
Perjalanan pulang, mereka habiskan dengan kebisuan. Hanya suara musik yang terdengar dari pemutar musik di mobil Kean yang memecah keheningan.
Lagu Thinking Out Loud milik Ed Sheeran menjadi teman setia melewati perjalanan malam itu. Selain lirik-lirik romantisnya yang menyentuh hati, lantunan gitarnya menghasilkan melodi yang begitu menenangkan. Ditambah dengan dentuman halus elektrik drum-nya, membuat Disa harus bersusah payah melawan rasa kantuk di matanya.
Ia menguap walau ia coba sembunyikan dari Kean dengan melihat keluar jendela. Berulang kali ia mengusap air mata yang ikut menetes setelah menguap. Mana mungkin tuan mudanya fokus menyetir dan ia enak-enakan tidur, maka ia memutuskan untuk terjaga.
Kean yang memperhatikan Disa, sesekali hanya tersenyum. Beberapa kali Disa nyaris kehilangan kesadarannya karena tertidur. Tapi lagi, ia berusaha menegakkan tubuhnya agar tidak mengantuk.
Beruntung perjalanan tidak terlalu lama karena jalanan lancar. Tidak ada emosi yang menggebu-gebu yang harus di kendalikan Kean saat ia harus berlomba dengan kendaraan lain yang terkadang menghalangi jalannya. Dan lagi, ia bukan orang yang bisa bersabar dengan kemacetan.
Yang disukai dari berkendara malam adalah minimnya bising dan lancarnya jalanan hingga mobil bisa di pacu dengan kecepatan tinggi.
Gerbang rumah Kean sudah tampak di depan mata. Wahyu yang giliran berjaga, segera membukakan gerbang saat melihat isyarat lampu dim dari tuan mudanya.
“Selamat malam tuan.” Sapanya.
“Malam.” Hanya sahutan pendek sebelum akhirnya ia masuk dan memarkirkan mobilnya di halaman.
Disa bisa menghela nafas lega saat drama hari ini berakhir dan pulang dengan selamat. Ia menoleh Kean yang sepertinya belum berniat untuk turun.
“Mana ponselmu?” tanya tuan mudanya.
“Ada tuan.” Refleks Disa merogoh sakunya sendiri.
Kean menengadahkan tangannya, meminta ponsel Disa.
“Em, silakan tuan.” Tumben tanpa penolakan.
Ponsel bukan hal yang terlalu privasi bagi Disa. Tidak ada pesan penting di dalamnya yang harus ia sembunyikan dari tuan mudanya. Lagi pula, ponsel itu dibelikan oleh Kean, apa salahnya kalau tuan mudanya ingin meminjamnya.
Satu hal yang ingin Kean lakukan setelah kejadian malam ini adalah menyetel GPS Disa. Ia tidak mau kebingungan lagi mencari keberadaan Disa yang menghilang tiba-tiba. Ia pun menyingkronkan GPS ponsel Disa dengan ponselnya, ia yakin ia tidak akan kesulitan lagi saat harus mencari Disa.
“Besok, kamu jangan terlalu banyak berjalan. Kalau mau bepergian pakai taksi saja. Fokus pada kesembuhan kakimu.” Perintah itu diberikan Kean seraya menyodorkan kembali ponsel Disa. Sudah selesai rupanya.
Ia melirik Disa dengan sudut matanya dan yang di lirik hanya mengangguk.
Disa bisa merasakan benar perhatian Kean yang begitu besar padanya. Entah karena rasa bersalah atau ia memang peduli, yang jelas bagi Disa perhatian Kean terlalu berlebih.
“Tuan,” panggilanya dengan ragu.
Kean hanya menoleh tanpa bersuara. Masih sibuk dengan benda pipih miliknya.
“Bisakah anda tidak terlalu baik pada saya?” pintanya tiba-tiba.
Kean mengernyitkan dahinya tidak terlalu paham dengan permintaan Disa yang sering random. Bukankah setiap orang ingin diperlakukan dengan baik? Ada apa dengan gadis ini.
“Tuan terlalu baik pada saya. tolong jangan buat saya berfikir yang tidak-tidak.” Imbuhnya seraya menunduk.
Ia memilin jemarinya yang saling bertautan dengan perasaan yang tiba-tiba membuncah. Ada apa dengan hatinya, ada rasa takut dan bahagia yang datang di waktu bersamaan seperti debur ombak yang menghantam kakinya, begitu kuat menerpanya tapi kemudian rasa takut memecahnya dan menjauh kembali ke lautan bebas.
