
Alunan saxophone yang memainkan lagu milik Sezairi - It's You menjadi penghangat suasana sepi di café malam ini. Terasa lebih romantis dengan pedar lampu café yang tidak terlalu terang. Gemuruh suara orang-orang di bawah pun sudah tidak terlalu terdengar, mungkin sebagian dari mereka sudah pulang.
Malam itu, selesai bermain billiard Kean dan Disa duduk di salah satu sudut sofa seraya menikmati sepiring pasta di hadapan masing-masing.
Disa masih memainkan makanannya dengan garpu untuk menunggu dingin seraya mengusap tengkuknya yang masih meremang karena hembusan nafas Kean yang masih terasa hangat dan menderu di lehernya. Rasanya tangannya masih gemetaran saat Kean menggenggamnya dengan erat.
"Ingat disa, tuan muda cuma ngajarin kamu main biliard." Disa mengingatkan hatinya sendiri yang terasa kembang kempis tidak karuan. Seperti ada rasa menggelitik yang tiba-tiba datang namun harus segera ia usir saat kembali melihat siapa laki-laki yang duduk di hadapannya.
Ya, beberapa saat lalu jarak mereka terlampau dekat. Kulit tangan keduanya saling bersentuhan, kepalan tangannya di genggam erat oleh Kean seolah Kean tengah merengkuh tubuhnya. Hah, jika mengingat kejadian tadi Disa gerah sendiri. Mendadak saja wajahnya terasa hangat.
Di liriknya laki-laki yang juga tengah menggulung pasta di garpunya lalu ia tiupi. Bibirnya sedikit mengerucut, sangat lucu membuat Disa tersenyum sendiri.
“Kamu gak makan?”
"Hah?!" respon Disa yang spontan. Ia cukup kaget karena sepertinya Kean sadar kalau Disa tengah memandanginya.
“Masih panas tuan.” Sahut Disa yang kembali pura-pura meniupi pasta di hadapannya.
Kean hanya tersenyum samar kemudian melanjutkan makannya. “Bagi saya, ini lebih enak di nikmati saat setengah panas.” Timpalnya santai. Satu suapan lagi masuk ke mulutnya.
“Oh ya?”
Kean yang semula tertunduk kali ini mengangkat wajahnya dan sekilas menatap Disa. “Hem! Saat panas kita meniupinya, yang berarti kita ada usaha. Saat setengah hangat kita bisa memakannya dengan nikmat. Maka, nikmat mana lagi yang kamu dustakan.” Tutur Kean yang tersenyum di ujung kalimatnya.
Disa ikut tersenyum. Ternyata tuan mudanya bisa berbicara santai juga.
“Boleh saya bertanya tuan?” Ada sedikit rasa penasaran di benak Disa melihat Kean yang sangat lahap menikmati pastanya.
“Hem, apa?” tanyanya yang tetap asyik dengan pastanya.
“Kenapa tuan sangat menyukai mie dan pasta?”
Kean kembali mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Mulutnya masih terisi penuh pasta dengan lelehan sauce di ujung bibirnya. Disa menyodorkan selembar tissue lantas menunjuk sudut bibirnya sendiri sebagai isyarat.
“Oh ya!” dengan cepat Kean menelan makanannya dan menyusut sudut bibirnya.
“Mie dan pasta itu sesuatu yang mudah, murah tapi saat dinikmati sangat menyenangkan dan mengenyangkan.”
“Saat dulu saya bingung mau pesan apa dan ragu apa orang-orang memasaknya dengan cara yang saya inginkan, maka saya memilih memasak sendiri mie atau pasta.”
“Saat perasaan saya tidak nyaman pun, mie dan pasta bisa merubah mood saya..” imbuh Kean yang kembali tersenyum di ujung kalimatnya.
“Emmm, jadi semacam makanan penghibur ya tuan?” terka Disa.
“Ya! Kurang lebih seperti itu. Kalau kamu, apa makanan penghiburmu?” balik Kean yang bertanya. Ia menatap Disa seperti tengah menunggu jawaban.
