
Disa segera menyusul Dokter Frans. Di dalam kamar Kean, terlihat dokter Frans mulai memeriksanya. Menempatkan stetoscope di dada kiri dan kanan Kean lalu berpindah ke perut.
“Jam berapa tuan muda minum obatnya?” tanya dokter Frans saat melihat kedatangan Disa.
“Sekitar jam 8 dok. Apa tuan muda baik-baik saja?” Disa mendekat. Menaruh teko dan gelas di dekat tempat tidur Kean.
“Ini hanya reaksi obat, terutama antibiotic. Akan membaik setelah minum obat pereda demam dan tolong kompresnya tetap dilanjutkan.”
“Tapi sepertinya perbannya basah dok, apa tidak sebaiknya di ganti saja?”
“Iya di ganti saja, sekalian saya ingin melihat lukanya.”
“Baik dok.”
Disa mengambil alat perawatan lukanya dan mendekat pada Kean. “Tuan, tidur miring dulu, saya ganti sebentar perbannya.”
Kean mengerakkan tubuhnya saat Disa membantunya untuk miring. Mengangkat sebagian kaos yang di kenakan Kean dan mulai membuka perbannya dengan hati-hati.
“Lukanya bagus, tidak ada infeksi. Kemungkinan benar-benar hanya dari reaksi obat.”
“Apa obatnya tetap dilanjutkan dok?”
“Ya tetap di lanjutkan. Tubuhnya akan mulai terbiasa menerima zat asing dari obat dan ia akan membaik.”
“Hem, syukurlah.” Disa menghela nafasnya lega.
Dokter Frans hanya tersenyum melihat tangan Disa yang cekatan mengganti perban luka Kean.
“Sepertinya tuan muda akan cepat sembuh kalau kamu merawatnya sebaik ini.” Puji dokter Frans.
“Aamiin..” sahut Disa yang tetap fokus pada perban yang tengah di gantinya.
Setelah melihat kondisi Kean yang membaik, dokter Frans pamit pulang.
“Simpan nomor telpon saya, kalau perlu apa-apa langsung hubungi saya.” Ujarnya seraya menyodorkan sebuah kartu nama.
“Baik dok.”
“Malam ini, tolong tetap jaga tuan muda. Kompresnya sering di ganti dan sering-sering beri minum agar tidak kekurangan cairan.”
“Baik dok.” Lagi Disa mengangguk.
“Baik, kalau begitu saya permisi. Semoga lekas sembuh tuan.” Pamitnya seraya menepuk punggung tangan kiri Kean.
Kean hanya terangguk lemah. Tenaganya seperti terkuras habis dan belum terisi kembali.
“Maaf dok, mungkin saya tidak bisa mengantar.” Ujar Disa.
“Tidak masalah. Selamat malam.”
“Malam dok.”
Sepeninggal dokter Frans, Disa kembali ke samping Kean. Membantunya untuk duduk bersandar.
“Tuan, minum dulu obat pereda panasnya.” Ujar Disa. Kean mengangguk pasrah, tenaganya mulai ada hanya untuk sekedar duduk bersandar.
Menyodorkan obat dan air minum, Kean langsung meminum obat yang diberikan Disa.
“Sekarang tuan tiduran lagi, supaya cepet pulih.” Lanjutnya, membantu Kean untuk kembali tidur.
“Terima kasih disa.” Ungkapnya dengan nafas terengah.
“Sama-sama tuan.” Sahutnya dengan segaris senyum yang ia tujukan pada Kean.
Disamping tempat tidur Kean, Disa menempatkan kursi yang biasa di gunakan Kean untuk bekerja. Ia bertekad akan menjaga Kean hingga kondisi laki-laki ini membaik. Mengambil lagi kompres dan memasangkannya di dahi Kean. Untuk beberapa saat Kean memandanginya dan Disa hanya tersenyum samar. Perlahan Kean menutup matanya saat rasa kantuk mulai datang. Sedari tadi, walau matanya terpejam tapi ia tidak benar-benar tertidur. Hingga sekarang baru terasa ngantuknya terlebih karena efek obat.
Disa menghela nafas lega saat Kean mulai terlelap dan tidak lagi menggigil. Ia mempertahankan kompresannya dan beberapa kali bolak balik ke dapur untuk mengganti air kompresan. Satu dua jam berlalu, demam Kean mulai turun.
Semakin malam, Disa mulai tidak bisa lagi menahan kantuknya, hingga akhirnya ia tertidur di kursi dengan kepala yang berada di tempat tidur Kean. Satu tangannya masih memegangi kompresan di dahi Kean yang perlahan mulai mengering.
Sudahlah, sepertinya ia pun perlu tidur.
