
“Dari banyak hal.” Menjeda kalimatnya dan menepuk pelan dadanya yang terasa sesak.
“Kamu tau na, saat ini aku sedang tidak karuan sampai aku berhalusinasi kalau kamu adalah suamiku. Bodoh bukan?” Disa tertawa kecil tanpa bisa menghentikan air matanya yang menetes. Sungguh ia sangat merindukan Kean.
“Apa anda hanya mengingatnya saat perasaan anda tidak karuan saja?” lagi suara berat dan dalam itu kembali terdengar.
“Tentu saja tidak. Aku merindukannya setiap saat dan sekarang aku sangat membutuhkannya.” Seru Disa dengan kesal seraya mengguyar rambutnya kasar. Di tangkupnya wajahnya yang sembab dengan kedua telapak tangan, ia menangis sesegukan.
“Na, bisakah kamu diam dan tidak bertanya lagi? Aku merasa suara kamu semakin mirip suara suamiku.” pintanya penuh kekesalan.
Tina benar-benar terdiam dan perlahan bayangannya mendekat.
“Aku juga merindukanmu.” Ujar sebuah suara persis di telinga Disa diikuti sebuah tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.
Dengan cepat Disa menoleh, kaget sampai mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat kepala Kean yang ada di pundaknya lantas tersenyum saat menatapnya.
“Astaga! Aku mulai gila!” dengus Disa yang mengusap wajahnya kasar. Kenapa bayangan Kean semakin jelas saja dimatanya.
“Kamu tidak gila sayang, ini benar-benar aku.” Lirih Kean yang kemudian mengecup pipi Disa. Dia bahkan tersenyum, seperti menertawakan keterkejutan Disa.
Tidak percaya dengan yang dilihatnya, Disa segera berbalik menghadap laki-laki itu. Di tatapnya Kean dengan laman.
“Aku gak salah liat kan?” suaranya gemetar dengan matanya yang merah dan wajah yang pucat. Ia mengusap pelan wajah Kean yang ada di hadapannya.
“Apa ada laki-laki lain yang berani memeluk kamu seperti itu?” tanya Kean yang mendekat lantas menyibak helaian rambut yang menutupi wajah Disa lalu ia sematkan di belakang telinganya.
Tanpa berkata-kata Disa segera memeluk Kean. “Aa kemana aja? Kenapa gak bisa aku hubungi?” suara Disa terputus-putus bersamaan dengan tangisnya yang pecah.
“Aku tau aa marah tapi kenapa semua orang ninggalin aku? Kalian gak sayang sama aku? Aku sendirian tau.” Cerocos Disa dengan air mata berurai.
Kean hanya tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Akhirnya Disa merasakan apa yang Kean ingin dia rasakan. Sendirian itu tidak selalu menyenangkan bukan?
“Maaf karena membuat kamu sedih. Aku pergi sebentar untuk menyiapkan ini semua.” Lirih Kean.
“Ini semua apa?” Disa menatap suaminya penuh tanya.
Kean hanya tersenyum, lantas menunjuk ke belakang Disa.
“ASTAGA!!!!!!” seru Disa saat ternyata yang ia lihat adalah keluarganya yang berkumpul mengelilinginya.
Ada Arini, Sigit, Mery, Jenar, Bi Imas, para pelayan, Shafira, Reza, Clara, Marcel, Mila, Roy dan tentu saja si kecil Naka yang berada di gendongan Marwan, tertawa melihat Disa yang terkejut.
“Happy wedding anniversary sayang….” Ujar Kean seraya memberikan sebucket bunga mawar merah pada Disa.
“AHAHAHAHAHA….” Disa menangis sambil tertawa sementara orang-orang malah bertepuk tangan karena berhasil mengerjai Disa di ulang tahun pernikahannya yang keempat.
"Aa pikir ini lucu hah? Aa ngprank aku? Kamu!!" Disa mengepalkan tangannya menahan geram dengan tatapan tajam pada suaminya.
“Kamu jahat!!!” Disa memukul dada Kean dengan bunga yang di sodorkan Kean padanya.
“Maaf, aku gak bermaksud melakukan seperti yang kamu sebutkan tadi…” lirihnya seraya membawa Disa ke pelukannya.
“Aku benci sama aa..” protes Disa dalam pelukannya.