“Em….” Disa tampak berfikir dengan serius. “Nasi padang mungkin.” Sahutnya sedikit ragu.
“Hah?” nyaris saja makanan Kean meluncur dari mulutnya saat mendengar jawaban Disa. “Bukannya makanan penghibur para wanita biasanya es krim?” rasanya ia masih ingin tertawa mendengar jawaban Disa.
“Saya lebih suka nasi padang.” Disa bersikukuh dengan jawabannya. Tim budak nasi mana bisa mengingkari nasi padang yang banyak dan kuahnya yang kental sudah pasti sangat nikmat.
“Saat saya kesal atau marah, biasanya energi akan terkuras banyak dan bikin saya jadi lapar. Jadi saya memilih nasi padang karena selain murah, enak juga banyak.” tutur Disa dengan penuh keyakinan.
Sejenak Kean menatap Disa. Ia tidak menyangka kalau gadis yang sedang menikmati pasta di hadapannya pun katanya bisa marah. Kalau kesal mungkin iya, karena tidak terlihat. Tapi kalau marah, entah seperti apa saat Disa marah. Ia tidak bisa membayangkannya.
Setiap ia melihat Disa, selalu senyum tipis yang dilihatnya. Bahkan saat ia bersikap kasar tempo hari, Disa hanya melongo kaget. Tidak protes atau marah sekalipun. Tidak seperti dirinya yang terkadang sumbu pendek sebagai akibat dari ketidakmampuannya menyampaikan dengan lugas keinginan dan maksudnya.
Disa mulai menjadi seperti teka-teki untuk Kean. Tidak hanya mendatar atau menurun tapi kadang berbelok. Cukup menarik mencari tahu isi pikiran gadis di hadapannya.
“Habiskan makananmu. Walau bukan nasi padang tapi ini akan cukup mengganjal perutmu.” Hanya kalimat itu yang akhirnya di ucapkan Kean. Ia ingin membiarkan waktu lah yang menunjukkan seperti apa kepribadian gadis di hadapannya. Karena rasanya itu lebih alami dan bermakna.
“Baik tuan.” sahut Disa dengan semangat. Pastanya sudah dingin, sudah siap di santap. Kali ini ia makan pasta dan rasanya tidak sabar menunggu kesempatan untuk menikmati kembali nasi padang. Pasti akan sangat nikmat.
*****
“Kamu menginap di rumah saya, karena sudah terlalu malam untuk pulang ke rumah utama.” Kalimat itu di dengar Disa saat Kean mengajaknya pulang.
Disa melihat jam di dinding dan memang sudah sangat larut untuk ia pulang ke rumah utama. Dari raut wajahnya, ada keresahan yang ia coba sembunyikan.
“Saya akan memberitahu bu kinar kalau kamu menginap.” Kalimat Kean berikutnya seolah menjadi jalan keluar dari keresahan Disa.
“Terima kasih tuan.” Ungkapnya seraya terangguk.
Maka karena itulah ia ada di sini. Kamar tamu kembali ia tempati karena Adam tidak menginap di rumah Kean. Sejak bertemu di café, entah kemana perginya laki-laki itu bersama Jesica. Menurut Kean, tidak akan jauh dari pergi ke hotel, apartemen atau menginap di rumah Jesica. Ia sangat mengenal sahabatnya dan sudah tertebak apa yang akan dilakukan Adam kemudian.
Disa menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia baru selesai mandi dan tubuhnya masih terbalut kimono mandi. Walau sudah pukul 11 malam ia tetap memutuskan untuk mandi agar badannya segar dan bisa tidur dengan nyenyak.
Ponsel adalah benda yang saat ini sedang ia tatap. Mengingat cue ball warna warni membawa ingatan Disa pada masa-masa SMP nya.
Saat itu untuk pertama kalinya ia di ajak Damar untuk bolos.
