
POV Kean:
Rencana makan malam itu benar-benar terjadi dan aku masih bersiap di kamarku. Tidak hanya menyiapkan penampilanku tapi juga mental dan sikap yang akan aku tunjukkan nanti. Ada seseorang yang membantuku untuk menyiapkan segalanya, ya sudah pasti, gadisku Disa.
Sekarang aku lebih suka memanggilnya seperti itu, terasa manis dan mendebarkan. Membuat dia berada di dalam jangkauanku, memberi ketenangan tersendiri. Aku sering menggeretakkan gigiku karena gemas melihat tingkahnya yang kadang konyol. Seperti saat ini, ia masih semangat memilihkan baju untukku. Padahal sudah aku bilang, acaranya santai saja, tidak terlalu formal. Tapi bukan Disa namanya kalau tidak totalitas dalam menyiapkan segala hal.
“Bagaimana dengan stelan yang ini? Ini terlihat rapi tapi santai tuan.” Dia yang masih berdiri di depan lemari dan memilihkan baju untukku. Mengukurkannya padaku dari jarak yang cukup jauh.
Ku taruh jam tangan yang sedang aku coba, rasanya tidak ada yang cocok.
“Perlu aku coba sekarang?” aku mendekat padanya dan membuat jarak kami sangat dekat. Lihat, dia masih saja terlihat kaget padahal kami sudah pernah lebih dekat dari ini.
“Hem, cobalah tuan.” Dia menyodorkan blazer yang tergantung di hanger.
“Baiklah.” Aku segera mengambil hanger dari tangannya dan menaruhnya di atas sofa. Aku buka kaos oblong yang semula aku pakai dan ku lihat di cermin, Disa langsung berbalik.
“Kenapa anda mengganti baju di sini tuan?” gumamnya yang masih sayup-sayup aku dengar.
Hahaha, mukanya langsung memerah melihatku bertelanjang dada.
Jujur sejak ciuman kami yang cukup panas, aku dan Disa mulai sama-sama terbuka. Perhatian kami satu sama lain jauh lebih besar. Kami sama-sama berusaha mengusir rasa canggung. Dia menjadi fokusku dan aku menjadi fokusnya saat ini.
Kami bersikap seolah tidak ada masalah dalam hubungan kami walau kami sama-sama tahu masalah itu ada dan cukup besar. Kami hanya berusaha menikmati setiap kesempatan yang ada di dekat kami. Dan kali ini, aku mencoba menyelesaikan satu per satu masalah kami.
Bukan tanpa alasan aku meminta Disa memilihkan pakaian untukku. Aku bisa saja tampil cuek dengan hanya menggunakan t-shirt dan celana jeans. Tapi aku tidak melakukannya. Aku memilih melibatkan Disa memilihkan outfitku agar aku bisa pamer kalau aku berada di tangan wanita yang tepat. Wanita yang tidak hanya bisa mendampingiku tapi bisa membuatku terlihat lebih baik.
Selain itu, dengan memakai outfit pilihan Disa, membuatku merasa kalau Disa ikut denganku. Ikut berperang menghadapi papah yang arogan dan semena-mena.
“Bukan kali ini saja kan kamu melihatku seperti ini?” aku selalu suka saat menggodanya dan membuat dia tersipu malu, menutup wajahnya dengan kedua tangan, sangat manis.
“Lagi pula dada kan bukan aurat laki-laki, aku tau batasannya.” Sengaja aku berlama-lama memakai bajuku, aku masih sangat menikmati sesi menggodanya.
“Tapi tidak baik membuat orang lain berfikir yang tidak-tidak dengan apa yang tuan lakukan.” Dia masih membelakangiku, seperti benar-benar takut. Kulihat dari pantulan cermin, matanya yang tertutup rapat. Kasian juga berlama-lama seperti itu.
Segera ku pakai bajuku lalu ku hampiri dia. “Memangnya apa yang kamu pikirkan?”
“Astaga!” dia langsung tersentak. Cukup kaget mendengar suaraku yang tiba-tiba di belakangnya.
“Tidak ada.” memilih menjauh, mengambil potongan baju yang terserak di sofa dan mengembalikannya ke dalam lemari.
Lagi aku mendekat, berdiri tepat di belakangnya. Dengan tangan kananku aku menutup pintu lemari dan bertumpu di sana. Tubuhnya terlingkupi tubuhku, membuatnya tidak bisa beranjak.
“Kenapa kamu tidak bertanya aku akan pergi kemana dan bertemu siapa? Apa kamu tidak penasaran? ” Aku membungkukan tubuhku agar bisa berbisik di telinganya.
“Untuk apa?” dia memiringkan kepalanya, berusaha menghalau hembusan nafasku agar tidak menerpa lehernya yang di tutupi anak rambut.