“Memangnya apa yang kamu pikirkan?” Kean balik bertanya. Bagi Kean, bukan perkara mudah memahami maksud pertanyaan seorang wanita. Kepekaannya tidak terlalu terasah tentang perasaan wanita.
Mereka mengalihkan pandangan di waktu yang bersamaan. Saling menatap untuk beberapa saat seperti tengah berusaha menebak isi pikiran lawan bicaranya.
Disa hanya tersenyum lantas samar menggeleng. Sepertinya ia salah bicara. Mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain di rasa lebih baik dari pada mendapat tatapan laman dari Kean. Perasaannya tidak karuan.
“Tidak ada tuan. Hanya beberapa pikiran bodoh saya saja.” Akunya yang tersenyum hambar. Di helanya nafas dalam-dalam sebelum akhirnya berpamitan. Ia sadar, bukan bagian Kean untuk memahami perasaannya.
“Saya turun lebih dulu. Selamat malan tuan.” Membuka pintu mobil dan turun dengan bertelanjang kaki.
Ia bisa merasakan tajamnya ujung rumput jepang yang ia pijak dan membuatnya tersadar pada kebodohan isi pikirannya. Entah karena kakinya yang keseleo atau karena alasan lain, yang jelas ujung rumput jepang terasa begitu menyakitkan saat bertemu dengan saraf-saraf di telapak kakinya.
Ia berjalan dengan tertatih seorang diri dengan langkah yang di buat panjang agar segera sampai ke rumah. Ia butuh mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang mulai melantur.
“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” sepanjang jalan hanya itu yang digerutukan otaknya untuk merutuki perasaan tidak jelas yang ia rasakan.
Dan otaknya, ayolah tidak seharusnya ia berfikir macam-macam. Terkadang, beberapa pemikiran memang tidak seharusnya di katakan dan beberapa perasaan terkadang memang seharusnya di abaikan. Simpan saja, cukup ia sendiri yang tahu.
Di belakang sana, Kean masih terduduk di dalam mobilnya memandangi Disa yang berjalan semakin lama semakin menjauh darinya.
Ia masih memikirkan, apa yang sebenarnya tengah di pikirkan wanita ini? Apa yang tidak ia katakan pada Kean? Jika ada hal tidak seharusnya tidak ia pikirkan, pikiran apa? Bukankah lebih mudah untuk mengatakannya langsung di banding membuat ia menerka-nerka?
Kamar adalah tempat yang Kean tuju. Sejenak ia melihat Arini yang sudah terlelap. Tentu saja ini sudah cukup malam. Ia mampir sebentar untuk memberikan kecupan selamat malam pada Arini. Saat melewati kamar Disa, lampunya masih menyala. Mungkin gadis ini belum tidur. Sudahlah, ia pun perlu membersihkan tubuhnya dari keringat.
Di depan cermin Disa terduduk. Ia menatap wajahnya yang sedang ia bersihkan dengan kapas. Sisa-sisa make up ia bersihkan. Patut di acungi jempol riasan yang diberikan Shafira memang bagus, saat terkena keringat malah terlihat semakin bagus.
Namun bukan itu yang membuat Disa tiba-tiba tersenyum.
Ia masih menertawakan isi pikirannya selama dalam perjalanan. “Kamu bodoh.” Lirih Disa, mengatai dirinya sendiri.
Bagaimana bisa ia berfikir kalau kebaikan Kean adalah sesuatu yang spesial. Bukankah sangat wajar kalau Kean baik karena ia bisa bersikap baik pada siapapun termasuk dirinya. Harusnya tidak ada pikiran kalau kebaikan Kean membuat dirinya harus merasa istimewa.
Disa menepuk-nepuk wajahnya sendiri berusaha menyadarkan pikirannya dari hal yang tidak seharusnya ia pikirkan.
Ia berdiri di depan cermin, memandangi dress yang masih melekat di tubuhnya lalu berputar. Satu hal yang saat ini berusaha ia yakini, kebaikan Kean hanyalah sebuah keharusan pada wanita yang ia ajak pergi ke pesta. Seperti baju ini, di berikan Kean hanya untuk membuatnya terlihat layak berada di antara orang-orang kaya yang ada di pesta itu.