“I know.” Sahut Kean yang tetap mengulum senyum. “Tapi kamu makin mencintaiku kan sayang?” imbuhnya dengan penuh percaya diri.
Disa terangguk dalam pelukannya yang erat. “Aku nyaris gila karena kalian cuekin. Aku dimarahin, diomelin dan semuanya pergi ninggalin aku. Kenapa aa jahat banget sama aku.” Air mata Disa membasahi jas suaminya.
“Hahahhaa… Iyaaa, aku minta maaf. Aku gak bener-bener marah kok.” Kean merenggangkan sedikit pelukannya agar bisa menatap wajah Disa yang sembab dan berlinang air mata.
Di tatapnya wajah sang istri dengan laman, lantas mengusap air matanya dengan lembut.
“Kamu harus tau, aku tidak pernah berniat mengerjai kamu."
"Ya, aku memang kesal karena kamu tidak bicara apa-apa soal kesulitan kamu, padahal kamu tau kalo aku akan selalu ada di samping kamu, mendukung apapun pilihan kamu dan tidak akan meninggalkan kamu.” Kean memulai kalimatnya dengan penuh keyakinan. Di tangkupnya kedua sisi wajah Disa dengan kedua tangannya.
“Dengar, yang aku katakan tadi siang itu, benar adanya. Kita suami istri. Kamu selalu ada buat aku dan aku ingin di anggap ada sama kamu.”
"Memang menyenangkan bisa melakukan banyak hal seorang diri dan sukses dengan hasil jerih payah sendiri, tapi percayalah akan ada saatnya kamu merasa lelah, sendirian dan kosong. Aku merasakan pernah merasakan itu dan aku gak mau merasakan hal yang sama. That's why people sharing and caringeachother."
Tangis Disa semakin pecah, ia sesegukan di hadapan Kean karena sadar kalau yang Kean katakan itu benar. Dengan setia Kean mengusap air mata istrinya lembut.
“Disa, kamu adalah ratuku yang selalu melindungiku dari hal apapun. Dari rasa takut, cemas, kosong, sendiri bahkan saat aku merasa kalau aku tidak seharusnya ada di dunia ini. Tapi jangan lupa, aku lelakimu. Kamu bisa mengandalkanku untuk banyak hal. Aku bisa memberi lebih dari yang kamu butuhkan asalkan kamu menganggap aku ada.”
“Berhentilah selalu terlihat baik-baik saja dan bisa menyelesaikan semuanya seorang diri. Kamu bukan badut penghibur yang bisa menyenangkan banyak orang dengan selalu terlihat bahagia. Kalau kamu sedih, kamu boleh memperlihatkan kesedihan kamu. Kalau kamu kesulitan, kamu punya orang-orang ini yang akan membantu kamu dan tidak akan meninggalkan kamu.”
Disa hanya terangguk, ia bahkan tidak bisa berkata-kata. Di peluknya Kean dengan erat, sungguh ia sangat bersyukur memiliki suami seperti Kean.
“I love you sa, with all my heart.” Lirih Kean. Disa terangguk pelan, ya ia sangat percaya kalau Kean sangat mencintainya.
“Dan tentang assistant kamu, aku bisa menggantungnya kalau dia kelewatan sama kamu siang tadi.”
“No!!! Aku membutuhkan kak mila, yang dia katakan benar dan aku menyesal.” Baru kali ini Disa bersuara.
“Okey, kali ini aku memaafkan wanita itu. Tapi kalau dia masih berani meninggikan lagi suaranya dihadapan kamu, aku tidak segan untuk menggantungnya.” Ancam Kean yang membuat Disa malah terkekeh. Sekarang dia mengancam sementara tadi seperti menikmati membuat Disa merasa sedih dan tertekan.
"Aku juga bisa gantung aa kalo aa ngelakuin kayak gini lagi." ancam Disa.
"Oh ya? Kamu berani?" Kean sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Disa hingga berjarak beberapa senti saja.
"Tentu saja!" wanitanya memalingkan wajah dengan kedua pipi yang merona.
Lucu sekali saat Disa salah tingkah seperti ini. Dipandanginya wajah cantik yang kembali terlihat berseri. Jujur, siang tadi ia sampai tidak tega melihat Disa menangis dan ia pun tidak menyangka kalau Disa akan segalau ini.
Namun pada akhirnya tujuannya tercapai, membuat Disa mengerti kalau ia tidak pernah sendiri.