“Udah lo jangan belajar mulu. Seneng-seneng dikit, toh lo bakalan tetep rangking 1.” Ujar Damar kala itu. Ia memasukkan buku-buku Disa yang masih terserak di meja ke dalam tasnya.
Ia sengaja datang ke sekolah Disa hanya untuk mengajaknya bolos.
Beberapa hari ia memang di sibukan dengan try out ujian nasional. Damar yang sudah kelas 1 SMA sementara Disa berada di tahun terakhir memakai seragam putih biru memang jarang bertemu kecuali Damar sengaja datang untuk menemui Disa.
Disa tampak berfikir sejenak. Ia memperhatikan Damar yang mengemasi barang-barangnya ke dalam tas lalu meresletingkannya dan membenamkannya di pelukan Disa.
"AYOK!" ajaknya dengan semangat. Entah kemana Damar akan membawanya pergi. Tapi jika dipikir-pikir, penat juga kepalanya karena terus menerus belajar, sepertinya ia bisa mengiyakan ajakan Damar untuk kali ini.
Sore itu, Damar mengajak Disa ke sebuah tempat billiard. Tempat bermain yang di dominasi oleh kaum laki-laki ini menjadi tempat tujuan Damar melepaskan stress.
“Kita main bentar. Gue yakin udah itu pikiran lo bakalan lebih jernih.” bujuk Damar kala itu.
Disa menurut saja. Berjam-jam waktu yang mereka habiskan bermain di café billiard. Damar menunjukkan permainannya yang hebat dan sesekali ia pun ikut tanding dengan orang-orang dewasa. Disa hanya jadi tim soraknya saja, yang setia menemani dan membawakan tas Damar di depan dadanya.
“Pake di depan. Jangan sampe ada om-om yang nyolek lo.” Ujarnya seraya memakaikan tas ransel miliknya di dada Disa.
“Iya mong! Lo jagain gue yaa. Gue bakal nemenin lo sampe menang. Semangat damong!!!” Disa mengepalkan kedua tangannya memberikan semangat. Damar hanya tersenyum seraya mengusap kepala Disa dengan gemas. Baginya semangat dari Disa lebih dari apapun.
Kemampuan Damar memang tidak diragukan lagi. Dari beberapa pertandingan, Damar sebagai pemenangnya. Mereka bersorak dengan girang bahkan berpelukan. Dan saat ini rasanya ia merindukan masa-masa itu.
Masa dimana beban hidupnya hanya karena uang jajan yang kurang dan tugas yang menumpuk. Masa dimana ia memiliki teman untuk berbagi cerita, berbagi gorengan, berbagi uang jajan atau milk shake yang di beli patungan lalu mereka nikmati bersama. Tidak jarang mereka terdiam di tempat penjual milk shake untuk melihat minuman itu di buat hingga keduanya nyaris meneteskan air liur lantas saling melempar tawa, meledek satu sama lain. Sudah sangat lama dan mengingat nama laki-laki itu entah mengapa Disa merasa rindu.
Saat itu Damar baru pulang dari bengkel. Ia turun dari motor dan menaruh helmnya di atas motor.
“Dia punya wa?” gumam Damar yang masih memandangi layar ponselnya. Setahu Damar, ponsel Disa ponsel jadul yang hanya bisa melakukan panggilan telpon dan berkirim pesan biasa. Tapi kali ini ia menghubungi lewat aplikasi messanger.
“Kak, apa kabar?” begitu bunyi pesan yang di terima Damar.
Damar tersenyum samar melihat pesan itu. Ia tidak menyangka kalau Disa masih mengingatnya. Dengan tangan kotor yang masih bercampur oli ia membalas pesan Disa. Peduli amat dengan layar ponselnya yang jadi kotor, mumpung Disa menghubunginya ia harus membalas pesannya dengan cepat.
“Baik. Lo apa kabar? Belom tidur lo?” balasnya seraya tersenyum.
