Marry The Heir

Marry The Heir
Ajakan tiba-tiba



POV Disa:


Sore ini aku kembali ke rumah tante Mery, rumah yang aku tinggalkan selama lebih dari seminggu. Berjalan di gang yang sempit, orang-orang menyapaku dengan ramah. Menyalamiku dan memberi selamat bahkan ada beberapa di antara mereka yang meminta berfoto denganku.


“Ada apa ini tuan?” aku merasa bingung, karena tidak biasanya orang-orang bersikap seperti ini kepadaku.


Tuan muda hanya menggeleng, bingung juga rupanya.


Dulu, saat aku tinggal bertahun-tahun di rumah tante Mery dan berpapasan dengan mereka, jangankan menyapa, melihat wajahku saja mereka memalingkan wajah tapi sekarang, mereka memanggil namaku dan mengucapkan selamat atas kemenanganku. Oh ya, aku paham, ini karena kompetisi yang aku ikuti.


“Duh selamat ya disa, udah masuk tv dan udah jadi orang terkenal, udah jadi artis.” Itu ujaran salah satu warga yang meminta berfoto denganku. Apa setiap yang masuk tv itu wajib di anggap artis? Rasanya tidak bukan?


Satu hal yang baru aku mengerti, ini efek dari keberhasilanku menjuarai lomba desain itu. Mereka mulai merasa mengenalku, memperhatikanku bahkan ada yang mengatakan kalau ia adalah saudara jauh dari tante Mery. Benarkah? Aku bahkan tidak pernah melihat orang ini datang ke rumah tante Mery bahkan saat dia sakit.


“Kalau kamu merasa tidak nyaman, percepat langkahmu.” Bisik tuan muda yang lebih merasa terganggu dengan serangan para tetangga yang tiba-tiba akrab.


Tidak hanya berfoto denganku mereka juga minta berfoto dengan tuan muda. Ah, aku jadi tidak enak karena menempatkan tuan muda dalam kondisi yang seperti ini. Tuan muda bukan orang yang bisa terbuka dengan orang-orang baru apalagi tiba-tiba seperti ini. Rasa risih itu pasti ada walau ia coba tutupi dengan ekspresi dingin yang menurutku sudah biasa.


“Udah jadi artis mah, pacarnya juga cakep ya. Mana mau di jodohin sama anak bu retno, bu mery juga pasti pikir-pikir lagi.” Cetus salah satu warga yang tidak aku kenali itu siapa.


Bener kata tuan muda, aku harus mempercepat langkahku. Bukan karena ingin bersikap angkuh atau tidak bersahabat tapi aku berusaha melindungi seseorang di sampingku agar tidak merasa tak nyaman.


“Bu mery!” seru salah satu warga saat melihat kedatangan tante Mery dari kejauhan.


Susah payah tante Mery berjalan cepat untuk menghampiriku.


“Tante,” sapaku seraya meraih tangannya dan mengecupnya.


“Kamu kenapa gak bilang mau pulang sekarang, jadi di kerumunin kayak gini kan. Mana damar lagi keluar lagi.” Tante Mery langsung mengambil satu tas besar dari tanganku.


Memang banyak barang pribadi yang aku bawa dari hotel, karena merasa sayang kalau di tinggalkan. Salah satunya manekin yang sudah otomatis di berikan panitia untukku.


“Maaf tante, jadi ngerepotin tante harus jemput.” Ujarku penuh sesal.


"Pake maaf-maaf segala." Tante Mery tersenyum hangat padaku, aku bisa merasakan ketulusan yang tersirat di dalamnya.


“Mer, ya ampun keponakan kamu udah jadi orang besar. Nanti kapan-kapan jahitin baju buat tante ya. Tante masih sepupuan lo sama tante mery.” Aku seorang wanita yang sedari tadi terus mengaku sebagai saudara tante Mery.


