Marry The Heir

Marry The Heir
Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?



POV Disa:


Terduduk di lantai dan bersandar pada daun pintu, hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang. Tubuhku terasa lemah seperti semua tulang penyangga di tubuhku remuk redam seiring dengan hatiku yang hancur.


Tangis ini masih sangat sulit aku hentikan meski aku sudah teriak dan meraung sambil mengigit bantal untuk meredam suaraku.


Sakit, ya sangat sakit saat seseorang yang aku harapkan bisa menerima kekuranganku ternyata masih berpikir kalau aku manusia rendahan.


Apa yang salah dengan diriku? Apa aku salah karena terlahir dari keluarga yang tidak terpandang? Atau aku salah karena menaruh hati pada laki-laki yang tidak setara denganku.


See? Cinderela itu tidak pernah ada. Itu hanya cerita di negeri dongeng untuk menipu gadis pemimpi sepertiku.


Memilih menikah dengan seorang pewaris, tidak pernah aku sangka akan berakhir tragis. Aku pikir, aku akan menjadi satu-satunya wanita yang paling beruntung saat seorang pangeran memperistri seorang wanita biasa sepertiku dan memperlakukanku layaknya ratu dihatinya.


Tapi ternyata aku salah. Ia mungkin bisa bersikap seperti itu dengan perasaannya yang semu namun di lubuk hatinya yang paling dalam, aku tidak pernah menjadi seorang ratu. Aku hanya pelengkap hidupnya yang sudah sempurna dimana saat dia membutuhkannya aku harus ada dan saat tidak membutuhkanku, dia bisa membuangku sesuka hatinya.


Kenyataan pahit itu aku dapati beberapa jam lalu. Semua bermula saat tanpa sengaja Shafira melihat suamiku masuk ke kamar mamah.


“Ada abang pulang. Kok kayak marah ya?” gadis itu langsung berjalan di depanku.


“Jangan Fir,” aku berusaha menahan tangannya.


Tidak baik gadis remaja seperti Shafira menguping pembicaraan orang dewasa.


“Iihh… Aku kan kepo teh.” Rengut gadis manja itu.


“NO!” aku menjentikkan jari telunjukku di depan wajahnya, biasanya setelah ini ia akan patuh.


Ya Shafira memang menurut hanya saja bibirnya tetap mengerucut kesal.


Tidak lama dari itu, aku mendengar suara gaduh dari kamar mamah seperti orang sedang berdebat. Shafira malah mendekat, menempelkan telingannya di daun pintu dengan penuh rasa penasaran.


“Fir, jangan.” Aku segera menghampiri, menarik Fira menjauh tapi gadis itu malah memegangi tanganku agar diam.


“Mamah juga kan yang menyuruh roy untuk menyembunyikan CD, memanipulasi berita online di media dan menyuruh wartawan untuk bertanya tentang hubunganku dengan Disa?”


Samar aku mendengar suara aa yang juga menyebut namaku. Mendapati namaku di sebut, membuat langkah kakiku terpaku di samping Shafira. Kami saling berpandangan penuh tanya.


“Lebih dari itu, mamah juga kan yang menjebakku dan disa?”


"Mamah membuatku terpaksa menikahi disa."


Dua kalimat berikutnya yang membuatku seperti tersambar petir. Aku tidak mendengar jelas jawaban mamah. Menjebak? Menjebak apa?


Apa pernikahan kami adalah sebuah jebakan yang dibuat mamah? Dan aa merasa terpaksa menikahiku?


Aku dan Shafira sama-sama terpaku. Tubuhku terasa lemas jika yang aku dengar itu benar.


Sekali lalu, Shafira malah mendorongku untuk pergi. Ia menarik tanganku menjauh dari kamar mamah.


“Fir, teteh…”


“Jangan di dengar!” Shafira langsung menutupkan kedua tangannya di telingaku.


Sayup-sayup aku dengar lagi pertengkaran mamah dan aa, dan Shafira semakin kuat menangkup telingaku. Wajah cemasnya terlihat jelas di hadapanku. Dia seperti bisa menebak bagaimana perasaanku jika aku mendengarnya.


Tiba-tiba, Shafira menurunkan tangannya. Aku tidak mendengar lagi kegaduhan.


“Sekarang teteh balik lagi ke butik. Anggap teteh salah denger.” Anak ini menarik tanganku dengan kuat membawaku pergi keluar dari rumah.


Aku yang kebingungan hanya mengikuti saja langkah Shafira sambil berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.