Lantas Kean mendekatkan tubuhnya pada Disa, menempatkan dahinya di dahi Disa, membuat ia bisa merasakan hembusan nafas hangat yang menderu di wajahnya. Ini yang seharian ini ia rindukan.
Tanpa ragu ia mengecup bibir Disa lantas menyesapnya dengan lembut memberi gigitan kecil penuh gairah, seperti tidak peduli pada pasang mata yang terkejut melihat apa yang ia lakukan.
Sedikit mendorong tubuh Kean agar menjauh, "A, malu keluarga kita ngeliatin." protes Disa.
"Kenapa? Mereka tau kita suami istri, kenapa harus malu?" tuan muda ini memang tidak bisa di tolak.
Melihat apa yang dilakukan kedua kakaknya, Shafira mengambil inisiatif. “Okey, kita mainkan musiknya!” seru Shafira. Gadis belia ini seperti tahu cara untuk mengakhiri kecanggungan sekaligus membiarkan kedua kakaknya menikmati moment yang mendebarkan ini.
"Anak kecil itu mulai dewasa." lirih Kean tersenyum tipis. Ia kembali melanjutkan apa yang ia mulai tadi setelah barisan bubar jalan.
Suara musikpun terdengar mengakhiri kecanggungan. Masing-masing kembali pada pekerjaan yang semula mereka tinggalkan. Ada yang melanjutkan membakar ikan, ada yang asyik berbincang seru, ada yang menyalakan obor.
“Dance with me!” Shafira menarik tangan Reza untuk menari bersamanya.
“My pleasure.” sahut Reza yang mulai melingkarkan tangannya di pinggang Shafira. Mereka bergerak mengikuti alunan musik, sesekali tertawa saat tanpa sengaja Shafira menginjak kaki Reza.
Disa dan Kean melakukan hal yang sama. Mereka asyik berdansa tanpa melepaskan pagutannya, hanya sesekali saja mereka mengambil nafas untuk mengisi kembali rongga dadanya. Mereka begitu menikmati setiap detik waktu yang mereka lalui bersama.
Dikejauhan sana ada dua orang yang sedang berjalan bersisihan menyusuri bibir pantai. Untuk pertama kalinya Marcel terlihat canggung di samping Clara. Ia menoleh kekasihnya yang asyik memandangi riak air laut yang sering kali tergulung ombak.
“Claire,” panggil Marcel.
“Hem,” Wanita itu menoleh dengan segaris senyumnya. Menahan rambutnya yang beterbangan tertiup angin.
Marcel menghentikan langkahnya begitu pun Clara. Di tatapnya wajah Clara dengan laman lantas ia raih tangannya untuk ia genggam.
“Bersediakah kamu menikah denganku bulan ini?” pintanya tanpa basa-basi.
Clara terpaku, ia tidak menyangka dengan apa yang didengarnya.
Marcel jadi salah tingkah melihat Clara yang hanya terpaku tanpa menunjukkan ekspresi apapun. “Em aku tau, sangat bodoh bertanya dengan cara seperti ini. Tidak romantis sama sekali. Dan,”
“Aku bersedia.” Sahut Clara memotong kalimat Marcel.
“Really?” berganti Marcel yang terkejut dengan apa yang di dengarnya.
Clara dengan cepat mengangguk. “Tidak perlu melakukan hal romantis untuk melamarku hanya tunjukkan kalau kamu bersungguh-sungguh.” Ujarnya.
Marcel tersenyum senang. Ia tidak menyangka kalau Clara akan mengiyakan ajakannya. Tanpa bunga, tanpa cincin, tanpa makan malam romantis, tanpa apapun.
Dan tanpa ragu Marcel memeluk Clara dengan erat. “Thanks Claire.” Lirihnya tanpa bisa berkata-kata lagi.
Clara terangguk pelan. Akhirnya, Marcel bersungguh-sungguh dengan hubungan mereka. Ini yang ia tunggu selama satu tahun terakhir, Marcel dengan kesungguhannya untuk meminangnya.
“Aahh finally Claire,” lirih author. Kalau sudah waktunya, siapa bisa menolak?
Tunggu, lihat pasangan yang sedang berdansa yang semula cekikikan tapi sekarang saling bertatapan dalam. Ya, lihat Reza dan Shafira.
Tidakkah kalian merasa kalau mereka terjebak adek-kakak zone?
*****