Maka sebaiknya ia segera menanggalkan pakaiannya dan berganti dengan daster. Ini dirasa lebih cocok untuknya. Tidak ada kewajiban yang harus ia pikul saat mengenakannya. Bahannya yang adem dan longgar membuatnya bisa bernafas bebas, tidak terkungkung.
Di kamarnya, Kean masih terduduk di atas tempat tidur. Memandangi sebuah foto yang ia ambil diam-diam. Gadis berbaju hitam ini memperlihatkan wajahnya yang tegang saat akan berangkat ke pesta tadi sore. Entah mengapa ia keranjingan untuk terus memandanginya.
Segaris senyum tipis terlihat di bibir Kean saat ia mengingat hari yang melelahkan bisa ia lewati dengan baik. Di ambilnya guling untuk ia peluk seraya memandangi mata bulat yang berbinar. Seperti ini rupanya saat Disa berdandan. Pantas saja seorang Clara bisa begitu kesal pada Disa.
Beberapa saat lalu, Clara mengiriminya pesan. Clara mengakui hubungannya dengan Marcel yang sudah berjalan lebih dari 6 tahun. Sangat hebat menurut Kean karena untuk ukuran orang yang memiliki popularitas tinggi seperti Clara, bisa menyembunyikan hubungannya dengan Marcel tanpa terendus media.
Satu pesan yang dikirim Clara dengan emot devil di ujungnya adalah, “Bilangin sama pelayan lo, jangan keganjenan godain marcel.” Tulisnya.
Rupanya Clara masih merasa Disa adalah saingannya walau ia tahu alasan Marcel mendekati Disa adalah untuk melemahkannya.
Melemahkan? Benarkah?
Sedikit perfikir dari perspektif lain tentang perubahan dirinya. Terkadang ia memang merasa menjadi orang baru saat terbangun dan membuka mata, ia seperti ada tujuan yang ingin di capainya. Jika dulu ia bisa melakukan segala sesuatu sesuka hati kali ini ia lebih banyak berfikir.
Lantas ia penasaran pada dirinya sendiri, benarkah Disa yang mengubahnya? Bukankah perubahan hanya bisa terjadi jika kita menginginkannya? Lantas, apa alasan ia mulai berubah?
Selalu, sebelum tidur ada banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Biasanya semua kembali membaik saat pagi menjelang. Namun jujur, hal itu membuatnya tidak bisa terlelap dengan tenang. Selalu ada perasaan mengganjal yang belum tuntas seluruhnya.
Dan malam ini, pertanyaan Kean bertambah. Apa yang dipikirkan Disa tadi? Mengapa gadis itu tidak mengatakannya?
*****
Sebuah deringan telpon menjeda Reza yang masih sibuk dengan buku partiturnya. Ia tengah asyik mengubah sebuah puisi menjadi sebuah lagu yang ia karang sendiri. Not yang ia tempatkan di beberapa bagian lantas ia mainkan, akhirnya harus terhenti di nada sol.
Siapa yang menelponnya selarut ini?
Reza mengecek ponselnya yang ada di atas meja. Sebuah nama membuat ia mengernyitkan dahi.
“Ya len?” jawabnya mengakhiri deringan ponsel.
“Za, kamu di mana?” suara Ellen terdengar tergesa-gesa. Seperti sangat panik.
Wanita kalem yang kerap berbicara dengan anggun itu kini berbicara dengan cepat. Bukan Ellen yang biasanya.
“Za, ghea kejang. Ini aku di taksi mau ke rumah sakit.” Jelas Ellen dengan cepat. Bisa terdengar tangisnya yang pecah walau coba di tahan Ellen.
“Kamu mau ke rumah sakit mana? Aku susul sekarang.” Reza tidak kalah panik.
“Rumah sakit deket rumahku. Kamu ke sini ya za, aku gak tau harus minta tolong siapa lagi.” Suara Ellen terdengar memelas. Tidak terdengar lagi suara tegas yang seolah menunjukkan kalau ia tidak butuh siapa-siapa.
“Iya aku segera ke sana. Secepatnya!” tandas Reza. Ia segera mengambil kunci mobilnya dan keluar rumah dengan tergesa-gesa. Sudah jam 11 malam namun ini bukan alasan untuk Ia tidak menemui Ellen.
Di rumah sakit,
Ghea di baringkan di atas blankar. Tubuhnya yang demam tinggi dan tingkat kesadaran yang menurun membuat Ellen semakin kalut. Timbul rasa sesal saat ia mengingat terlalu memaksakan untuk putrinya mengikuti banyak kegiatan.
