Marry The Heir

Marry The Heir
Andai saja bisa jujur sekarang



Latihan Shafira semakin intensif karena acara memperingati hari kartini semakin dekat. Melodi yang dibuat Malvin terdengar mengalun indah, berpadu harmoni dengan suara Shafira yang merdu. Teman-temannya yang duduk di sisi aula, tampak terkesima menikmati penampilan Shafira dan Malvin.


"... Tangan halus nan suci. Tlah mengangkat tubuh ini. Jiwa raga dan seluruh hidup, rela dia berikan..."


bait demi bait lagu terus mengalun membuat Andini sang guru vokal ikut menikmati penampilan Shafira. Mereka kompak bertepuk tangan saat lagu itu selesai di nyanyikan Shafira.


"Vin,.." Nara segera berlari membawa sebotol air mineral yang ia sodorkan pada Malvin.


"Nih, kamu pasti capek banget. Tadi kamu keren banget vin," ungkap Nara dengan gaya manjanya


Shafira hanya menoleh lantas mengabaikan Malvin dan Nara.


"Thanks ra. Tapi gue belum haus. Mungkin fira yang haus." melirik Shafira dengan sudut matanya.


Nara ikut melirik kesal lalu berdecik. "Ck, dia kan tuan putri. Masa gak sanggup beli air minum doang." sinisnya.


Malvin hanya tersenyum mendengar jawaban Nara yang mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


Shafira mendengar ucapan Nara, hanya saja ia memilih mengabaikannya. Baginya, sudah tidak ada urusan antara ia dengan Nara.


"Sini fir, ada yang mau ibu bahas sedikit." Andini memanggil Shafira yang terlihat malas. Bukan karena seharian berlatih tapi karena keadaan yang membuat mood-nya langsung anjlok.


Duduk di kursi yang ada di hadapan Andini di susul oleh Diana dan teman-temannya.


"Gue ke sana dulu." pamit Malvin yang ikut menyusul Shafira dan teman-temannya.


"Ish! Malvin." Nara berdecak kesal tapi tidak lantas membuat Malvin berbalik. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari ruang musik setelah sebelumnya melirik Shafira dengan sinis.


"Penampilan kalian berdua, terlihat bagus. Cocok untuk jadi gongnya. Hanya saja, ekspresi fira masih kurang, dikiiittt lagi. Bisa di tambah kan?" tanya Andini.


Shafira hanya mengangguk. Sudah berhari-hari ia berusaha mengumpulkan feel-nya saat menyanyikan lagu tersebut tapi sampai saat ini masih sangat sulit.


"Iya bu, saya akan mencobanya lebih baik lagi." ia berusaha untuk menyanggupinya. Bagaimana pun ia harus menampilkan yang terbaik demi nama baik sekolahnya.


"Ya, ibu percaya sama kamu." mengusap bahu Shafira dengan lembut. "Dan untuk malvin, mungkin ada baiknya, di part yang tanpa song, kamu sedikit mainkan nadanya lebih sendu lagi tapi jangan terlalu tajam. Supaya suara fira makin kawin sama melodinya."


"Baik bu." Malvin yang selalu patuh.


Selintas Shafira melirik Malvin yang serius menyimak kalimaat Andini. Musik yang mengiringinya memang sangat indah hingga kadang nyaris membuatnya terbawa perasaan. Hanya saja seperti ada kail yang belum tertaut dengan hatinya.


"Cie, udah kawin aja nih." cetus Diana yang membuat teman-temannya ikut tertawa.


"Ih, apaan sih lo di." Shafira menyikut lengan Diana dengan kesal. Sementara Malvin hanya menoleh dengan senyum samar.


"Nyanyi fir, nyanyi. Iya kan bu?" timpal Diana dengan semangat.


"Iya, emang kalian bahas apa?" Andini malah ikut menggoda.


"Cieeee....." kompak teman-teman Shafira berseru.


"Tau ah!" dengusnya dengan kesal. Ia kembali ke mode wajah dinginnya karena teman-temannya terus menggoda.


Dari tempatnya Malvin ikut tersenyum. Ada rasa gemas saat ia melihat wajah Shafira yang blushing setelah sekian lama terlihat dingin dan acuh saat mereka bertemu.


"Kenapa lo harus benci banget sama gue fir?" batin Malvin tanpa melepaskan pandangannya dari Shafira yang salah tingkah.


******


Menelponnya beberapa kali, tersambung tapi tidak di jawab.


Kesal, itu yang Kean rasakan saat ini.


Ia kembali mengecek cctv rumahnya dan lagi, Disa tidak ada di sana. Padahal baru tadi mereka bertemu, bagaimana bisa lagi-lagi mereka bertemu diam-diam di luar rumah. Mencoba menghubungi Kinar dan tidak lama panggilannya di jawab.


