dan Kean baru selesai dengan aktivitas paginya. Kean memeluk Disa di dalam selimut sambil menunggu gairahnya turun. Di luar sana sudah terdengar langkah kaki dan suara tongkat yang melangkah mendekat menuju kamar Disa.


“Sa, kamu udah bangun?” suara besar milik Sigit yang sudah pasti mereka dengar.


Mata Disa yang semula terpejam segera membulat sempurna mendengar panggilan ayah mertuanya.


“Haish, papah mau apalagi sih?” decik Kean. Hampir setiap hari, Sigit lah yang rajin memanggil Disa di depan pintu. Entah itu untuk menemaninya sarapan atau sekedar minum teh.


“A aku lupa, aku udah janji mau ngajak papah jalan-jalan.” Disa langsung teringat pada janjinya.


“Jalan-jalan kemana? Udah gak usah olahraga, kita kan baru selesai olah raga.” Kean menahan tubuh Disa yang hampir beranjak.


“Sa,” lagi suara Sigit terdengar.


“Disa masih tidur kali pah, semalam kan nemenin papah main domino sampe malem.” Suara Arini yang berikutnya terdengar.


“Aduuhhh aku maluuu..” rasanya Disa ingin bersembunyi dan tidak berrani keluar. Bisa ia bayangkan bagaimana pikiran kedua mertuanya kalau tahu jam segini ia masih bermalas-malasan di atas tempat tidur.


“Tidur apanya, jam segini disa biasanya udah rapi. Udah siap-siap ngajak papah sarapan.” Sigit melihat jam di tangannya, seperti ia sudah sangat hafal dengan kebiasaan menantunya.


“Tapi ini hari libur pah, udah jangan di ganggu.” Arini menarik tangan Sigit agar tidak terus mengetuk pintu kamar putranya.


“Sebentar, papah pastiin dulu. Nanti papah tinggal terus dia kesel gimana?” sejauh itu pikiran Sigit sekarang, sangat menjaga perasaan menantunya.


“Sa, papah mau makan bubur di deket taman kompleks. Mau papah tungguin apa gimana?” lagi suara Sigit terdengar dari balik pintu.


“I-iya pah, bentar.” Baru sekarang suara Disa terdengar.


“Tuh kan dia mau ikut.” Merasa menang rupanya mendengar jawaban Disa.


“Iya, papah tunggu di sofa. Jangan lama-lama.” pesannya sebelum beranjak.


“Iya pah. AWH!!” terdengar suara Disa yang mengaduh di ujung kalimatnya.


“Sayang, kenapa?” Kean segera terbangun. Ia kaget saat Disa tiba-tiba mengaduh ketika akan turun dari tempat tidur.


“Perut aku a.” Disa meringis sambil memegangi perutnya yang melilit tiba-tiba. Ia berpegangan pada tepian tempat tidur sambil membungkuk.


“Sa, kenapa?!” suara Sigit terdengar lebih lantang saat mendengar aduhan Disa.


“Perut aku kram.” Suara Disa tersendat-sendat menahan sakit.


“Ya udah kamu tiduran dulu. Aku bilang juga apa, udah tiduran aja, jangan kemana-mana.” Akhirnya Kean kesal karena Disa seperti tidak bisa menolak permintaan papahnya. Ia membaringkan kembali Disa di tempat tidur.


“Kean, disa kenapa?” yang di luar sana makin panik.


“Perut disa kram pah.” Sahut Kean pendek.


“Hah, kok bisa? Kamu apain disa hah? Buka pintunya!” Sigit mengetuk pintu dengan tidak sabar. Kalau tenaganya besar mungkin ia akan mendobraknya.


Kean mendengus kesal antara panik melihat Disa yang kesakitan dan Sigit yang terus memanaskan suasana.


“Gak aku apa-apain pah. Memang papah pikir aku apain disa? Di ajak berkembang biak ya wajar lah, aku suaminya.” Gerutu Kean yang membuat Arini ingin tertawa dan panik di waktu bersamaan.


“Ish aa, kok jawabnya gitu.” Disa jadi kesal pada suaminya yang kadang suka asal menjawab pertanyaan ayah mertuanya.


