Marry The Heir

Marry The Heir
Hari yang baik



Pagi yang menyenangkan dijalani Kean. Mulai dari olah raga dan membuat tubuhnya kembali segar, selesai mandi semua baju dan perlengkapan bekerja nya sudah siap. Disa menyiapkan stelan jas berwarna navy dengan dalaman kemeja putih. Terkesan muda namun tetap gagah.


Jam tangan, belt dan sepatu sudah ada di dekat baju. Semuanya parktis tinggal ia pakai.


“Disa!” seperti biasa, usai memakai baju ia memerlukan bantuan Disa untuk mengikatkan dasinya.


“Ya Saya!” rasanya sudah sangat lama Kean tidak mendengar sahutan penuh semangat itu.


Disa sudah ada di mulut pintu saat Kean baru selesai menyisir rambutnya. Disa menghampiri seraya  membawa bangku kecil untuk ia pijak.


Berdiri sejajar dengan Kean dengan dasi di tangannya.


“Saya ikatkan dasinya tuan.” tawarnya yang di angguki Kean.


Melingkarkan tangannya di leher Kean dan mengatur keseimbangan tinggi dasi yang akan ia simpulkan. Kean menghembuskan nafasnya yang tertahan, rasanya atmosfer kamar semakin panas saja. Mungkin perlu memanggil tukang AC karena terkadang ruangan mendadak dingin namun terkadang cukup panas.


Sesekali Ia kembali melirik wajah Disa yang ada di hadapannya. Ia sangat yakin kalau Disa menggunakan perona pipi. Tapi sangat rata dan alami. Ataukah memang pipinya kemerahan seperti ini dan ia baru menyadarinya sekarang? Sejak kapan ia mulai memperhatikan wanita ini?


“Sudah selesai tuan. Saya juga sudah menyiapkan sarapan pancake untuk tuan.” suaranya membuat Kean tersadar dari lamunannya.


“Hem.” sahutnya seraya merentangkan tangan saat Disa memakaikan jasnya.


Setelah selesai, Disa turun lebih dulu setelah sebelumnya mengangguk pamit.


Kean mengambil tas kerjanya dan segera turun. Perutnya berbunyi nyaring, ingin mencicipi sarapan yang dibuat Disa.


Di meja makan sudah ada sepiring pancake. Ia mengulum senyum saat melihat tampilan pancake di hadapannya. Ia pikir ia akan kecewa karena ia tidak terlalu suka makanan manis. Ternyata pancake yang dibuat Disa adalah pancake gurih dan asin dengan taburan keju di atasnya.


Ia bahkan tidak pernah tahu kalau Disa bisa membuat menu sarapan yang variatif.


“Silakan tuan.” menyodorkan segelas susu rendah lemak favorit Kean.


“Kamu duduklah, kamu sarapan.” ujar Kean dengan sikap yang tetap terlihat dingin dan acuh.


“Terima kasih tuan.”


Mereka duduk berhadapan, saling menikmati sarapan yang ada di piring masing-masing. Perpaduan rasa yang pas di rasakan lidah Kean dan ia menyukainya.


“Nanti siang saya ada rapat, kamu tidak perlu membuat makan siang. Jika tidak ada pekerjaan kamu boleh kembali ke rumah utama dan ke sini sore nanti.” memecah keheningan selama sarapan.


“Baik tuan.” sahut Disa seraya mengusap lelehan keju di sudut bibirnya.


Sarapan terasa menyenangkan dan rasanya Kean siap menghadapi harinya.


Keceriaan Kean pagi ini berlanjut hingga ke kantor. Jam 10 pagi mejanya sudah bersih dari berkas yang biasanya bertumpuk menunggu untuk ia periksa. Rapat yang biasanya memakan waktu berjam-jam tanpa solusi, hari ini selesai dalam setengah jam saja.


Roy merasa hari ini bebannya tidak terlalu berat karena tuan mudanya begitu mudah di ajak kerjasama di tambah banyak ide spontan yang patut di akui kecemerlangannya.


“Selamat siang tuan.” sapa Roy saat ia masuk ke ruangan dengan wajah sumeringah.


“Ada apa? Kamu sepertinya baru mendapat lotre?” ujar Kean saat melihat ekspresi Roy yang terlihat begitu senang.


“Lebih dari lotre tuan.” sahutnya.


Berjalan menghampiri Kean lalu duduk di hadapannya. Ia menunjukkan ipad di tangannya dan menunjukkan sesuatu di layar pipih tersebut.