“Ah elo, giliran ponakan gue udah jadi orang lo ngaku sodara, dulu waktu gue minjem duit buat ongkos mereka ke sekolah lo malah banting pintu. Lupa lo!” sahut tante Mery dengan kesal. Rupanya mereka tidak terlalu akrab, pantas aku tidak tahu kalau mereka bersaudara.


Memang seperti itu adanya, saat kita susah, sedikit yang mau menolong, Sebagian besar hanya memalingkan muka seolah tidak melihat kesulitan kita dan akan lebih menyenangkan kalau bisa menggunjingkan kesulitan itu. Tapi saat hidup kita ada sedikit kemajuan, mereka merapat, mengaku saudara bahkan beberapa di antaranya merasa berjasa.


“Lo gitu amat mer sama gue. Kan kalo bukan gue yang minjemin duit buat bayar biaya masuk kuliah, ponakan lo gak bakalan kayak sekarang. Sombong ya lo jadi orang. Tibang minta di jahitin baju doang.” Timpal Wanita itu kesal. Ia bahkan mendelik tidak suka padaku.


“Gak usah lo ungkit. Tuh duit kan cuma 4 juta, Cuma gue pinjem selama 2 minggu sambil nunggu om-nya disa gajian. Saban hari lo tagih dan inget, udah gue bayar. Jangan sok ngerasa udah nolong deh, lo minjemin gue juga pake bunga.”


“Dan inget, ponakan gue ini bukan tukang jahit tapi desainer. Tibang ngejait baju doang mah, noh ke ujung jalan, ada penjahit barokah. Moga baju lo juga ikutan barokah.” Sengit tante Mery tidak terima. Kadang ingin tertawa kalau sudah mendengar tante Mery nyerocos tapi takut dosa.


Melihat perdebatan tante Mery dan saudaranya itu, aku yakin tidak hanya aku tapi tuan muda pun merasa tidak nyaman. Tapi mungkin ada baiknya kalau ia tahu, memang seperti ini hidupku dulu. Dilalui dengan tidak mudah dan hanya menjadi beban bagian sebagian banyak orang hingga aku harus berusaha berdiri di atas kakiku sendiri.


“Tan, udah ya.. Nanti tensi darah tante naik lagi. Kita pulang aja ke rumah.” Aku berusaha membujuk tante Mery yang sudah berapi-api karena ini tidak baik untuk kesehatannya. Ibu itu hanya berdecik mendengar dengusan tante Mery, seperti setengah mengakui.


“Habis nih orang mancing-mancing aja. Padahal paling doyan ngomongin keluarga kita, muna lo!” Dengus tante Mery masih kesal namun tetap menurut.


“Ibu-ibu saya permisi yaa… Selamat sore.” Baiknya aku pamiti lebih dulu dari pada perdebatan semakin panjang.


Kami meneruskan langkah kaki kami, ku lirik tuan muda dia hanya tersenyum di sampingku. Entah apa yang ada di benaknya saat ini setelah melihat kejadian tadi.


“Maaf ya tuan,” bisikku, tidak enak membuat tuan muda melihat hal yang tidak seharusnya ia lihat.


“Gak pa-pa.” sahutnya pendek tapi paling tidak membuat perasaanku lebih tenang.


“Ayo silakan masuk tuan.” Tante Mery jadi ikutan memanggil tuan muda dengan panggilan tuan.


“Terima kasih.” Di simpannya barang-barang yang tuan muda bawakan untukku. Ia mengepal-ngepalkan tangannya, mungkin pegal juga menenteng barang yang cukup berat.


“Terima kasih tuan, silakan duduk. Tuan mau saya buatkan minuman apa?”


“Apa saja. Bisa aku pinjam toiletnya?”


“Oh boleh. Mari saya antar.” Aku membawa taun muda ke kamar mandi yang berada ujung lorong antara kamarku dan Damong. Ia sedikit memperhatikan lingkungan sekitar namun tidak mengatakan apapun.


“Di sini tuan.” Ku bukakan pintu kamar mandi saat kami tiba.