Ia membuka pintu lalu kembali menutupnya. Matanya masih fokus pada benda pipih miliknya. Hingga saat melewati ruang tengah pun ia mengabaikan Meri yang terbaring di sofa seraya menonton televisi.
“Nak, kamu baru pulang?” sapa Meri.
“Hem, iya bu.” Hanya itu sahutannya dan dalam beberapa saat bayangan Damar menghilang di balik pintu kamarnya.
Masuk ke kamar mandi dan berniat cuci tangan namun saat ponselnya memberi tanda ada pesan masuk, ia segera keluar dari kamar mandi dan mengecek ponselnya dengan tangan penuh busa.
“Duit udah gue transfer.” Pesan itu terbaca di layar ponselnya dan pengirimnya adalah Eko.
“Haish! Gue kira disa.” Dengusnya yang kembali ke kamar mandi untuk menyelesaikan cuci tangannya. Tidak lupa ia pun mencuci mukanya dan mengikat kencang-kencang rambutnya yang gondrong.
Mandi? Ah itu belum ada di rencananya.
“Tring!” lagi suara pesan masuk kembali berbunyi.
Damar segera menyambar ponsel yang ia taruh di atas kasur lantas membaringkan tubuhnya di sana.
“Kabar gue juga baik. Belum, masih belum ngantuk. Tante apa kabar?”
Ini salah satu hal yang membuat Damar kagum pada Disa. Walaupun Meri selalu berkata ketus dan bersikap kasar, tapi ia selalu bertanya kabar ibunya. Nyatanya dimanapun Disa berada dan seperti apapun keadaannya, ia selalu peduli padanya dan ibunya.
“Baik. Eh sa, gue VC boleh?” tiba-tiba saja Damar memberanikan diri untuk bertanya. Sudah sangat lama ia tidak melihat wajah Disa. Sedikit rindu dengan wajahnya yang sangat mudah berganti ekspresi.
“Ngapain? Bukannya lo suka bete liat muka gue?” begitu balasan Disa yang membuat Damar tersenyum tipis.
“Udah lama gue gak bete. Sekali-kali lah gue pengen ngerasain lagi bete.” balasnya seraya terkekeh.
“Ngeselin lo!” Disa memberi emoji bogem mentah.
Damar hanya tersenyum. Tanpa membalas pesan Disa, ia langsung melakukan panggilan video.
Cukup lama Disa menjawab panggilannya. Hingga beberapa detik kemudian tampak lah wajah Disa yang polos tengah terbaring di atas tempat tidur.
“Kangen lo sama gue?” adalah kalimat pertama yang meluncur dari mulut Disa. Ia tersenyum tipis membuat Damar terpaku untuk beberapa saat. Sejak kapan Disa terlihat semakin dewasa dan cantik?
“Dih, mana ada gue kangen sama lo.” Damar masih dengan gaya mengingkarinya. “Ada juga elo yang kangen sama gue, makanya wa gue duluan.” Imbuhnya dengan senyum tertahan. Posisi tidurnya berubah menjadi duduk tegak. Malam ini rasanya Disa terlihat cantik dengan kaos oblong hitam yang membalut tubuhnya.
“Iya dikit.” Aku Disa dengan segaris senyum. Rasanya damar ingin berteriak kegirangan mendengar pengakuan Disa. “Apa lo mesem-mesem? Lo belum mandi ya?” Disa mendekatkan wajahnya ke kamera membuat wajah manisnya mengisi seluruh layar ponsel damar.”
“Sa, lobang idung lo gede banget! Jangan deket-deket!” ledek Damar. Setelah beberapa tahun baru kali ini ia meledek Disa.
“Haish lo emang ngeselin! Nyesel gue wa lo.” Dengus Disa dengan wajah mengkerut kesal.
“Hhahaha masih aja lo galak. Lagi dapet ya?” lagi Damar menggoda Disa. Sebuah kebiasaan yang kerap membuatnya rindu.
“Ish ngomong apa sih lo! Sok tua!”