“Astaga, anak kamu ini!” decik Sigit sambil memandangi Arini lekat. Baru kali ini ia melihat suaminya panik.


“Mau mamah panggilin dokter gak nak?” tawar Arini kemudian.


“Gak usah mah, ini udah mulai berkurang sakitnya.” Sahut Disa setelah lebih tenang. Ia berusaha mengatur nafasnya agar rasa sakit di perutnya berkurang.


“Udah mas, kita tunggu dulu di sini. Jangan manggil-manggil terus, kasian disanya malu sama kita.” Arini sedikit berbisik.


“Gara-gara kean sih ini. Keseringan kali makanya disa sampe sakit.” Masih saja bapak Sigit ini menggerutu tidak terima. Ia duduk dengan tidak tenang di sofa dan terus memandangi ke arah pintu kamar Kean dan Disa.


“Katanya mau jadi kakek, jangan banyak proteslah.” Sengit Arini.


Sigit tidak menimpali, ia hanya menghela nafasnya dalam untuk meredam rasa cemas dan emosinya.


“Gimana sayang, kamu mau minum obat yang mana?” Kean membawa kotak P3K yang ada di lemarinya. Ia bahkan tidak tahu obat mana yang bisa ia berikan untuk mengurangi rasa sakit di perut istrinya.


Disa langsung bergidik saat mencium bau obat yang bercampur. Bisa terbayang rasa pahitnya seperti apa. “Gak usah a. Minta tolong bawain handuk basah hangat aja buat kompres.” Ia berusaha menegakkan tubuhnya bersandar pada headboard.


“Iya, tunggu sebentar ya.” Dengan cepat Kean berlari ke kamar mandi, membasahi handuk dengan air panas lalu memerasnya. Ia tidak memperdulikan rasa panas dari air di handuk, yang ia tahu harus segera memberikan ini pada Disa.


“Sini sayang.” Kean membawa Disa bersandar ke dadanya. Membuka sedikit bagian perut Disa yang kemudian ia taruh handuk di sana.


Disa terlihat memejamkan matanya, merasakan kontraksi otot perutnya yang perlahan berkurang setelah bertemu rasa hangat.


“Nanti siang kita ke dokter ya, kamu udah dua kali kayak gini.” Kean memandangi Disa dengan khawatir. Beberapa hari lalu keluhan yang sama juga di rasakan Disa saat Kean menjemputnya ke butik untuk makan siang. Dan Disa hanya mau minum air hangat, tidak mau minum obat. Seperti butiran obat itu adalah musuhnya.


“Nggak usah a. Ini kayaknya karena perut aku kosong aja, jadi sakit mag aku kambuh. Nanti juga mendingan.” Kilah Disa.


Pergi ke rumah sakit adalah salah satu yang Disa takutkan. Sebisa mungkin ia tidak ke tempat itu, tempat yang membuatnya sering mendengar suara tangis kesedihan dari keluarga pasien dan tempat yang menjadi saksi saat ia harus berpisah dari orang yang ia sayangi.


“Ya udah, kalo sakit lagi mau gak mau kita harus ke dokter, supaya kamu di tangani dengan serius.”


“Iya aa sayang, gak akan sakit lagi kok. Ini aja udah mendingan.” Disa melepas handuknya saat sudah terasa Dingin. Ia memandangi perutnya sendiri yang rata lantas tersenyum.


“Kenapa?” Kean asing sendiri melihat Disa yang malah tersenyum.


“Aku seneng.” Ungkapnya dengan mata berbinar.


“Karena aku di kelilingi orang-orang yang sayang sama aku. Makasih ya a, udah bawa aku ke rumah ini. .” Disa mengecup pipi Kean yang ada di sampingnya.


“Selain aku punya suami yang baik dan tampan, aku juga punya mama, papah dan seorang adik. Sesuatu yang gak pernah aku bayangkan sebelumnya.” Imbuh Disa dengan mata berkaca-kaca. Entah mengapa belakangan ia jadi lebih sensitive dan mudah menangis saat mengungkapkan perasaannya.