“Antar teteh ke butik.” Kalimat Shafira itu di sampaikan pada pak Daan. Shafira mendorong tubuhku masuk ke dalam mobil lantas menutup pintu dengan keras.


"Hey, ada apa ini?" Ingin rasanya aku protes.


Sepanjang jalan aku masih termangu, berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Otakku seperti berputar, mengingat kejadian di masa silam hingga akhirnya aku menikah dengan aa. Tunggu, apa itu semua jebakan?


Lalu apa yang aku temukan di dalam keresek salah satu mart saat di malam pertama? Apa ada hubungannya?


Aku mengeluarkannya satu benda dari dalam tas. Aku membukanya dan isinya benda lunak yang jika aku tarik seperti karet yang bisa memanjang dan menggembung. Rasanya aku tahu ini apa, ini kond*m. Kenapa suamiku membeli ini?


Ku pikir, bukankah kami sedang sama-sama berusaha memiliki anak? Itu kan fungsi kalender menstruasi di hp aa?


Astaga, kenapa perasaanku jadi tidak karuan? Jangan-jangan pikiranku salah.


Aku mencoba menarik nafas agar bisa berpikir jernih. Pak Daan sampai memandangiku dari spion tengah melihat aku memegangi kond*m. Aku tidak peduli. Aku lebih peduli pada pikiranku yang mulai mengerucut. Apa mungkin sebenarnya aa tidak mau memberiku anak bukan tidak bisa?


Seperti tersambar petir saat aku menemukan titik temu dari kenyataan yang aku alami. Benda lunak itu terjatuh begitu saja dari tanganku saat aku sadar akan kesimpulan yang sebenarnya.


Mendadak dadaku terasa sakit dan sesak. Aku usap beberapa kali tapi malah membuatku ingin menangis.


Ya tuhan, apa ini?


Beberapa jam kemudian, aku bersikap seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Aku bertingkah seperti biasanya, bermanja pada suamiku dan mengatakan kalau aku menyayanginya. Aku bahkan memeluknya di tempat umum dan menggenggam tangannya dengan erat.


Aku harap, dengan begitu ia akan mengatakan sesuatu. Paling tidak sekali saja ia katakan kalau apa yang aku dengar itu salah. Tapi hingga sampai di rumah, ia tidak mengatakan apapun.


Untuk itu, malam ini aku sengaja mengujinya. Aku memakai pakaian tidur yang tidak biasanya. Sedikit terbuka. Tidak, malah cenderung sangat terbuka. Aku yakin, suamiku tidak akan tahan dengan apa yang aku lakukan. Tapi ternyata, hal ini yang sekarang terjadi.


Dia menolakku. Dia mengabaikanku, seperti yang biasa ia lakukan pada orang lain.


Ternyata pikiranku benar. Dia membuatku menjadikannya suamiku tapi aku tidak pernah menjadi istrinya. Posisiku sama dengan orang-orang di luar sana, tidak berarti apa-apa.


Aku masih dengan tangisku yang lirih. Beralih menuju kamar mandi lantas menyalakan shower untuk mengguyur tubuhku yang masih berbalut pakaian haram ini. Memejamkan mata, membiarkan air dingin ini membawa serta pergi kemalangan dan rasa rendah diri yang aku rasakan.


Benar yang tante Liana katakan, saat menemani seseorang untuk sembuh mungkin kita akan ikut terluka. Pilihannya hanya dua, bertahan sampai akhir atau mengakhirinya sekarang.


Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?


*****


POV Author.


Pagi menjelang, Disa masih dengan wajahnya yang sembab dan matanya yang bengkak. Ia tetap melakukan tugasnya, menyiapkan sarapan Kean, pakaian kerjanya tanpa ada yang berubah sedikitpun. Yang berbeda adalah hatinya yang masih sakit.


Saat akan membangunkan Kean, ternyata suaminya sudah lebih dulu bangun dan berpakaian rapi.


Berada pada satu tempat yang sama, tapi tidak banyak perbincangan yang mereka lakukan. Semuanya hanya seperti formalitas yang rutin mereka lakukan setiap hari.


“Sarapan dulu a.” tawar Disa seraya menyodorkan sepiring nasi goreng untuk suaminya.


Ini yang disebut menu putus asa, karena Disa memang tengah sangat putus asa.


“Terima kasih.” Suara Kean terdengar rendah seperti tidak bertenaga.


Mereka sama-sama sarapan tapi dengan pikiran masing-masing.