“Mereka menyetujui kerjasama dengan kita. Bahkan mereka akan mulai investasi di awal bulan ini.” terang Roy dengan penuh semangat.


“YES!” Kean berseru riang. Ia bahkan mengajak Roy tos dan dengan senang hati Roy menyambutnya. Bukankah ini kejadian langka?


“Kerja bagus roy. Ini harus di rayakan.” Ungkap Kean dengan senyum yang terkembang.


“Tidak tuan, ini berkat kehebatan anda meyakinkan investor itu untuk tidak menarik investasinya dari perusahaan kita.” Roy balas memuji dengan sesungguhnya.


Ia tentu melihat kerja keras Kean yang seperti tidak mengenal lelah walau terkadang di warnai drama kemarahan seorang pimpinan kepada bawahannya. Namun bagi Roy, hal ini bisa ia banggakan di hadapan Marwan terlebih bos besar mereka, Sigit Hardjoyo.


“Ini kerja keras tim. Kamu siapkan makan siang untuk seluruh divisi di perusahaan ini. Mereka harus tau, kesuksesan kita adalah buah kerja keras mereka semua.” tutur Kean dengan senyum penuh kebanggaan.


“Baik tuan. Saya akan menyiapkannya.” Roy undur diri pamit.


Langkahnya terlihat ringan dengan sesekali berseru “Yes!” dan masih bisa Kean dengar.


Kean beranjak dari tempatnya. Ia beralih memandangi dinding yang memajang foto sang ayah berdampingan dengan fotonya. Baru kali ini ia menatap foto ini dengan berani dan senyum terkembang.


“Apa papah melihatnya? Aku bisa mendapatkan kesuksesan dengan caraku sendiri.” gumamnya yang sekali lalu ekspresinya berubah dingin.


Ia masih selalu mengingat cara Sigit memojokkan dan menyepelekan kerja kerasnya hingga ia merasa kalau ia memang tidak pernah bisa melakukan hal yang benar.


Kali ini berbalik. Babak ini Kean merasa mendapat point dan ia bisa dengan percaya diri menghadapi sang ayah. Satu langkah sudah ia ambil dan berbuah kesuksesan. Timbul keinginan dalam hatinya untuk menunjukkan semua kemampuannya dan menyadarkan orang-orang yang menyangsikannya bahwa ia mampu.


Setelah mereka bertepuk tangan untuknya, ia bersiap untuk pergi dan mewujudkan apa yang ia inginkan.


“Sebentar lagi kean, bertahanlah.” gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


Setelah ini satu tujuan yang harus segera ia wujudkan, membawa orang terkasihnya pulang.


******


Dari dalam ruang musik kembali terdengar alunan merdu suara piano yang berpadu dengan vokal yang harmonis. Shafira berdiri di barisan paling depan, melantunkan sebuah lagu untuk melatih vokalnya. Mereka tampak berlatih dengan riang, membuat suara yang mereka hasilkan begitu membahana mengisi setiap sudut ruang musik.


Nada do menjadi akhir dari lagu yang mereka nyanyikan untuk latihan.


“Okey, good job!” seru Andini yang kemudian bertepuk tangan saat dua lagu berhasil mereka selesaikan dengan baik.


Mereka bertepuk tangan dan saling melempar tawa.


“Penampilan kalian semakin baik dan saya merasa sangat bangga.” membungkuk memberikan pujian salute pada para siswanya.


Para siswa tersenyum senang mendapat pujian jujur dari guru seni musiknya.


“Perlu kalian tahu, hari kartini nanti kita kembali mendapatkan kesempatan untuk tampil.”


“Yeaaayyy!!!” para siswa berseru senang.


“Untuk paduan suara kita akan membawakan lagu Gemilang milik Andien, Try milik Colbie Calliat dan  Hero milik Mariah Carrey. Dan untuk solonya, Fira akan menyanyikan Bunda milik Melly Goeslaw. Gimana?”


“Wah keren tuh bu. Seragam paduan suara kita juga ganti kan bu? Supaya tampilannya lebih menjiwai.” tanya seorang siswi dari belakang.


“Itu akan ibu usulkan. Yang jelas, kalian harus berlatih dengan keras dan menunjukkan pada semua yang hadir bahwa kalian selalu menjadi kebanggan sekolah ini.”


“Siap bu!!!” mereka berseru dengan semangat.


“Okey, sekarang kalian lanjutkan dulu latihan. Ibu akan menemui kepala sekolah dan mengatakan kalau kita siap menampilkan yang terbaik. Satu jam lagi ibu kembali. Dan fira, tolong ambil ini.” menunjuk tumpukan berkas di atas meja di samping Andini.


