Marry The Heir

Marry The Heir
Anak kambing baru lahir



Turun dari sepeda dengan tergesa-gesa karena matahari sudah mulai menampakkan wujudnya di balik awan yang mulai berwarna putih. Sudah pasti, ini sudah cukup siang untuk menyiapkan sarapan.


Semalaman Disa memang tidak bisa tidur setelah mengalami mimpi buruk tentang orang tuanya, ia terjaga sepanjang malam hingga pagi menjelang dan ia harus bersiap-siap menuju rumah tuan mudanya.


Ia menstandarkan sepedanya, mengganti sneaker dengan sandal rumah dan melepas coat yang membungkus tubuhnya. Ia segera memutar handle pintu dan masuk ke dalam rumah.


“Se-selamat pagi tuan.” mata Disa membelalak dan begitu terkejut saat melihat tuan mudanya sudah duduk di kursi meja makan dan tengah memakan buah yang ia potong sendiri.


“Hem, kamu terlambat.” sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari apel yang sedang ia kupas.


“Em iya tuan. Saya mohon maaf. Saya bantu tuan.” Disa segera menghampiri Kean untuk mengupaskan apel yang dinikmati tuan mudanya.


Menghindari gapaian tangan Disa yang mencoba mengambil apelnya. “Pergi ke pasar dan beli kepiting. Saya mau makan dengan kepiting saus tiram.” titah ia berikutnya.


Disa berhenti sejenak, menatap tuan mudanya yang mulai memotong apel dan menyuapkan ke mulutnya. Auranya memang berbeda, walau baru bangun tapi wajah tampannya tetap menyilaukan mata.


“Butuh uang berapa?” kali ini Kean menolehnya membuat Disa mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyadarkan pikirannya.


“Em, tidak perlu tuan. Saya sudah di beri uang oleh bu kinar.”


“Hem, jadi nunggu apa?” tatapan Kean tajam tertuju pada Disa.


“Oh baik tuan. Saya segera berangkat. Saya permisi.”


Dengan cepat Disa berbalik. Mengambil tote bag nya di dekat pintu dan mengganti sandalnya dengan sepatu. Ingat, tuan mudanya tidak suka menunggu lama.


Sepeninggal Disa, Kean pun beranjak dari tempatnya. Ia mengambil segelas air sisanya tadi, meneguknya hingga tandas lalu kembali ke kamarnya untuk mengambil handuk kecil dan sebuah skiping lengkap dengan sepatu olah raganya.


Tidak biasanya Kean bangun pagi. Biasanya ia baru akan bangun paling cepat jam 7 pagi atau saat perutnya keroncongan minta di isi. Terlebih saat hari libur seperti ini, ia selalu ingin menghabiskan waktunya di kamar, bermain play station atau tidur seharian untuk mengistirahatkan pikirannya.


Kali ini berbeda, ia bangun pagi karena rasanya tubuhnya mulai berat. Beberapa minggu ini ia selalu makan dengan lahap, tidur nyenyak dan rasanya bobot tubuhnya mulai bertambah. Ia tidak mau bentuk tubuh yang ia pertahankan sedari dulu harus mengendur dan bercampur lemak yang menimbun otot-otot kekarnya.


Menimbang badannya lalu mengangkat kaos untuk melihat barisan otot perutnya yang masih berderet rapi. Berolah raga menjadi cara Kean untuk menghargai dirinya sendiri selain menjaga kebugaran tubuhnya.


Di taman rumahnya Kean berolah raga sendiri. Berlari kecil mengelilingi taman sampai keringat mulai turun mengaliri lekuk otot tubuhnya. Disambung dengan bermain skiping, meloncat konstan dengan nafas yang terdengar cepat namun beraturan.


Hal terakhir yang  ia lakukan adalah mengangkat beban dengan berbagai ukuran. Menekuk lengan kekarnya berulang untuk mengencangkan otot bisep dan tricepnya yang terasa mulai mengendur. Rongga mulutnya kempis kembung, mengambil dan membuang udara bergantian. Keringat bercucuran memberi kesegaran tersendiri di tubuhnya.


Hampir satu jam waktu yang ia habiskan untuk berolah raga. Dari pintu gerbang, ia melihat kedatangan Disa dengan sekantong bawaan di tangannya. Mungkin ia berbelanja bahan masakan yang diminta Kean. Ia mengangguk sopan saat melihat Kean yang baru selesai berolah raga lalu pergi menuju pintu belakang dengan kepala tertunduk.


"Yang benar saja nyari koin di taman." gumam Kean saat melihat tingkah Disa.


Pendinginan dulu sebentar, sebelum ia kembali ke rumah dan beristirahat serta bersiap menikmati sarapannya.


*****


POV DISA


Aku masih harus mengatur nafasku yang memburu setelah berbelanja secepat mungkin layaknya peserta master chef yang memilih bahan makanan yang tepat dengan waktu yang telah di tentukan. Aku pun melangkah dengan cepat setelah turun dari ojek online yang mengantarku pulang dari pasar.