Ukurannya kecil, sangat jauh berbeda dengan kamar mandi di rumah tuan muda. Tapi aku yakin cukup bersih karena walau Damar orang yang jorok namun tidak dengan kamar mandi. Ia cukup memperhatikan kebersihannya agar tidak mendapat omelan dari tante Mery.


Tuan muda hanya terangguk dengan senyum tipis yang ia tunjukkan padaku. Setelah ia masuk, aku memilih kembali ke kamar. Menyimpan beberapa barang dan menatanya. Masih ku pandangi dengan bangga tropy yang ku dapatkan dan ku tempatkan di atas meja belajarku.


Bentuknya yang unik dan tentu saja perjalanan panjang yang berliku membuatku merasa kalau tropy ini sangat berarti. Aku jadi tersenyum sendiri dan rasa haru yang tiba-tiba membuncah saat mengingat semua yang pernah aku lewati.


Ini bentuk hasil kerja kerasku dan kesempatanku untuk memulai langkah menjadi seseorang yang lebih baik.


“Kamu bisa disa.” Aku menepuk bahuku sendiri seraya memeluk tubuhku dengan erat. Ada kalanya kita harus mengapresiasi diri sendiri untuk semua yang kita lakukan.


Menunggu tuan muda keluar dari toilet, aku memilih untuk membuatkannya minum. Minuman dingin mungkin cocok untuk hari yang panas ini. Tidak ada AC di rumah kami sehingga, minuman segar aku yakini akan sangat membantu.


“Kamu udah ngabarin nenek kamu sa soal kompetisi ini?” suara tante Mery yang baru keluar dari kamarnya cukup mengagetkanku.


“Em, belum tante. Sore nanti disa telpon.” Iya juga, aku hampir lupa sama nenek dan Bi Imas.


“Mereka pasti seneng denger kabar ini. Kamu harus ngasih tau mereka secepatnya.” Tante Mery terlihat sangat bersemangat, lebih dari biasanya.


“Iya tan. Tapi sebenernya disa ragu buat nelpon nenek. Disa gak tau harus jawab apa kalo nenek nanya masalah gossip kemaren.” Satu hal ini yang mengganjal pikiranku dan membuatku takut berbicara dengan nenek.


Tante Mery menghampiriku dan duduk di kursi meja makan. “Tidak perlu jelaskan apapun, tante yakin nenek kamu gak terlalu ngeh sama gossip kemaren. Paling juga teh imas yang banyak nanya tapi tante yakin dia gak bakal ngomong macem-macem sama nenek kamu.”


“Lagi pula, masalahnya kan sudah selesai. Kamu jelasin aja kondisi sekarang, hem?” tante Mery memberiku ide.


Aku hanya bisa berharap kalau apa yang tante Mery katakan itu benar. Nenek tidak terlalu banyak mendengar soal gossip yang beredar.


“Minumannya tan.” Aku menyodorkan satu minuman dingin untuk tante Mery dan satu untuk tuan muda.


“Makasih.” Tante Mery belakangan sering tersenyum membuatku merasa berarti di hadapannya.


“Sama-sama tan.” Satu minuman untuk tuan muda aku taruh di meja tamu dan terdengar suara langkah kakinya yang mendekat.


“Minuman anda tuan.” Ujarku. Ku perhatikan ia sedikit serius setelah keluar dari kamar mandi.


“Kita ke bandung besok.”


“Hah?” aku masih kaget.


Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba tuan muda mengatakan hal itu. Untuk apa coba?


“Kamu tidak ada pekerjaan yang mendesak bukan?” raut wajahnya tidak ada yang berubah, tetap dingin seperti biasa.


“Ti-tidak ada tuan.” Ia bertanya tapi aku tahu, ini suatu keharusan.


Aku sih seneng kalau ke bandung besok, aku juga merindukan nenek dan Bi Imas. Tapi ada apa dengan tuan muda, kenapa tiba-tiba ngajak ke bandung? Apa mungkin dia merindukan nenek dan Bi Imas? Tidak mungkin kan?


*****