“Iya bu.” Shafira segera menghampiri.


Andini menyerahkan beberapa lembar kertas. “Ini partitur lagunya. Kamu kasih ke temen-temen kamu dan untuk lagu solo, ibu harap kamu dan Malvin bisa memberikan emosi yang sempurna untuk lagu ini. Ini gong-nya kita.” terang Andini seraya menepuk pundak Shafira, menyemangati.


“Tapi bu, kenapa enggak lagu Hero yang jadi gong-nya? Bukannya ini akan lebih mengena?”


“Ya betul. Tapi dalam kesempatan kali ini sebagian besar tamu undangan adalah para wanita hebat yang 90% sudah menjadi seorang ibu. Pihak sekolah ingin menyentuh hati mereka dan sebagai ucapan terima kasih maka lagu ini yang jadi gong-nya. Gimana, kamu siap?”


“Oh iya bu.” Shafira mengangguk paham.


“Iya bu, saya akan mencoba melakukan yang terbaik.” tegas Shafira.


“Ya, ibu percaya sama kamu. Terima kasih fir,”


“Sama-sama bu.”


Andini pun berlalu meninggalkan Shafira dan teman-temannya yang tampak mulai asyik memutar lagu pilihan di musik player ponselnya. Beberapa di antara mereka sudah membahasnya dan tampak mulai menikmati lagunya.


Shafira menghampiri teman-temannya yang sudah terbagi dalam kelompok pembagian suara.


“Teman-teman, partiturnya. Ini untuk suara satu, ini suara dua, ini suara tiga dan ini suara empat.” membagikan masing-masing partitur pada tiap kelompok.


“Thanks fir.” sahut Diana yang berada di kelompok suara dua.


“Sama-sama.” sahutnya. Ia pun menghampiri Malvin yang tengah memainkan tuts-nya mengikuti melodi lagu yang ia ingat. “Partiturnya.” Shafira menaruh partitur lagu di atas stand book partitur.


Malvin menghentikan gerakan tangannya dan sedikit menoleh Shafira yang berdiri di sampingnya dan masih berusaha menjepitkan partitur agar tidak terjatuh.


Belakangan ini ia merasa Shafira banyak berubah. Terlihat lebih cuek saat bertemu dengannya, tidak lagi malu-malu walau terkadang masih terlihat blushing saat mereka bersitatap.


“Lo mau nyoba nyanyi yang solo fir?” tawarnya tiba-tiba.


“Gue belum hafal lagunya.” timpalnya tanpa mengalihkan pandangannya dari partitur tebal yang masih ia coba jepit. Entah mengapa begitu susah memasukkan tumpukan kertas ini ke dalam penjepitnya.


Malvin berdiri dan berniat membantu Shafira. Saat tangan keduanya tidak sengaja bersentuhan, Shafira segera menghindar.


“Kenapa gag ngomong kalo bisa masang sendiri.” gerutunya seraya berlalu.


Shafira menaruh sisa partitur di kursinya dan berlalu pergi keluar meninggalkan ruangan musik.


“Fir!” Malvin memanggilnya, namun Shafira lebih memilih mempercepat langkah kakinya dan mengabaikan panggilan Malvin.


“Kenapa vin?” tanya Diana yang melihat Malvin mematung di tempatnya seraya memandangi arah berlalu Shafira.


“Gak pa-pa.” jawabnya lesu.


Ia kembali duduk di tempatnya dan memandangi barisan tuts di hadapannya. Ia masih belum mengerti kenapa Shafira selalu menghindarinya dan membuat jarak yang begitu jauh dengannya.


Melihat Malvin yang hanya terpaku, Diana segera pergi keluar dan menyusul Shafira.


Di luar ruangan musik, tampak Shafira yang menyandar pada dinding dengan tubuh sedikit membungkuk. Ia memegangi dadanya dan berusaha mengatur nafas.


“Fir!” panggil Diana.


Shafira tampak terkejut, ia segera menegakkan tubuhnya dan merapikan helaian rambut yang menutupi wajahnya. Ia pun berusaha tersenyum saat terlihat Diana menghampirinya.


“Lo baik-baik aja kan?” tanya Diana yang menatap lekat wajah Shafira.


“Em ya! Gue baik-baik aja kok di.” sahutnya yang kembali berusaha tersenyum.


Masih memandangi Shafira dan Diana menggeleng.