“Apa disa di rumah utama?” tanyanya dengan cepat.


“Disa?” Kinar balik bertanya dan pertanyaannya membuat Kean semakin kesal. “Tidak ada tuan, dia belum kembali.” Sepertinya Kinar sudah lebih dulu mencari Disa.


Panggilan langsung di putus dan ponselnya ia lempar sembarang ke atas meja.


“Kemana lagi perginya anak ini?” gumam Kean seraya memijat dahinya yang pening. Kenapa Disa suka sekali bepergian tanpa meminta izin darinya.


Datang Roy dengan setumpuk dokumen di tangannya dan yang membuat Kean menghela nafasnya kasar.  Akhir-akhir ini kekesalannya selalu bertambah ruah dan membuat perasaannya semakin tidak nyaman.


“Apa ada masalah tuan?” sepertinya Roy mulai membaca perubahan ekspresi tuannya.


Kean menghembuskan nafasnya kesal, saat Roy bertanya entah mengapa kekesalannya semakin menjadi.


“Disa mulai terbiasa mengabaikan telpon saya. Dia baru akan meminta maaf saat sore nanti. Kemana sebenarnya dia pergi?” gerutu Kean dengan kesal.


“Disa tuan?” Roy sedikit terkejut mendengar nama yang di sebut Kean.


Kean tidak menimpali, fokusnya beralih pada laptop di hadapannya. Sudahlah, mungkin ia harus menyelesaikan dahulu pekerjaannya yang semakin membuatnya pusing. Tapi paling tidak, pikirannya bisa teralihkan.


Hingga sore menjelang, Kean pulang lebih awal. Jam 5 sore ia sudah sampai di rumah. Rumah masih sangat sepi dan rapi seperti biasanya. Ia mengambil segelas air lalu duduk di sofa dengan bahu tersandar dan kaki yang ia tempatkan ke atas meja. Menghela nafasnya panjang dan berusaha menenangkan pikirannya yang semerawut.


Kembali televisi menemaninya menghabiskan waktu. Di pangkuannya ia menyalakan lagi laptop yang menampilkan laporan yang dikirim oleh bawahannya. Cukup serius ia membacanya dan mengoreksi beberapa bagian hingga tiba-tiba terdengar suara pintu berderet.


“Selamat sore tuan.” Sapa Disa yang muncul dari balik pintu. Ia cukup terkejut mendapati Kean yang sudah tiba di rumah saat matahari masih tampak.


Dahinya tampak berkerut melihat sikap Kean sore ini. Ia berfikir mungkin tuan mudanya tengah banyak pekerjaan sehingga mood-nya kurang baik. Hah, ia harus terbiasa dengan perubahan sikap Kean yang sering tiba-tiba.


Di ruang kerjanya Kean melanjutkan pekerjaan. Ia pun menyalakan CCTV yang memperlihatkan Disa tengah melakukan pekerjaannya. Tidak lama terlihat Rahmat masuk ke dapur dan memberikan sebuah tas pada Disa. Sedikit memperhatikan, sepertinya itu tote bag yang biasa pakai Disa. Mereka berbincang sebentar dan tidak lama setelah itu Disa mengeluarkan ponselnya dari dalam tote bag-nya.


“Tring” satu pesan masuk ke ponsel Kean yang kemudian ia buka.


“Selamat sore tuan. Mohon maaf panggilan tuan tidak terjawab oleh saya. Tas saya tertinggal beserta ponsel di dalamnya. Ada yang bisa saya bantu tuan?” begitu bunyi pesan yang dikirim Disa.


Kean hanya berdecak sebal. Ia mengabaikan begitu saja pesan Disa. Yang ia butuhkan balasan pesan tadi siang, bukan saat ini.


Sambil memainkan ponselnya, Kean memperhatikan Disa yang masih sibuk dengan benda kecil itu. Sesekali ia terlihat tersenyum, entah dari siapa telepon yang ia jawab.


Kean semakin kesal. Bisa-bisanya Disa mengabaikan panggilannya sementara ia asyik berbincang dengan orang lain. Mungkin Reza.


Ia memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya dan diam-diam menghampiri Disa di dapur.


“Iya, makasih banyak udah di anterin tas-nya. Maaf ngerepotin.” Begitu kalimat yang Kean dengar saat Disa bertelepon.


Kean tersenyum sarkas, benar-benar gadis ini, pikirnya.


Tanpa Disa sadari, Kean sudah berdiri di belakangnya dan mengambil ponsel Disa.


“Tu-tuan?” Disa segera berbalik dengan wajah tercengang.


Kean mengangkat ponsel Disa tinggi-tinggi dan menatapnya dengan tajam.


“Kamu tau alasan bu kinar tidak mengizinkan kamu menggunakan ponsel saat bekerja di sini?” tanyanya dengan sinis.