Seperti melihat oase di tengah gurun yang kering, saat tiba-tiba ada sesuatu yang indah terpampang di depan mataku.


Tidak kupungkiri, Aku hanya bisa menelan ludahku sendiri saat melihat tuan Kean dari kejauhan. Ia terlihat sangat keren saat sedang berolah raga. Keringatnya bercucuran dengan rambut yang ikut basah, persis model laki-laki keren di majalah fashion yang kerap aku lihat.


Mungkin di balik kaos olahraganya yang tipis ada barisan roti sobek yang kerap membuat wanita histeris saat melihatnya.


Aku wanita normal yang bisa blushing saat mata nakalku menangkap bayangan indah dari sosok laki-laki terlebih ia sangat tampan. Beberapa kali aku menggelengkan kepalaku sampai akhirnya  aku sadar dari pikiran nakalku sendiri.


“Ambilkan saya minum.”


Eh, dia sudah ada di hadapanku. Menghentakkan jarinya di atas meja makan, seperti tidak sabar menungguku mengambilkan minum.


Aku harus bergegas. “Si-silakan tuan.” aku masih gugup dan terkejut.


Dia menatapku sejenak, sebelum meneguk segelas air putih di tangannya. “Kamu seperti anak kambing yang baru lahir.” cetusnya dengan ringan.


Mataku membulat mendengar kalimat pendek itu dari mulutnya. Aku menoleh bayanganku sendiri dari pantulan kaca di permukaan meja makan.


Rambut lepek dan sedikit basah juga berantakan di bagian depan. Astagaaaaa, aku sampai lupa untuk merapikan kembali penampilanku.


“Ma-maaf tuan kalau itu membuat anda tidak nyaman.”  lirihku seraya mengusap anak rambut yang basah karena keringat dan menariknya ke samping untuk aku selipkan di sela telinga.


Dia tidak menimpali, lebih memilih menandaskan segelas air yang kemudian berpindah ke perutnya tanpa diikuti suara “Aahhh,..” khas orang terlepas dari dahaga.


Dia terlalu aneh menurutku.


“Segera selesaikan masakannya dan ingat, jangan kamu cicipi.” menaruh gelas dengan kasar di atas meja makan. Rupanya seperti itu cara dia mengingatkan orang lain.


“Baik tuan, akan segera saya siapkan.” timpalku yang mengangguk sopan.


Untung saja dia tampan jadi masih ku maklumi kalau dia sedikit menyebalkan.


Apalagi yang harus aku lakukan sekarang, selain memasak dan menghidangkannya untuk sang tuan muda.


Sadar Disa, sadar.... Kamu bukan ABG lagi, jangan terpesona dengan fatamorgana. Kembali bekerja dan buang semua pikiran tidak penting di kepalamu.


Fokus!


Aku mengingatkan diriku sendiri yang belakangan ini sering melantur. Jangan sampai ini awalku mengalami puber, jangan, jangan sekarang.


****


Memotong sayur, membersihkan kepiting dan meramu bumbu tanpa bisa di cicipi menjadi tantangan tersendiri bagi Disa. Ia berusaha membayangkan rasa makanan yang ia buat dengan menggambarkan rasa sebagai warna yang diajarkan Damar.


“Majikan lo suka gag sama masakan yang lo bikin?” pesan itu di kirim Damar semalam saat perang di rumah utama sedang panas-panasnya.


Disa memilih untuk masuk ke kamar, tidak mendengarkan pertengkaran majikannya.


Teman-temannya masih setia menguping padahal dari kamarnya saja Disa masih bisa mendengar teriakan tuan besar saat memarahi putri bungsunya.


Beruntung Damar mengiriminya pesan sehingga ia bisa mengalihkan perhatiannya dari suara-suara keras yang memekakkan telinga dan membuat jantungnya ikut berloncatan.


“Dia gag pernah bilang gag suka. Mungkin berhasil teknik menggambarkan rasa yang lo ajarin kak.” balas Disa yang diikuti senyuman.


Mungkin di sebrang sana Damar tengah tersenyum simpul mendapat pujian tidak langsung dari adik sepupunya.


“Ibu nanyain kabar lo,”


Menggantung, selalu seperti ini pesan yang dikirim Damar.


“Iya salam buat tante. Gimana kabarnya? Bilangin gue kangen. Lo apa kabar kak?”


Kali ini cukup lama Damar membalas pesan. Entah pulsanya yang habis atau baterai ponselnya yang lemah. Sudahlah, mungkin dia sudah tidur juga.


Sampai menjelang tidur, Damar tidak membalas pesannya. Sepertinya tidak perlu di tunggu, lebih baik ia mengambil buku sketch dan menggoreskan pensilnya menggambar beberapa gambar hitam putih untuk mengalihkan pikirannya.


“Tuuuttt.....” suara Wishtling kettle menyadarkan Disa dari lamunannya. Pikirannya tetang Damar hilang begitu saja.