Kean tidak lantas menimpali, ia mengusap air mata Disa lalu memeluk istrinya dengan erat. Di kecupnya pucuk kepala Disa beberapa kali.


“Aku yang harusnya berterima kasih karena kamu membuat rumah ini terasa seperti rumah. Aku kembali merasakan menjadi seorang anak dengan orang tua yang lengkap dan seorang suami yang beruntung memiliki istri seperti kamu. You complete me.” Lirih Kean dengan penuh kesungguhan.


Disa tersenyum tipis. Di pandanginya pantulan ia dan Kean dari kaca di depan mereka. Diusapnya pipi Kean dengan lembut, sekali lalu ia menegandah dan mencium bibir suaminya.


“Love you.” Ujarnya.


“Love you more.” Balas Kean dan menciumi bibir Disa beberapa kali, membuat istrinya terkekeh gemas.


“Sekarang kita bangun yuk, perut aku enakan. Kita temenin papah jalan-jalan.” Disa kembali teringat pada janjinya dengan Sigit.


“Kamu yakin? Kalau kamu ngerasa gak nyaman dan segan nolak permintaan papah, aku yang akan bicara sama papah. Kamu di kamar aja.”


“A, aku bukan segan nolak permintaan papah. Justru aku pengen menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang di sekitarku. Senin sampe jum’at sebagian besar waktu aa di habisin di kantor, aku juga sama. Kadang sabtu minggu kita ngerjain proyek. Mamah sama papah cuma minta sedikit waktu kita, masa sih mau kita tolak?”


Kean tertunduk lesu, kalau sudah masalah hitung-hitungan waktu dan kesempatan, dah lah, ia akan kalah dari Disa.


“Ya udah, kali ini aku nurut.” Timpal Kean tidak semangat.


“Kali ini? Kali ini saja maksudnya?” Disa mengernyitkan dahinya mendengar kalimat suaminya.


“Iya, karena nanti malam kamu yang harus nurut.” Sahut Kean dengan senyum menggoda di ujung kalimatnya.


“Aa, dasar!” Disa segera beranjak dari tempatnya. Memakai selimut untuk menutupi tubuhnya ke kamar mandi. Biarkan saja suaminya seperti itu, sendiri di atas tempat tidur dan menggunakan bantal untuk menutupi bagian tubuhnya. Ia lebih tahan dingin dari Disa.


*****


Taman kompleks di hari sabtu dan minggu memang ramai. Para penghuni kompleks banyak yang pergi ke sana hanya sekedar untuk berjalan-jalan atau menikmati quality time bersama keluarga mereka.


Kean yang memilih berolahraga, lari keliling taman dan sudah menyelesaikan satu putaran. Arini yang belajar berjalan di temani Shafira dan Disa yang berjalan santai dengan Sigit. Mereka asyik berbincang membicarakan hal random.


Belakangan ini, Sigit memang suka bercerita, seperti ia membutuhkan teman untuk berbagi pikiran dan pengalamannya di masa lalu.


Benar yang Arini katakan, saat seseorang menua mereka lebih suka di temani, di dengarkan dan tentu saja lebih sensitif. Hal itu pun terjadi pada Sigit dan menurutnya, Disa adalah teman bicara yang menyenangkan tentang banyak hal.


Seperti saat ini, mereka tengah membicarakan tentang taman kompleks yang katanya di bangun oleh kakeknya Kean.


“Dulu di tengah taman ini ada air mancur dan di sana ada area jualan untuk pedagang. Tapi kemudian dipugar karena tidak cukup aman untuk anak-anak.” Sigit melanjutkan ceritanya tentang taman kompleks yang di bangun oleh mendiang ayahnya.


“Tapi pedagang masih bebas masuk kan pah?” Disa memperhatikan beberapa penjual mainan anak yang sedang mengais rejeki di sana. Anak-anak mengerumuninya.


“Iya di perbolehkan. Hanya saja tidak boleh menetap, karena bikin taman jadi kotor. Jadi mereka hanya datang sewaktu-waktu, biasanya kalau libur saja. Hari-hari biasa taman ini sepi.” Sigit menghentikan langkahnya sejenak, memperhatikan kondisi taman yang jauh berbeda dengan dulu.


