Marry The Heir

Marry The Heir
Cerita di masa lalu



POV DISA:


Aku masih belum sepenuhnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini. Sejak aku datang ke rumah kemarin malam, suasana mendadak mencekam. Aku tidak pernah tahu siapa orang yang di bicarakan oleh teman-temanku sampai akhirnya Kak Tina mengatakan kalau itu adalah nyonya Arini, ibu dari tuan muda.


Sungguh, aku masih sangat terkejut. Ternyata begitu banyak rahasia yang di miliki majikanku dan tidak pernah aku sangka.


Masih segar dalam ingatan saat pertama kali aku datang ke rumah ini beberapa bulan lalu. Rumah yang besar dengan segala fasilitas mewah dan kekayaan yang melimpah seolah menjadi tolak ukur awal aku menilai kalau orang-orang dirumah ini hidup dengan nyaman dan bahagia.


Hari berganti dan perlahan aku mulai melihat banyaknya hal yang membuat aku berfikir kalau kesan pertamaku tentang keluarga ini, salah. Tidak sepenuhnya salah hanya saja, idealisme tentang sebuah keluarga nyatanya tidak sesuai dengan kenyataan.


Pertama kali aku melihat interaksi tuan muda dengan pengisi rumah ini, sangatlah kaku. Tidak ada rasa keterikatan yang bisa aku pahami sebagai sebuah ikatan keluarga. Semuanya terlalu asing dan membuatku menebak keadaan yang sebenarnya terjadi di rumah ini.


Beberapa waktu lalu saat aku membereskan kamar tuan muda, aku menemukan sebuah foto di lemari khusus tempat tuan muda menempatkan action figure favoritnya. foto seorang wanita cantik dengan seorang anak kecil tengah tertawa dengan bahagia. Hanya sekali aku melihatnya karena di hari berikutnya, foto itu sudah tidak ada di tempatnya.


Pernah juga ku lihat sekali foto wajah seorang wanita yang sama menggendong seorang anak laki-laki yang di jadikan wallpaper layar laptop tuan muda. Saat itu aku mengantarkan cemilan ke ruang kerjanya dan tanpa sengaja melihat foto tersebut. Dan baru aku tahu kalau saat tuan muda sedang murung, foto itulah yang ia pandangi diam-diam.


Semalam, aku baru tahu kalau wanita itu adalah wanita yang sangat di cintai tuan muda. Tapi aku tidak pernah menyangka kalau tuan muda dan nona Shafira terlahir dari dua wanita yang berbeda. Tidak ada salahnya seolah laki-laki memiliki istri lebih dari satu, hanya saja mungkin ada hal yang belum selesai sebelum semuanya menjadi seperti sekarang.


Bisa aku bayangkan, sikap tuan muda pada non Shafira adalah buah dari kekecewaan akan keadaan yang tidak ia harapkan. Seperti ia belum bisa menerima kehadiran nyonya Liana dan non Shafira dalam hidupnya.


Arini, nama Wanita yang menjadi istri pertama tuan muda.


Seperti sedang merangkai puzzle, kepalaku ikut berdenyut pusing saat ingatan tentang pengisi rumah ini berputar di kepalaku.


“Baiknya, kita cukup tau aja masalah majikan kita dan gak perlu kita bahas. Toh sepanjang apapun kita membahasnya tidak ada untungnya buat kita dan tidak menyelesaikan mereka juga kan?”


Aku masih mengingat kalimatku sendiri yang aku lontarkan pada teman-temanku.


Memang hanya cukup tahu saja tapi bukan berarti otak kami tidak ikut berfikir, merangkai banyaknya misteri di rumah ini. Mengabaikan masalah yang terjadi di depan mata, tidak semudah saat aku mengeluarkan kata-kata itu. Ada rasa penasaran dan keinginan yang tinggi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini.


Beberapa saat lalu, tuan muda memanggilku ke kamarnya entah untuk alasan apa. Hanya saja, sejak kepulangan nyonya Arini, tuan muda tetap berada di rumah ini dan menghabiskan waktuya bersama ibunya. Saat makan siang pun, ia memilih pulang, makan siang bersama nyonya Arini tidak pernah sekalipun ia tinggalkan. Mungkin ia sedang mencoba mengganti sebagian waktunya yang hilang.


