Marry The Heir

Marry The Heir
Sebagai damong terhadap sandhy



Perjalanan panjang kembali dilalui Disa. Tidak sampai 24 jam ia berada di Bandung dan harus segera pulang ke Jakarta. Seperti kedipan mata, waktu sangat cepat berlalu dan kali ini ia harus kembali menghadapi kenyataan. Tidak tahu seperti apa keadaan di Jakarta saat ini. Yang mereka tahu, kepulangan mereka sangat di tunggu.


Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Tidak ada perbincangan di antara Disa dan Kean. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. Suara penyanyi yang sama yang menemani perjalanan singkat namun terasa panjang bagi mereka. Disertai debaran jantung yang dipenuhi rasa takut akan apa yang akan mereka hadapi nanti.


Kean sudah menyiapkan rangkaian kalimat dalam pikirannya, tentang yang akan ia katakan nanti pada Brata juga Sigit. Tekadnya sudah bulat untuk menolak perjodohannya. Tidak ada rasa ragu karena Clara pun memiliki pilihan yang sama.


Beruntung sekali rasanya, walau Clara terkadang menyebalkan terlebih sikapnya pada Disa, tapi ia harus berterima kasih karena gadis itu masih bisa di ajak kompromi. Mau sama-sama menolak perjodohan mereka. Beragam alasan dan argumen sudah ia siap kan yang bermuara pada satu kepastian, Kean hanya menginginkan gadis di sampingnya.


Disisinya, gadis ini sedang memikirkan hal yang berbeda. Ia memandangi layar ponselnya yang menampilkan halaman chat. Sesekali ia mengetik tapi kemudian ia hapus lagi.


Masih ada rasa ragu, bagaimana ia memulai perbincangan dengan laki-laki yang kata Imas, sudah bukan kakak sepupunya lagi.


Sebuah hubungan seperti sebuah benang, bisa sangat rapuh bisa sangat kuat lalu bisa dengan mudah terjalin dan semudah itu pula bisa terputus. Entah karena keadaan atau karena alasan lain. Tapi pernah memiliki keluarga seperti Meri dan Damar selalu membuat Disa merasa bersyukur terlebih saat ia mengetahui banyak hal baik yang tidak ia sangka sebelumnya.


Pagi tadi, saat ia dan Imas membahas masalah belanjaan, Imas sempat menolak. Katanya terlalu banyak uang yang sudah Disa kirimkan padahal jarang di pakai oleh Jenar.


“Da nenek mah atuh makannya juga sedikit. Eneng tiap bulan ngirimin uang, jadi ya banyak. Katanya paling di simpen aja, di pakenya juga kalo nanti nenek meninggal supaya gak nyusahin orang-orang yang ngurus.” Begitu penuturan Imas pagi tadi.


Menakutkan mendengar kalimat itu karena membuat Disa harus membayangkan hal menyedihkan lainnya jika suatu hari Jenar pergi dan ia belum bisa memberikan apapun.


Imas menunjukkan semua uang yang disimpan Jenar, uang kiriman Disa yang ia simpan dalam kaleng bekas biskuit. Memang cukup banyak tapi terasa sedikit aneh.


"Bi, di simpen di bank atuh ya, nanti disa bikinin rekening. Takut kalo nyimpen kayak gini di rumah. Jadi kalo perlu uang, bibi tinggal ngambil ke bank."


Disa memperhatikan beberapa resi penerimaan yang masih di simpan Imas. Ada beberapa resi penerimaan dengan tanggal yang tidak di kenalnya.


"Jangan ah neng, bibi suka gugup kalo ke bank teh. Malu. Gak bisa juga cara ngambil uangnya gimana." Jawaban polos Imas cukup membuat Disa tersenyum tapi lagi, perhatiannya tidak beranjak dari resi-resi di tangannya.


Satu tanggal yang ia pasti ingat adalah pengiriman tanggal 2 Januari. Di tanggal itu Disa sangat yakin kalau ia tidak mengirimkan uang pada Jenar tapi ada resi penerimaan uang yang di ambil Imas. Disa memperhatikan baik-baik resi itu. Pengirimnya memang atas nama Disa tapi nomor hp pengirimnya bukan miliknya.