“Saya percaya tuan tidak akan pergi ke sembarangan tempat.” Dia tidak berani menoleh karena tahu wajahku tepat di belakangnya.
“Percaya atau tidak peduli? Perbedaannya sangat tipis loh.”
Dia seperti berfikir, mengigit bibirnya kelu. Aku mencoba melihat wajahnya dari samping dan dia tetap bertahan untuk tidak menoleh. Wajahnya terlihat merah dengan tangan kanan yang menggenggam kepalan tangan kirinya. Aku suka kalau dia salah tingkah.
“Tentu berbeda.” Sedikit menjauh dariku, baru dia menoleh.
“Kalau tidak peduli, saya tidak akan memilihkan baju yang cocok untuk tuan. Saya tidak perlu membuat tuan terlihat rapi dan keren.”
Kalimatnya begitu lugas, aku suka.
“Gadis pintar.” Ku usap kepalanya dan ku tatap matanya yang bening. Hanya beberapa saat dia membalas tatapanku dan menunjukkan lingkar coklat di bola matanya yang membulat. Katanya itu tanda kalau seseorang memiliki perasaan yang spesial untuk kita.
“Em, tuan harus bersiap. Jangan lupa jam tangannya.” Lagi dia salah tingkah. Segala serba di sentuh padahal jam tangan sudah dari tadi aku pakai.
“Hey, sebentar.” Aku menarik tangannya sedikit kuat, agar dia mendekat padaku.
Dia tidak menolak, seperti sudah cukup terbiasa berdekatan denganku. Tangannya yang dingin dan sedikit basah memberi tahuku kalau dia gugup.
Ku perhatikan wajahnya yang sering tertunduk. “Lihat aku.” Ku angkat dagunya yang tidak terlalu lancip tapi manis karena ada sedikit belahan di tengahnya.
“Aku tidak akan pulang terlalu malam. Aku juga tidak akan makan di sana. Jadi, buatkan aku pasta ya, kita makan sama-sama di balkon.”
Harus membuat janji supaya tidak ditinggal tidur.
“Apa tuan sedang sedih?” tiba-tiba saja dia bertanya seperti itu. Apa wajahku terlihat sedih? Atau mungkin karena aku meminta pasta jadi dia pikir aku memerlukan penghiburan.
“Em, kemarilah.” Ku Tarik tangannya dan kulingkarkan di pinggangku. Ku peluk dia dengan erat, sangat nyaman walau dia terlalu kaku.
“Aku tidak sedih. Hanya saja,..” tarikan nafasku terdengar dalam, seraya menyesap wangi rambutnya yang masih di kepang. Sangat menenangkan.
“Aku memerlukan kekuatan. Aku butuh kamu memberiku kekuatan untuk menghadapi kesulitan apapun.” Mendadak suaraku parau.
Aku memang sedang sangat membutuhkan kekuatan untuk menghadapi papah. Aku sudah menyusun rencana yang aku yakini akan berhasil saat aku sampaikan dengan tenang. Dan Disa, bisa memberikan apa yang aku butuhkan. Tekad yang kuat untuk mengatakannya.
Dia seperti sebuah penawar untuk rasa sakitku dan penenang untuk semua kegundahanku. Maka, aku tidak akan menukarnya dengan apapun meski harus terang-terangan melawan papah.
Perlahan ku rasakan Disa mengusap punggungku lembut lalu menepuknya pelan. Aku tersenyum kecil melihat usahanya.
“Tuan pasti bisa melewati semuanya dengan baik. Ingat kan kalau saya bilang tuan itu seekor singa?”
Dia mencoba menghiburku.
“Ya aku ingat dan akan selalu mengingatnya.” Balasku. Untuk beberapa saat, kami berangkulan. Mengalirkan energi positif yang menghantarkan endorphin ke seluruh tubuhku. Rasanya tenang dan bahagia seperti semua masalah siap aku hadapi.
Terima kasih Disa. Terima kasih karena selalu ada di saat aku membutuhkanmu.
Bertahanlah, tunggu aku sebentar saja.
*****
Sebuah rumah mewah dengan gaya eropa sudah terlihat di depan mata. Mobil Sigit menjadi mobil pertama yang terparkir di halaman.
Kean sengaja datang di akhir karena ia hanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting lalu pulang. Seperti janjinya, dia tidak akan terlalu lama meninggalkan Disa.
“Kalau ada yang ketuk pintu, kamu lihat dulu baru kamu buka.”
“Tidak perlu kirimi rahmat makanan atau berbincang terlalu lama dengan laki-laki itu. Kamu di rumah saja, tunggu aku pulang.”
