Marry The Heir

Marry The Heir
Benarkah sumpah itu?



Satu kunjungan tidak terduga di dapatkan Disa dari seorang wanita yang menunggunya di taman belakang.


Adalah Kinar yang mengangguk hormat saat melihat kedatangan nona mudanya.


“Selamat siang nona muda.” Sapanya dengan sopan.


“Selamat siang, bu. Silakan duduk.”


“Terima kasih.”


Mereka duduk bersisihan, saling bersitatap dengan pikiran masing-masing, lantas saling melempar senyum.


“Mohon maaf karena saya telah mengganggu kesibukan nona.” Kalimat basa-basi namun penuh penghargaan itu di lontarkan Kinar, diikuti segaris senyum tenang yang tidak biasanya Disa lihat.


Yang terbersit di pikiran Disa, Kinar adalah wanita yang tegas. Seperti yang pernah Tina katakan, senyumnya itu mahal. Hati-hati kalau Kinar sudah tersenyum, ia pasti akan berbicara serius, entah itu mengomeli mereka atau bersiap memberi hukuman.


Itu pikiran Disa dulu yang di tanamkan Tina di alam bawah sadarnya. Tapi untuk sekarang, tidak mungkin kan Kinar datang untuk mengomelinya?


“Nona menata tempat ini dengan indah, saya sangat terkesan.” Kalimat itu yang kemudian di ucapkan Kinar dengan pandangan berpedar ke sekeliling taman belakang.


“Terima kasih.” Disa ikut memperhatikan lingkungan sekitarnya. Memang sangat asri dan ini membantu agar pikirannya selalu jernih saat membuat karya.


Jujur, Disa tidak sabar dengan maksud kedatangan Kinar dan apa yang akan dibicarakan Kinar pada kedatangannya yang tiba-tiba. Tidak mungkin kalau untuk hanya mengagumi taman belakang bukan?


“Sebelumnya, saya minta maaf kalau mungkin kedatangan saya sedikit lancang nona.” Ini dia yang di tunggu Disa. Kinar akan mengatakan sesuatu yang serius.


“Tidak masalah. Ibu bisa datang kapan saja dan berbicara apa saja. Saya akan mendengarkan.” Sahut Disa, berusaha terlihat tenang walau gejolak perasaannya masih sangat kuat. Ini pasti tentang keluarga Hardjoyo.


Kinar memulai kalimatnya dengan senyum, lantas menatap Disa lekat.


“Tadi pagi, nyonya besar menghampiri saya. Beliau bilang, beliau sangat berdosa pada anda nona muda.” Benar bukan, ini tentang keluarga Hardjoyo.


“Hem, saya sudah berbicara dengan mamah tadi pagi.” Sahut Disa pendek. Ia mengalihkan pandangannya dari Kinar dan memilih menatap pucuk bunga sepatu yang baru akan mekar. Mungkin saja perasaannya bisa lebih baik.


“Nona tau, saya tidak pernah memiliki kesempatan untuk menjadi orang tua atau seorang ibu. Tapi, saya punya kesempatan yang besar untuk mengurus tuan muda sejak beliau lahir.” Kinar menjeda kalimatnya dengan nafas yang tercekat.


Pikirannya seperti berputar, mengingat bagaimana ia ikut bahagia menyambut kelahiran Kean kala itu.


“Saya menyayangi tuan muda seperti anak saya sendiri. Rasa sayang dan bangga saya mungkin sama besarnya seperti yang diberikan oleh nyonya besar."


"Beliau di lahirkan dalam keluarga yang terlihat sempurna di pikiran semua orang. Harta yang melimpah, menjadi satu-satunya anak lelaki di keluarga hardjoyo yang sudah pasti akan menjadi penerus dari perusahaan besar di masa depan. Saya yakin banyak orang yang iri saat membayangkan keberuntungan beliau."