“Kenapa?” tanya Shafira yang mengusap wajahnya saat melihat Diana yang terlalu lekat menatapnya.


“Harusnya gue yang nanya lo kenapa fir.” timpal Diana tanpa mengalihkan pandangannya dari Shafira.


Shafira membuang pandangannya, ia merasa Diana tengah menyelidiknya.


“Lo kenapa terus ngehindarin malvin sih?” tanya Diana yang mendekat pada Shafira. Ikut menyandarkan tubuhnya pada dinding.


“Hah, siapa yang ngehindar? Gue biasa aja kok.” kilahnya yang berusaha terlihat tenang.


“Jangan bohong sama gue.” tatapan Diana semakin tajam dan mengunci kedua mata Shafira seperti tengah mengintrogasinya.


Shafira tergagap hendak berbicara tapi tidak ada suara yang keluar.


“Di kelompok bahasa inggris, lo milih pindah gabung sama gue dan kita cuma berdua. Di kelompok ipa lo milih keluar dari kelompok malvin dan bergabung sama anak-anak cowok yang bandel. Di pelajaran olah raga juga lo nolak untuk satu kelompok sama malvin dan di sini, lo masih mencoba ngehindarin malvin. Lo ada masalah apa sih?” tanya Diana dengan penuh rasa penasaran.


“Gue gag ngehindari malvin kok di. Buktinya gue masih main ke cafe tempat dia kerja.” akunya seraya memilin kedua jarinya yang saling bertautan.


“Ya terus? Apa karena lo tau nara suka sama malvin dan ini yang bikin lo jadi berubah?”


“Nara bukan suka sama malvin, tapi mereka pacaran.” lirih Shafira dengan raut wajah kecewa. Ia bahkan tidak kuat untuk mengangkat kepalanya membalas tatapan Diana.


“Pacaran? Kata siapa?” Diana balik bertanya.


Shafira menghela nafasnya dalam kemudian membuangnya perlahan. Matanya tampak berkaca-kaca saat menatap Diana.


“Gue denger nara waktu telponan sama malvin.” akunya yang kemudian menggigit bibirnya sendiri. terlihat sangat menyedihkan.


Diana ikut menghela nafas dalam. Ia berbalik menyamping agar bisa kembali melihat ekspresi Shafira dengan lebih jelas. Melihat ekspresi dan sikap Shafira, rasanya ia mengerti perasaan yang di rasakan Shafira saat ini.


“Jadi lo ngehindar supaya perasaan lo gag berlanjut?” tanya Diana kemudian. Ia ingin meyakinkan dirinya sendiri.


Shafira mengangguk.


“Terus ngapain lo masih nemuin dia di cafe?”


Menggeleng, “Gue juga gag tau di, gue gag paham. Tiba-tiba aja gue mau ke sana dan berada di sana.” menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang ia lakukan belakangan ini.


Dalam satu waktu ia mendekat dan menjauh dari Malvin. Memang membingungkan tidak hanya bagi orang lain tapi bagi dirinya sendiri. Ia hanya berharap ia masih bisa melihat Malvin dari kejauhan.


“Tapi lo masih suka kan sama malvin?”


Kembali Shafira mengangguk lesu. Ia tidak bisa memungkiri perasaannya pada Malvin masih tetap sama. Mungkin ini yang membuat sikapnya banyak berubah. Ia tidak ingin terlalu kecewa dan patah hati.


“Okey, gue akan bantu lo fir.” Diana mengusap bahu Shafira, membuat gadis cantik itu menoleh.


“Maksud lo?” alisnya terlihat saling tertaut, tidak mengerti maksud Diana.


“Gue akan bantu lo terlihat biasa. Dengan atau tanpa malvin, gue jamin lo bakal tetap happy. Hem?”


Sejenak Shafira menatap Diana lalu hanya bisa mengangguk mendengar kalimat gadis berkacamata ini. Entah apa maksudnya, yang jelas, ia memang memerlukan bantuan.


“Okey, sekarang kita balik ke ruang musik. Bentar lagi bu andini dateng dan kita harus latihan. Sebentar aja lo lupain malvin dan perlahan lo akan terbiasa.” Diana berusaha meyakinkan.


Pada akhirnya, meninggalkan patah hati adalah dengan membuat terbiasa untuk tidak berharap.


“Thanks di.” sahutnya dengan segaris senyum.


“No problem. Yuk!” Menarik tangan Shafira dan Shafira mengikuti langkah Diana di belakangnya.


Mungkin saat ini lebih baik ia mengikuti saran Diana.


*****