Disa langsung mengeceknya dan ternyata nomor hp milik Damar.


Entah harus merasa senang atau tidak saat melihat cukup banyak resi yang memuat nomor ponsel Damar. Satu hal yang bisa Disa simpulkan sekarang adalah, Damar sering mengirimi neneknya uang. Sepertinya ucapan Damar kalau ia hanya meminjam uang Disa dan akan mengembalikannya, benar-benar ia lakukan. Hanya saja, Damar mengembalikannya pada Jenar. Seperti ia tahu kalau uang yang Disa kumpulkan dari hasil kerja kerasnya adalah untuk di kirim pada jenar.


Kejutan yang tidak terduga. Di satu sisi, Damar kerap menyebalkan tapi di sisi lain ia banyak melakukan hal baik yang tidak terduga.


“Mong, makasih ya.” Kalimat itu yang akhirnya di kirim Disa pada Damar.


“Gue juga minta maaf.” Pesannya yang kedua.


“Lo kenapa?” cepat sekali Damar membalas.


“Gak pa-pa. Cuma mau bilang itu aja.” Disa memberi emoticon smile di ujung kalimatnya.


Terlepas apapun alasan Damar melakukan hal ini, Disa harus berterima kasih. Ia pernah sangat marah pada Damar karena sangat suka merebut segala sesuatu dari tangannya, sering membuatnya menangis, hingga Disa merasa enggan untuk bertemu laki-laki yang selalu mengganggunya. Tapi sekarang, ia sangat merindukan laki-laki resek itu.


“Gue beruntung, punya sahabat sekaligus kakak kayak lo, mong.” Disa tersenyum tipis memandangi tulisan yang di kirimnya.


Damar belum membalas, hanya membaca pesannya saja. Tidak ada tanda-anda juga kalau Damar akan membalas.


“Makasih udah sayang sama gue juga sama nenek.” Disa melanjutkan pesannya dengan perasaan haru.


Pesannya sudah di baca dan Damar sedang mengetik pesan balasannya. Sangat lama, entah sepanjang apa tulisan yang akan di kirim Damar padanya.


“Gue kepaksa sayang sama lo sebagai adek. Dan sekarang udah nggak.”


Dengan cepat ekspresi Disa berubah. Ia mulai gelisah. Apa mungkin yang di katakan tuan mudanya benar, kalau Damar tidak pernah mengangapnya sebagai seorang adik?


Kean memperhatikan Disa yang tampak terpaku seraya mencengkram ponselnya dengan erat. Wajahnya tidak seceria tadi.


“Kita ke rest area sebentar.” Ujar Kean tapi Disa tidak menyahuti. Asyik dengan pikirannya sendiri.


Sebuah pesan kembali di ketik Disa dengan perasaan tidak karuan dan Kean memperhatikan dari samping. Perubahan wajah Disa yang sendu dan bibirnya yang mengerucut. Ada apa dengan gadis ini pikirnya.


“Lo nyesel punya ade kayak gue?” tulisnya dengan perasaan sedih.


“Y” hanya satu huruf itu balasan Damar.


Semakin membuat sedih saja. Mungkin Disa sudah banyak merepotkan sampai Damar seperti ini. Mungkin ini juga yang menjadi alasan Damar selalu bersikap menyebalkan.


“Lo benci sama gue?” Disa mengganti pertanyaannya. Hatinya semakin sedih.


“Nggak terlalu.” Haish, rasanya Disa ingin menangis saja. Ada apa dengan Damongnya?


“Tapi lo masih mau kan berteman sama gue?"


"Gue sama siapa kalo lo gak mau temenan sama gue?” matanya sudah berkaca-kaca.


Satu balasan menyebalkan lagi, mungkin ia tidak akan sungkan untuk menangis lagi di hadapan Kean.


“Gak masalah. Gue masih mau jadi temen lo tapi gue udah gak mau jadi kakak lo.”