Taman ini memang berada jauh dari rumah keluarga Hardjoyo. Taman yang berada di tengah kompleks sementara rumah Sigit di depan sana sehingga Disa tidak sering datang ke tempat ini.


“Dulu pohonnya tidak serindang sekarang. Papah udah bilang ke pihak pengelola supaya mereka menyediakan tenaga kebersihan di tempat ini supaya tidak banyak daun berserakan dan bikin terkesan kotor. Minimalnya mereka bekerja sama dengan pejabat pemerintah setempat lah untuk membantu menjaga kebersihan taman ini.”


Tidak bisa di pungkiri, tinggal di kompleks elite sangat sulit untuk membuat kesepakatan-kesepakatan antar penghuninya. Karena individualisme yang tinggi membuat setiap orang cenderung mengurusi urusan masing-masing di banding hal remeh temeh yang menghabiskan waktunya. Dan itu bisa di pahami karena mereka bertanggung jawab atas diri masing-masing.


“Kalo di sini, gak pernah ada acara yang melibatkan banyak warga gitu pah? Misal 17 agustusan gitu?”


“Nggak sa. Seingat papah belum pernah ada hal seperti itu di sini. Mereka punya acara sendiri-sendiri, ya kecuali saat libur seperti ini. Kalau mereka tidak ada acara keluar rumah barulah mereka datang ke taman ini.” Terang sigit.


Disa terangguk paham. Taman ini memang bagus namun tidak terawat.


“Kita sarapan bubur dulu di sana.” Menunjuk penjual bubur dalam gerobak yang sudah berjualan sejak lama. Ternyata tidak hanya Kinar yang langganan tukang bubur ini, melainkan juga Sigit. Buburnya memang enak, tidak terlalu encer dan rasanya cukup enak walau tidak di tambah bumbu lain.


“Iya pah. Awh!” tiba-tiba saja langkah Disa terhenti. Ia berpegangan pada tangan Sigit sementara tangan satunya memegangi perutnya yang kembali melilit.


“Kenapa sa? Ayo kita duduk dulu.” ajak Sigit. Ia membawa Disa berjalan menepi, mendekati sebuah bangku.


Disa meringis kesakitan dengan keringat dingin yang mengucur di dahi dan punggungnya. Wajahnya pucat dan kepalanya seperti berputar. Perlahan bayangan wajah Sigit terlihat banyak semakin lama semakin samar dan,


“BRUG!” Disa terjatuh tidak sadarkan diri.


“DISA!!!” seru Sigit membuat banyak pasang mata menoleh ke arah mereka. Orang-orang mulai mendekat, menghampiri.


“Sa, kamu kenapa?! Hey, DISA!!” Sigit panik bukan kepalang. Ia menopang tubuh Disa yang terkulai dengan lengannya.


“Disa, bangun sa!!” Sigit menepuk-nepuk pipi Disa yang pucat pasi namun Disa tidak merespon sedikitpun.


“TOLONG!!! KEAN! FIRA! RINI!!!” semua orang di panggilnya.


Kean yang melihat dari kejauhan, segera berlari saat ia mengenali kalau yang dikerumuni orang-orang adalah Sigit dan Disa.


“Pah, kenapa?!” Kean tidak kalah paniknya, terlebih saat melihat Disa yang tidak sadarkan diri di pangkuan Sigit.


“Nggak tau. Tadi dia pingsan gitu aja.” suara Sigit sampai gemetaran.


“Disa, sayang!” berganti Kean yang menopang tubuh Disa. “Hey, sayang.” Panggilnya lagi, namun Disa masih belum merespon.


“Cepet bawa ke rumah sakit abang! Bukan malah di panggil-panggil!!” seru Shafira yang ikut panik.


“ASTAGA!!!” dengus Kean, di bopongnya tubuh Disa setengah berlari mencari tempat yang lebih aman. Sementara Arini segera menelpon Daan untuk membawa mobil ke taman. Semua panik, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.


“Sayang, kamu kenapa?!” lirih Kean dengan perasaan tidak karuan.


*****