Pesan itu yang Kean katakan sesaat sebelum pergi. Masih menjadi ketakutan tersendiri saat tiba-tiba Marwan menculik Disa seperti tempo hari. Bukan tidak mungkin hal itu terjadi lagi, mengingat apa yang akan dia katakan pasti memantik murka Sigit.
“Selamat malam, tuan. Silakan masuk.” Seorang wanita paruh baya berseragam pelayan membukakan pintu untuk Kean.
Wanita itu langsung menunjukkan jalan menuju ruang keluarga, tempat Brata, Sigit dan tentu saja Clara berada. Rumah yang besar dan megah, memang menjadi ciri khas dari pengusaha property ini. Rumahnya di penuhi koleksi barang antik yang pasti berharga fantastis.
“Wah, kean sudah datang rupanya.” Seru Brata saat melihat kedatangan Kean.
Mereka sedang berbincang santai sambil tertawa-tawa. Perbincangan mereka tidak akan jauh dari cerita kesuksesan bisnis mereka atau cerita tentang masa muda keduanya.
“Selamat malam om.” Kean mengulurkan tangannya menjabat Brata.
“Om kira kamu akan dateng barengan sama papahmu. Gimana rapatnya, sudah selesai?” tanya Brata seperti menyelidik.
Entah apa yang di katakan Sigit untuk menutupi kerenggangan di antara mereka, yang jelas pasti sebuah kebohongan.
“Belum sepenuhnya selesai om. Nanti di sambung lagi.” Timpal Kean santai. Tentu saja yang ia maksud adalah rapatnya bersama Disa.
Sigit menatapnya sangsi, berusaha menebak apa yang di pikirkan putranya.
“Sigit, kamu beruntung, punya penerus yang memiliki loyalita tinggi. Persis kamu.” Brata menepuk bahu kean dengan bangga.
“Iya, makanya aku yakin untuk mewariskan perusahaan pada putraku.” Seperti mengamini perkataan Brata, lagi ini tentang sang pewaris.
“Lo berantem ken?” Clara memperhatikan luka lebam di wajah Kean yang belum sepenuhnya hilang.
Kean menoleh Sigit yang pura-pura tidak menyimak. “Ya, sedikit. Ada anak anjing yang coba gigit gue.” Sindir kean, telak pada ayahnya.
“Udah lo obatin belum? Awas nanti berbekas.” Clara berusaha menyentuh wajah Kean dan dengan cepat Kean menghindar, setengah menangkisnya. Ia tidak suka siapapun menyentuh wajahnya selain Disa.
“Anak laki-laki wajar kalo sedikit berantem baku hantam. Itu menunjukkan kalau dia berusaha melindungi apa yang menjadi miliknya.”
Pada kalimat ini Kean sepakat dengan Brata. Sama, ia pun berusaha melindungi apa yang menjadi miliknya.
Sigit hanya mengangguk-angguk saja mendengar ucapan sahabatnya.
“Kebetulan saat ini pun ada yang ingin saya sampaikan pada om.” Kean langsung bersiap memberi tahu alasan kedatangannya memenuhi undangan makan malam.
“Wah boleh. Ada apa? Gimana kalo kita bahas sambil makan malam?” Brata langsung antusias.
“Em tidak om, di sini saja. Kebetulan saya juga sudah makan, jadi masih cukup kenyang.”
“Kean!” seru Sigit tiba-tiba. Seperti tidak terima penolakan putranya.
“Loh, ada apa, sepertinya penting sekali?”
Kean hanya tersenyum santai melihat reaksi sang ayah.
“Ya om, memang sangat penting dan harus segera saya sampaikan. Ini tentang, saya dan claire.” Tidak ada gunanya menunda lagi. Kean ingin mengatakan semuanya saat ini juga.
“Kamu dan claire?” Brata tersenyum senang menatap Clara dan Kean bergantian. Clara santai saja dengan sikap Kean dan Brata.
Kean mengangguk dengan yakin.
“Katakan. Om siap mendengarkan.”
Seperti mendapat peluang bagus untuk mengatakan apa maksud hatinya.
“Begini om, saya dan claire sudah berteman sejak kecil. Kami cukup dekat sebagai sahabat.”
Brata mengangguk-angguk saja mendengar penuturan awal Kean. Wajahnya begitu cerah dengan senyum terkembang.
“Dan tentang perjodohan kami, “
Kean menyempatkan melirik Sigit yang termangu di tempatnya. Seperti menunggu apa yang akan diucapkan putranya.
“Saya menolaknya.” ujar Kean dengan yakin.
Ekspresi wajah Brata dan Sigit berubah dengan cepat. Ia tidak menyangka kalau Kean akan mengatakan hal ini.
“Kean! Jaga ucapan kamu!” Sigit langsung meradang. Seperti tidak terima putranya menyampaikan penolakannya.