“Berhenti manggil gue kak damar karena itu bikin gue gak nyaman.”


“Kenapa lo baru bilang sekarang? Apa gue senyebelin itu selama jadi adek lo?” satu butir air mata Disa sudah menetes, tidak bisa di tahan Disa.


“Nggak.”


“Gue cuma benci sama keadaan yang bikin kita kepaksa jadi adek kakak.”


“Gue bisa tetep sayang sama lo, tapi bukan sebagai seorang kakak.”


“Gue lebih sayang sama lo sebagai seorang laki-laki terhadap perempuan.”


“JLEB!” seperti ada bola basket yang menghantam dada Disa dan membuatnya terhuyung karena nyeri ulu hatinya. Kalimat sebelumnya tidak ia pahami tapi yang terakhir bisa ia mengerti.


Ibu jarinya gemetar, entah ia harus membalas apa.


“Lo gak perlu bales apapun. Gue cuma pengen bilang ini sekarang.”


“Gue sayang lo sa. Sebagai damong terhadap sandhy, yang gak rela lo di ambil orang.”


Disa menyandarkan tubuhnya dengan lemas. Wajahnya mendadak pucat dengan perasaan yang semakin tidak menentu. Benar adanya kalau tidak pernah ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Kalau tidak seseorang yang merasakannya mungkin ada yang pernah merasakan tapi kemudian terbiasa untuk menahan dan melupakan. Seperti yang terjadi pada ia dan Damar.


Kenapa baru sekarang? Apa akan ada bedanya kalau Damar mengatakan hal ini, jauh sebelum sekarang?


“Kamu ngapain sih?!” seru Kean yang tidak terima di abaikan.


Saking asyiknya berbalas pesan, Disa sampai tidak sadar kalau mereka sudah tiba di rest area KM 6 dan Kean sudah menghentikan laju kendaraannya.


“Em, saya,” Disa celingukan. Matanya masih basah dan segera ia usap.


“Ada apa lagi hah?” Kean segera mengambil ponsel Disa. Ia berfikir kalau Kinar mengirimkan kembali pesan pada Disa dan membuat gadis ini kebingungan dan merasa terancam.


“Tuan jangan!” Disa mencoba menahan tapi Kean sudah lebih dahulu merebut ponselnya.


Satu kejutan di dapatkan Kean saat ternyata bukan pesan yang di kirim Kinar yang membuat Disa menangis tapi pesan yang di kirim sepupu tiri gondrongnya.


Kean tersenyum sarkas, membaca pesan yang di kirim dan di terima Disa.


“Tuan, tolong jangan seperti itu.” Disa berusaha merebut ponselnya dari Kean. Tapi lagi, Kean menahannya dan malah memegangi tangan Disa yang berusaha merebut ponsel di tangannya. Ia belum selesai membaca dari awal hingga akhir.


“Tuan! Tuan tidak berhak bersikap seperti ini pada saya!” seru Disa dengan kesal.


“Oh ya?” Kean menatap Disa dengan tajam. Senyum yang terangkat di salah satu sudut bibirnya, cukup menakutkan. Ia menyodorkan ponselnya pada Disa namun belum sempat Disa mengambilnya, ponselnya malah sengaja Kean jatuhkan. Rasanya ia sangat kesal dengan benda pipih ini. Kalau bisa, ingin ia buang saja.


“Tuan?!” seru Disa. Kesal sekali rasanya melihat Kean yang bersikap semena-mena.


“Kenapa? Tidak terima?” Kean menatap Disa tajam dan gadis itu hanya terdiam seraya mengigit bibirnya sendiri menahan geram.


“Tuan selalu semene-mena pada saya. melakukan segala sesuatu tanpa alasan yang jelas.” Disa berbicara dengan kesal. Matanya kembali berkaca-kaca dengan tangis yang coba di tahannya.


“Tiba-tiba bersikap baik, tiba-tiba bersikap menyebalkan.


Tiba-tiba membuat saya cemas, tiba-tiba membuat saya berharap.


Tiba-tiba membuat saya marah, tiba-tiba membuat saya senang.