“Sok tau sa, sok tau! Gue belum tua!” Damar berdecak, ia memang paling tidak suka kalau Disa bilang Damar sok tua.
“Hahahhahaa… Masih aja lo kesel di bilang tua.” Disa tertawa dengan renyah, membuat Damar ikut tertawa.
Suara tawanya masih sama dan kalau tertawa masih saja kedua matanya tertutup. Tangan kirinya ia gunakan untuk menutup mulut sementara tangan kanannya memukul pahanya sendiri. Kalau ada Damar di sampingnya, mungkin punggung Damar yang jadi sasaran geplakan tangan Disa.
“Melek woy melek!” seru Damar.
Dengan cepat Disa menghentikan tawanya. Entah kapan ia terakhir kali tertawa bersama kakak sepupu tirinya.
Melihat Disa yang terdiam, membuat Damar ikut terdiam. Sudah sangat lama ia tidak melihat wajah polos yang menenangkan itu.
“Sa, lo kangen kamar lo gak?” tanya Damar tiba-tiba. Ia sengaja bertanya, mengingat waktu Disa banyak di habiskan di sana.
“Iya dong. Gak cuma kamar, tapi semua ruangan di rumah itu berikut orang-orangnya, gue kangen.” Aku Disa dengan ekspresif.
Tanpa menunggu lama, Damar beranjak dari tempat tidurnya. Berpindah dari kamarnya menuju ke kamar Disa.
“Nih kamar lo! Masih sama gak ada yang gue ubah." Ujarnya saat membuka pintu kamar Disa.
"Boneka kodok lo masih di situ. Kostum Winnie the pooh yang lo beli seken seharga 678 rebu, sama tentu aja, bantal lepek punya lo.” Damar memperlihatkan seisi kamar Disa melalui kamera ponselnya.
“Ya ampun mong….” Ucap Disa dengan mata berkaca-kaca.
Damar hanya tersenyum tipis melihat ekspresi haru Disa. Ia mengusap layar ponselnya seolah tengah mengusap pipi dan helaian rambut Disa yang dulu sering ia lakukan.
Saat Damar melakukaan ini, biasanya Disa akan memukul tangannya dengan kesal. Tapi memainkan rambut Disa seolah menjadi candu yang saat ini sangat ia rindukan dan hanya bisa dilakukan secara virtual.
Melihat Disa yang tampak terharu, timbul pertanyaan dalam hati Damar. “Lo ngerasa lebih baik kan sa di sana?” tanyanya kemudian. Entah mengapa tatapannya berubah menjadi lebih lekat. “Karena kalo gak ngerasa lebih baik, gue bakal bawa lo pulang.” Imbuhnya.
Ia masih mengingat cerita-cerita menyerakan Rina di rumah orang kaya itu.
Disa mengangguk dengan cepat. “Iya mong, gue baik-baik aja. Dan akan selalu baik-baik aja. Tapi sekali-kali, gue boleh kan nginep di sana?” suara Disa tersengar lirih.
Jauh di lubuk hatinya, ia sangat merindukan rumah tantenya dan segala isinya. Teriakan Meri, nasi kering sisa yang biasa ia makan. Air mandi yang kadang keruh dan semua hal yang ada di sana, sangat ia rindukan.
Damar membaringkan tubuhnya di ranjang Disa. Ia memeluk guling yang biasa Disa peluk.
“Boleh. Mau gue jemput sekarang?” ujarnya dengan senyuman samar.
“Ya nggak lah.. Dasar damong!”
“Dasar damong!” dua kata itu yang sudah sangat lama tidak di dengar Damar dan kali ini seolah mengobati kerinduannya.
Harusnya, dulu ia tetap bersikap baik pada Disa. Harusnya, dulu tidak ada yang berubah walau takdir membuat mereka menjadi saudara. Dan harusnya, dulu ia menjaga Disa baik-baik, tidak mengerjainya apalagi membuatnya menangis.
Ya itu dulu. Andai saja semuanya bisa di ulang.
*****