“Habis sarapan, tolong antar aku ke rumah utama dulu dan aa tidak perlu menungguku.” Kalimat itu menjadi pemecah keheningan di antara keduanya.


“Kamu tidak perlu ke sana.” Sahutan pendek itu menjadi penolakan tegas Kean.


“Kenapa? Apa karena aku juga tidak layak untuk menginjakkan kakiku di sana?”


Kalimat sindiran itu membuat Kean menghentikan sarapannya. Nasi yang ia telan seperti berubah menjadi batu kerikil yang melukai tenggorokannya.


“Aku tidak mengatakan begitu.” Ia sedang tidak ingin berdebat, ia harap Disa mengerti.


Percayalah, membuat orang lain mengerti tanpa mengatakan apapun, itu tidak pernah ada.


“Tapi sikap aa yang menunjukkan seolah yang aku katakan benar.” Disa menaruh dengan kasar sendok yang ada di tangannya. Selera makannya menguap begitu saja.


Kean ikut menaruh sendoknya. Meneguk air minumnya, sarapannya sudah selesai. Ia mengambil kunci mobil dari dekat tv dan masuk ke garasi.


“Jangan lama.” Hanya itu sahutannya berikutnya. Entah jangan lama untuk naik ke mobil atau jangan lama apanya. Tidak jelas, seperti sikap Kean selama ini.


Tentu saja tidak lama, Disa hanya mengambil tas tangan yang sudah ia siapkan untuk ia bawa bekerja.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, menuju arah yang di kenal Disa. Sepertinya Kean mengabulkan permintaannya untuk mengantarnya ke rumah utama.


Tiba di depan rumah, hanya Disa yang turun. Setelah salim pada suaminya, ia segera masuk ke dalam rumah. Adalah kamar Sigit yang langsung ia tuju.


“Selamat pagi nona.” Sapa perawat yang mengurus Sigit.


“Selamat pagi. Papah udah sarapan?” melihat gelas susu sudah kosong di tempatnya.


“Iya nona, beberapa menit lalu.” Disa hanya terangguk paham, ia memang datang terlambat dari waktu seharusnya ia datang.


Akhirnya ia memilih duduk di samping Sigit, memandangi laki-laki yang masih belum bersedia membuka matanya.


“Pah, gimana kabar papah hari ini?"


"Apa papah tahu apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semuanya berantakan seperti ini?”


Pertanyaan itu Disa lontarkan dengan lirih pada Sigit. Mengingat kejadian semalam, air mata kembali berkumpul di sudut matanya dan pecah dengan cepat. Rasa sakitnya masih jelas terasa.


“Sepertinya, yang papah katakan itu benar, kalau aku tidak akan pernah punya tempat di rumah ini.” Ia mengingat kembali saat kalimat sinis itu di lontarkan Sigit beberapa waktu lalu.


“Seberapa besarpun aku berusaha, aku tidak akan pernah layak menjadi bagian dari keluarga ini.”


“Papah juga benar, berbekal cinta saja tidak cukup. Apalah aku, manusia rendah yang bermimpi setara karena merasa memiliki rasa cinta yang besar.”


“Tapi, untuk membayar sebuah keangkuhan sepertinya tidak membutuhkan cinta.”


“Pintu rumah ini dan orang-orang di rumah ini hanya akan bisa menyambutku saat aku memang setara untuk kalian.”


“Jika papah sadar, mungkin saat ini papah pasti sedang menertawakan kebodohanku.”


“SUDAH KU BILANG KAN?! aku bisa membayangkan, mungkin papah akan mengatakannya sambil berkacak pinggang.”


Disa menghela nafasnya berat saat membayangkan kalau Sigit benar-benar bangun dan mengatakan hal itu di hadapannya.


“Jika aku tidak punya tempat di keluarga ini, bukankah sebaiknya aku pergi?” simpulan itu yang kemudian muncul di benak Disa.


Air matanya kembali menetes yang kemudian ia usap dengan kasar. Ia berusaha tersenyum, atau mungkin tepatnya, ia menertawakan kebodohannya sendiri.


“Sampai saat sebelum aku pergi, aku akan tetap menjalankan kewajibanku.”


“Mengurus aa, papah, mamah dan fira. Tahan sebentar saja rasa muak papah, setelah itu, papah akan bisa bernafas lega. Hem?” Disa menggenggam tangan Sigit yang lunglai.


Mungkin seperti ini yang terbaik. Tidak mengubah tatatan apapun yang sudah seharusnya pada tempatnya.


*****