Kembali memanaskan wajan dengan sedikit minyak untuk menumis bumbu yang sudah ia haluskan. Sebagian ruas jarinya berwarna kuning terkena kunyit yang ia gunakan untuk mengurangi bau amis masakan yang ia buat.


Setelah minyak panas, wangi tumisan bumbu mulai menyeruak. Menumisnya hingga matang lalu memasukkan kepiting ke dalam wajan. Lantas ia tambahkan air dan bumbu penyedap, untuk beberapa saat ia gunakan tutup pan agar masakannya matang merata.


Sambil menunggu, Disa menyiapkan bahan masakan lainnya. Tumisan kangkung yang di buat sedikit pedas sebagai tambahan menu. Ia pun menggoreng tempe dan emping melinjo sebagai pelengkap.


Satu jam kemudian masakan siap. Ia menengadahkan wajahnya untuk melihat ke lantai 2 tapi belum terlihat tanda-tanda tuan mudanya akan turun.


"Kalo aku panggil, sopan gag ya?" Disa bertanya pada dirinya sendiri.


Sudah jam 8, pasti perut tuan mudanya sudah mulai lapar, terlebih tadi ia berolah raga.


Tidak ada pilihan lain, Disa memberanikan diri untuk naik ke lantai 2 dan memanggil tuan mudanya.


Satu per satu anak tangga di tapaki. Ia mengintip sedikit dan terlihat Kean sedang berdiri di balkon dengan bertelanjang dada seraya memandangi cahaya matahari. Mungkin seperti ini cara orang kaya menyapa matahari, dengan berjemur.


"Astaga!" Disa segera berbalik saat ia melihat sosok tubuh Kean yang jangkung dan atletis.


Sepertinya Kean mendengar suara Disa. Matanya yang semula terpejam tengah menikmati udara dan cahaya matahari pagi, segera terbuka. Ia melihat Disa yang berbalik memunggunginya. Dengan segera Kean menarik gordin, untuk menyamarkan bayangan dirinya agar tubuhnya tidak terlalu terbuka.


"Ada apa?" suara berat Kean menyadarkan Disa dari keterpakuannya.


"Ma-maaf tuan, makanannya sudah siap." ujarnya dengan tergagap. Ia masih belum berani menoleh.


"Hey, kamu bicara denganku atau dengan tembok? Berbalik!" seru Kean dengan suara berat dan dalam, sangat khas hingga melekat di pikiran Disa.


"Maaf tuan, tapi.."


"Berbalik!" seruan Kean kembali terdengar.


Tidak ada pilihan, dengan ragu-ragu Disa berbalik tanpa membuka matanya. Tapi ia penasaran, ingin mengintip sedikit.


Matanya sedikit memincing dan terlihat sosok Kean yaang berdiri di balik kain tipis gordin. Disa menghela nafas lega, paling tidak ia tidak melihat sosok Kean secara langsung. Mata perawannya masih terselamatkan.


"Apa tuan akan makan sekarang?" tawarnya.


"Saya mau mandi dulu. Kamu boleh pulang ke rumah utama, tapi kalau masih ada kerjaan, silakan di lanjutkan. Tidak perlu kembali untuk memasak makan malam, saya ada acara di luar dengan teman saya."


kalimat Kean terdengar lebih panjang dari biasanya. Entah ini perintah atau semacam pemberitahuan. Yang jelas Disa harus mengingatnya.


"Baik tuan, saya permisi. Selamat pagi." mengangguk sopan sebelum berlalu pergi meninggalkan tuan mudanya.


Tidak terdengar sahutan dari Kean, mungkin ia kembali menikmati udara dan cahaya matahari pagi yang begitu menyegarkan.


Ini hari minggu, Disa tidak berfikir untuk melanjutkan pekerjaannya sekarang. Mungkin besok saja, di hari kerja sehingga ia bisa fokus bekerja tanpa perlu sering bertemu dengan tuan mudanya dan membuatnya merasa canggung.


Setelah memastikan semua siap di meja makan dan dapur kembali bersih, Disa berniat untuk pulang. Bersyukur tidak ada hutang kerjaan, jadi mungkin ia bisa sedikit melipir untuk membeli jajanan yang banyak dijajakan di hari libur seperti ini.


Ia segera memakai coatnya. Mengambil tote bag dan memakai sepatu. Sepeda yang ia parkirpun mulai ia lajukan menuju jalanan. Sejenak ia berhenti dan melihat ke arah balkon. Kean sudah tidak ada di sana. Entah mengapa ia harus kecewa.


Menghembuskan nafasnya kasar, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu gerbang.


"Pulang mba disa?" sapa Rahmat.


"Iya, pak. Sampe ketemu besok."


"Iya mba, hati-hati di jalan." timpal Rahmat yang terangguk sopan.


Tanpa Disa tahu, Kean kembali ke tempatnya setelah mengambil handuk, dan memandanginya pergi, hingga bayangannya tidak lagi terlihat.


Wajahnya tetap dingin tanpa ada perubahan mimik yang berarti.


******