Saat ini, ku lihat tuan muda terduduk di sofa kamarnya sementara aku berdiri sambil menunduk tanpa berani menatap wajahnya. Aku tidak tahu apa alasan ia memanggilku malam ini namun sepertinya ada hal penting yang ingin ia sampaikan.


“Dia ibuku.” Adalah kalimat pertama yang aku dengar dari mulut tuan muda. Aku mengangkat wajahku dan ku liat tuan muda sedang menatapku. “Arini pratiwi, wanita hebat yang selalu menjadi poros kebahagiaanku.” Lanjutnya.


Sepertinya ia berusaha memperkenalkan nyonya besar kepadaku.


Aku berusaha tersenyum walau aku tahu ini bukan waktu yang tepat untukku tersenyum. Hanya saja, aku berusaha menerima apa yang sedang disampaikan tuan muda.


Tuan muda mengubah posisi duduknya dari sebelumnya duduk tegak dengan menyilangkan kaki, kali ini ia bersandar, mencoba terlihat santai walau aku tahu, perasaannya tidak sesantai itu.


“Saat kejadian itu, hampir 68% tubuhnya terkena luka bakar. Aku melihat banyak luka kehitaman dan nyala api di tubuhnya yang sangat sulit aku padamkan. Ia meringis namun tidak pernah sekalipun ia melepaskan pelukannya.”


“Aku tahu, ia sangat kesakitan. Tapi demi melindungiku, ia mengabaikan keselamatannya."


"Dan hingga saat ini, tidak pernah sekalipun ia mengakui rasa sakitnya, hanya karena ia takut membuatku khawatir.”


Suara tuan muda berubah parau. Ia membungkukan tubuhnya lantas menangkup wajahnya yang kemudian ia usap.


“Saya takut disa. Saya takut jika saat saya membuka mata, saya mendengar kabar yang buruk tentang ibu saya. saya juga takut, jika sesuatu yang buruk itu terjadi saat saya tidak di sampingnya.” Tuan muda kembali menatapku. Ia menggigit bibirnya sendiri, seperti tengah menahan tangis.


Melihat wajahnya, aku seperti bisa merasakan rasa takut yang saat ini hinggap di hati tuan muda.


“Saya menyesalkan jika akhirnya, ia yang harus datang menemuiku, menempuh jarak ribuan mill dengan kondisi tubuh yang tidak baik-baik saja. Jika saja saya lebih kuat, harusnya saya segera menyelesaikan semuanya agar saya lah yang pergi menemuinya.”


“Namun di waktu yang bersamaan saya bersyukur. Saya bersyukur karena masih memiliki kesempatan untuk melihat ibu saya, berbicara dengannya, menatap wajahnya dan memeluknya dengan erat. Saya bahagia disa.” Ungkap tuan muda dengan suara yang nyaris tercekal.


Hatiku ikut mencelos mendengar pengakuan tuan muda. Aku memang tidak pernah merasakan kecemasan yang begitu besar seperti yang dirasakan tuan muda namun aku tahu, rasa takut kehilangan itu nyata. Kesakitan saat di tinggalkan itu jelas rasanya.


Ku lihat wajah tuan muda yang sendu. Matanya yang merah dan sedikit basah.


Ia tersenyum kepadaku lantas mengusap wajahnya dengan kasar.


“Kamu lihat sa, saya lemah. Saya pengecut.” Ujarnya dengan tatapan laman yang terarah kepadaku.


Aku menarik nafasku dalam-dalam, entah mengapa aku bisa merasakan rasa sesak yang saat ini di rasakan tuan muda.


Ku langkahkan kakiku satu langkah, entah mengapa tubuhku tiba-tiba berjalan ke arahnya. Aku berusaha tersenyum di antara rasa pedih yang ikut mengisi hatiku.


“Tidak tuan, anda tidak lemah. Anda juga bukan seorang pengecut."