*****
Pagi menjelang dan keduanya masih terlelap. Kean yang terbangun lebih dulu, mengerjapkan matanya dan mengusap kepalanya yang masih sedikit pusing. Efek demam rupanya cukup membuatnya pening dan lemah.
Ia memegang kepalanya yang masih ada kompresan di atasnya. Sudah kering namun dahinya sudah tidak panas lagi. Ia melihat Disa yang masih tertidur di kursi dengan badan membungkuk ke tempat tidur. Pasti sangat pegal. Tapi rasa ngantuk sepertinya mengalahkan rasa pegal di tubuh Disa.
Kean memperhatikan wajah wanita yang semalaman menjaganya. Wajahnya yang polos, terlelap begitu damai hingga Ia tidak tega untuk membangunkannya. Tangannya yang berada di samping tubuhnya, membuat Kean menggerakan jemarinya mendekati jemari Disa. Menyentuhkan ujung telunjuknya dengan telunjuk Disa dan ia tersenyum sendiri. Jarinya terlihat lentik tapi tidak sebesar ukuran jemarinya. Timbul rasa penasaran, bagaimana rasanya menggenggam tangan yang selalu bekerja keras tersebut?
Kean memiringkan tubuhnya menghadap Disa. Ia masih ingin memandangi wajah polos yang terlelap. Helaian anak rambut menutupi dahinya yang berada tepat di hadapan Kean. Ia sedikit membungkukan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada Disa. Ternyata seperti ini wajah Disa saat tertidur, sangat damai. Bulu matanya yang lentik saling bertumpukan di bawah alis tipis yang tidak terlalu rapi. Kulitnya kuning langsat dan sepertinya tanpa polesan bedak sedikitpun. Tangannya terangkat ingin menyentuh wajah itu namun kemudian ia urungkan dan hanya bisa mengepal di udara.
“Terima kasih,” ujarnya dengan senyum kecil di ujung kalimatnya.
Tangannya kembali terangkat untuk mengusap kepala Disa tapi lagi harus ia urungkan saat terlihat Disa yang mulai mengerjapkan matanya. Kean berpura-pura menutup matanya saat terlihat Disa yang terbangun. Beruntung ia belum menyentuh dahi atau kepala Disa, jika tidak mungkin Disa akan tahu kalau ia sedang memandanginya.
“Astaga udah jam 7?” gumam Disa yang terlihat kaget saat melihat jam di dinding.
Ia mengucek matanya untuk memperjelas penglihatannya dan mengusir rasa kantuk yang semalam tidak bisa di tahannya. Saat membuka matanya lebar, ia melihat wajah Kean yang berada tepat di hadapannya. Matanya masih tertutup rapat dan helaan nafasnya terdengar dalam dan beraturan.
Menarik tangannya yang semalaman ada di atas dahi Kean lalu menggeliat dengan nikmat. Tanpa Disa sadari, Kean membuka matanya dan melihat apa yang Disa lakukan. Kedua tangannya terangkat ke atas, dadanya membusung, memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan, dan otot-otot tubuhnya tampak meregang. Kean tersenyum sendiri melihat tingkah Disa. Saat Disa menoleh, ia kembali menutup matanya.
Merapikan alat kompres lalu menempatkan punggung tangannya di dahi dan leher Kean untuk mengecek suhu. Lagi, bulu kuduk Kean meremang saat punggung tangan Disa menyentuh lehernya, sementara Disa santai saja. Ia mencoba menahan dirinya agar tidak bergidik geli sebelum Disa pergi. Bagi Disa, Kean sudah membaik, tidak demam dan ia harus memulai pekerjaan rutinnya pagi ini.
Pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air panas lalu keluar dari kamar Kean dengan membawa semua peralatannya. Saat pintu tertutup barulah Kean bisa bernafas lega dan bergidik mengingat sentuhan Disa di lehernya. Ia masih tersenyum sendiri saat membayangkan semalaman Disa menjaganya.
Tidak ada yang ia ingat dengan jelas selain saat Disa begitu panik dan menelpon Kinar dan merawat lukanya yang basah. Semuanya samar-samar dan begitu sulit membuka matanya lebih lebar. Tapi pagi ini sepertinya ia sudah membaik. Badannya terasa lebih ringan dan segar.
Kean bangun dari tempat tidurnya, meregangkan otot tubuhnya dan, “Awww..” ia mengaduh. Lupa kalau sebagian lengannya masih terpasang perban dengan luka jahitan di dalamnya. Beranjak dari tempat tidurnya, menghampiri cermin lalu berbalik untuk melihat lukanya.