Bukan tanpa alasan Ellen melakukan itu. Ia ingin putrinya merasakan hidup normal, memiliki banyak teman dan tidak lagi merasa sendirian.
Ghea anak yang cerdas, ia memahami benar apa yang terjadi pada kedua orang tuannya. Ia tidak pernah lagi merengek untuk menghubungi ayahnya atau tantrum seperti anak pada umumnya. Ia di paksa menjadi anak yang dewasa di usianya yang masih sangat kecil dan Ellen menyayangkan itu.
Jika sekarang Ghea sakit, maka dirinyalah yang harus di salahkan.
Ghea di bawa keruangan UGD sementara Ellen hanya bisa menunggu di luar. Wajahnya yang pucat menunjukkan benar kepanikannya. Matanya bengkak karena sedari tadi ia terus menangis saat kondisi Ghea semakin memburuk padahal sudah di berikan obat.
Kesal dengan dirinya sendiri yang merasa sangat lalai, Ellen jatuh berjongkok di lantai. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan kekalutan yang semakin lama semakin bertambah.
Rasanya lama sekali dokter melakukan pemeriksaan.
“Len!” suara Reza membuat Ellen terhenyak.
Ia segera bangkit dan berlari memeluk Reza. “Za, ghea za..” hanya kalimat itu yang bisa diucapkannya.
“Ssttt kamu yang tenang. Dokter pasti melakukan yang terbaik untuk menolong ghea.” Timpal Reza seraya mengusap punggung Ellen. Ia masih cukup terkejut saat tiba-tiba wanita ini berlari dan memeluknya. Seperti ia tengah sangat rapuh.
“Kalau sesuatu terjadi sama ghea, aku gak bisa maafin diri aku sendiri za.” Rutuk Ellen yang menyalahkan dirinya sendiri.
Andai saja lebih banyak waktu yang ia luangkan untuk mengurus ghea, mungkin ia tidak akan semenyesal ini.
Tentu saja, andai yang menjadi prioritasnya adalah Ghea, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Sebagai single parent, Ellen harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya dan kebutuhan Ghea. Tidak ada pilihan lain selain ia harus mendewakan pekerjaannya, karena dari situlah ia bisa bertahan hidup.
“Len, kamu jangan mikir macem-macem. Lebih baik, kamu do’ain ghea supaya dia kuat dan baik-baik aja.” Iba juga rasanya hati Reza melihat Ellen.
Sedikit menarik tubuhnya dari Ellen, ia bisa melihat mata Ellen yang bengkak dan wajahnya yang pucat.
“Kamu sudah sejauh ini berusaha menjadi seorang ibu yang baik. Aku yakin, ghea bangga punya ibu seperti kamu.” Butuh kalimat penyemangat untuk menguatkan Ellen yang sedang sangat rapuh.
Ellen terangguk lemah. Ia mengusap air matanya yang berlinang. Benar yang di katakan Reza, tidak ada gunanya merutuki kesalahan. Ghea perlu ibunya. Ibunya yang kuat dan tegar.
Reza membawa Ellen duduk di kursi tunggu. Ia memberikan wanita ini minum untuk lebih menenangkannya.
Tak lama, pintu ruang UGD terbuka. “Keluarga ghea ishana?” panggil seorang perawat.
“Iya, saya ibunya.” Dengan cepat Ellen menghampiri.
“Mari bu, dokter ingin berbicara dengan ibu.” Dibukakannya pintu ruang UGD lebih lebar dan Ellen di persilakan duduk.
“Saya dokter candra, yang menangani Ghea.” sambut seorang Dokter muda yang mengulurkan tangannya.
“Ellen. Bagimana keadaan putri saya dok?” sudah tidak sabar rasanya mendengar kondisi putrinya yang belum bangun. Semakin lama menunggu semakin besar rasa khawatirnya.
“Baik, saya akan jelaskan kondisi putri ibu saat ini.” Menatap Ellen lebih serius, seolah ia meminta Ellen untuk bersiap mendengar hal terburuk yang akan ia sampaikan. Ellen terangguk, siap tidak siap, ia harus mendengar kondisi putrinya.
“Putri ibu terkena demam berdarah.”
“Kejang yang tadi terjadi, karena suhu tubuhnya sampai 40 derajat.”
“Kadar trombositnya pun turun, sepertinya putri ibu harus mendapatkan transfusi darah."
"Sayangnya, stock darah dengan golongan darah AB+ sedang tidak ada di rumah sakit ini.”