"Untuk menangis sekalipun, anda perlu keberanian untuk melakukannya di hadapan orang lain.” suaraku mendadak serak dan parau. Seperti ada yang mengganjal di tenggorokanku dan mencekat nafasku.


Jika berkaca, mungkin saat ini mataku pun sedang merah dan berkaca-kaca.


Tuan muda tampak tersenyum, sekali lalu ia mengalihkan pandangannya dariku. Aku tahu, ia menangis dan sedang berusaha menyembunyikan air matanya dariku.


Jika dulu aku begitu panik melihat wajahnya yang ketakutan dan kesakitan, kali ini lebih dari itu.  Rasa sakit tuan muda terasa seperti menonjok taju pedang-pedangan di dadaku, sakit dan menyesakkan.


“Dan saya yakin, tuan muda menangis bukan karena tuan muda lemah. Tapi, tuan muda menangis karena telah berusaha kuat dalam waktu yang lama. Sesekali, tidak masalah menunjukkan apa yang anda rasakan tuan.”


Entah dari mana asal kalimat itu terlontar dengan mudah dari mulutku. Aku tidak berusaha merangkainya tapi kata-kata itu terjalin begitu saja. Mungkin karena aku pun merasakan rasanya menangis karena telah berusaha kuat dalam waktu yang lama, sendirian.


Tuan muda beranjak dari tempatnya dan berjalan menghampiriku. Ia berdiri tepat beberapa langkah di hadapanku. Bisa ku lihat sorot matanya yang dalam tengah menatapku. Aku menelan salivaku sendiri dan berusaha mengendalikan perasaan menyeruak yang tiba-tiba hadir.


“Bisakah jika saat ini saya berbagi beban denganmu?” tanyanya ragu. Ku balas tatapannya yang lekat. “Tolong bantu saya menjaga satu-satunya wanita yang saya cintai.” pintanya dengan penuh harap.


Terbit senyum yang tergambar di wajah tuan muda. Tangannya terangkat terarah kepadaku tapi kemudian ia kepalkan tangannya dan ia sembunyikan di balik tubuhnya.


“Terima kasih disa. Terima kasih banyak.” Ungkapnya dengan penuh kesungguhan.


Aku hanya terangguk lantas kembali tersenyum, berusaha memberinya semangat.


"Hey, jangan bersedih. Saya akan menemani anda tuan." batinku.


Tuan, saya tidak pernah merasakan seperti apa hangatnya pelukan seorang ibu. Saya juga tidak pernah merasakan seperti apa rasanya mencemaskan orang yang sangat kita cintai. Tapi saya pernah merasakan, seperti apa sakitnya sendirian dan di tinggalkan.


Dan jangan pernah tuan merasakannya. Karena pada akhirnya, kita hanya bisa menyesal saat semuanya berakhir dan hanya menjadi sebuah kenangan yang tidak pernah bisa kita ulang.


Kenangan? Aku bahkan tidak pernah memilikinya.


******


“Selamat malam nyonya,…” kalimat itu menjadi kalimat pertama yang diucapkan Disa pada Arini.


Di tangannya ia membawa sebaki besar makan malam yang sudah ia siapkan sesuai pesanan Kean.


“Makanan yang bisa di makan mamah tidak sama dengan kita. Saya akan mengirimkan menu sesuai saran ahli gizi. Tolong pastikan mamah menyukai makanan yang kamu buat.” Begitu pesan Kean sore tadi.


Ia pun mengirimkan beberapa menu makanan lengkap dengan takaran yang di susun oleh ahli gizi. Menunya memang cukup mudah, intsruksinya pun jelas. Bagian yang tersulit adalah membuatnya menjadi menarik sehingga Arini mau memakan masakannya. Seperti yang kita tahu, makanan sehat tidak selalu enak bukan? maka paling tidak, buatlah ia sedikit lebih menarik agar mengundang selera.


Arini yang tengah terduduk di tempat tidurnya bersama Kean, segera menoleh saat mendengar suara Disa yang terdengar ringan dan ceria. Ia pun menatap Kean yang tampak tersenyum saat melihat kedatangan Disa.