“Kenapa? Kenapa kamu menolak perjodohan dengan claire. Bukankah kalian berteman dan dengan perjodohan ini kalian bisa berteman seumur hidup.” Brata masih mencoba menunggu penjelasan Kean.
“Benar om, kami memang berteman. Dan sepertinya kami hanya bisa berteman saja, bukan terikat oleh pernikahan.”
“Saya dan Claire, memiliki kehidupan yang berbeda, pikiran yang berbeda dan pilihan yang berbeda. Saya dan Claire juga sudah sepakat untuk menolak perjodohan ini.”
“Apa itu benar Claire?” perhatian langsung tertuju pada Clara.
Gadis cantik itu terlihat tenang lebih tepatnya berusaha menenangkan diri. Ia meraih tangan Brata yang kemudian ia genggam dengan erat.
“Iya pah, Claire memang sepakat untuk menolak perjodohan dengan kean. Kami hanya bisa berteman saja.”
Jawaban ini yang Kean tunggu.
Kean tersenyum puas mendengar jawaban sahabatnya. Sementara Brata dan Sigiit terlihat tidak terima.
“Tapi itu dulu.” Clara beralih menatap Kean yang kini mengernyitkan dahinya.
“Dulu Claire memang sepakat tapi saat ini, claire rasa claire tidak ada alasan untuk menolak. Claire mau kok di jodohin sama kean.”
Clara mengusap paha Kean perlahan dan Kean langsung mengibaskannya.
“Hah, syukurlah. Papah pikir,”
“Tunggu om!” Kean langsung menjeda. Ia menatap Clara yang memilih untuk memalingkan wajahnya dari Kean. “Saya perlu bicara dengan claire.” Kean menatap penuh tanya gadis di hadapannya.
Tidak habis pikir apa yang ada di kepala wanita ini hingga tiba-tiba mau menerima perjodohan mereka.
“Claire, kita perlu bicara.” Kean berusaha menarik tangan Clara namun gadis itu mengibaskannya.
“Di sini aja. Ngomong langsung depan papah sama om sigit.” Ia menolak.
Kean menghela nafasnya berat. Masih tidak habis pikir dengan sikap Clara. Beberapa waktu lalu gadis ini bahkan meminta bantuannya untuk meluluhkan hati Brata agar mau menerima Marcel. Tapi kali ini semua berbalik menyerangnya.
“Kenapa kamu menolak putri saya? Apa karena gadis yang kamu bawa ke pesta waktu itu?” Brata mulai meradang. Ia tidak terima Kean menolak putrinya karena seorang gadis yang menurutnya tidak selevel dengan seorang Clara Davina.
Kean tetunduk lemas. Sepertinya ia harus berjuang sendiri menghadapi dua laki-laki tua di hadapannya.
“Saya sudah mengatakan semua alasan saya di awal. Saya,”
“Kamu menolak putri saya karena seorang pelayan HAH?!”
Akhirnya Brata mengeluarkan amarahnya. Ia menatap Kean dengan mata menyalak. Sejak menghadiri pesta ulang tahun perusahaannya, kedatangan Kean dengan seorang gadis memang menjadi perhatiannya. Ia tidak menyangka kalau Kean akan datang dengan seorang gadis alih-alih menemui putrinya secara khusus.
Saat itu juga ia mencari tahu siapa gadis itu dan ternyata pelayan di rumahnya.
“Apa lebihnya pelayan itu di banding putri saya hah?!” Brata menunjuk wajah Kean. “Sigit! Anakmu sudah tidak waras! Dia mau menukar berlian demi mendapatkan kerikil pasir. Dia pikir dia siapa hah?!” amarah Brata semakin membuncah.
“Brata, tenanglah. Kean sedang tidak berfikir jernih. Saya akan berbicara dengannya.” Sigit berusaha membujuk. Tangannya sudah mengepal, mencengkram tongkat di tangannya. Ia siap menghantamkan tongkatnya kapan saja.
“Tidak pah.”
“Seperti yang Claire katakan, kita selesaikan semuanya di sini. Dan saya kembali menegaskan, saya menolak perjodohan saya dengan Claire. Selamat malam om.” Kean langsung beranjak dari tempatnya, meninggalkan Brata, Sigit dan Clara yang masih terkejut dengan sikap Kean.
“KEAN! BERHENTI!” seru Sigit dari tempatnya. Laki-laki itu sudah berdiri tegak menatap putranya dengan penuh kemarahan.
Kean menghentikan langkahnya sejenak. Tidak ada yang ingin ia pikirkan saat ini. Toh berdebatpun tidak akan ada hasilnya. Maka ia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya meninggalkan ketiga orang di belakangnya. Pendiriannya sudah kukuh dan ia tidak akan berbalik untuk alasan apapun.
****