Seperti mendapat sambaran petir, tubuh Ellen terasa lemas. Bagaimana mungkin kondisi putrinya bisa separah ini.
Reza yang di sampingnya, mencoba menenangkan. Ia tahu, ini waktu yang sulit untuk di lewati Ellen.
“Kami sudah mencoba menghubungi PMI, namun hanya ada stock 1 labu. Semoga, segera ada pendonor lain yang bisa mendonorkan darahnya untuk putri ibu.” Tandas dokter Candra dengan prihatin.
Ia memahami benar kekalutan Ellen yang ia tunjukan lewat air matanya yang kembali mengalir deras.
“Apa bisa kalau kita menghubungi rumah sakit lain dok?” tanya Reza. Ia tahu Ellen sedang tidak bisa berfikir jernih dan tidak bisa mengambil keputusan.
“Bisa aja. Kami akan coba bantu untuk menghubungi rumah sakit terdekat. Namun alangkah baiknya kalau ada pendonor dari pihak keluarga juga, supaya penanganan lebih cepat.”
Keluarga? Ellen hanya bisa tersedu. Ia bahkan sudah tidak punya lagi keluarga sejak ia menjadi istri kedua Darwin. Ia dianggap aib yang mencoreng nama keluarga dan mereka lebih memilih mengasingkan Ellen dan Ghea. Andai saja ia tidak salah melangkah, mungkin kehidupannya tidak sesulit ini. Paling tidak, ada keluarga yang bisa menguatkannya.
“Saya akan mencarinya ke rumah sakit lain dok. Mohon bantuannya.” Tegas Reza dengan yakin.
“Baik pak. Kami akan berikan terlebih dahulu darah yang ada dari PMI dan semoga segera mendapatkan darah lainnya.”
Akhirnya Reza dan Ellen bisa menghela nafas lega. Paling tidak mereka masih memiliki waktu untuk mencari darah.
Ghea sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Anak kecil itu masih belum sadarkan diri karena demamnya yang terlalu tinggi. Perlahan kondisinya membaik setelah mendapat infusan cairan dan darah yang sudah nyaris habis.
Semalaman ini Reza berkeliling rumah sakit untuk mencari darah. Sudah lewat tengah malam dan syukurlah ada 2 labu darah lagi yang ia dapatkan.
Mengecek keadaan Ghea dan Ellen di ruang rawat. Ellen masih setia menggenggam tangan putrinya dengan wajah sedih. Sesekali mengganti kompresan di ketiak Ghea. Katanya ini lebih efektif menurunkan demam.
“Hay,” suara Reza kembali terdengar.
“Za, kamu udah balik lagi?” Ellen masih dengan wajah lesunya yang berusaha kuat.
Reza hanya terangguk lantas menghampiri Ghea. “Gimana kondisinya?” di sentuhnya tangan Ghea yang pucat. Kasian sekali anak sekecil ini harus terbaring lemah. Pahadal biasanya ia sangat ceria, suka bercerita dan tertawa.
“Demamnya udah mulai turun. Katanya habis transfusi ini, nanti darahnya di cek lagi.” Menujuk pada labu darah yang nyaris habis.
“Hem, syukurlah. Kamu udah makan?” tiba-tiba saja Reza teringat untuk menawari makan. Ellen yang selalu mengatur pola makannya dengan diet ketat, membuatnya was-was kalau wanita ini tidak memperhatikan dirinya sendiri.
“Gimana aku bisa makan sementara ghea masih seperti ini?” keluhnya yang kembali terisak. Andai bisa di tukar, ia bersedia menggantikan putrinya untuk terbaring di atas ranjang rumah sakit.
“Kamu juga harus perhatiin kondisi kamu len. Untuk menjaga ghea, kamu sendiripun harus sehat.” Ellen yang selalu harus di ingatkan makan, membuat Reza ikut tidak tenang.
Ellen hanya terangguk dengan air mata yang kembali meleleh di pipinya. Ia sangat beryukur masih ada orang yang peduli padanya.
“Kamu pulang aja za, gak usah nemenin aku. Kamu besok ada kelas kan?” melirik jam yang sudah menjelang dini hari.
“Hem, nanti aku pulang, setelah dokter memeriksa ghea lagi.” Memilih duduk di sofa dan memperhatikan tetesan infus yang di buat lebih cepat.
Sepertinya ia baru bisa tenang kalau sudah mendengar langsung penjelasan dari dokter.
******