“Masuklah.” Sambut Arini. Ia masih memperhatikan benar perubahan ekspresi Kean di hadapannya lantas kembali menatap Disa.


“Terima kasih nyonya.” Disa masuk ke dalam kamar Arini dan tersenyum tipis pada Wanita yang kini tengah memandanginya.


“Siapa namamu?” tanya Arini kemudian.


“Saya disa nyonya, salah satu pelayan di sini.”


Arini terangguk. Ia meraih tangan Kean yang sedikit tersentak. Sepertinya putranya cukup kaget saat tiba-tiba Arini menggenggam tangannya.


“Apa yang kamu bawa?” Kean berusaha mengalihkan perhatiannya dengan berbasa-basi.


“Saya membawakan makan malam untuk nyonya dan tuan muda.”


Disa menaruh satu baki besar menu makan malam di atas meja beroda dan mendorongnya mendekat pada Arini.


“Apa nyonya dan tuan akan makan sekarang?” tawarnya kemudian.


“Hem. Bawakan itu untuk saya.” Arini menunjuk salah satu makanan yang di bawa Disa.


“Baik nyonya, silakan.” Satu mangkuk makanan yang sudah di siapkan Disa diberikan pada Arini. Makanan yang di takar dengan hati-hati sesuai petunjuk ahli gizi. Arini sudah mengenal benar, komposisi makanan yang ada di hadapannya yang berbeda, tampilannya di buat lebih cantik.


“Terima kasih. Kamu makan juga nak.” Ujar Arini pada Kean.


“Iya, kean temenin mamah makan.”


Disa tersenyum simpul melihat kedekatan ibu dan anak di hadapannya. Harus ia akui, ada sedikit rasa iri karena ia tidak pernah mengalami apa yang dilakukan Kean dan Arini saat ini. Namun di waktu yang bersamaan, ia merasa bersyukur karena bisa melihat tuan mudanya kembali tersenyum. Sangat menenangkan.


Dengan segera Disa mengambilkan piring untuk tuan mudanya. Beberapa lauk di ambil Kean dan ia sudah bisa membayangkan bagaimana rasa masakan Disa yang dirindukannya.


Selama berada di rumah utama, masakan yang dibuat adalah masakan mewah yang biasa di hidangkan oleh Kinar. Ia menyukainya hanya saja, rasa masakan Disa jauh lebih bisa ia nikmati.


Kean tersenyum samar, saat satu suapan makanan masuk ke mulutnya.


Arini menatap lekat wajah putranya, ia melihat benar perbedaan ekspresi Kean dari beberapa saat lalu.


Dengan tangan gemetar Arini menyendok satu suapan.


Disa mengambilkan lap makan yang kemudian ia taruh di atas pangkuan Arini. Arini hanya tersenyum melihat kesigapan Disa.


“Apa boleh saya bantu nyonya?” tawar Disa. Ia merasa khawatir melihat kesulitan Arini saat akan menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Hem,” sahutnya seraya memberikan mangkuk makannya pada Disa.


Dengan sigap Disa mengambil mangkuk Arini dan mulai menyuapinya dengan telaten. Satu dua suapan terlihat begitu lahap di nikmati Arini. Sesekali Disa melap sudut bibir Arini yang sedikit belepotan.


Dari tempatnya, Kean memperhatikan interaksi Disa dan ibunya. Entah mengapa sudut hatinya menghangat.


Semakin lama mereka terlihat semakin akrab. Arini mulai terlihat nyaman dan berbicara lebih banyak walau sedikit kesulitan. Sesekali mereka tertawa lirih saat makan malamnya di isi dengan obrolan ringan.


Harus Kean akui, kesabaran Disa memang sangat besar. Hingga selesai makan malam mereka masih berbincang santai membicarakan hal remeh temeh yang membuat keduanya semakin dekat. Sepertinya Kean tidak salah memilih orang.


“Terima kasih disa.” Batin Kean tanpa mengalihkan pandangannya dari Disa dan Arini.


*****