"Tapi sayangnya, tidak ada yang pernah tahu kalau beliau tumbuh di antara banyak kemalangan.”


Terdengar Kinar menelan salivanya kasar-kasar, seperti sesuatu yang besar berjogol di tenggorokannya dan membuatnya sesak.


“Anak kecil yang malang, saya menyebutnya seperti itu."


"Benar adanya bahwa tidak ada yang benar-benar sempurna sekalipun itu sebuah kesempurnaan.”


“Tuan muda seperti minuman manis yang mahal dan langka yang di tuangkan di atas cawan emas namun di bawahnya di beri bara api. Ia tersakiti oleh banyak hal, sekalipun itu cawan tempat yang membuatnya terlihat berharga."


"Selama ini, saya hanya bisa melihatnya, menyaksikannya merasakan panas dan tersiksa di tempatnya.”


“Saya tidak bisa membawanya keluar karena saya tidak memiliki hak atas dirinya.”


“Minuman itu seperti banyak mengandung gula yang pada suhu yang terlalu tinggi, akhirnya tuan muda mengeras. Hatinya, pikirannya, semuanya seolah tidak bisa kembali melunak.”


Kinar membalik tubuhnya menghadap Disa lantas meraih tangan Disa dan menggenggamnya dengan erat.


“Ia tidak tahu bagaimana caranya kembali ke bentuk semula sebelum akhirnya nona datang. Beliau bisa mencair dengan sendirinya seperti nona telah membawa keajaiban dalam hidupnya yang penuh kemalangan. Nona juga menjadi cahaya untuk jiwanya yang gelap.”


“Nona telah membuat tuan muda bisa melihat bahwa selain hitam dan putih, ada banyak warna yang bisa membuat ia bahagia.”


“Jika dalam benak nona pernah terpikir untuk pergi dan mematikan cahaya yang sudah nona berikan, saya memohon dengan sangat agar nona tidak melakukannya. Karena tuan muda bisa hancur, seperti serpihan kristal yang tidak akan bisa disatukan lagi dan hanya membuat orang lain terluka.” Pinta Kinar dengan sungguh-sungguh.


Matanya berkaca-kaca dan sesaat kemudian pecah, meneteskan cairan bening melewati garis pipinya.


Disa tidak tahu harus berkata apa. Ia bahkan tidak bisa berpikir apa yang seharusnya ia lakukan.


“Seperti itulah perasaan saya saat ini.”


“Pilihan mana pun yang saya ambil, entah itu pergi atau bertahan, akan tetap membuat saya terluka."


"Yang berbeda, jika saya pergi, mungkin saya masih bisa bertahan hidup untuk orang-orang yang masih menghargai keberadaan saya.”


Air mata Disa ikut tumpah. Ya seperti itulah perasaannya saat ini. Bertahan atau pergi dari Kean akan sama-sama menyakiti dirinya sendiri. Tapi dengan pergi, walaupun sakit kelak ia bisa sembuh.


“Tidak nona, tuan muda menghargai benar keberadaan nona. Ia selalu mengatakan kalau dia bahagia bersama nona dan hidupnya akan hancur jika nona pergi.”


Kalimat itu Kinar cuplik dari kalimat Kean saat ia mengucapkan selamat atas pernikahan Kean dan Disa.


“Bagaimana bisa dia bahagia sementara dia membuat saya tersiksa? Bukankah itu sangat egois?!”


Suara Disa akhirnya meninggi. Tangisnya benar-benar pecah. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan lantas menggurai rambutnya dan menariknya kuat-kuat.


“Dia bahkan masih menganggap saya pelayannya di banding istrinya.”


“TIDAK NONA! BAGI TUAN MUDA, NONA ADALAH DUNIANYA. HIDUPNYA! Dan saya bisa pastikan itu.” tegas Kinar seraya menatap Disa dengan tajam.