Ia baru tahu kalau lukannya sedikit berbentuk diagonal, memanjang dari punggung kanan hingga ke lengan belakang. Pantas saja ia begitu sakit saat menggunakan tangan kanannya. Tapi lagi ia bersyukur karena hanya ia yang terluka.
*****
Suara derap kaki terdengar menuruni anak tangga. Disa yang sudah selesai menata makanannya segera bersiap menyambut tuan mudanya.
“Selamat pagi tuan.” Sapanya saat melihat Kean yang berdiri di ujung tangga.
“Pagi.” Kean sudah terlihat rapi dan berganti pakaian sendiri. Sepertinya kondisinya sudah benar-benar membaik karena ia mulai bisa mengurus dirinya sendiri.
“Anda akan sarapan sekarang tuan?” tawar Disa.
“Tidak, tolong ganti dulu perban saya.” Ujarnya yang berbelok ke ruang tv. Ia duduk di sofa panjang dan menyalakan televisi.
“Baik tuan.” Disa membawa peralatan tempurnya lantas menghampiri Kean.
Kean membelakangi Disa lalu membuka bajunya. Disa duduk di belakangnya dan mulai melepaskan satu per satu plester luka Kean.
“Wah, lukanya sudah mulai kering tuan.” takjub sendiri melihat penyembuhan luka Kean yang cukup cepat.
“Mungkin karena kamu merawatnya dengan baik.” Satu pujian tulus Kean sampaikan dan membuat Disa tersipu.
“Kata dokter frans, kalau sudah mulai mengering, nanti akan terasa sedikit gatal. Tapi jangan di garuk supaya tidak meninggalkan bekas. Bu kinar sudah mengirimkan salep untuk bekas lukanya tadi pagi, bersamaan dengan bahan masakan.” Terang Disa yang asyik membersihkan luka Kean.
Benar, lukanya memang tidak terasa sakit seperti sebelumnya. Walau masih ada rasa ngilu saat lukanya di tekan oleh Disa tapi tidak sampai membuat Kean berkeringat dingin seperti sebelumnya.
“Sudah selesai tuan.” Cepat sekali Disa menyelesaikan pekerjaannya.
Kean berusaha menoleh lukanya yang sudah kembali tertutup. Ia tidak menyangka secepat ini waktu yang Disa gunakan untuk merawat lukanya. Atau mungkin ia terlalu menikmati, memperhatikan pantulan wajah Disa di kaca hingga tidak terasa waktu berjalan dengan cepat.
“Anda akan sarapan di sini atau di meja makan tuan?” membereskan set perawatan lukanya.
“Di sini saja.”
“Baik tuan.” Selalu saja ia terdengar sigap.
Pagi ini, Disa sudah kembali terlihat rapi. Wajahnya terlihat cerah, tidak ada sisa-sisa rasa kantuk walau hampir semalaman ia terjaga. Dari tempatnya Kean memperhatikan Disa yang kesana kemari lalu menyiapkan sarapan untuknya di atas baki.
Selesai menata makanan, ia menghampiri Kean dengan senyum terkembang.
“Silakan tuan.” Menaruh sebaki makanan di atas meja lalu menatanya di hadapan Kean.
Ada semangkuk oatmeal dengan beragam toping yang terlihat cantik. Di sampingnya ada segelas susu yang masih hangat. Patut di acungi jempol, masakan buatan Disa memang selalu mengundang selera.
“Sarapanlah di sini.” Ajak Kean pada Disa.
“Baik tuan.”
Kembali ke meja makan untuk menyiapkan sarapan untuknya. Ia menyiapkan menu yang sama agar tidak repot dan lama.
Tak lama, ia duduk di sofa kecil samping Kean. Ia tersenyum kecil saat Kean menolehnya.
“Apa rasanya enak tuan?” tanyanya saat melihat Kean sudah menyuap entah yang ketiga atau keempat kalinya.
“Hem, enak.” Sahut Kean santai.
Terlihat Disa yang tersenyum puas mendengar jawaban Kean. Ternyata semudah itu untuk membuat Disa senang. Cukup memuji masakannya dan senyumannya langsung terbit.
“Ting tong!”
Baru dua suapan di mulut Disa, suara bell berbunyi membuyarkan fokus mereka menikmati sarapan.
“Saya permisi dulu tuan.”
Kean hanya mengangguk dan membiarkan Disa pergi.
Dengan langkah cepat Disa menuju ruang tamu. Membuka pintu dan,
“Selamat pag,” Disa menggantung kalimatnya saat melihat seseorang yang berdiri di balik pintu. Ia terlihat kaget dan,
“Disa?” sapa laki-laki yang tidak kalah terkejut.
******
Kira-kira siapa yang datang bertamu?