Disa hanya menggeleng dengan wajah berubah tegang. Usahanya untuk merebut ponsel dari tangan Kean, ia urungkan begitu saja. Terlihat lehernya yang bergerak naik turun menelan salivanya kasar, ia sadar kalau tuan mudanya sedang marah.


“Karena saya bisa melakukan ini,.”


“PRANK!” ponsel kecil itu ia jatuhkan begitu saja hingga bagian-bagiannya terlepas dan terserak di lantai.


Disa tersentak dengan matanya membelalak, entah karena kaget atau karena kesal. Sepertinya ia mau protes tapi tidak berani.


“Kenapa, kamu mau marah?” tanya Kean yang berjalan mendekat membuat Disa beringsut dan mundur beberapa langkah.


Hanya kepalanya yang menggeleng, dengan tangan gemetar ketakutan.


“BRUK!”


Disa kembali tersentak saat Kean menekan pintu kitchen set di atas kepala Disa dan tangan panjangnya bersandar di sana.


“Kamu mengabaikan telpon saya tapi saat orang lain menelpon, sepertinya kamu sangat senang.” Sinisnya dengan tatapan yang mengunci pandangan Disa.


Wajah Disa terlihat pucat pasi. Ia tidak menyangka kalau Kean akan berrespon seperti ini.


“Maaf, tuan saya tidak bermaksud seperti itu. Tadi tas saya tertinggal di,” Disa tidak melanjutkan kalimatnya. Ia ragu apa ia harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.


“Dimana?” tanya Kean. “Di gallery atau di mobil seseorang?” pertanyaannya semakin menjurus dan Disa hanya mengernyitkan dahinya.


Melihat wajah Disa yang semakin tegang, rasanya tebakannya benar. Ia semakin yakin saat ia melihat noda cat di apronnya.


Menarik tubuhnya menjauh dari Disa. Ia mundur beberapa langkah seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


“Apa kamu senang melakukan semuanya disa?” akhirnya Kean bertanya lirih seraya menyandarkan tubuhnya pada dinding. Matanya masih menatap Disa dengan seksama.


Disa terangguk pelan. Mungkin Kean sudah tahu apa yang ia lakukan sehingga sebaiknya ia tidak menyembunyikan apapun lagi.


Dan melihat Disa yang terangguk pelan, hatinya semakin mencelos. Di satu sisi ia senang melihat Disa yang tampak bahagia tapi di sisi lain, ada rasa tersiksa yang tidak bisa ia katakan. Entah sejak kapan ia memiliki rasa iri pada kebahagiaan orang lain.


“Saya ikut senang kalau kamu merasa bahagia dengan apa yang kamu lakukan.” Ujarnya. “Walau itu berarti kamu sangat bahagia hanya saat bersama sahabat saya.” lanjutnya dalam hati. Mungkin ia yang harus mulai menata hatinya dan tidak iri dengan kebahagiaan yang di rasakan orang lain.


“Tuan, saya,..”


Dengan cepat Kean mengangkat tangannya dan mengarahkan telunjuknya meminta Disa diam. “Sudahlah disa. Kamu di sini hanya untuk melaksanakan kewajibanmu. Maka cukup selesaikan kewajibanmu tanpa harus memikirkan hal lain.” Tandasnya.


Sekali lalu, ia beranjak dari tempatnya. Kembali ke kamarnya untuk tidur sebentar, atau mungkin melanjutkan pekerjaannya. Atau apa saja lah yang sekiranya bisa menjernihkan pikirannya. Ia perlu waktu yang sedikit lebih lama untuk menenangkan hatinya.


Melihat Kean yang pergi begitu saja, entah mengapa perasaan Disa mulai tidak nyaman. Beberapa hari ini, ia memang tidak menjawab telpon Kean dalam waktu tertentu. Ada yang harus ia lakukan dan tidak seharusnya Kean tahu. Tapi sepertinya, niatnya tidak berujung baik dan malah membuat semuanya menjadi kacau.


Awalnya ia ingin meyakinkan Kean kalau apa yang ia lakukan karena ia memang peduli tapi lagi, mungkin memang benar kalau ia sudah masuk terlalu dalam ke lorong yang gelap tanpa tahu harus berbelok ke arah mana.


Disa menghela nafasnya dengan berat. Ia berjongkok, memunguti satu per satu kepingan ponselnya yang berserakan. Kembali mengingat ekspresi Kean beberapa saat lalu, saat ia terlihat begitu kecewa padanya.


“Sebentar lagi tuan, saya mohon tunggu sebentar lagi dan anda akan melihatnya.” Gumamnya seraya memandangi kepingan ponselnya yang masih terserak di lantai.


Andai saja ia bisa jujur sekarang, apa keadaannya akan berubah?


*****