“Oh ya? Bagaimana ibu tahu kalau saya hidupnya dan dunianya, sementara ibu tidak tahu apa yang sudah dia lakukan terhadap saya?” Disa kembali menatap tajam Kinar dengan matanya yang merah dan basah.


“Dia saja enggan menyentuh saya. Dia jijik, dia tidak mau saya menempati posisi saya sebagai istrinya apalagi ibu dari anak-anaknya.” Suara Disa terdengar putus asa. Ia menangis sesegukan tanpa peduli orang lain melihat atau mendengarnya.


“Tidak nona tidak seperti itu.” Kinar beranjak menghampiri Disa. Ia memegangi kedua bahu disa lantas mengusapnya dengan lembut.


“Tuan muda tidak menyentuh nona, bukan karena merasa jijik, tapi,”


Kinar menghela nafasnya dalam. Seketika bayangan wajah Sigit yang tampak putus asa terlintas di pikirannya.


“Kinar, aku sudah benar-benar menghancurkan hidupku sendiri juga putraku."


"Kamu harus tau, di kemudian hari, kamu tidak akan mendengar lagi nama hardjoyo yang sangat kamu benci kinar. Kean yang akan mengakhirinya.”


“Dia bersumpah di hadapanku kalau dia tidak akan pernah memberiku keturunan.”


“Dia bilang, dia tidak akan membiarkan ada lagi seorang anak yang memohon untuk di sayangi dan tidak akan ada lagi seorang putra yang dipaksa untuk menjadi penerus dari keluarga hardjoyo. Semuanya berakhir kinar.” Lirih Sigit yang terpekur di tempatnya dengan air mata yang menetes.


Begitu besar penyesalan Sigit sebelum ia jatuh kemudian tidak sadarkan diri.


Susah payah Kinar mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal ini pada Disa. Tapi, ia tidak bisa jika membiarkan Kean hancur karena sumpahnya sendiri. Paling tidak, Disa harus tahu kalau Kean tidak pernah bermaksud merendahkannya.


“Beliau, bukan tidak menghormati anda nona, bukan juga tidak menghargai apalagi tidak mencintai anda.”


“Beliau terikat sumpah yang ia buat sendiri."


Disa menyimak lagi kalimat Kinar. Sumpah? Sumpah seperti apa hingga membuat Kean membuat batas dengan darinya?


"Beliau bersumpah, selama tuan besar tidak bisa berlaku adil, beliau tidak akan memberinya keturunan dari wanita manapun.” Tangis Kinar kembali pecah di hadapan Disa. Ia tahu, sumpah Kean karena kemarahannya pada sikap semena-mena yang selalu di lakukan sang ayah terhadapnya.


Seperti ada sambaran petir yang mengguncang Disa saat mendengar ujaran Kinar. Lantas Disa hanya bisa terdiam, berusaha mencerna apa yang Kinar katakan. Benarkah itu? Benarkah Kean bersumpah di hadapan papahnya sendiri untuk tidak memberinya keturunan?


“Jika itu bukan kamu, maka aku tidak akan mencintai siapapun sama sekali.” Sebaris kalimat itu yang kemudian terngiang di telinga Disa. Kalimat itu juga yang membuat Disa akhirnya memutuskan untuk menyetujui pernikahannya dengan Kean.


Kean, benarkah masalahnya sepelik itu?


Disa beranjak dari tempatnya meninggalkan Kinar yang terduduk sendirian di atas rumput. Wanita itu masih menangis dan Disa meninggalkannya dengan langkah gontai.


Kemana ia harus pergi? Entahlah, kakinya bahkan terasa lemas hanya untuk menambah satu langkah maju di depannya.


Satu hal yang ada di benaknya saat ini, jika sumpah itu benar adanya maka ia salah menilai Kean selama ini. Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang?


“A, seberapa dalam luka aa sampai aa mengucap sumpah itu?” batin Disa dengan pikiran yang tidak menentu.


Apa ia pun harus menanggung akibat sumpah itu.


*****