Tiba-tiba membuat saya bingung, tiba-tiba membuat saya gundah.


Tiba-tiba mendekat, tiba-tiba menjauh


Tiba-tiba memegang tangan saya, tiba-tiba mencium saya."


"Semuanya tuan lakukan tanpa alasan yang jelas, membuat saya mencemaskan sesuatu yang tidak semestinya saya cemaskan.” Disa merepet seperti penyanyi rap. Nyaris lupa mengisi ulang oksigen paru-parunya.


Ia terengah, menatap Kean dengan kesal.


“Lalu kamu tidak mengerti?”


“Ya! Saya tidak mengerti.” Seru Disa dengan mata berapi-api. Kekesalannya sudah di ubun-ubun. Bagaimana tuan mudanya membuat ia berharap sesuatu yang tidak seharusnya ia harapkan? Tanpa ada kejelasan dan tidak ada penjelasan.


Di detik berikutnya, Disa memilih untuk turun dari mobil. Ia perlu menenangkan dirinya. Entah apa alasan yang membuat ia jadi sangat kesal.


“Disa! Mau kemana kamu?!”


“Ke toilet!” seru Disa tanpa menoleh.


Antara kesal dan ingin tertawa melihat Disa. Tapi lebih dari itu, ia mencemaskan Disa. Apa gadis itu akan baik-baik saja setibanya di Jakarta? Mungkin benar, kalau terlalu banyak tiba-tiba yang Kean lakukan hingga membuat Disa ragu.


“Karena saya menyukai kamu.” Lirih Kean yang masih memperhatikan arah berlalunya Disa.


Ada rasa bersalah yang tiba-tiba datang saat mengingat apa yang Disa katakan tadi. Bagaimana kalau Disa memilih merespon si gondrong yang baru menyatakan cintanya? Apa ia siap?


Kean turun dari mobilnya, hendak menyusul Disa. Tapi kemudian ia berfikir, tidak ada gunanya ia menjelaskan sekarang. Disa sedang marah dan ia harus membiarkan Disa mereda beberapa saat.


Akhirnya ia memutuskan untuk membeli makanan dan minuman. Semoga saja ia bisa berbicara dengan lebih santai pada Disa.


Satu keresek makanan sudah di belinya. Ia menunggu Disa dari bangku yang ada di depan mini market. Beberapa teguk air di telannya sambil menunggu Disa, kenapa lama sekali?


Di lihatnya jam yang melingkar di tangan kirinya. Sudah sekitar 15 menit Disa ke toilet dan belum kembali.


Kean penasaran, apa gadis itu baik-baik saja? Tidak bisa menunggu lagi, ia memutuskan menyusul ke toilet.


“Pak, liat cewek pake baju dengan rok segini dan rambutnya di kepang gak?” tanya Kean pada laki-laki yang berjaga di toilet.


“Yang ada tahi lalatnya di pipi ya?” memperhatikan sekali bapak ini pada wajah Disa.


“Hem.” Kesal jadinya.


“Udah keluar dari tadi mas.” Laki-laki itu ikut celingukan mencari Disa. "Mana ya tuh cewek cakep?" Haish, di tambahin lagi.


“Dari tadi?” Kean ikut melihat ke sekelilingnya dan tidak ada Disa. Ia melihat ke arah mobilnya dan tidak ada Disa di sana.


"Iya. Dari tadi."


“Ya udah, makasih pak.” Kean memutuskan untuk pergi. Mencoba menelpon Disa tapi tidak di jawabnya.


“Sa, kamu kemana sih?” ia pun mencari Disa ke dalam mini market khawatir Disa menyusulnya, tapi nihil, tidak ada Disa di sana. Bertanya pada beberapa orang dan tidak mengaku melihat Disa.


Perasaan Kean mulai tidak karuan. Seketika ia ingat, untuk langsung mengecek lokasi Disa.


“Astaga!” seru Kean saat melihat lokasi Disa berada.


Ia segera naik ke mobilnya, tidak ada yang boleh terjadi pada Disa. Ia harus bergegas.


*****